
Malam itu sepulang dari kantornya, Ricko nampak berada di kamarnya. Pria yang dua bulan lagi akan berusia 24 tahun itu nampak mengambil sebuah box kecil dari dalam nakasnya.
Kemudian di bukanya box tersebut yang berisi beberapa lembar foto Olive saat masih kecil dulu dan juga sebuah kalung kecil beserta leontinnya.
"Kamu belum tidur ?" sapa Demian saat baru masuk ke dalam kamar putranya tersebut.
"Dad." Ricko mengulas senyumnya menatap sang ayah.
Demian nampak melangkahkan kakinya mendekati sang putra yang sedang duduk di tepi ranjangnya.
"Kamu masih menyimpannya ?" ucapnya seraya mengambil foto Olive.
"Seandainya dia masih ada, pasti akan menjadi adik yang baik buatmu." imbuhnya dengan menatap nanar foto tersebut.
"Aku hanya ingin merapikannya saja." sahut Ricko beralasan, kemudian mengambil foto tersebut dari tangan ayahnya lalu memasukkannya kembali ke dalam box.
"Apa hari ini kamu sibuk ?" tanya Demian lagi.
"Lumayan Dad, aku melakukan kunjungan ke luar kota beberapa kali." sahut Ricko, nampak lelah di wajahnya.
"Dean akan segera kembali jadi kamu bisa berbagi pekerjaan dengannya." tukas Demian.
"Itu lebih baik Dad, lagipula aku akan segera menikah. Jadi waktuku nanti juga pasti akan terbagi." sahut Ricko, ia nampak memasukkan box tersebut ke dalam nakas kembali.
Setelah itu ia mengajak ayahnya itu untuk berbincang di balkon kamarnya.
"Apa Mommy sudah tidur ?" tanya Ricko kemudian.
Kedua lelaki beda generasi itu kini nampak seperti dua sahabat yang saling berbincang akrab.
"Hm." sahut Demian.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu ?" imbuhnya lagi seraya menatap putranya tersebut.
"Dua bulan lagi usiaku 24 tahun Dad dan Mommy benar lebih baik aku segera menikah." sahut Ricko.
"Daddy tahu bagaimana kekhawatiran Mommy mu, tapi pernikahan itu bukan mainan. Kamu harus benar-benar menikah dengan orang yang kamu cintai, jangan seperti Daddy dahulu." tukas Demian.
"Kamu tahu, dulu Daddy berhubungan dengan banyak wanita hingga benar-benar menemukan yang cocok seperti Mommy mu. Dan Daddy harap kamu bisa menemukan sosok wanita yang benar-benar kamu cintai." imbuhnya lagi.
"Sarah gadis yang baik Dad, kami berteman sejak SMA." tukas Ricko.
"Apa kamu benar-benar mencintainya ?" tanya Demian memastikan.
Mendengar perkataan sang ayah, Ricko nampak terdiam. Tiba-tiba sekelebat bayangan Olive melintas di pikirannya.
Sudah dua tahun lebih ia berusaha melupakan gadis itu, seorang gadis asing yang telah mencuri ciuman pertamanya.
"Walaupun aku belum menyukai Sarah tapi aku akan belajar mencintainya. Seperti Opa yang belajar mencintai Oma saat mereka di jodohkan, ya meski Opa sempat berpaling tapi aku jamin aku tidak akan seperti itu." ucapnya kemudian.
"Daddy harap kamu memikirkannya sekali lagi." Demian nampak menepuk bahu putranya beberapa kali setelah itu ia beranjak pergi.
Beberapa hari kemudian....
Olive nampak berkaca-kaca saat baru keluar dari bandara, akhirnya setelah sekian lama ia menginjakkan kakinya kembali di tanah kelahirannya.
"Kenapa diam ?" Dean nampak memperhatikan Olive yang sedang menatap keluar jendela mobil.
"Tidak, tidak apa-apa." sahut Olive.
"Kamu baik-baik saja? matamu memerah." Dean nampak khawatir.
"Tidak, aku baik-baik saja. Tadi terkena debu." sahut Olive beralasan.
__ADS_1
"Kamu menyukai kota ini ?" tanya Dean.
"Hm, banyak perubahan." sahut Olive singkat namun sukses membuat Dean mengernyit.
"Maksudnya ?" ucapnya tak mengerti.
Menyadari kesalahannya dalam berbicara, Olive langsung menatap Dean. "Kota ini akan membuat banyak perubahan dalam hidupku." sahutnya mengoreksi.
"Tentu saja, oh ya bukannya kamu mempunyai keturunan Asia. Apa kamu tahu dari mana asal keluargamu dulu ?" Dean nampak penasaran.
"Aku kurang tahu, kakekku tidak pernah mengatakannya." dusta Olive.
"Baiklah itu lebih baik." tukas Dean kemudian.
"Kita mau kemana ?" tanya Olive seraya menatap gedung-gedung pencakar langit sepanjang jalan yang ia lalui.
"Apartemen mu." sahut Dean.
"Apartemen ?"
"Tentu saja, aku mana mungkin membiarkan mu terlantar di sini. Kamu adalah asisten terbaikku dan kamu layak mendapatkan itu." sahut Dean.
"Terima kasih dan sepertinya aku sudah tidak sabar ingin melihat kantormu." ucap Olive antusias.
"Kamu pasti akan kagum tentunya karena kantor ku di sini berkali-kali lipat besarnya daripada kantor di Jerman." Dean terlihat bangga.
"Aku percaya." sahut Olive ikut bangga.
"Hanya saja itu bukan kantorku." Dean nampak terkekeh.
"Maksudnya ?" Olive menaikkan sebelah alisnya tak mengerti.
"Itu kantor Papa, aku hanya mempunyai 30 persen saham di sana dan selebihnya milik kak Demian ayahnya Ricko." sahut Dean.
"Aku lebih bangga lagi kalau aku berhasil membuatmu menjadi istriku." tukas Dean yang langsung membuat Olive menyurutkan senyumnya.
"Aku akan sabar menunggumu." imbuh Dean lagi.
Olive menghela napasnya dengan pelan, kemudian ia bernapas lega saat mobil yang membawanya nampak berhenti di lobby Apartemen.
"Sepertinya kita sudah sampai." ucap Olive mengalihkan perhatian.
"Benar juga, semobil denganmu rasanya begitu singkat." sahut Dean lalu ia segera keluar dari mobilnya.
Setelah itu ia segera mengantar Olive menuju unit Apartemennya.
"Sepertinya Papa harus sakit dahulu baru kamu mau pulang." cibir tuan Anggoro saat Dean baru pulang ke rumahnya malam itu setelah tadi mengantar Olive.
"Ayolah Pa, jangan manja begitu." tukas Dean seraya memeluk ayahnya tersebut.
"Kamu tidak mau memeluk Mama juga ?" protes nyonya Anggoro.
"Tentu saja mamaku cantik." sahut Dean seraya memeluk nyonya Anggoro.
"Di mana dia ?" tukas nyonya Anggoro setelah melepaskan pelukannya, ia nampak mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
"Siapa ?" Dean nampak mengernyit tak mengerti.
"Tentu saja calon mantu, kamu janji kan tahun ini akan membawanya ?" sahut nyonya Anggoro.
"Aku belum berhasil membawanya Ma, mungkin tahun depan." sahut Dean sembari menarik kursi lalu mendudukinya.
"Oh astaga, setiap tahun kamu berbicara seperti itu. Lihatlah Ricko sebentar lagi dia mau menikah, masa kamu di kalahkan sama dia." cibir nyonya Anggoro dengan kesal.
__ADS_1
"Secepatnya aku akan memperkenalkan pada kalian." tukas Dean.
"Tahun kemarin kamu juga bilang seperti itu, aku jadi penasaran seperti apa wanita itu? apa dia anak presiden ?" tanya nyonya Anggoro penasaran.
"Bukan, dia gadis biasa." sahut Dean.
"Hanya wanita bodoh yang tidak mau sama kamu, kamu itu tampan dan kaya." nyonya Anggoro semakin kesal.
"Sabarlah Ma, wanitaku ini premium jadi susah di dapatkan. Dia bukan tipe wanita yang silau dengan harta apalagi mengejar pria duluan." tukas Dean dengan bangga.
"Kak Dean menyindirku ?" Ricko yang sedang makan langsung meletakkan sendoknya.
"Tidak, kita beda selera bro. Aku sukanya mengejar dan kamu sukanya di kejar jadi wajarlah kamu cepat dapat, orang Sarah dari dulu selalu mengejarmu." sahut Dean dengan nada mengejek.
"Sialan." gerutu Ricko kesal.
"Sudah-sudah cepatlah makan." timpal Demian melerai perdebatan orang-orang kesayangannya tersebut.
"Aku dengar kamu membawa sekretarismu juga ?" imbuhnya lagi sembari menatap Dean.
"Hm, dia sangat kompeten." sahut Dean.
"Sangat kompeten atau karena kamu menyukainya ?" cibir Demian.
"Darimana kakak tahu ?" Dean nampak terkejut.
"Mataku banyak kalau kamu lupa." sahut Demian.
"Jadi wanita itu sekretarismu sendiri, apa dia orang Jerman ?" nyonya Anggoro terlihat penasaran.
"Hm."
"Besok bawalah ke acara pertunangan Ricko, Mama ingin mengenal calon mantu." perintah nyonya Anggoro dengan antusias.
"Tentu saja aku akan membawanya, Ma." sahut Dean dengan wajah sumringah.
Keesokan harinya....
"Jadi kapan aku bisa mulai bekerja ?" tanya Olive sore itu saat Dean baru datang mengunjunginya.
"Besok kamu bisa mulai bekerja." sahut Dean.
"Benarkah? aku sudah tidak sabar, lalu ini apa ?" tanya Olive lagi seraya menatap paper bag yang di berikan oleh bossnya itu tadi.
"Itu gaun untukmu dan malam ini kamu temani aku datang ke pesta pertunangan keponakan ku." sahut Dean.
"Jadi malam ini Ricko akan bertunangan ?"
"Aku sepertinya tidak bisa ikut." tolak Olive, ia takut akan semakin kecewa nanti.
"Ini perintah dari bossmu dan kamu tidak bisa menolak, cepat ganti pakaianmu. Aku tunggu di sini." perintah Dean dengan tegas.
"Baiklah tuan pemaksa." Olive nampak kesal namun ia tetap beranjak dari duduknya untuk berganti pakaian, sedangkan Dean langsung terkekeh menatap kepergiannya.
Beberapa saat kemudian Olive dan Dean tiba di hotel di mana pertunangan Ricko di adakan.
Malam itu Olive terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun pesta berwarna hitam membungkus tubuh rampingnya.
Deg!!
Olive yang melihat Ricko langsung menghentikan langkahnya, pandangan mereka nampak bertemu sesaat.
"Ayo, aku akan memperkenalkan mu pada keluargaku." Dean langsung menggenggam tangan Olive lalu membawanya ke hadapan orang tuanya.
__ADS_1