Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~53


__ADS_3

"Demian? bukannya ini jam kantor. Bagaimana bisa ia sesantai itu, pasti ini gara-gara wanita rendahan itu."


Nyonya Anggoro membatalkan acara shoppingnya siang itu, ia langsung menaruh pakaian yang dia pegang begitu saja dan berlalu keluar dari butik tersebut.


"Eh jeng, mau kemana kita nggak jadi belanja ?" teriak salah satu temannya.


Nyonya Anggoro langsung menghentikan langkahnya, ia tidak mungkin mengatakan pada teman-teman sosialitanya tersebut jika melihat Demian bersama dengan wanita rendahan itu. Mau di taruh mana mukanya nanti.


"Sepertinya saya mendadak ada urusan penting jeng, kalian belanja saja dulu saya harus segera pergi." sahut nyonya Anggoro, setelah itu ia segera meninggalkan butik tersebut.


Nyonya Anggoro nampak mengikuti Demian dan Ariana diam-diam di belakangnya. Ingin sekali ia menjambak rambut wanita itu agar menyingkir dari sisi putranya.


Namun ia menahan hasratnya tersebut, karena ini tempat umum dan dia tidak ingin mempermalukan keluarga besarnya.


"Dasar wanita murahan, sudah berapa banyak duit anakku yang sudah kamu porotin."


Gerutu nyonya Anggoro ketika melihat Demian dan Ariana masuk ke dalam sebuah toko perhiasan.


"Mas, ngapain kita kesini ?" Ariana menahan langkah Demian ketika laki-laki itu mengajaknya masuk ke dalam toko perhiasan.


Demian nampak terkekeh, wanita lain mungkin sudah girang ketika ia ajak ke toko ini. Namun Ariana justru nampak tak berminat.


Demian sadar selama ini tidak pernah memberikan wanita itu perhiasan, tubuh wanita itu nampak kosong tanpa benda berkilau yang menghiasinya.


"Selamat siang tuan Demian, senang bertemu dengan anda kembali. Oh ya beberapa hari yang lalu katanya anda ada memesan perhiasan di sini, saya harap para karyawan saya melayani anda dengan baik." sapa pemilik toko tersebut dengan ramah.


Sepertinya dahulu Demian sering mengajak teman kencannya datang kemari hingga pemilik toko tersebut sangat hafal.


"Apa kabar pak Mark? lama tak bertemu. Tentu saja kinerja karyawan anda sangat memuaskan." sahut Demian yang langsung membuat beberapa karyawan wanita di sana tersenyum menggoda ke arahnya.


"Sangat baik, tuan. Tapi sepertinya pesanan anda beberapa hari lagi baru selesai." sahut Mark pemilik toko perhiasan tersebut.


"Dasar playboy kunyuk, pintar sekali cari perhatian para wanita."


Ariana nampak kesal ketika para karyawan wanita di sana mencoba mencari perhatian pada Demian.


"Ngomong-ngomong kata pak Mark tadi Demian beberapa hari yang lalu sempat kemari, memang bersama siapa? bukan perempuan kan? nggak mungkin juga laki-laki ?"

__ADS_1


Ariana semakin kesal saja, resiko punya laki tampan dan kaya ya seperti ini jadi nyesek sendiri.


"Kamu kenapa, sayang ?" tanya Demian saat Ariana nampak diam membisu.


"Nggak." sahut Ariana datar.


"Dasar laki-laki tidak peka." lanjutnya lagi dalam hati.


"Sayang, pilihlah mana yang kamu suka." perintah Demian pada Ariana kemudian.


Ariana nampak bergeming. "Nggak usah mas, di sini pasti mahal." bisik Ariana lirih agar tak terdengar oleh pegawai toko tersebut.


Selain karena harganya mahal, Ariana juga tidak mau di samakan dengan wanita-wanitanya Demian terdahulu yang hanya memanfaatkan hartanya.


Paling tidak meskipun dia miskin, tapi dia takkan menjual harga dirinya hanya demi sebuah perhiasan.


Sedangkan Demian rasanya semakin gemas dengan Ariana, bagaimana bisa di dunia ini ada wanita yang menolak di beri perhiasan seperti dirinya.


Demian jadi semakin sayang sama wanitanya itu yang mencintainya tanpa memandang hartanya.


"Tentu saja tuan, perhiasan terbaik untuk wanita yang terbaik." sahut Mark seraya menatap lekat Ariana.


Laki-laki paruh baya itu nampak mengambil satu kotak perhiasan dari dalam ruangannya.


"Silakan tuan, ini perhiasan terbaik dan limited edition di toko ini. Karena designer kami hanya membuatnya dua set dan satu setnya sudah di pesan oleh menantu pak Menteri." ucap Mark menjelaskan, ia nampak menunjukkan satu set perhiasan lengkap dengan kalung, gelang, cincin dan juga anting.


"Apa limited edition? dan kembaran dengan menantu pak Menteri ?"


Nyonya Demian yang diam-diam menguping pembicaraan mereka nampak melotot tak percaya.


"Dasar Demian bodoh mana cocok perhiasan itu di pakai sama wanita rendahan macam dia, dasar wanita matre awas saja kamu nanti ya. Sampai kapanpun aku tidak akan sudi punya menantu seperti dia."


Gerutu nyonya Anggoro yang berada tak jauh dari sana, matanya masih mengawasi Demian yang sedang berdiri memunggunginya.


"Bagaimana sayang bagus kan ?" tanya Demian ketika baru memakainya kalung tersebut di leher Ariana.


"Bagus sih, aku suka bentuknya sangat sederhana." sahut Ariana, seraya memperhatikan pantulan dirinya di dalam cermin.

__ADS_1


"Tentu saja nona, itu perhiasan yang khusus di pesan oleh menantu pak Menteri. Beliau juga sangat sederhana dan rendah hati seperti anda." ujar Mark seraya menatap Ariana yang siang itu memang berpenampilan sederhana, sebuah dress selutut dan make up tipis.


Beda jauh dengan wanita-wanita yang dulu pernah di bawa oleh Demian dan juga Monica yang Mark ketahui sampai sekarang masih menjadi istri sahnya laki-laki itu.


Mereka semua selalu berpenampilan mewah dengan make up tebal, sepertinya selera Demian sekarang sudah berubah. Pikir Mark.


Kemudian seorang karyawan nampak menghampiri Demian dan Ariana seraya membawa sebuah kwitansi dan juga sertifikat perhiasan tersebut.


"Tuan ini harga total satu set perhiasannya, 2 miliar rupiah." ucapnya.


Glek


Ariana langsung menelan ludahnya, dia tidak sedang berhalusinasi kan. Bagaimana bisa satu set perhiasan tersebut harganya sangat fantastis.


"Ini kalau beli di pasar mungkin harganya nggak sampai 5 juta saja." gerutu Ariana.


"Mas, kita beli di tempat lain saja ya." bisik Ariana dengan nada memohon.


Meski dirinya menyukai perhiasan itu, tapi kalau harganya segitu mending dia melupakannya saja.


"Sayang, apa kamu mau aku membeli semua perhiasan di toko ini dan membawanya pulang ke rumah." ujar Demian dengan nada mengancam.


Lagi-lagi ia tak habis pikir dengan Ariana, sepertinya sebuah ancaman akan membuat wanita itu akan menurut.


Ariana hanya bisa mendesah kesal, laki-laki itu selalu saja memaksa. "Baiklah, ambil yang itu saja." sahutnya kemudian.


"Gitu dong sayang kalau nurut kan tambah cantik." Demian langsung memeluk Ariana seraya mengecup puncak kepalanya.


Demian yang terlihat begitu menyayangi Ariana membuat iri semua pegawai maupun pengunjung di sana.


Namun lain halnya dengan nyonya Anggoro, wanita paruh baya itu nampak syok karena putranya tersebut telah menggelontorkan uangnya sebesar 2 miliar untuk membelikan Ariana sebuah perhiasan limited edition.


"Dasar wanita murahan, bisanya cuma merongrong harta anakku saja."


Gerutunya seraya mengepalkan tangannya, kemudian ia segera meninggalkan tempat tersebut ketika teman-teman sosialitanya berjalan ke arahnya.


Mereka tidak boleh ada yang tahu jika Demian putranya juga sedang berada di Mall tersebut bersama wanita rendahan itu.

__ADS_1


__ADS_2