Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~212


__ADS_3

Malam itu setelah kembali dari pestanya, Martin segera mendatangi kamarnya. Di lihatnya Sera nampak tertidur pulas di atas ranjangnya.


"Istirahatlah yang nyenyak, sayang. Aku tidak akan menggaggumu, terima kasih untuk tadi sore." ucapnya, kemudian mengecup kening wanita itu.


Setelah itu ia segera meninggalkan kamarnya tersebut dan membiarkan Sera tidur hingga keesokan harinya.


Pagi itu Sera di antar oleh Mattew pulang ke rumahnya, semalam Martin menepati janjinya untuk tidak mengganggunya dan membiarkan ia tidur seorang diri di dalam kamar hotelnya.


"Anda baik-baik saja, nyonya ?" tanya Mattew saat menatap Sera dari kaca spion, wanita itu terlihat melamun.


"Hm, saya baik-baik saja." sahut Sera.


"Hari ini tuan Martin ada urusan penting jadi tidak sempat menemui anda." ujar Mattew lagi dari balik kemudinya.


"Saya tidak masalah dengan itu." sahut Sera.


Sesampainya di rumahnya, Sera nampak terkejut saat melihat pintu rumahnya terbuka. Ia bergegas turun dari mobilnya karena takut terjadi apa-apa dengan anak-anaknya.


Namun saat baru masuk ia terkesiap saat melihat 3 pria bertubuh kekar sedang bermain dengan keenam anaknya tersebut.


"Bunda." teriak Merry seraya berlari ke arah ibunya.


"Maaf, kalian siapa kenapa berani sekali masuk ke dalam rumah saya ?" tegur Sera seraya menatap ketiga pria tersebut.


"Mereka orang suruhan saya nyonya untuk menemani anak-anak saat anda tidak ada." timpal Mattew saat baru masuk ke dalam rumah tersebut.


"Oh, baiklah kalau begitu terima kasih. Apa kalian sudah makan? saya akan memasak untuk kalian." ucap Sera.


Setelah itu ia bergegas ke dapur memasak dengan bahan seadanya, paling tidak ini adalah cara dia untuk berterima kasih.


Keesokan harinya....


Hari libur seperti ini tak membuat anak-anak untuk bisa bermalas-malasan, mereka tetap bangun pagi dan mengerjakan pekerjaan rumah bersama-sama.


"Bunda, ada tante-tante nyariin Bunda." panggil Alex.


"Siapa, Nak ?" Sera yang sedang menyiapkan sarapan nampak mengernyit penasaran, tak biasanya ada tamu di pagi hari.


Sera bergegas melihatnya, namun ia langsung terkejut saat melihat Lusi sudah berdiri di depan pintu rumahnya.


"Nona Lusi ?" sapa Sera terkejut.


"Selamat pagi nona Mauren, maaf mengganggu pagi-pagi." sahut Lusi dengan mengulas senyumnya.


"Tidak apa-apa, ayo masuklah." ajak Sera.


"Bagaimana kamu bisa tahu rumah ini ?" imbuhnya lagi.


"Aku melihat alamat yang biasa kamu antar paket dan sopirku ternyata tahu." sahut Lusi.


"Kebetulan kami akan sarapan, apa kamu mau bergabung ?" tawar Sera dengan ramah.

__ADS_1


"Itu akan sangat merepotkan." sahut Lusi.


"Tidak, tidak repot. Ayo !!" Sera segera beranjak dari duduknya lalu membawa Lusi ke ruang makan yang nampak keenam anaknya juga sudah berada di sana.


"Mereka....." Lusi nampak terkejut saat melihat banyak anak di sana.


"Mereka anak-anakku." ucap Sera kemudian.


"Oh, anak kandung ?" tanya Lusi penasaran.


"Mereka sudah seperti anak kandungku, mereka adalah anak asuh mendiang suamiku. Kecuali satu-satunya anak perempuan itu, dia putri kandungku." sahut Sera menjelaskan.


"Ayo, sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk sarapan." ajaknya saat melihat Lusi masih bergeming di tempatnya.


"Ah, iya." sahut Lusi lalu mengikuti langkah Sera.


"Anak perempuan itu kenapa mirip sekali dengan Martin, apa itu anak mereka berdua ?"


Lusi nampak mendudukkan dirinya di seberang Sera, namun pandangannya tak berpaling dari Merry yang sedang duduk di sebelah ibunya.


Sepanjang mereka makan, Lusi nampak mengamati bocah kecil itu sungguh sangat mirip dengan Martin.


"Aku senang sekali kamu mengunjungi rumahku. Ngomong-ngomong maaf ya waktu itu aku langsung pulang, karena khawatir dengan anak-anak di rumah." ucap Sera yang kini sedang duduk di taman belakang rumahnya bersama Lusi, ia terpaksa berbohong karena tidak ingin wanita itu salah paham.


"Tidak apa-apa, aku mengerti kok." sahut Lusi.


"Jadi kamu mengasuh mereka sendirian ?" tanyanya kemudian.


"Di mana ayah Merry ?" selidik Lusi, karena sedari tadi Sera menunjukkan sikap ramah padanya padahal ia tahu wanita itu sedang menyimpan luka yang dalam.


"Ada, kami sudah berpisah." sahut Sera.


"Kenapa berpisah kalau saling mencintai ?" tanya Lusi, namun ia langsung mengoreksi ucapannya saat Sera menatap bingung padanya.


"Maksudku dulu kalian saling mencintai kan hingga ada Merry, lalu kenapa kalian berpisah atau tidak mencoba untuk bersama lagi." ucapnya lagi.


"Tidak semua orang yang saling mencintai itu harus bersama, kadang sekali-sekali kita harus mengalah agar tidak menyakiti perasaan orang lain." sahut Sera dengan mengulas senyumnya, namun Lusi tahu di balik senyum wanita itu ada luka yang belum mengering.


"Maafkan aku." ucap Lusi lalu memeluk Sera.


"Kenapa minta maaf ?" tanya Sera tak mengerti.


"Tidak apa-apa hanya ingin minta maaf saja, mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu." sahut Lusi.


"Terakhir kalinya ?"


"Hm, ten-tentu saja. Setelah menikah nanti kami akan tinggal di luar negeri." sahut Lusi.


"Luar negeri, kenapa Martin tidak cerita? bagaimana dengan Merry nantinya, dia pasti akan kehilangan ayahnya."


"Oh, semoga kalian bahagia." ucap Sera memberi selamat dengan menahan gemuruh di hatinya.

__ADS_1


"Terima kasih, nanti kamu harus datang ya ke pernikahan kami dan jangan lupa membawa anak-anak. Sekalian aku akan mempromosikan gaun pengantin buatanmu, percayalah setelah ini kamu pasti akan banjir pesanan." ucap Lusi dengan tulus.


"Ten-tentu saja." sahut Sera.


"Aku mana mungkin membawa anak-anakku, mereka pasti kecewa jika tahu Daddynya menikahi wanita lain." imbuhnya lagi dalam hati.


"Baiklah, kalau begitu aku harus pulang. Ada beberapa persiapan pernikahan yang harus ku cek." Lusi beranjak dari duduknya, setelah saling berpelukan ia segera meninggalkan rumah tersebut.


Beberapa hari setelah itu, Martin belum juga datang mengunjungi putrinya. Bahkan memberikan kabar melalui ponselnya pun tidak, padahal laki-laki itu setiap saat selalu online.


Ingin sekali Sera mengirimkan pesan hanya sekedar menanyakan kabar, namun niatnya pun ia urungkan. Mungkin pria itu sedang sibuk menyiapkan pernikahannya.


Harusnya Sera senang karena Martin mengikuti kemauannya dengan menikahi Lusi, tapi tetap saja hatinya terluka memikirkan hal itu.


"Bunda kenapa ?" tanya Merry saat melihat ibunya sedang melamun di kursi jahitnya.


"Eh, bunda sedang bekerja sayang." Sera terkejut, namun ia langsung mengulas senyumnya menatap putrinya tersebut.


"Bekerja tapi kok diam saja." Merry memperhatikan ibunya.


"Bunda sedang berpikir mau mendesain baju seperti apa." sahut Sera beralasan.


"Bunda kangen Daddy ya ?" tanya Merry yang langsung membuat Sera melebarkan matanya.


"Memang Merry nggak kangen Daddy ?" Sera balik bertanya, tentu saja ia sangat merindukan pria itu.


"Nggak." sahut Merry.


"Kenapa nggak, Merry sudah nggak sayang Daddy lagi ?" tanya Sera kemudian.


"Sayang banget, Bunda jangan sedih lagi ya Daddy pasti juga kangen kok sama Bunda." sahut Merry dengan senyum manisnya, senyuman yang banyak mengandung makna tanpa Sera ketahui.


Beberapa hari kemudian Sera kembali ke kota untuk menghadiri pernikahan Martin dan Lusi, ia sengaja tidak membawa anak-anaknya karena khawatir mereka akan sedih jika melihat Ayahnya menikahi wanita lain.


Sera sengaja datang sedikit lambat agar tidak menginap di hotel lagi, karena setelah memberi mereka ucapan selamat. Ia akan segera kembali pulang.


"Nona Sera." panggil seseorang saat Sera baru masuk ke dalam hotel tersebut.


"Tuan Mattew." sapa Sera dengan ramah.


"Kenapa anda baru datang, nyonya ?" tanya Mattew cemas.


"Kenapa memangnya, acaranya sudah selesai ?" tanya balik Sera.


"Belum nyonya, acara akan di mulai jika anda sudah datang." sahut Mattew.


"Kenapa menunggu saya, apa ada masalah dengan gaun Nona Lusi ?" Sera jadi ikutan cemas, sebelumnya ia tidak pernah mengecewakan para pelanggannya.


"Mari ikut saya, nanti anda akan tahu." sahut Martin lalu mempersilakan Sera untuk mengikutinya.


"Semoga gaunnya baik-baik saja."

__ADS_1


__ADS_2