
Pagi itu Dena nampak mengerjapkan matanya saat cahaya matahari mengenai wajahnya melalui celah jendela.
Ia menoleh ke sisinya namun sudah tak ada suaminya di sana, mungkin laki-laki itu sudah pergi ke kantornya mengingat ini sudah pukul 10 pagi.
"Astaga ini sudah sangat siang."
Dena segera beranjak dari tidurnya, kemudian berlalu ke kamar mandinya.
Setelah membersihkan dirinya Dena nampak mengambil secarik kertas di atas nakas, sepertinya itu pesan yang di tulis suaminya.
"Sayang, hari ini mungkin aku pulang sedikit terlambat, jangan telat makan ya. Kalau mau jalan-jalan ada supir yang akan mengantarmu."
Dena nampak mengulas senyumnya saat membaca pesan dari Edgar, meski hanya sebuah pesan biasa namun sukses membuat jantungnya berdebar-debar saat mengingat laki-laki itu.
Benarkah ia sudah jatuh cinta pada suaminya itu? perasaan yang sudah lama ia kubur dalam-dalam kini kembali ia rasakan lagi namun pada laki-laki yang berbeda.
Sungguh Dena masih sangat trauma untuk memulai hubungan baru lagi, bayangan ayahnya menyelingkuhi ibunya dan suaminya yang menyelingkuhi dirinya masih sangat membekas di hatinya.
Akankah Edgar bisa setia atau justru akan melakukan hal yang sama seperti mereka. Entahlah, Dena masih belum yakin dengan perasaannya.
Di tengah lamunannya Dena nampak terkejut saat mendengar gelak tawa sang putra dari arah luar, kemudian ia segera melihatnya dari balkon kamarnya.
Seketika senyumnya langsung mengembang saat melihat Elkan sedang mengejar kupu-kupu di taman bersama bik Mina.
"Ma-ma." teriak Elkan saat melihat ibunya itu berdiri di balkon kamarnya.
"Tunggu ya sayang, Mama segera turun." seru Dena, kemudian ia segera berlalu meninggalkan kamarnya.
Namun saat baru keluar dari Villa tersebut, Dena melihat Elkan nampak terjatuh dan langsung menangis.
Ia segera berlari ke arah putranya tanpa mempedulikan ada kedua orangtua Edgar yang juga berada tak jauh dari sana.
"Sudah tidak apa-apa, ada Mama di sini." ucap Dena menenangkan, kemudian ia membantu Elkan berdiri lalu memeluknya dengan erat.
Sementara itu King dan Putri nampak terkejut saat melihat keberadaan Dena di sana, apalagi saat wanita itu memeluk bocah kecil yang begitu mirip dengan Edgar.
"Dena ?" ucap mereka bersamaan, kemudian mereka berjalan mendekat ke arah Dena dan bocah itu.
"Atit, Ma." keluh Elkan saat menunjukkan lututnya sedikit tergores.
"Acih udah." ucapnya lagi seraya mengambil ludah dalam mulutnya dengan jari mungilnya lalu mengoleskan pada luka memarnya.
Dena yang melihat tingkah lucu anaknya itu langsung melotot.
__ADS_1
"Jorok, Nak." tegurnya, namun Elkan justru terkekeh.
"Nggak apa-apa buk, biasanya anak-anak di kampung juga seperti itu." bela bik Mina.
"Tapi itu jorok Bik, pasti bibik yang ajarin ya ?" tegur Dena.
"Nggak apa-apa buk, hanya untuk pertolongan pertama saja." bela bik Mina lagi.
"Apa yang di bilang bibik itu benar." ucap Putri menimpali yang langsung membuat Dena menoleh ke arahnya.
Deg!!
Dena langsung terkejut, saking fokusnya pada Elkan ia sama sekali tak menyadari ada kedua mertuanya berada di sana juga.
Dengan refleks Dena langsung menggendong Elkan, ia seakan takut jika mertuanya itu akan mengambil anaknya darinya.
"Jadi dia adalah putramu ?" tanya King saat melihat Dena menatap dingin ke arahnya.
"Iya." sahut Dena datar.
"Pa-pa." teriak Elkan seraya mengangkat kedua tangannya ke arah King, berharap laki-laki paruh baya itu akan menggendongnya.
"Dia bukan Papamu, sayang." ucap Dena meyakinkan.
"Papa sedang kerja, Nak." Dena mencoba membujuk Elkan.
"Apa dia cucuku? anak dari putraku ?" tanya King to the point yang langsung membuat Putri dan Dena terkejut.
"Mas, itu tidak mungkin." tegur Putri tak percaya, bagaimana bisa ia tiba-tiba sudah mempunyai cucu sebesar Elkan.
Jika itu benar, ia pasti akan menghukum Edgar. Karena sudah berani-beraninya menyembunyikan cucunya darinya.
Dena langsung menyerahkan Elkan pada bik Mina, lalu menyuruhnya membawa Elkan masuk ke dalam Villa tersebut.
Rasanya tidak etis jika anaknya harus mendengarkan pembicaraan orang dewasa yang mungkin akan sedikit alot.
"Dia putra saya dengan mantan suami saya." dusta Dena masih dengan tatapan dinginnya, semoga saja Edgar belum menceritakan kebenaran pada kedua orangtuanya.
Dena tidak ingin mereka akan merebut putranya darinya, mengingat bagaimana mereka membenci dirinya.
"Tidak, kamu pasti berbohong kan? saya yakin dia anak kandung Edgar. Edgar pernah mengatakan kalau anak kamu sebenarnya adalah anak kandungnya. Awalnya saya tidak mempercayainya, namun saat melihat kemiripan wajah mereka saya yakin itu adalah anak Edgar." ujar King menegaskan.
"Mas apa itu benar? jadi selama ini Edgar diam-diam sudah mempunyai anak dan anak itu adalah cucu kita ?" Putri nampak terkejut.
__ADS_1
"Tidak, itu tidak benar. Elkan adalah anak saya seorang, kalian tidak boleh mengambilnya." teriak Dena histeris.
"Dena, kamu tidak boleh egois Elkan juga cucu saya." tegas King tak kalah emosi.
"Tidak, dia hanya milikku, hanya milikku." teriak Dena emosi, namun tiba-tiba ia merasakan kepalanya sakit luar biasa dan beberapa detik kemudian tubuhnya terasa ringan dan tak sadarkan diri.
"Astaga, apa yang sedang kalian lakukan." teriak Edgar, beruntung dia datang tepat waktu.
Setelah dari kediamannya orangtuanya, Edgar segera kembali ke Villa. Beruntung pesawatnya tak ada kendala, ia jadi datang tepat waktu.
Lalu ia segera membawa istrinya yang sedang pingsan itu masuk ke dalam Villanya.
"Jun, segera hubungi dokter." perintah Edgar setelah menidurkan sang istri di atas ranjangnya.
"Baik, tuan." Juno segera berlalu keluar dari kamar tersebut.
"Papa tidak bermaksud membuatnya pingsan, Papa hanya ingin dia mengakui kalau Elkan itu cucu Papa." King jadi merasa bersalah.
"Tapi tidak dengan cara memaksanya, Pa." ucap Edgar kesal.
Tak berapa lama kemudian, Juno nampak masuk kembali bersama seorang dokter.
"Dok tolong istri saya, dia tiba-tiba pingsan." mohon Edgar.
"Tenang ya pak, saya akan segera memeriksanya." sahut Dokter tersebut.
Ia segera memeriksa keadaan Dena yang nampak terlihat memucat.
"Istri anda hanya sedikit syok, apa sebelumnya pernah terjadi seperti ini juga ?" tanya dokter tersebut.
"Sebelumnya istri saya mengalami kecanduan rokok dan alkohol, Dok. Tapi hampir sebulan ini dia sama sekali tak menyentuhnya, apa itu juga berpengaruh ?" tanya Edgar.
Sejak menikahinya dengan tegas Edgar melarang Dena mengkonsumsi barang-barang tersebut, bahkan ia sampai memerintahkan seseorang untuk mengawasi istrinya itu.
"Tentu saja sangat berpengaruh pak, seseorang yang sedang menjalani rehabilitasi dari ketergantungan sesuatu harus menghindari segala macam depresi." sahut Dokter tersebut.
"Jadi bagaimana keadaan istri saya sekarang, Dok ?" Edgar nampak sangat khawatir.
"Beliau baik-baik saja, mungkin dengan istirahat yang cukup akan membuatnya lebih baik." sahut Dokter tersebut.
Setelah selesai memeriksa keadaan Dena, Dokter itu segera meninggalkan Villa bersama dengan Juno.
"Jadi dia seorang pecandu ?" tanya King tak percaya seraya menatap ke arah Dena yang belum sadarkan diri di atas ranjangnya.
__ADS_1