Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~170


__ADS_3

"Tuan, anda baik-baik saja ?" Juno yang khawatir langsung mengikuti Edgar sampai ke kamar mandi.


"Sepertinya saya sedang masuk angin." sahut Edgar, wajahnya terlihat memucat.


"Bisa jadi tuan, karena akhir-akhir ini anda sering melewatkan jam makan." Juno nampak memberikan segelas air putih hangat pada atasannya itu.


"Lebih baik anda segera makan, setelah itu beristirahat." imbuhnya lagi seraya menyerahkan kotak makanan yang ia bawa tadi.


Namun saat mencium aromanya Edgar kembali mual, kemudian ia segera berlari lagi ke kamar mandi.


"Jun, singkirkan makanan itu dari sini." perintahnya kemudian dengan kesal.


"Tapi ini makanan favorit anda, tuan." bujuk Juno, ia harus bisa membuat atasannya itu makan agar keadaannya tidak semakin parah.


"Tapi makanan itu membuatku mual, kamu tidak memberiku makanan basi kan ?" tuduh Edgar.


"Makanan ini masih fresh, tuan. Bahkan masih lumayan panas karena baru saja di masak." sanggah Juno.


"Pesankan saya bubur saja." perintah Edgar kemudian.


"Baik, tuan."


Setelah itu Juno nampak menghubungi seseorang untuk membelikan pesanan atasannya tersebut.


"Apa Dena dan putraku sudah pulang ?" tanya Edgar sembari memijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa nyeri.


"Sudah tuan, tapi beliau tidak pulang ke rumah anda melainkan pulang ke kediaman tuan Winata." sahut Juno.


"Sepertinya tuan Winata sedang sakit keras, tapi saya yakin nyonya Dena akan baik-baik saja di sana." ujar Juno lagi meyakinkan.


Edgar nampak menghela napas panjangnya. "Awasi dia terus Jun, saya tidak ingin terjadi apa-apa dengannya maupun putraku." perintahnya kemudian.


"Baik, tuan."


Keesokan harinya....


Setelah semalaman istirahat dengan cukup Edgar pikir dirinya akan baik-baik saja, namun pagi ini ia justru merasakan mual hebat hingga Juno terpaksa membawanya ke rumah sakit.


"Bagaimana keadaan Edgar, Jun ?" tanya King saat baru masuk ke dalam ruang rawat putranya tersebut.


King dan Putri langsung berangkat ke Singapura saat mendapatkan kabar jika putranya masuk rumah sakit, padahal sebelumnya Edgar jarang sekali sakit.


"Beliau masih lemas, tuan. Sedari pagi muntah-muntah terus." sahut Juno.


"Sebenarnya apa yang terjadi denganmu, Nak? sampai pucat begitu." Putri langsung menghampiri Edgar.


"Aku baik-baik saja Ma, kata dokter asam lambungku naik." sahut Edgar sembari terkekeh saat melihat kedua orangtuanya nampak panik, padahal ia merasa baik-baik saja saat ini setelah mendapatkan perawatan.

__ADS_1


"Apa semua ini ada hubungannya dengan Dena ?" tanya King.


"Tidak ada hubungannya dengan dia Pa, mungkin karena akhir-akhir ini aku sedang banyak pekerjaan saja jadi sering melewatkan jam makan." sangkal Edgar, meski sebenarnya akhir-akhir ini ia kurang nafsu makan karena memikirkan Dena.


"Papa menemukan ini di meja kerjamu? jadi kalian benar-benar memutuskan untuk bercerai ?" King menunjukkan selembar kertas surat pengajuan cerai pada sang Putra.


"Mungkin itu yang terbaik Pa, sebuah hubungan tidak akan bisa langgeng jika tidak di landasi saling cinta." sahut Edgar.


"Apa kamu yakin istrimu tidak mencintaimu? siapa tahu dengan berjalannya waktu perasaan itu sudah tumbuh di hatinya. Kenapa kamu cepat sekali menyerah Edgar? kalau kamu memang mencintainya kejar dia." King nampak geram terhadap putranya itu.


Ia tidak ingin pengalaman masa lalunya juga akan di alami oleh anaknya tersebut.


"Tapi Dena sudah setuju untuk bercerai Pa, ku rasa dia memang tidak pernah mencintaiku." Edgar nampak menatap surat cerai di tangannya yang sudah di tanda tangani oleh Dena.


King nampak mendesah kasar, sepertinya ia harus melakukan sesuatu untuk menyatukan dua orang yang saling mempertahankan egonya itu.


Ia tidak ingin putranya itu akan seperti dirinya yang pernah terlambat menyadari cintanya dan berakhir penyesalan.


Sementara itu pagi itu Dena tiba-tiba merasakan sakit kepala saat bangun tidur.


"Bu, apa tidak sebaliknya ke dokter dulu." saran bik Mina saat melihat Dena memijit pelipisnya.


"Nggak apa Bik, pagi ini saya ada meeting penting. Mungkin karena kurang tidur saja." sahut Dena setelah itu ia segera berangkat ke kantornya.


Sejak menggantikan ayahnya di perusahaan, Dena semakin sibuk. Namun bukan berarti ia tidak memperhatikan putranya, bahkan ia sering membawa bocah kecil itu ikut bersamanya kemana pun itu.


Hingga sore hari keadaannya bukannya membaik, Dena justru merasakan sakit kepalanya semakin parah.


Dena nampak memijit pelipisnya yang terasa nyeri, lalu matanya tak sengaja menatap kalender di meja kerjanya itu.


"Astaga, ini sudah telat satu minggu aku tidak datang bulan. Jangan-jangan aku hamil lagi."


Dena nampak mengulas senyumnya, semoga saja dirinya hamil. Meski ia sudah tidak bersama dengan suaminya lagi paling tidak ia mempunyai kenangan indah bersama laki-laki itu yaitu janin buah cinta mereka.


Dena menyadari kesalahannya sungguh sangat besar karena sudah memanfaatkan Edgar demi misi balas dendamnya, bahkan untuk sekedar menemui laki-laki itu saja Dena tidak mempunyai muka.


Biarlah Edgar mendapatkan wanita yang lebih baik darinya, ia akan menyimpan dan menjaga cintanya sendiri.


Edgar sosok laki-laki yang sangat baik, dia berhak bahagia dengan wanita yang lebih baik. Bukan dengan dirinya, seorang mantan pecandu yang mungkin akan selalu membekas di ingatan semua orang.


Beberapa hari kemudian....


Dena segera memeriksakan dirinya ke dokter saat tamu bulanannya tak kunjung datang dan ia di nyatakan hamil. Dena begitu bahagia, karena untuk kedua kalinya di rahimnya akan tumbuh seorang bayi dari ayah biologis yang sama.


Bedanya saat hamil Elkan, Dena belum mencintai Edgar. Namun saat ini bayi yang ia kandung adalah buah cinta dari keduanya.


"Bu, saya mau mengingatkan hari ini kita ada meeting dengan perusahaan Bryan Contruction." ucap sekretarisnya Dena siang itu.

__ADS_1


"Apa? bagaimana bisa, saya tidak merasa menjalin kerja sama dengan perusahaan itu." sergah Dena, sungguh ia masih tak sanggup jika harus bertemu Edgar.


"Sudah sejak lama perusahaan ini menjalin kerja sama dengan perusahaan Bryan Contruction Bu, mungkin karena ibu baru menggantikan tuan besar di sini jadi tidak tahu. Bukannya itu perusahaan suaminya ibu sendiri ?" ucap sekretarisnya tersebut seraya menyerahkan dokumen kerja sama mereka.


Dena langsung memeriksa dokumen tersebut dan benar saja masih ada beberapa proyek yang saat ini sedang mereka kerjakan bersama dan itu berarti untuk ke depannya mereka pasti akan sering bertemu.


"Astaga, bagaimana mau move on kalau seperti ini ?"


"Jam berapa meetingnya ?" tanyanya kemudian.


"Siang ini bu, tuan King sudah memesan tempat di sebuah restoran." sahut sekretaris tersebut.


"Papa?"


"Tuan King ?" tanya Dena tak mengerti.


"Benar Bu, tuan King yang akan menghadiri meeting. Karena tuan Edgar sedang berada di Singapura mengurus proyek kerja sama kita juga, ibu pasti sudah tahu juga kan ?" ucap Sekretarisnya itu yang langsung membuat Dena menatapnya dingin.


"Maaf Bu, jika saya salah bicara." sanggah sekretaris tersebut tak enak saat Dena menatapnya tak ramah.


"Baiklah, persiapkan semuanya kita akan segera pergi." perintah Dena sesaat setelah melihat jam di pergelangan tangannya.


Setelah sampai di sebuah restoran, tiba-tiba perut Dena langsung keroncongan. Restoran yang menyediakan makanan dalam bentuk prasmanan itu begitu menggugah seleranya.


"Selamat siang, Pa." sapa Dena saat sampai di sebuah meja tempatnya meeting.


Ia langsung mencium tangan ayah mertuanya itu dengan takzim, nampak Juno juga sedang berada di sana.


"Siang, Nak." sahut King dengan mengulas senyumnya.


"Siang, Jun." sapa Dena pada Juno.


"Siang juga nyonya, apa anda baik-baik saja ?" ucap Juno saat melihat wajah Dena yang nampak pucat.


"Saya baik-baik saja." sahut Dena seraya mendudukkan dirinya di seberang ayah mertuanya tersebut dan di ikuti oleh sekretarisnya.


King yang sedari tadi menatap Dena juga merasa menantunya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Kamu sudah makan, Nak ?" tanyanya kemudian.


"Kebetulan belum, Pa." sahut Dena jujur.


Semoga ayah mertuanya itu mengerti dan membiarkan dirinya menyantap makan siang dahulu, karena janin beserta cacing-cacing dalam perutnya sudah saling berdemo.


"Ya sudah ayo makan dulu, Papa juga belum makan." perintah King, kemudian ia segera beranjak dari duduknya yang di ikuti oleh Dena dan juga Juno di belakangnya.


Dena nampak mengambil sepiring asinan sayuran dan sepiring asinan buah, entah kenapa ia tiba-tiba ingin makan itu padahal sebelumnya ia tidak menyukai makanan yang berbau asam.

__ADS_1


"Kamu makan itu ?" tegur King saat melihat Dena membawa dua piring asinan ke mejanya.


"Iya, Pa. Ini sangat enak." sahut Dena seraya menyantap asinan mangga muda dengan lahap yang langsung membuat King dan Juno nampak saling menatap.


__ADS_2