
"Dasar mesum." Ariana langsung menarik selimut lalu bersembunyi di sana.
Rasanya dia sangat malu melihat Demian tak berbusana seperti itu, meski mungkin itu akan menjadi makanannya sehari-hari setelah ini.
"Ayolah sayang, jangan bertingkah seperti perawan begitu." goda Demian seraya mengenakan celana boxernya.
Ariana yang masih berada di bawah selimut nampak tak bergeming, suaminya itu sungguh tak punya rasa malu sama sekali.
Tokk
Tokk
Terdengar ketukan pintu dari luar, Demian yang akan menarik selimut yang di gunakan sang istri langsung mendengus kesal. Sepertinya ia akan memarahi siapa pun yang berani mengganggu malam pertamanya itu.
Demian segera menyamber kaosnya yang ada di dalam lemari lalu segera memakainya dan setelah itu ia membuka pintu kamarnya.
"Sayang, kamu belum tidur Nak ?" ucap nyonya Anggoro yang sudah berdiri di depan pintu.
Demian yang sudah ingin marah, langsung mendesah pelan. "Ada apa sih, Ma ?" ucapnya, sebenarnya ia masih marah dengan wanita itu tapi bagaimana pun beliau adalah ibu yang melahirkannya.
"Bagaimana dengan salon-salon Mama, apa bisa kembali lagi ?" ucap nyonya Anggoro sedih, karena sudah puluhan tahun ia merintis salon-salonnya tersebut dan ia tak rela jika jatuh ke tangan orang lain begitu saja.
"Victor sudah mengurusnya dengan pengacara kita Ma, sebaiknya Mama sekarang istirahat." sahut Demian.
"Tapi Mama masih belum merasa tenang, bisakah kamu menemani Mama minum teh di bawah." pinta nyonya Anggoro.
Mendengar permintaan sang ibu, Demian mendadak kesal tapi mau bagaimana lagi ia juga kasihan sama wanita paruh baya tersebut.
"Baiklah, ayo." sahut Demian pada akhirnya.
Sementara itu Ariana nampak membuka selimutnya ketika mendengar pintu kamarnya di tutup.
"Kemana dia ?" gumamnya.
"Astaga Ariana apa yang kamu lakukan, harusnya kamu memberikan yang terbaik di malam pernikahan ini. Pasti mas Demian pergi karena kesal."
Ariana jadi merutuki dirinya sendiri karena kepergian Demian.
"Baiklah mungkin dia sebentar saja, aku akan memakai pakaian kurang bahan itu sekarang."
Ariana beranjak dari tidurnya, setelah itu ia mengambil salah satu lingeri yang di gantung dalam lemari pakaiannya.
__ADS_1
"Merah atau hitam ya ?" gumamnya.
"Hitam saja deh, merah terlalu agresif." gumamnya lagi.
Setelah itu ia segera menanggalkan kimono mandinya, lalu menggantinya dengan lingeri hitam tersebut.
Melihat bayangannya di depan kaca, Ariana nampak menelan ludahnya sendiri.
"Oh astaga, apa bedanya pakai baju atau nggak." gerutunya tapi ia akan tetap memakainya.
Setelah itu ia mengambil parfum lalu menyemprotkannya pada seluruh tubuhnya.
"Baiklah, aku siap."
Ariana menghela napasnya beberapa kali untuk mengurangi kegugupannya.
Satu jam kemudian....
Sudah lebih dari satu jam Ariana menunggu Demian di kamar hotelnya tersebut, tapi suaminya itu tak kunjung datang.
Mau menghubunginya tapi ponsel milik suaminya tak di bawa dan di biarkan tergeletak begitu saja di atas nakas.
Karena bosan menunggu, akhirnya Ariana tergoda untuk melihat ponsel sang suami. Ponsel yang sama seperti miliknya hanya berbeda warna dan mungkin harganya ia tafsir sampai puluhan juta.
Ponsel tersebut tidak di kunci, entah lupa atau memang sengaja. Entahlah, tapi menurut Ariana itu sangat ceroboh. Bagaimana kalau ponselnya hilang dan semua datanya di curi orang.
Tapi Ariana bersyukur di dalam ponsel suaminya tak ada foto wanita lain, selain fotonya dan juga Ricko yang memenuhi galerinya.
Terdapat beberapa foto Olive juga masih tersimpan di sana, ngomong-ngomong soal Olive bagaimana kabar gadis kecil itu sekarang.
Sejak Demian bercerai dari Monica, wanita itu memutuskan menjual asetnya dan pindah keluar kota bersama sang putri dan kekasihnya untuk memulai hidup baru.
"Semoga mereka baik-baik saja." gumam Ariana.
Sementara itu Demian yang sedang berada di sebuah Cafe yang berada di hotel tersebut, nampak bercengkerama dengan kedua orangtuanya dan juga Victor.
"Bersyukurlah karena putramu jatuh cinta pada Ariana, bagaimana kalau dia jadi menikahi Jessica bisa-bisa kamu akan jatuh miskin di buatnya." omel tuan Anggoro pada sang istri.
Sedangkan nyonya Anggoro hanya terdiam, karena memang ucapan sang suami ada benarnya juga. Tapi bagaimana pun ia masih belum bisa menerima sepenuhnya Ariana sebagai menantunya.
"Dan aku tidak mau sampai kamu membuatnya sulit, karena jika itu terjadi maka lebih baik Demian dan keluarganya tinggal di luar negeri saja." ujar Tuan Anggoro lagi kali ini bernada ancaman.
__ADS_1
"Jangan Pa, Mama mana bisa jauh dari Demian. Sejak kecil hanya Demian yang selalu menemani Mama saat papa sibuk berbisnis." tolak nyonya Anggoro.
"Asal Mama baik sama istri dan anakku, aku tidak akan pernah meninggalkan Mama. Lagipula Ariana adalah wanita yang sangat baik Ma, Mama hanya perlu sedikit mengenalnya lagi." kali ini Demian yang bersuara.
"Tentu saja Mama akan selalu menyayangi cucu, Mama." sela nyonya Anggoro.
"Dan menantu Mama juga." tekan Demian.
"Iya Mama tahu itu, tapi bagaimana pun juga wanita itu sudah masuk ke dalam keluarga kita jadi mau tak mau dia harus mengikuti aturan yang sudah ada. Dia harus meninggalkan kebiasaan kampungannya itu dan belajar bagaimana menjadi seorang wanita papan atas." ujar nyonya Anggoro.
"Papa juga setuju, Ariana harus banyak belajar. Kamu tahu sendirikan Dem, bagaimana pergaulan kaum kita dan Ariana harus cepat beradaptasi agar tidak minder ke depannya."
"Dan itu tugas Mama untuk mendidiknya." tegas nyonya Anggoro.
Demian nampak mendesah pelan, tapi bagaimana pun juga apa yang di katakan oleh kedua orangtuanya ada benarnya juga.
"Baiklah, tapi jangan terlalu keras padanya Ma. Demian tidak mau jika Ariana merasa tertekan, aku tidak bisa kalau kehilangan dia lagi." mohon Demian.
"Ck, dasar bucin, memang Mama mau memakannya apa." gerutu nyonya Anggoro kesal dan cemburu tentunya.
Karena selama ini putranya tersebut tak pernah menunjukkan cintanya pada seorang wanita selain dirinya dan saat ini ia mulai di hantui rasa takut jika anak lelakinya itu tidak menyayanginya lagi.
"Baiklah aku harus segera kembali, kalian mengganggu malam pertama ku saja." kali ini gantian Demian yang menggerutu.
"Bukannya malam kesekian kalinya." cibir nyonya Anggoro sinis.
"Asal Mama tahu, meski kami tinggal bersama tapi aku tak pernah menyentuhnya selama ini. Ariana wanita baik-baik dan aku menghargainya." sungut Demian dan setelah itu ia meninggalkan kedua orangtuanya dan juga Victor.
"Menantuku memang wanita baik-baik." ujar Tuan Anggoro dengan pandangan menerawang jauh, tiba-tiba sekelebat bayangan masa lalu melintas di pikirannya.
Namun ia segera membuang jauh pikiran itu dengan menghela napas panjangnya.
Demian yang baru masuk ke dalam kamarnya mendapati istrinya tersebut sudah tertidur pulas seraya memegang ponselnya.
"Maafkan aku sayang, membuatmu menunggu."
Demian mengambil ponselnya lalu meletakkannya di atas nakas, setelah itu ia berbaring di samping sang istri. Namun ia langsung menelan ludahnya ketika masuk ke dalam selimutnya dan mendapati istrinya itu memakai lingeri yang khusus dia beli untuk wanita itu.
"Kamu benar-benar menggoda imanku sayang, jangan salahkan kalau aku mengusik tidurmu."
Demian yang tadinya ingin membiarkan istrinya terlelap hingga pagi, nampaknya akan mengurungkan niatnya dan membuat wanitanya itu mendesahkan namanya sepanjang malam.
__ADS_1