
"Ma-ma." panggil Elkan menghampiri ibunya seraya mengucek matanya yang masih mengantuk.
"Tamatlah riwayatmu, Dena."
Ingin rasanya Dena menggali lubang dan membawa putranya itu bersembunyi di sana.
"Pa-pa." panggil Elkan saat melihat Edgar yang berdiri di hadapannya.
"Dia bukan Papa, sayang. Maaf pak anak saya suka kocak, setiap ada laki-laki selalu di panggilnya papa." ucap Dena dengan tersenyum nyengir, semoga saja bossnya itu tidak berpikir macam-macam.
"Ayo sayang masuk lagi, tunggu mama di dalam ya." lanjutnya lagi memerintah sang putra.
"Tunggu !!" Edgar langsung berjongkok di depan Elkan yang nampak menatapnya senang.
"Sini sama Papa." tanpa menunggu persetujuan Dena, Edgar langsung membawa Elkan ke dalam gendongannya.
"Bapak jangan macam-macam ya, dia anak saya." sergah Dena ingin merebut Elkan, namun justru Edgar membawanya masuk ke dalam rumahnya.
"Pak, berhenti." teriak Dena lagi saat Edgar mengabaikannya, ia nampak mengikuti Edgar di belakangnya.
"Sssttt." Edgar menaruh jarinya di depan bibirnya, memberi kode agar Dena berhenti berbicara.
Elkan sepertinya masih mengantuk, ia nampak tertidur lagi dalam gendongan ayahnya itu.
Dena yang geram hanya bisa menunggu, lalu ia menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
Sebenarnya ia terharu melihat Elkan bertemu dengan Ayahnya, apalagi putranya itu langsung lengket dengan pria itu padahal biasanya Elkan selalu takut pada pria asing.
Tapi Dena cukup tahu diri, lebih baik Elkan tidak pernah tahu siapa ayahnya. Karena sampai kapanpun dia dan Edgar tidak pernah bersatu, selain memang tidak ada rasa cinta di antara mereka. Dena juga tidak mau berurusan dengan Sera atau ibunya.
"Di mana kamarnya ?" lirih Edgar seraya menatap Dena.
"Biar saya saja yang menidurkannya, pak." mohon Dena.
"Di mana kamarnya ?" tegas Edgar, kali ini ia menatap tajam Dena.
Dena nampak menelan ludahnya dengan kasar saat melihat kemarahan di wajah Edgar, dirinya yang biasanya selalu berani kini mendadak ciut.
"Mari ikut saya." Akhirnya Dena mengijinkan Edgar masuk ke dalam kamarnya.
Kamar yang sangat sederhana menurut Edgar, hanya ada sebuah ranjang king size, box bayi dan juga lemari.
Dengan pelan Edgar menidurkan putranya tersebut di atas ranjangnya.
"Terima kasih, Pak. Sebaiknya bapak keluar sekarang." usir Dena saat Edgar belum juga beranjak dari ranjangnya.
"Ada yang harus kita bicarakan." sahut Edgar seraya menatap Dena lekat.
"Tentu saja tentang pekerjaan kan? mari kita bicarakan di luar." Dena langsung beranjak keluar dari kamarnya yang di ikuti oleh Edgar di belakangnya.
__ADS_1
"Jadi pekerjaan apa....." lanjutnya lagi saat baru keluar dari kamarnya namun Edgar langsung memotongnya.
"Apa dia anak saya ?" potong Edgar yang langsung membuat Dena mendadak salah tingkah.
"Maksud bapak ?" Dena pura-pura tidak mengerti.
"Apa Elkan putra saya? anak kandung saya ?" tanya Edgar dengan tegas.
"Nggak lucu tahu pak becandanya, tentu saja Elkan putra saya dan Arhan. Mungkin karena selama ini Arhan kurang perhatian, jadi Elkan suka memanggil semua laki-laki yang ia temui dengan panggilan Papa." sahut Dena beralasan.
"Apa kamu yakin dia anaknya Arhan ?" desak Edgar.
"Tentu saja, pak. Bukannya Arhan mantan suami saya." sahut Dena meyakinkan.
"Tapi saya rasa dia putraku." tegas Edgar.
"Itu tidak mungkin pak, kita hanya melakukannya sekali. Sedangkan dengan Arhan saya melakukannya berkali-kali tentu saja itu buah hati kami." dusta Dena yang membuat Edgar langsung geram.
"Melakukan sekali bukan berarti tidak mungkin, bahkan saat kita melakukannya kamu masih dalam keadaan virgin di usia pernikahanmu menginjak satu tahun dan beberapa bulan setelahnya kalian bercerai. Saya rasa Arhan sedikitpun tak pernah menyentuhmu waktu itu." cibir Edgar dengan tersenyum miring.
Dena nampak memucat sepertinya Edgar sudah mencari tahu banyak tentang dirinya, bagaimana mungkin ia bisa berkelit lagi.
"Biar tes DNA yang akan membuktikannya." tegas Edgar lagi.
"Anda tidak bisa melakukan itu pak, saya tidak mengizinkannya." tolak Dena.
"Tidak, tapi itu memang tidak akan membuktikan apa-apa." keukeh Dena.
"Tapi saya akan tetap melakukannya." tegas Edgar kemudian berlalu ke kamar Dena.
"Bapak mau ngapain masuk ke kamar saya lagi ?" teriak Dena seraya mengejar Edgar yang sudah masuk ke dalam kamarnya terlebih dulu.
"Sssttt, apa kamu mau dia terbangun karena teriakan mu itu." lirih Edgar.
"Saya akan tidur di sini menemani putra saya." ucapnya lagi seraya merebahkan tubuhnya di samping Elkan.
Edgar nampak menciumi pipi Elkan yang gembul itu dengan gemas, sepertinya Dena sudah merawatnya dengan sangat baik. Bocah kecil itu terlihat montok dan juga sehat.
Dena menatap tajam Edgar, laki-laki itu sangat keras kepala. Bagaimana kalau setelah ini dia mengambil putranya itu darinya.
Dia harus melakukan sesuatu, Dena tidak ingin Elkan mempunyai ibu tiri seperti Sera. Jika itu terjadi bisa di pastikan nasib putranya akan seperti dirinya.
"Sepertinya lebih baik aku akan membawa Elkan kabur, sebelum pak Edgar melakukan tes DNA."
Dena menatap kesal Edgar saat laki-laki itu memeluk putranya, ia tidak menyangka akan secepat ini rahasia yang ia sembunyikan akan terbongkar.
"Jangan sedikitpun berpikir untuk membawa putra saya kabur, jika itu terjadi saya pastikan akan mengambilnya darimu." tegas Edgar seakan bisa membaca pikiran Dena saat ini.
"Anda tidak bisa melakukan itu pak, dia milik saya sendiri." Dena melangkah mendekati Edgar lalu menarik tangan laki-laki itu agar menjauh dari putranya.
__ADS_1
Namun badan Dena yang kecil tentu saja itu tak berarti apa-apa bagi Edgar, dengan sekali hentakan Dena justru jatuh ke atas tubuhnya.
"Bapak apa-apan sih lepaskan saya." Dena memberontak, namun apa daya Edgar justru memeluknya dengan kuat.
Kini pandangan mereka nampak bertemu dengan posisi yang sangat intim itu.
Tentu saja Dena segera membuang mukanya ke sembarang arah, dia manusia normal dengan posisi intim seperti ini ia takut khilaf meski itu takkan pernah terjadi pikirnya.
Edgar yang merasa gemas langsung membalik tubuh Dena hingga membuat wanita itu berada di bawahnya.
"Kenapa kamu sangat keras kepala, hm? bukannya kalau dia anak kita, kita bisa merawatnya bersama-sama ?" lirih Edgar seraya menatap lekat wanita di bawahnya itu.
"Dia hanya milik saya." keukeh Dena dengan pendiriannya, ia nampak menatap tajam Edgar.
"Baiklah, kalau begitu jangan salahkan saya dengan apa yang akan saya lakukan."
Edgar langsung beranjak dari atas tubuh Dena, lalu merebahkan dirinya di samping Elkan. Ia memeluk putranya itu yang nampak sangat pulas seakan tak terganggu dengan perdebatan kedua orangtuanya.
"Sial."
Dena segera beranjak dari ranjangnya, mana mungkin ia tidur satu ranjang dengan pria itu.
Mungkin dulu ia pernah melakukan kesalahan dalam hidupnya, tapi kini ia akan menjunjung harga dirinya sebagai wanita yang terhormat.
Menjadi janda bukan berarti murahan, ia bisa berjuang sendiri tanpa harus jual diri atau menjadi orang ketiga dalam hubungan seseorang.
"Ma-ma."
Baru juga Dena akan melangkahkan kakinya keluar tapi Elkan nampak memanggilnya.
Bocah kecil itu terlihat mengusap-usap mulutnya pada dada Edgar.
"Apa dia masih asi ?" tanya Edgar.
"Hm." angguk Dena.
"Ya sudah tunggu apalagi cepat berikan dia asi." perintah Edgar.
"Dengan anda masih berada di situ ?" cibir Dena kesal.
"Saya hanya memastikan kalau kamu akan memberikan putraku asi yang cukup." sahut Edgar.
"Dasar mesum, anda pikir selama ini saya tidak merawat anak saya dengan baik." umpat Dena seraya menarik tangan Edgar agar segera beranjak dari ranjangnya.
Namun itu justru membuat Edgar terkekeh gemas. "Baiklah saya akan keluar." ucapnya dan bersamaan dengan itu ponselnya nampak berdering.
"Ya, Ser." jawab Edgar saat mengangkat teleponnya, kemudian ia segera berlalu keluar dari kamar tersebut.
"Ya pergilah yang jauh, kalau bisa jangan pernah kembali." gerutu Dena kesal, kemudian ia segera merebahkan dirinya di ranjang untuk menyusui bayinya itu.
__ADS_1