
"Mas, tidak bisakah kita sarapan bersama ?" mohon Ariana ketika suaminya sedang bersiap-siap ke kantornya.
"Hari ini aku ada meeting pagi, sayang." sahut Demian seraya memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya.
"Tapi tidak mungkin juga kan meeting di saat jam sarapan ?" protes Ariana, ia harus mengambil sikap kali ini karena suaminya itu benar-benar sudah keterlaluan.
Selalu melewatkan sarapan paginya dan pulang pun selalu larut malam hanya karena ingin menghindari sang ayah.
"Aku sarapan di kantor saja, sayang. Tolong mengertilah." sahut Demian yang nampak masih sibuk dengan berkasnya.
"Tidak bisakah kita mengakhiri ini semua mas dan memaafkan Papa saja, rumah ini menjadi sangat tidak nyaman." mohon Ariana yang langsung membuat Demian menegakkan tubuhnya lalu menatapnya.
"Aku tak habis pikir denganmu sayang, apa kamu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Mama hingga menyuruhnya untuk memaafkan Papa yang jelas-jelas sudah menghianatinya bahkan kamu juga menyuruh bajingan itu untuk tinggal di rumah ini ?" ujar Demian dengan emosi tertahan.
"Maaf waktu itu aku bicara hanya mengikuti naluriku sebagai seorang ibu, karena nasib Dean....."
"Jangan sebut namanya di rumah ini." sela Demian.
"Nasib anak itu dan Ricko hampir sama, Mas." lanjut Ariana dengan menahan isakannya.
Melihat kesedihan istrinya, Demian nampak menghela napas panjangnya.
"Maafkan aku." ucapnya, kemudian membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Meskipun kamu tidak bisa memaafkannya, tapi bisakah kita sarapan bersama ?" mohon Ariana yang masih berada dalam pelukan suaminya.
"Maaf, aku belum bisa sayang." Demian mengurai pelukannya, lalu mengecup kening istrinya tersebut.
"Kamu makan yang banyak ya, jangan capek-capek dan banyak istirahat." imbuhnya lagi seraya mengusap lembut perut besar wanita itu.
Setelah itu Demian berlalu pergi ke kantornya, sungguh saat ini dia tidak mau berdebat dengan sang istri.
"Aku merindukanmu, Mas." gumam Ariana seraya melihat kepergian suaminya.
Sejak kejadian waktu itu, Demian berubah sangat dingin bahkan laki-laki itu sama sekali tak pernah menyentuhnya. Hanya berbicara seperlunya meski masih dengan nada manis seperti saat ini.
"Mom, kenapa Daddy jarang pulang ?" tanya Ricko pagi itu setelah beberapa hari ini tak melihat Ayahnya ikut sarapan bersama.
"Daddy setiap hari pulang kok sayang, hanya saja Daddy sedang banyak pekerjaan jadi pagi-pagi sekali Daddy sudah pergi." sahut Ariana menjelaskan, akhir-akhir ini Demian memang sering pulang larut malam dan berangkat sangat pagi.
Selain karena ingin menghindari sang ayah, Demian memang sedang mengerjakan proyek barunya yang mengharuskannya bolak-balik keluar kota.
"Nenek juga kenapa sekarang tidak pernah ikut sarapan bersama kita, Mom ?" tanya Ricko lagi dengan penasaran.
"Kalau nenek sedang kurang sehat sayang jadi nenek sarapannya di kamar saja." sahut Ariana sembari melirik ke arah ayah mertuanya tersebut yang tampak sedang menghabiskan sarapannya dengan diam.
__ADS_1
"Baiklah, setelah sarapan Ricko mau lihat nenek di kamarnya." ucap Ricko lalu mulai menghabiskan sarapannya.
"Itu lebih baik, sayang. Siapa tahu setelah melihat Ricko nenek langsung sehat kembali." Ariana nampak tersenyum menatap putranya tersebut.
Sedangkan tuan Anggoro terlihat bangkit setelah sebelumnya menyesap kopinya.
"Papa sudah selesai, terima kasih masih bertahan di rumah ini Nak." ucap tuan Anggoro seraya menatap lekat Ariana.
"Papa baik-baik saja ?" Ariana melihat tuan Anggoro nampak sedikit kurusan, wajahnya layu sepertinya kurang tidur.
Beberapa hari ini laki-laki itu nampak tidur di ruang kerjanya, karena nyonya Anggoro selalu mengusirnya ketika ingin masuk ke dalam kamarnya.
"Hm." angguk tuan Anggoro kemudian ia mengecup pipi Ricko berkali-kali dengan gemas seperti yang biasa ia lakukan sebelumnya. Namun kali ini nampak sekali raut kesedihan di wajahnya.
"Selalu jadi anak baik ya, sayang." ucapnya lagi pada Ricko.
"Baik, kek."
Setelah itu ia berlalu pergi ke ruang kerjanya dan tak berapa lama kemudian saat Ariana sedang membantu ARTnya membereskan meja makan tuan Anggoro nampak menuruni tangga dengan koper di tangannya.
"Tolong berikan ini pada Mamamu dan juga Demian." Tuan Anggoro memberikan sebuah map berisi beberapa dokumen pada Ariana.
"Baik Pa, lalu Papa mau kemana ?" Ariana menatap koper yang di bawa oleh ayah mertuanya tersebut.
"Kesalahan Papa sangat besar Nak, Papa tidak layak tinggal di sini lagi." sahut tuan Anggoro seraya menatap seisi Mansion yang sudah ia huni selama 34 tahun tersebut.
"Di tempat di mana Papa akan menghabiskan hari tua Papa." sahut tuan Anggoro.
"Tapi Pa...."
"Tolong titip Demian dan Mamanya ya serta jaga cucu-cucu Papa dengan baik." sela tuan Anggoro dengan nada memohon.
Setelah itu ia menarik kopernya, kemudian berlalu pergi meninggalkan Mansionnya tersebut.
Melihat kepergian Ayahnya Ariana nampak menghela napas panjangnya, dampak dari perselingkuhan memang selalu menyakitkan tapi tidak bisakah mereka saling memaafkan saja dan memulai hidup baru dengan menghabiskan masa tua bersama.
Toh kejadian itu sudah 17 tahun berlalu dan selama itu pula tuan Anggoro hidup dengan rasa penyesalannya hingga tak pernah protes sedikitpun dengan sikap nyonya Anggoro yang terlalu cuek dan membiarkan wanita itu berbuat sesuka hati asalkan bahagia.
Sementara itu, Ricko yang baru masuk ke dalam kamar sang nenek nampak berjalan menghampiri wanita paruh baya tersebut.
"Mommy bilang, nenek sedang sakit? Apa nenek sudah sarapan ?" ucap Ricko setelah mendekat.
Nyonya Anggoro langsung mengulas senyumnya menatap cucunya, meski masih sangat kecil tapi bocah itu selalu peduli dengan orang sekitarnya.
Ia akui Ariana mendidik cucunya itu dengan sangat baik dan untuk pertama kalinya ia merasa sangat malu dengan keangkuhannya selama ini yang kini telah membuatnya hancur.
__ADS_1
"Nanti nenek akan sarapan, sayang. Apa kamu mau pergi sekolah ?" sahut nyonya Anggoro.
"Sebentar lagi, Nek. Ayo nenek makan, mau Ricko suapi ?" Ricko menatap nampan berisi bubur ayam di atas nakas yang terlihat masih belum tersentuh.
"Nenek bisa sendiri, Nak."
"Tapi nenek harus banyak makan biar sehat."
"Terima kasih, sayang. Maafkan nenek ya pernah tidak baik sama kamu." ujar nyonya Anggoro dengan berkaca-kaca, mungkin ini untuk pertama kalinya ia mengucapkan kata maaf pada orang lain.
"Nenek baik kok dan Ricko selalu memaafkan siapapun itu, karena Tuhan yang mempunyai alam semesta ini saja maha memaafkan. Masa kita sebagai makhluk ciptaannya tidak mau memaafkan." sahut Ricko polos.
"Kamu memang anak baik Nak, seperti ibumu." Nyonya Anggoro langsung membawa cucunya tersebut ke dalam pelukannya.
Tak berapa lama kemudian, Ariana nampak masuk ke dalam kamar ibu mertuanya tersebut.
"Nak, sudah di tungguin sama pak sopir di bawah." ucapnya pada Ricko.
Ricko segera melepaskan pelukannya, kemudian berpamitan pada ibu dan neneknya tersebut.
"Ma, kenapa tidak di makan sarapannya. Apa mau saya suapi ?" ucap Ariana sesaat setelah kepergian Ricko.
"Nanti Mama makan, kemarilah duduk di sini." pinta nyonya Anggoro seraya menepuk sisi sofa sampingnya.
"Maafkan Mama ya, Nak. Mama sangat bersalah padamu dan Tuhan sudah menghukum Mama dengan sangat dalam." ujar nyonya Anggoro dengan berkaca-kaca, runtuh sudah segala keangkuhannya.
Ariana langsung memeluk ibu mertuanya tersebut. "Kita bisa mulai dari awal lagi Ma, tolong maafkan Papa." mohon Ariana.
Setelah merasa lebih baik, lalu nyonya Anggoro mengurai pelukannya.
"Entahlah Nak, meski itu kejadian sudah sangat lama tapi sakitnya masih sangat membekas." sahut nyonya Anggoro.
"Saya mengerti Ma, semua keputusan ada pada Mama." ucap Ariana.
Lalu ia memberikan sebuah map berisi beberapa dokumen pada ibunya tersebut.
"Ma, Papa menitipkan ini untuk Mama dan mas Demian."
Nyonya Anggoro mengerutkan keningnya, namun ia langsung menerimanya lalu membukanya, setelah membaca isinya ia nampak terisak.
"Kemana Papamu pergi ?" tanyanya kemudian.
"Beliau hanya berkata akan tinggal di mana ia akan menghabiskan masa tuanya." sahut Ariana bingung.
"Dasar pria tua bodoh." seru nyonya Anggoro lalu melempar dokumen di tangannya tersebut yang langsung berserakan di atas meja.
__ADS_1
Nampak beberapa sertifikat kepemilikan dan juga beberapa surat kendaraan disana.