
Victor mengumpat kesal karena saat akan menyentuh sang istri, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
Bukannya langsung mengangkatnya ia langsung berguling ke sisi sang istri tidur.
"Angkat Mas, siapa tahu penting." perintah Nina saat suaminya nampak enggan beranjak dari tidurnya.
"Biarkan saja sayang, itu bukan telepon tapi hanya pengingat kalau pagi ini aku ada meeting." sahut Victor.
Kemudian Nina segera bangun lalu mematikan alarm di ponsel suaminya tersebut.
"Ya sudah ayo bangun." ucapnya kemudian.
"Ini sudah bangun, sayang." sahut Victor.
"Kalau begitu cepat berdiri, Mas." perintah Nina lagi.
"Ini sudah berdiri, sayang." sahut Victor lagi tanpa mengubah posisinya, ia masih saja terlentang di atas ranjangnya.
"Mas, jangan becanda deh." Nina langsung memalingkan mukanya saat tak sengaja melihat sesuatu yang menonjol di balik boxer milik suaminya itu, ia yakin wajahnya kini pasti sudah memerah.
"Lantas bagaimana, sayang? kamu sih menggodaku terus." Victor menatap kimono sang istri yang tanpa wanita itu sadari sudah terbuka, nampak lekuk tubuhnya yang begitu menggoda iman dari balik lingeri tipis yang di pakainya.
"Menggoda apaan sih, Mas. Pikiranmu saja yang mesum." sungut Nina.
Namun ketika ia mengikuti arah mata suaminya, Nina langsung melotot saat melihat keadaan dirinya yang berantakan.
Lalu dengan buru-buru ia mengikat kembali tali kimononya.
"Dasar mesum." cebiknya yang langsung membuat Victor tertawa nyaring.
"Bersiap-siaplah nanti malam sayang, karena suamimu yang mesum ini sudah sangat kelaparan ingin menyantapmu." goda Victor seraya melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.
Nina langsung menelan salivanya, ia tak menyangka suaminya yang berwajah kaku seperti kanebo kering dan sifatnya yang seperti balok es ternyata mempunyai sisi yang begitu hangat.
Diam-diam Nina mengulas senyumnya, mengingat bagaimana dinginnya laki-laki itu saat pertama kali bertemu dengannya. Jodoh memang tidak ada yang bisa menerkanya.
Lantas ia segera keluar dari kamarnya untuk menyiapkan sarapan pagi.
"Sayang." panggil Victor yang langsung membuat Nina berbalik badan dari penggorengannya.
"Iya, mas..." sahut Nina, namun ia langsung memalingkan wajahnya saat melihat laki-laki itu hanya memakai handuk sebatas pusar.
Perut sispacknya terlihat kotak-kotak bak roti sobek serta dada bidangnya yang terlihat begitu liat dan keras, nampak sisa tetesan air masih membasahi kulit cokelat laki-laki itu hingga membuatnya terlihat seksi nan tampan.
Bahkan Nina sampai harus menahan napasnya sendiri saat melihatnya, lalu ia lebih memilih memalingkan wajahnya daripada nanti khilaf menyentuhnya.
"Sayang, apa kamu melihat di mana tasku semalam ?" tanya Victor lagi saat Nina terlihat salah tingkah.
Nina segera mengambil tas kerja suaminya yang ia letakkan di meja makan dari semalam.
__ADS_1
"Maaf aku lupa." buru-buru Nina menyerahkan tas tersebut.
"Hei kenapa kamu tidak mau melihatku." Victor langsung mencekal tangan istrinya saat menghindarinya.
"Aku sedang masak Mas, cepat ganti pakaianmu sudah ku siapkan di atas kasur." ucap Nina seraya memandang ke sembarang arah asal tidak menatap suaminya.
Duh jantung Nina sungguh tak aman saat berdekatan dengan suaminya yang setengah polos dan basah itu.
"Lihat aku sayang, aku suamimu kenapa harus malu ?" Victor kini justru merengkuh pinggang wanita itu hingga merapat padanya.
"Mas, aku harus masak." ucap Nina lagi namun suaminya malah melum😘t bibirnya.
Nina yang terkejut, langsung melotot saat mendapatkan serangan tiba-tiba. Namun selanjutnya ia menikmati permainan lidah suaminya yang begitu lihai hingga membuatnya terbuai.
"Sepertinya nanti aku akan pulang cepat, persiapkan dirimu sayang." Victor mengusap sudut bibir sang istri yang basah karena ulahnya, setelah itu ia kembali masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Nina langsung terduduk di meja makan dengan jantung tak karuan.
...........
"Kamu kenapa Vic? berantem sama istri ?" tanya Demian saat melihat asistennya itu nampak tak bersemangat di ruang meeting pagi itu.
"Tidak tuan." sahut Victor yang terlihat enggan beranjak dari tempat meeting, padahal meeting sudah selesai beberapa menit yang lalu.
"Masa baru beberapa hari menikah sudah tak bersemangat gitu, tidak sesuai ekspetasi kamu? atau sudah tidak bersegel lagi ?" seloroh Demian, laki-laki itu kini terlihat lebih bahagia saat Dean sang adik sudah siuman dan berangsur membaik.
"Entahlah tuan menyentuhnya juga belum." sahut Victor dari kursinya.
Victor yang biasanya menanggapi ledekan Demian dengan celetuk-celetukannya kini hanya bisa menghela napas panjangnya.
"Sepertinya kamu harus bulan madu." lalu Demian mengambil sebuah amplop dari dalam laci meja kerjanya kemudian memberikannya pada Victor.
"Ini apa, tuan ?" Victor tercengang saat melihat tiket penerbangan tujuan Paris.
"Pergilah bulan madu, Vic." perintah Demian.
"Sepertinya tidak mungkin tuan, pekerjaan sedang menumpuk. Lagipula saya juga sedang menyelidiki nona Jenny dan Dean juga belum membaik alangkah tidak etisnya jika saya melakukan itu." tolak Victor seraya meletakkan kembali tiket tersebut ke atas meja.
Demian nampak menghela napas panjangnya.
"Baiklah, tapi kamu sudah menikah jadi jangan terlalu gila kerja istrimu juga butuh perhatian. Mengenai Dean biar saya dan Papa yang mengurusnya." titah Demian.
Ia menyadari selama ini hidupnya selalu bergantung pada laki-laki itu, namun mulai sekarang mungkin ia tidak bisa selalu mengandalkan asistennya itu lagi.
Sedangkan Victor hanya menanggapinya dengan anggukan kecil.
Sesuai janjinya hari ini Victor pulang lebih cepat lalu mengajak sang istri makan malam di luar.
"Mas, kita mau kemana ?" tanya Nina saat suaminya bukan mengajaknya pulang setelah makan malam justru mengajaknya masuk ke dalam hotel.
__ADS_1
"Selamat malam tuan Victor, selamat atas pernikahan anda." ujar para karyawan hotel tersebut menyambutnya.
Nina tercengang, kenapa para pegawai di sana begitu menghormati suaminya, apa laki-laki itu sering menginap di sini.
Victor hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat membalas sapaan mereka, lantas mengajak istrinya itu ke arah resepsionis.
"Tidak sopan banget sih." gerutu Nina tak enak hati karena sikap angkuh suaminya.
"Tuan ini laporan keuangan hotel yang anda minta kemarin." resepsionis tersebut memberikan sebuah map pada Victor.
"Terima kasih," Victor mengambilnya lalu mengeceknya.
Saat Victor sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba nampak seorang pria langsung memeluk Nina.
"Akhirnya aku menemukanmu juga, aku sudah mencarimu kemana-mana. Kamu tahu, setelah aku membujuknya Mama menyetujuiku untuk menikahimu. Kamu pernah bilang kan, jika Mama setuju maka kamu mau menerimaku." cercah Yudo dengan antusias, sudah beberapa hari ini ia mencari keberadaan Nina.
"Mas Yu-Yudo tolong lepaskan saya." mohon Nina seraya menatap suaminya yang terlihat sangat marah.
"Tentu saja aku akan melepaskan mu setelah kamu bilang iya, kita akan segera menikah sayang." sahut Yudo yang masih enggan melepaskan pelukannya, namun tanpa ia sadari ada seekor harimau kelaparan di belakangnya yang siap menerkamnya.
"Lepaskan istri saya !!" hardik Victor yang langsung membuat Yudo melepaskan pelukannya pada Nina lalu berbalik badan untuk menatapnya.
"Kamu ?" Yudo nampak terkejut saat melihat Victor.
Nina yang melihat kemarahan di wajah Victor, ia langsung mendekatinya lalu memeluk lengannya.
"Ini maksudnya apa, Nin ?" tanya Yudo.
"Maaf Mas, aku sudah menikah." sahut Nina yang langsung membuat Yudo tercengang.
Yudo pikir ia masih ada harapan untuk menikahi Nina, karena waktu itu ia melihat hubungan gadis itu dan Victor nampak renggang.
"Kamu sudah dengarkan, jadi mulai sekarang jangan pernah mendekati istriku lagi." tegas Victor, kemudian menarik tangan sang istri sedikit kasar menuju lift.
"Mas, maaf. Jangan marah ya." mohon Nina saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Apa kamu pernah membuat janji akan menikah dengannya ?" ucap Victor dengan nada dingin.
Nina yang tidak bisa mengelak, nampak menganggukkan kepalanya.
Victor langsung menggeram, lalu menarik lagi tangan sang istri saat lift terbuka.
Sungguh Nina terkejut saat melihat sisi lain suaminya tersebut, sangat mengerikan jika sedang cemburu.
Sesampainya di kamar hotel Victor langsung menghempaskan istrinya itu ke atas ranjangnya hingga membuat wanita itu terpekik kaget.
Pergelangan tangannya terasa panas karena cengkeraman suaminya yang terlalu kuat.
"Mas, maaf. Lagipula itu kejadian sudah berlalu lama." mohon Nina.
__ADS_1
"Kamu harus menerima hukuman mu sayang, bahkan aku belum menyentuhmu tapi laki-laki lain sudah berani memelukmu." Victor nampak melepaskan dasinya lalu mengikatnya pada kedua tangan sang istri.
"Mas maaf." Nina nampak ketakutan, namun ia hanya bisa pasrah saat melihat laki-laki itu mulai melucuti pakaiannya.