Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~183


__ADS_3

Setelah berhasil membujuk sang istri, Edgar segera membawa wanita itu masuk kembali ke dalam pesta tersebut.


"Ed, akhirnya kamu datang juga." Ariana nampak tersenyum ramah saat Edgar dan sang istri berjalan mendekat ke arahnya.


"Hai Rin, bagaimana kabarnya? oh ya kenalin ini istriku dan ini Elkan putraku." Edgar langsung memperkenalkan keluarga kecilnya pada Ariana.


"Dena." ucap Dena sembari mengulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Ariana, lalu ia langsung memeluknya.


"Oh astaga? jadi berita yang di muat di media itu bukan gosip atau setingan ?" Ariana nampak terkejut sekaligus senang karena sahabatnya itu akhirnya menemukan cinta sejatinya.


"Tentu saja, anakku sudah mau dua masa setingan." kelakar Edgar.


"Wow ada apa ini, sayang ?" ucap Demian yang baru bergabung.


Demian yang tadinya sedang berbincang dengan koleganya nampak terkejut saat melihat keberadaan Edgar di sekitar sang istri. Meski mereka lama tidak bertemu, Demian masih khawatir jika pria itu masih mengharapkan Ariana.


"Ini loh mas, ternyata gosip di media itu beneran. Ternyata Edgar sudah menikah dan mempunyai anak." sahut Ariana.


"Benarkah, jadi itu bukan gosip ?" balas Demian, beberapa waktu lalu ia sempat terkejut saat mendapati berita viral pernikahan Edgar dan Dena di media bisnis.


"Tentu saja bukan." sahut Edgar.


"Papa." Elkan yang sedari tadi nampak bosan mendengarkan obrolan para orangtua yang tidak ia mengerti langsung menarik-narik celana Edgar dengan gelisah.


"Ada apa sayang, mau gendong Papa hm ?" Edgar langsung menggendong putranya itu.


"Oh astaga, dia putramu ?" Demian nampak terkejut saat melihat Elkan.


"Menurutmu ?" sahut Edgar sembari terkekeh.


"Perasaan kalian menikah baru kemarin? rupanya kamu telah tanam saham duluan." cibir Demian yang langsung mendapatkan cubitan dari Ariana.


"Maaf Ed, Dena. Suamiku memang suka melucu meski garing." ralat Ariana tak enak hati.


"Santai aja Rin, orang dia sama aku tak jauh berbeda sama-sama tanam saham duluan." sahut Edgar bernada sindiran.


"Sialan, kamu bro." Demian langsung meninju pelan lengan Edgar sembari terkekeh.

__ADS_1


Tak berapa lama kemudian nampak Nina dan juga Victor berjalan mendekat ke arah mereka, Nina langsung memeluk Ariana saat bertemu sahabatnya itu.


"Oh ya Nin, kenalin ini Dena istrinya Edgar ?" ucap Ariana kemudian pada Nina.


"What ?" Nina nampak melebarkan matanya saat menatap Dena yang juga sama terkejutnya sama seperti dirinya.


"Dena? Dena club xx ?" ucapnya lagi.


"Nina kan yang dahulu suka mengantarku ke Apartemen saat aku mabuk ?" ucap Dena antusias bahkan ia tak malu mengakui dirinya pernah mabuk di depan Ariana dan Demian.


"Oh astaga, Dena." Nina langsung berhambur ke pelukan Dena, dahulu hubungan mereka yang berawal dari pelayan bar dan pengunjung menjadi sangat akrab saat Nina sering mengantar Dena pulang ketika wanita itu mabuk dan sejak saat itu mereka menjadi akrab.


"Jadi berita di media itu benar? syukurlah akhirnya kamu menikah dengan orang baik Den." imbuh Nina lagi saat mengurai pelukannya, ia tahu bagaimana masa lalu Dena dan ia bersyukur akhirnya Edgar yang menjadi suaminya sekarang.


"Ternyata dunia begitu sempit ya." ujar Ariana ikut bahagia.


"Tidak menyangka ya, ternyata istri kita dulu sempat berteman. Saya yakin nyonya Dena pasti satu circle dengan istri saya." bisik Victor pada Edgar yang langsung membuat Edgar terkekeh mendengarnya karena istrinya dulu memang terkesan sedikit bar-bar seperti Nina.


"Om ?" panggil seseorang yang langsung membuat Edgar menoleh ke belakang.


"Ricko ?" ujar Edgar terkejut.


"Oh astaga nih bocah, kenapa kamu bisa setinggi ini ?" Edgar nampak terkejut saat melihat Ricko yang kini sudah sangat tinggi.


Ricko nampak terkekeh, bocah 13 tahun itu kini sudah menginjak remaja sekarang dan terlihat sangat tampan.


"Selamat siang, tante." sapa Ricko kemudian pada Dena seraya mencium punggung tangan wanita itu dengan takzim.


"Siang juga." sahut Dena dengan tersenyum ramah.


"Tante beruntung loh mendapatkan suami seperti Om Edgar, Om Edgar orangnya sangat baik." ucap Ricko yang tadi tak sengaja melihat pertengkaran Edgar dan Dena.


"Benarkah? terima kasih, tentu saja tante sangat beruntung. Sangat beruntung malahan." sahut Dena menatap Ricko, setelah itu ia mengalihkan tatapan pada sang suami.


"Jadi Mommy mu nggak beruntung gitu mendapatkan Daddy ?" cibir Demian saat sang putra lebih memuji Edgar.


"Tentu saja beruntung juga Dad, baperan banget sih." celetuk Ricko yang langsung membuat semua orang di sana terkekeh.

__ADS_1


"Tapi sepertinya gadis yang dekat denganmu tak seberuntung itu." cibir Demian membalas.


"Apaan sih, Dad. Ricko masih kecil." sungut Ricko.


"Masih kecil? tapi kata satpam setiap hari ada aja gadis ke rumah mencarimu." balas Demian meledek.


Ricko nampak memberengut saat semua orang menertawainya, sepertinya bocah yang baru menginjak remaja itu mulai di gilai teman-teman perempuannya.


Sementara itu Sera yang sedang duduk melamun di meja makan malam itu, nampak terkejut saat mendengar deheman seseorang di belakangnya.


Ia langsung beranjak dari duduknya saat menyadari kedatangan Martin. "Apa kamu mau makan ?" tanyanya pada laki-laki itu.


"Helena sedang lapar, aku mau memasak untuknya." sahut Martin dengan nada dingin.


"Tentu saja kelaparan, kalian baku hantam di atas ranjang seharian." gerutu Sera lirih.


"Kamu bilang apa ?" Martin yang tengah memeriksa bahan makanan nampak menoleh ke arah Sera saat mendengar wanita itu menggerutu tak jelas.


"Ti-tidak, aku tidak bilang apa-apa." ralat Sera saat Martin menatapnya.


"Kamu tidak perlu memasak, aku sudah masak tadi." imbuhnya lagi yang langsung membuat Martin melebarkan matanya.


"Kamu memasak ?" ucap Martin tak percaya, terakhir wanita itu memasak rasanya sangat asin dan sejak saat itu Martin melarangnya untuk memasak karena hanya akan membuang-buang bahan makanan saja.


"Sejak kamu pergi, aku belajar memasak." sahut Sera seraya membuka penutup makanan, di sana nampak semangkok spaghetti yang terlihat menggugah selera.


"Ini tidak beracun kan ?" cibir Martin menatap curiga.


"Kamu pikir aku ahli kimia yang bisa membuat ramuan di tengah hutan seperti ini." ketus Sera kesal, meski pria itu sering sekali memarahinya tapi tak membuat Sera diam saja di perlakukan seperti itu.


Martin nampak mengambil sendok lalu mencicipinya. "Tidak terlalu buruk." ucapnya, setelah itu ia membawa spaghetti tersebut masuk ke dalam kamarnya.


Melihat kepergian Martin, Sera nampak mengumpati pria tersebut seraya melayangkan pukulannya di udara seakan ia sedang meninjunya.


"Pergi jauh sana, pria brengsek." gerutunya.


"Kamu sedang ngapain ?" Martin yang tiba-tiba berbalik nampak memicing saat melihat tingkah Sera.

__ADS_1


"Eh, tidak. Ini banyak nyamuk." sahut Sera beralasan, ia terlihat salah tingkah dengan meninju-ninju udara berharap pria itu tak mencurigainya.


"Nyamuk itu di tepuk bukan di tinju, dasar bodoh." ucap Martin, kemudian ia kembali berlalu menuju kamarnya, namun kedua sudut bibirnya nampak sedikit terangkat ke atas saat mengingat tingkah konyol wanita itu.


__ADS_2