
Siang itu Elkan di bawa oleh ayahnya ke kantornya, bocah kecil itu terlihat kagum saat memasuki gedung pencakar langit tersebut.
Banyak pasang mata yang menatapnya gemas, tapi siapa yang berani menggoda putra atasannya itu.
"Elkan duduk di sini dulu ya, Papa akan bekerja sebentar. Jangan kemana-mana dan tetap duduk di sini, oke ?" ujar Edgar memberitahu putranya tersebut.
Elkan nampak duduk anteng di sebuah sofa tak jauh dari ayahnya yang sedang meeting, sepertinya bocah kecil itu sangat mengerti keadaan hingga tidak berani ribut seperti biasanya.
Bahkan ia beberapa kali menaruh jari telunjuknya di depan bibir, mengisyaratkan agar diam saat beberapa karyawan wanita disana menatap gemas padanya.
"Apa masih ada pertanyaan? jika tidak, meeting saya akhiri sampai disini. Semoga proyek ini berjalan dengan lancar." ujar Edgar mengakhiri meeting siang itu dengan relasi dan beberapa karyawannya.
Setelah itu satu persatu peserta meeting nampak keluar dari ruangan tersebut dan tinggallah seorang wanita cantik beserta Juno yang masih duduk di kursinya.
"Tuan, ini nona Anita yang saya ceritakan sebelumnya. Beliau seorang konsultan yang akan menangani proyek baru kita." ujar Juno saat Edgar menatap wanita yang tak kunjung bangkit dari kursinya padahal meeting sudah selesai.
Wanita bernama Anita itu langsung berdiri lalu mengulurkan tangannya. "Saya Anita, semoga kerja sama kita berjalan lancar hingga proyek selesai." ucapnya dengan senyum manis mengembang di bibirnya.
"Tentu saja nona Anita, kalau ada yang kurang jelas anda bisa bertanya langsung pada Juno." balas Edgar dengan ramah juga.
Mereka nampak saling berjabat tangan dan tanpa mereka tahu Elkan sedang menatapnya tak suka.
"Papa ?" panggil Elkan yang langsung membuat Edgar menoleh padanya.
"Ya sayang, apa kamu lelah hm ?" sahutnya seraya melangkah ke arah putranya tersebut.
"Ekan lapal." sahut Elkan, sepertinya bocah kecil itu merasa lapar saat ini.
"Apa dia putra anda tuan ?" tanya Anita yang terlihat gemas melihat Elkan.
"Iya." sahut Edgar.
"Apa kamu lapar sayang? mau tante traktir makan di restoran ?" tawar Anita dengan tersenyum ramah pada Elkan.
"Telima tasih tante, tapi Ekan mau mam di lumah aja sama Mama." tolak Elkan yang langsung membuat Anita terlihat kecewa.
"Baiklah, mungkin lain kali kita bisa makan bersama." sahutnya kemudian.
"Maaf ya nona Anita, putra saya sudah terbiasa makan bersama keluarga di rumah." ujar Edgar kemudian.
"Tidak apa-apa tuan Ed, makanan keluarga memang lebih sehat." sahut Anita dengan tersenyum manis menatap Edgar.
Setelah membahas sedikit masalah pekerjaan dengan Anita, Edgar segera mengajak Elkan pulang karena Dena pasti sudah menunggunya untuk makan siang.
__ADS_1
"Papa ?" panggil Elkan saat mereka sudah berada di dalam mobilnya.
"Ya sayang." sahut Edgar yang nampak sedang fokus dengan ipadnya.
"Papa janan dekat-dekat tante tadi ya." ucap Elkan.
"Kenapa memangnya kan tantenya sedang kerja sama Papa ?" tanya Edgar, ia menatap putranya sekilas lalu kembali menatap ipadnya kembali.
"Ekan ndak suka." sahut Elkan.
"Memang kenapa Elkan nggak suka ?" kali ini Juno yang sedang berada di balik kemudi ikut menimpali.
"Tantenya suka liatin Papa, Ekan ndak suka." sahut Elkan.
"Kan kalau bicara harus lihatin orang yang di ajak bicara Nak." ujar Juno lagi.
"Ndak juga Om, Om bicala sama Ekan tapi lihatnya ke depan." sahut Elkan yang langsung membuat Edgar terkekeh.
Sedangkan Juno hanya bisa menghela napas panjangnya, sepertinya boss kecilnya itu mempunyai bakat bermain kata. Karena sering sekali ia di buat terdiam oleh perkataannya.
Sementara itu Martin yang di buat gelisah akhir-akhir ini oleh sikap Sera yang selalu dingin padanya, ia jadi sering bersikap emosi pada siapapun termasuk Helena.
Sore itu Martin yang baru pulang nampak di sambut wajah datar Sera saat membuka pintu untuknya dan entah kenapa hatinya tiba-tiba memanas saat melihatnya.
"Aku tidak tahu, mungkin di kamarnya." sahut Sera setelah itu ia berlalu pergi.
Martin yang melihat kepergian Sera nampak semakin geram, kemudian ia bergegas ke kamarnya. Namun tak ada Helena disana, setelah itu ia berlalu ke dapur dan melihat pintu dapur nampak terbuka lebar.
"Sayang apa yang sedang kamu lakukan disana ?" tanya Martin saat melihat Helena sedang sibuk menyiram beberapa sayuran yang di tanam oleh Sera di belakang rumah.
"Aku...."
"Sudah ku bilangkan, kamu jangan terlalu capek." sela Martin dengan menaikkan oktaf suaranya yang langsung membuat Helena tersentak kaget.
"Aku bosan kalau hanya duduk-duduk saja, sayang." sahut Helena yang masih berada di antara tanaman-tanam tersebut.
Martin yang tak sabar langsung mendekati kekasihnya, tak peduli ia menginjak banyak tanaman yang baru tumbuh itu.
"Tidak bisakah kamu menurut sedikit saja." tegas Martin seraya menarik Helena lalu membawanya masuk ke dalam kamarnya.
Sedangkan Sera yang baru selesai melipat pakaian kering di kamarnya, ia segera berlalu ke dapur untuk membuat makan malam.
Namun saat melihat pintu belakang terbuka, ia segera melihatnya dan ia sangat terkejut saat tanaman sayur-sayurnya sudah rusak semua.
__ADS_1
"Siapa yang melakukan ini semua." Sera nampak terisak, hampir dua minggu ia menunggu tanaman-tanaman tersebut tumbuh tapi dengan sekejap mata sudah rata dengan tanah.
"Apa kamu yang melakukan ini ?" tanyanya kemudian saat melihat Martin keluar dari kamarnya, tidak mungkin binatang liar pasti pria itu yang melakukannya.
"Kenapa memangnya? gara-gara tanamanmu itu Helena menjadi lelah." sahut Martin tak berperasaan.
Sera nampak menghapus air matanya, kemudian ia mendekati laki-laki itu. "Aku tidak pernah menyuruhnya untuk mengurus tanaman itu." ucapnya.
"Kamu pikir aku juga tidak lelah apa? setiap hari aku membereskan rumah ini, mencuci pakaian kalian, memasak untuk kalian dan di saat aku mempunyai sedikit saja hiburan dengan tanaman-tanamanku ini kamu dengan tidak berperasaan menghancurkannya begitu saja." imbuhnya lagi dengan emosi.
Martin yang ingin membalas amarah Sera, entah kenapa ia tiba-tiba tidak tega saat melihat wanita itu menangis.
Akhirnya ia hanya bisa mendesah kasar, kemudian meninggalkan Sera sendiri dan tak berapa lama kemudian Martin nampak keluar bersama Helena dengan membawa sebuah koper di tangannya.
"Helena kamu mau kemana ?" tanya Sera kemudian.
"Maafkan aku Ser, aku akan kembali ke kota. Martin sudah mendapatkan donor yang cocok buatku." sahut Helena dengan mengulas senyumnya.
"Benarkah? aku ikut senang." sahut Sera, meski ia tidak rela jika satu-satunya sahabatnya itu pergi.
Setelah mereka saling berpelukan, Helena segera pergi meninggalkan rumah tersebut.
Satu bulan kemudian....
Sudah satu bulan lebih sejak kepergiannya, Martin belum juga kembali. Mungkin saja pria itu sedang menemani Helena berobat atau mungkin saat ini Helena sudah sembuh lalu mereka memutuskan untuk menetap di kota dan melupakan dirinya yang hanya seorang budak tidak penting.
Memikirkan hal itu membuat semangat hidup Sera menurun, wanita itu jarang sekali mengurus dirinya sekarang. Badannya yang kurus, kini semakin kurus.
Hueeekkk
Pagi itu Sera yang baru mengerjapkan matanya langsung berlari ke toilet saat merasakan mual, sudah satu minggu ini ia merasa kurang sehat dan selalu mual.
"Sebenarnya ada apa denganku." gumamnya saat mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu, lalu matanya tak sengaja melihat kalender di atas meja.
"Astaga sudah satu bulan lebih aku tidak datang bulan." ucapnya kemudian.
"Apa jangan-jangan aku sedang hamil ?" imbuhnya, wajahnya langsung berbinar bahagia.
Ia senang akhirnya tidak sendirian lagi di dunia ini, namun saat mengingat Martin senyumnya langsung menyurut.
"Tidak, Martin tidak boleh tahu. Jika dia tahu, pasti akan melenyapkan anakku." ucapnya.
"Aku harus segera pergi dari sini." lanjutnya lagi seraya bangkit dari duduknya.
__ADS_1