
"Om yang kemarin datangkan? Om yang menertawakan ku saat aku mendapatkan nilai 50 kan ?" ucap Merry seraya menatap Mattew.
Martin yang melihat Merry nampak terpaku di tempatnya, ada apa dengan perasaannya tiba-tiba saja merasa terharu saat melihat bocah perempuan itu.
"Om tidak menertawakan mu, Nak." sahut Mattew gemas, baru kali ini ia bertemu anak kecil yang berani menegurnya.
Sungguh anak yang pemberani apalagi saat menatap matanya, begitu dalam dan mengintimidasi sama seperti bossnya.
"Kenapa Om melihatku seperti itu? aku bukan hantu, Om." ucap Merry saat menatap Martin.
Martin langsung terkekeh saat mendapatkan teguran dari anak kecil tersebut, kemudian ia langsung bersimpuh hingga kini tinggi mereka sama rata.
"Siapa namamu, anak pemberani ?" ucapnya dengan lembut.
"Merry tidak boleh berbicara dengan orang asing." sahut Merry ketus hingga membuat Martin langsung terkekeh lagi, bukannya sedari tadi anak kecil itu yang selalu banyak omong.
"Jadi kemarin kamu mendapatkan nilai 50, hm ?" pancing Martin.
Meski selama ini ia tidak pernah bersinggungan dengan anak kecil dan hidupnya lebih banyak berhubungan dengan sesuatu yang berbahaya, namun entah kenapa ia tiba-tiba sangat menyukai bocah perempuan bernama Merry itu.
"Hm, bunda sedikit Marah karena Merry kurang teliti." sahut Merry mengadu, ia seakan mengadukan perasaannya pada sang ayah.
Martin nampak mengernyit, kenapa bocah kecil beserta kakaknya itu memanggil ibunya dengan sebutan bunda? ia jadi mengingat negaranya, karena banyak sekali anak-anak di sana memanggil ibunya dengan sebutan itu.
Martin jadi semakin curiga, jika Mauren adalah Sera. Wanita yang selama ini ia cari.
"Mau Om bantu ajari ?" tawarnya kemudian.
Mattew yang melihat interaksi antara Martin dan Merry nampak menaikkan sebelah alisnya, sejak kapan bossnya bisa bersikap selembut itu.
"Bahkan sekarang mereka sudah seperti ayah dan anak saja." gumam Mattew saat melihat Martin yang kini sudah duduk di sebuah kursi kayu yang ada di teras rumah tersebut.
Martin terlihat memangku Merry seraya mengajari bocah kecil itu berhitung, mereka terlihat cepet sekali akrab.
Sepertinya Merry sudah melupakan pesan sang ibu untuk tidak berbicara pada orang asing, bahkan kini keakraban mereka sudah seperti layaknya anak dan ayah.
Alex nampak duduk tak jauh dari sana, matanya selalu mengawasi sang adik. Ia sudah berusaha membawa adiknya masuk ke dalam rumahnya, namun Merry enggan menurut. Jadi mau tak mau ia hanya bisa mengawasinya saja.
Sedangkan Mattew sesekali nampak mengulas senyumnya saat Martin terlihat gemas dengan bocah itu.
"Om ternyata orang yang baik, tapi bilang bunda, Merry nggak boleh berbicara dengan orang asing." ucap Merry seraya menatap Martin, setelah itu ia menampakkan wajah sedihnya.
"Merry jadi rindu sama ayah." ucapnya lagi.
__ADS_1
"Merry, ayah kita sudah di surga. Ayo ikut kakak masuk." bujuk Alex dari tempat duduknya.
"Jadi ayah kamu sudah di surga, hm ?" tanya Martin, entah kenapa hatinya tiba-tiba geram.
"Hm, bilang bunda seperti itu." sahut Merry menganggukkan kepalanya.
"Padahal Merry ingin sekali melihat wajahnya, kata bunda Ayah itu mirip sekali dengan Merry, terutama mata Merry." imbuhnya lagi seraya menatap Martin dengan lekat seakan menyadari jika sosok pria di depannya itu juga begitu mirip dengannya.
"Kamu bisa kok panggil Om dengan sebutan Daddy." ujar Martin kemudian.
"Apa boleh ?" tanya Merry dengan polos.
"Hm, tentu saja. Mulai hari ini Om adalah Daddy mu." sahut Martin seraya mengulas senyumnya.
"Hore, Merry sudah mempunyai Daddy sekarang." Merry terlihat sangat senang.
Martin nampak terkekeh, ia merasa jatuh cinta pada pandangan pertama dengan bocah kecil itu, tiba-tiba saja terbesit rasa sayang di hatinya.
Seandainya Merry adalah putrinya dan wanita bernama Mauren itu adalah Sera, ia pasti akan menjadi lelaki paling bahagia di muka bumi ini.
Kemudian Martin mengambil ponselnya, lalu mengambil beberapa fotonya dengan Merry.
Ia nampak terkesiap saat melihat hasilnya, kenapa wajah mereka berdua sangat mirip.
"Astaga apa ini hanya kebetulan saja." gumamnya dalam hati.
Martin nampak berkaca-kaca menatap Merry yang sekarang masih berada dalam pangkuannya, ia yakin anak itu adalah anaknya mengingat dulu ia pernah meniduri Sera tanpa pengaman.
"Boleh Om memelukmu ?" tanya Martin kemudian.
Merry nampak ragu, kemudian ia langsung berhambur ke pelukan Martin.
Sementara itu Sera yang sedang berada di kereta menuju kota, ia nampak mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat duduknya.
Ia mencoba untuk tetap terjaga, ia takut jika kejadian beberapa waktu yang lalu terulang kembali.
Kenapa ia harus bertemu lagi dengan pria masa lalunya itu, pria itu pasti sudah bahagia dengan Helena kekasihnya yang mungkin sekarang mereka sudah menikah dan mempunyai banyak anak.
Mengingat hal itu mata Sera nampak mengembun, ia sudah ikhlas menjalani hidupnya sekarang. Terlalu tidak tahu diri menurutnya jika ia mengharapkan untuk di cintai oleh seorang pria.
Dosa masa lalunya teramat besar, biarlah Tuhan menghukumnya menjadi wanita kesepian seumur hidupnya.
Setelah kereta berhenti, Sera segera naik taksi menuju kediaman Lusi. Wanita itu semalam menghubunginya jika hari ini dia dan calon suaminya akan mengukur pakaian pernikahannya.
__ADS_1
Sera sangat senang bisa membuat pakaian pengantin, ia selalu berdoa semoga setiap pasangan yang ia buatkan pakaiannya selalu bahagia hingga maut memisahkan.
"Ayo, masuklah." ajak Lusi dengan tersenyum ramah saat melihat sera berdiri di depan pintu rumah Martin.
"Terima kasih." sahut Sera sambil mengikuti langkah Lusi.
"Duduklah aku akan menyuruh pelayan membuatkan mu minuman." ucap Lusi kemudian.
"Tidak usah repot-repot, Lus." Sera merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa santai saja, sambil menunggu calon suamiku datang. Sepertinya dia masih sibuk di kantornya." sahut Lusi kemudian ia memanggil pelayannya.
"Baiklah, bagaimana kalau aku mengukur pakaianmu dulu dan ini beberapa desain yang kamu minta sebelumnya." ucap Sera seraya memberikan beberapa desain gaun pada Lusi.
"Semuanya sangat bagus, aku sekali rancanganmu Mauren." puji Lusi dengan antusias.
"Terima kasih, tapi kamu harus memilih salah satunya." Sera nampak terkekeh, meski Lusi tipe wanita yang manja tapi ia tahu wanita itu sangat baik.
Bahkan Lusi sering sekali memberinya uang lebih untuk pesanan pakaian-pakaiannya dan baginya itu adalah rezeki anak-anaknya.
"Menurutmu, mana yang bagus. Aku bingung." Lusi terlihat bingung harus memilih yang mana.
"Terserah kamu yang menurutmu cocok saja." sahut Sera.
"Ayolah sahabatku, bantu aku. Seandainya ibu dan kakakku masih ada mereka pasti yang akan memilihkan untukku." mohon Lusi, wajahnya langsung murung saat mengingat ibu dan kakaknya yang sudah tiada.
"Baiklah, bagaimana kalau yang ini saja." Sera menunjukkan sebuah desain gaun pengantin favoritnya, seandainya saja menikah ia ingin sekali memakainya. Hanya saja ia sudah memutuskan untuk tidak menikah seumur hidupnya.
"Sangat cantik, kenapa kamu memilih ini ?" Lusi terlihat senang.
"Itu gaun favoritku, meski sederhana tapi terlihat elegan." sahut Sera.
"Baiklah aku mau yang ini, karena calon suamiku juga berkepribadian sangat sederhana. Dia pasti akan terpesona saat melihatku memakai ini." Lusi terlihat sangat bahagia dan itu membuat Sera mengulas senyum saat menatapnya.
"Kalau begitu ayo kita mulai mengukurnya." ajak Sera setelah Lusi yakin dengan pilihannya.
Hingga sore hari mereka nampak menunggu kedatangan Martin, tapi laki-laki itu tak kunjung datang juga.
"Ku mohon tunggu sebentar ya, sebentar lagi pasti dia pulang." mohon Lusi.
"Hm, baiklah." sahut Sera, meski kini ia mulai gelisah karena sebentar lagi gelap. Ia sangat khawatir dengan keadaan anak-anaknya di rumah.
"Nah itu dia datang." teriak Lusi senang saat melihat Martin melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Deg!!
Jantung Sera langsung berdegup kencang saat menatap Martin yang juga nampak sedang menatapnya, sepertinya pria itu juga sama terkejutnya seperti dirinya.