Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~181


__ADS_3

Martin membawa Sera menuju sebuah bangunan mewah dengan beberapa bodyguard bertubuh besar nampak berjaga di sana.


"Ayo keluar !!" hardik Martin seraya menarik kasar tangan Sera agar keluar dari dalam mobil tersebut, saking kerasnya tarikan Martin hingga membuat wanita itu tersungkur di kakinya.


"Aku mohon jangan lakukan ini padaku." mohon Sera seraya memeluk kaki Martin, wajahnya mendongak menatap pria itu berharap ada sedikit belas kasihan padanya.


"Lepaskan !!" Martin mencoba menjauhkan Sera dengan menendangnya, namun wanita itu tetap memeluk kakinya dengan erat tak peduli saat ini tubuhnya terasa sakit semua.


"Ku mohon jangan jual aku, aku rela menjadi budakmu seumur hidup asal jangan jual aku." mohonnya lagi dengan isak tangis.


Martin yang melihat itu nampak mendesah kesal, ia bukanlah kekurangan uang hingga harus menjual Sera di pelelangan.


Namun ia sudah menahan amarahnya sejak kecil saat melihat Dena setiap kali datang padanya dengan banyak luka di tubuhnya dan perlakuan kasar wanita itu terhadap pelayannya termasuk kedua orangtuanya membuat ia semakin menaruh dendam padanya.


Dulu ingin sekali ia membela Dena di depan majikannya itu, namun apa daya ia hanya seorang remaja kecil dari seorang anak pelayan yang pasti tidak akan di anggap.


"Berdiri !!" perintahnya kemudian, namun Sera bersikeras untuk tetap memohon di kakinya.


Lalu Martin langsung menjambak rambut Sera dengan kuat hingga membuat wanita itu mengadu kesakitan lantas segera berdiri di hadapan pria itu.


"Kamu ingin menjadi budak ku kan? baiklah akan ku kabulkan keinginan mu." dengan kasar Martin langsung menarik rambut Sera lalu membawanya masuk kembali ke dalam mobilnya.


Kemudian ia segera melajukan mobilnya dengan kencang membelah jalanan malam itu, Sera tidak tahu Martin akan membawanya ke mana. Namun hampir satu jam mereka berkendara menembus sebuah hutan belantara.


"Bangun !!" teriak Martin dengan keras hingga membuat Sera yang tadinya nampak menangis dalam diam lalu ketiduran kini langsung membuka matanya.


Sepanjang penglihatannya hanya ada hutan di sana dan pandangannya tertuju pada sebuah rumah kecil sederhana dengan penerangan yang temaram.


Lagi-lagi Martin menariknya dengan kasar saat keluar dari mobil tersebut, lalu membawanya masuk ke dalam rumah tersebut.


Rumah tua yang lebih mirip seperti gudang dan sangat kotor, sepertinya rumah tersebut sudah lama di tinggal pemiliknya.


Martin langsung menghempaskan tubuh Sera dengan kasar ke atas ranjang lusuh hingga membuat wanita itu jatuh tertelungkup di sana.


Belum sempat Sera bangun, Martin sudah mengangkat pinggangnya lalu merobek pakaian dalamnya.


Kemudian laki-laki itu langsung memasuki Sera dengan kasar hingga membuat wanita itu berteriak kesakitan karena belum siap.

__ADS_1


Martin nampak menggerakkan tubuhnya dengan kasar dan dalam, baginya tangisan Sera adalah ******* kenikmatan wanita itu hingga membuatnya semakin bergairah memasukinya.


Hingga menjelang tengah malam Martin menyudahinya saat melihat Sera jatuh pingsan.


"Kamu harus mendapatkan balasan setimpal karena perbuatan ibumu pada Dena dan para pelayan yang mendapatkan perlakuan kasar darimu." ucap Martin seraya melihat Sera nampak tak berdaya, kemudian ia pergi meninggalkannya begitu saja membiarkan tubuh polos itu tanpa selimut yang menutupinya.


Keesokan paginya....


Sera nampak mengerjapkan matanya saat merasakan tamparan kecil di pipinya. "Bangun budak !!" teriak Martin yang langsung membuat Sera membuka matanya lalu segera beranjak duduk, ia merasakan sakit luar biasa di daerah selangkangannya.


Menyadari dirinya polos tanpa sedikitpun benang yang menutupi tubuhnya, ia langsung menutup dadanya dengan kedua tangannya saat melihat Martin menatapnya dengan pandangan dingin ke arahnya.


"Pakai pakaian itu dan segera bersihkan tempat ini, mulai hari ini dan seterusnya kamu akan tinggal di sini menjadi budakku seperti yang kamu mau." perintah Martin, kemudian melempar sebuah pakaian baru ke arahnya.


Sera segera memungutnya lalu bergegas memakainya, lalu dengan langka gontai ia segera melangkah menuju kamar mandi yang juga terlihat sangat kotor.


Namun ia bersyukur Martin masih mengampuninya, meski tidak rela ia akan berusaha menerima takdirnya dengan ikhlas.


Ia menyadari kesalahannya dahulu sangatlah fatal, selain menyiksa Dena ia dan ibunya juga suka berbuat kasar pada para pelayannya dan itu yang mungkin membuat Martin merasa dendam padanya.


"Sudah selesai, gantengnya anak Mama." ucapnya seraya menatap gemas putranya tersebut.


Edgar yang baru datang langsung mengulas senyumnya saat melihat dua orang kesayangannya itu tengah bercanda gurau.


Lalu ia segera membawa Elkan ke dalam gendongannya lalu menciumnya dengan gemas.


"Sayang, bedaknya nanti luntur." tegur Dena saat Edgar menciumi pipi Elkan.


"Biarin saja sayang, masa laki-laki pakai bedak." sahut Edgar tak peduli, ia terus saja menciumi Elkan hingga membuat bocah kecil itu tertawa girang.


Dena nampak mendesah kesal, namun kemudian ia segera berganti pakaian. Hari ini ia dan suaminya mendapatkan undangan ke pesta ulang tahun teman dari suaminya.


Ini untuk pertama kalinya laki-laki itu membawanya bertemu dengan teman-temannya, namun bukan itu yang membuat Dena merasa antusias.


Ia sangat penasaran dengan teman wanita Edgar yang mengadakan acara tersebut yang tanpa sengaja ia dengar dari obrolan kakak iparnya dan ibu mertuanya jika wanita itu adalah cinta pertama suaminya.


Dena penasaran wanita seperti apa itu, apa dia lebih cantik darinya? lebih baik darinya atau lebih apapun itu yang tiba-tiba membuat hati kecilnya merasa cemburu.

__ADS_1


Apalagi kini kehamilannya yang sudah mulai membesar membuatnya semakin tidak percaya diri dengan bentuk tubuhnya yang mulai membesar di mana-mana.


"Apa aku terlihat cantik ?" ucapnya saat melihat bayangannya sendiri dari pantulan cermin.


Edgar yang melihat istrinya itu nampak berkaca di depan cermin, ia langsung mendekatinya lalu memeluknya dari belakang.


"Sepertinya kamu lebih cantik sayang." sahutnya seraya menyusupkan wajahnya di leher wanita itu.


"Sayang, menjauhlah kamu membuat penampilanku rusak saja." tegur Dena, namun sepertinya Edgar tak mengindahkannya.


"Aku lebih senang melihatmu berantakan sayang, lebih seksi." sahut Edgar yang kini mulai mengecupi leher putih istrinya itu hingga membuat wanita itu menahan desahannya.


"Tapi kita mau ke pesta, masa aku berantakan." protes Dena kesal.


Ia berusaha menjauhkan tubuh suaminya, namun laki-laki itu bagaikan lintah yang selalu menempel padanya dan menghisap kulitnya.


Dena nampak menahan amarahnya, namun ia juga merasakan nikmat secara bersamaan saat suaminya itu memberikan beberapa jejak kemerahan di kulit lehernya.


"Jangan di tutupi dan jangan ganjen di pesta nanti." ucap Edgar dengan nada tegas, setelah itu ia segera membawa istrinya itu keluar dari kamarnya.


Dena yang ingin marah tiba-tiba langsung tersenyum saat melihat suaminya yang begitu posesif padanya.


Sesampainya di kediaman Demian Anggoro, Edgar segera mengajak anak dan istrinya itu untuk masuk ke dalam sana.


Demian dan Ariana sedang mengadakan pesta ulang tahun yang ke 4 untuk anak kembarnya Reno dan Rena.


"Wanita itu cantik sekali, apa dia cinta pertama Edgar."


Dena nampak insecure saat melihat Ariana dari kejauhan, sepertinya wanita itu sangat pandai menjaga tubuhnya. Meski sudah berusia kepala tiga bahkan dengan tiga anak badannya masih saja bagus.


Tidak seperti dirinya, sejak mengandung nafsu makannya tak terbendung hingga membuatnya sedikit bergemuk.


Apalagi saat sang suami menatap wanita itu membuatnya semakin insecure dan rendah diri.


Dengan perlahan Dena melepaskan genggaman suaminya saat laki-laki itu tak berpaling menatap Ariana, benarkah Edgar masih menyimpan rasa itu?


Memikirkan hal itu, tiba-tiba Dena merasakan sesak di dalam dadanya.

__ADS_1


__ADS_2