Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~152


__ADS_3

"Aku bisa jelasin semuanya, sayang." ucap Dena dengan gugup saat melihat suaminya itu, ia segera beranjak dari duduknya.


Semalam setelah urusannya di hotel beres, ia segera pindah ke sebuah Villa. Seandainya suaminya itu menemukannya ia bisa beralasan sedang berlibur dengan sang putra.


"Sayang, jangan marah aku bisa jelasin semuanya." Dena nampak menggigit bibir bawahnya kentara sekali ia sedang takut saat melihat wajah dingin suaminya.


Apa laki-laki itu sudah mengetahui jika dirinya diam-diam sedang menyelidiki kisah masa lalunya yang seharusnya ia lupakan dan belajar mulai hidup baru lagi dengannya.


"Mau jelasin apa? pergi diam-diam dan asyik berlibur tanpa mengajak suami mu ini, hm ?" ucap Edgar.


"Hah."


"Kamu sudah membuatku sangat khawatir sayang, kenapa harus pergi diam-diam? Aku pasti akan mengizinkan mu jika kamu mengatakan kalau ingin pergi berlibur." ucap Edgar dengan gemas.


"Ka-kamu tidak marah ?" Dena nampak lega, karena suaminya sepertinya tidak tahu tujuannya datang kesini untuk apa.


"Kamu pikir ?"


"Maaf." mohon Dena.


"Hanya maaf ?" kesal Edgar.


"Aku siap menerima hukuman darimu." lirih Dena.


"Tentu saja aku akan menghukummu sayang, jadi kamu mau di hukum di sini atau di kamarmu saja ?" tegas Edgar yang langsung membuat Dena menelan ludahnya.


Dena nampak berpikir sejenak, kalau hukuman di kamar ia yakin suaminya itu pasti akan membuatnya lelah di atas ranjangnya. Mengingat sudah tiga hari pria itu tidak menyentuhnya.


"Di sini saja." sahut Dena, paling tidak suaminya pasti tidak akan melakukan macam-macam padanya mengingat ada sang putra di dalam.


"Baiklah, sepertinya itu akan sangat menantang." sahut Edgar seraya melepaskan pakaiannya satu persatu hingga menyisakan ****** ******** saja.


Namun saat Edgar ingin melepaskan satu-satunya kain yang menempel di tubuhnya itu, Dena langsung mencegahnya.


"Astaga, hukuman macam apa ini." gumamnya.


"Kenapa? bukannya kamu minta hukuman di sini ?" ucap Edgar seraya menaikkan sebelah matanya heran.


"Kenapa itu di lepas juga ?" sungut Dena yang langsung membuat Edgar tertawa menatapnya.


"Kamu pikir hukuman apa yang cocok bagi istri yang tidak menurut, hm? katakan !!" ucapnya.


Dena nampak terdiam, ia jadi menyesal kenapa tidak memilih di kamar saja, kalau ujung-ujungnya hukumannya hanya ingin membuatnya mendesah.


"Tapi nggak di sini juga, sayang." Dena mengedarkan pandangannya.


Meski itu termasuk kolam renang pribadi yang ada di penginapannya, tapi bagaimana kalau tiba-tiba ada Elkan atau pengasuhnya datang.

__ADS_1


Namun ia hanya bisa pasrah saat suaminya itu langsung menariknya ke dalam kolam renang.


"Baiklah ayo lomba berenang, tapi siapa yang kalah harus melepaskan pakaiannya." sarkas Edgar dengan seringaiannya.


Lagi-lagi Dena menelan salivanya, apapun hukumannya tetap saja membuatnya mendesah. Ia tidak menyangka suaminya itu licik sekali.


"Jika menang, apa kamu akan memaafkan ku ?" tanyanya.


"Apa kamu yakin akan menang ?" ejek Edgar.


"Tentu saja, baiklah ayo." sahut Dena bersemangat.


Meski bukan atlet renang, tapi ia mempunyai kemampuan berenang yang sangat baik.


"Satu, dua, go." teriak Dena.


Mereka mulai berenang, Edgar yang menatap wajah bahagia istrinya itu, nampak tak tega jika harus mendahuluinya.


"Sayang kamu berenang apa ngambang sih lambat banget." ejek Dena saat melihat suaminya masih tertinggal jauh di belakangnya.


Sebenarnya Edgar merasa kasihan, namun hasratnya untuk menyentuh wanita itu amatlah tinggi. Lagipula ia juga harus memberikannya sebuah hukuman karena sudah pergi tanpa seijinnya.


Edgar langsung melajukan gerakannya hingga mendahului istrinya sampai tepi kolam.


"Perasaan dia tadi jauh di belakang." gerutu Dena kesal.


"Ck." Dena nampak berdecak kesal.


"Tapi tidak di sini juga, bagaimana kalau Elkan dan bibik tiba-tiba kesini ?" ucapnya khawatir seraya menatap ke arah pintu kaca yang ada di sana.


"Sudah resiko, bukannya yang kalah harus di hukum dan hukumanmu menjadi dua kali lipat. Karena kamu sudah diam-diam pergi tanpa ijin, lalu ponselmu sengaja kamu matikan." tegas Edgar.


"Astaga dasar rentenir." sungut Dena.


"Suamimu ini seorang pebisnis, sayang. Jadi apapun yang ku lakukan harus menghitung untung ruginya." sahut Edgar dengan menahan kekehannya.


"Dasar lintah darat." kesal Dena.


"Jadi kamu yang buka sendiri atau aku bantu membukanya ?" tegas Edgar tak peduli istrinya itu mengumpatnya.


Dena yang tidak pernah membuka pakaiannya di tempat terbuka seperti ini nampak tak nyaman. Bagaimana kalau nanti ada yang melihatnya, apalagi bekas luka di punggungnya pasti akan semakin terlihat di bawah terik matahari. Seketika rasa tidak percaya dirinya merasuk pikirannya.


Melihat Dena yang masih bergeming, Edgar langsung mendekatinya. Ia tahu istrinya itu sedang tak nyaman.


"Kamu mau ngapain ?" Dena langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya.


"Tentu saja membantumu naik, ayo sepertinya mau hujan." Edgar yang sudah keluar dari kolam langsung mengulurkan tangannya pada istrinya itu.

__ADS_1


Dena nampak bersyukur mendung pekat telah menyelamatkannya, namun ia langsung terpekik saat tubuhnya tiba-tiba melayang. Karena kini dirinya sudah berada dalam gendongan pria itu.


Edgar tak begitu kesulitan membopong istrinya bahkan terasa ringan, karena memang Dena berbadan kurus hampir setengah dari badannya.


Sesampainya di dalam kamarnya, Edgar langsung membawa wanita itu masuk ke dalam kamar mandi.


Dena pikir mereka hanya akan mandi saja, namun suaminya itu justru mengajaknya bercinta di dalam sana.


"Sayang, kamu yakin akan melakukannya di sini ?" Dena nampak melotot saat Edgar menekan tubuh polosnya ke tembok.


"Kenapa tidak, kita bisa mencoba posisi baru mungkin." sahut Edgar dengan suara beratnya.


"Tapi bagaimana kalau tiba-tiba Elkan mecariku ?" sebisa mungkin Dena mencari alasan.


"Elkan sedang jalan-jalan dengan Juno." sahut Edgar.


"Apa? kenapa tidak ijin dulu padaku ?" protes Dena.


"Dia juga putraku sayang, lagipula aku tidak mau ada yang mengganggu saat memberikan mu hukuman." sahut Edgar menatap lekat padanya.


"Tapi...." Dena belum selesai bicara, namun Edgar sudah melum😘t bibirnya dengan rakus hingga membuatnya mendesah tertahan.


Sungguh suaminya itu sangat ahli dalam membuatnya melayang, apalagi saat tangan laki-laki itu meraup kedua gundukan kenyalnya secara bergantian, lalu memainkan puncaknya yang membuatnya semakin mengerang tak karuan.


Setelah istrinya siap ia masuki, Edgar langsung mengangkat sebelah kakinya lalu memulai penyatuannya dengan posisi berdiri.


Tak puas melakukannya di sana, kini mereka nampak melanjutkannya lagi di dalam kamarnya. Sungguh Edgar tak ada lelahnya, bahkan saat Dena memohon untuk berhenti laki-laki itu justru menghujamnya semakin dalam.


"Berjanjilah sayang, kamu tidak akan pergi diam-diam lagi. Kalau tidak, aku bisa membuatmu tidak bisa berjalan lagi." tegas Edgar di tengah hujamannya.


Dena tidak pernah tahu bagaimana frustrasinya Edgar saat mengetahui dirinya diam-diam pergi ke Jerman.


Ingin sekali ia menyusulnya hari itu juga, tapi ia juga tidak ingin ayahnya yang masih kecewa padanya akan semakin kecewa saat dirinya meninggalkan pekerjaan pentingnya.


Namun Edgar merasa sedikit lega saat orang suruhannya menemukan keberadaan istrinya dan sang putra dalam keadaan baik-baik saja.


Meski begitu ia masih marah pada istrinya itu dan ia akan melampiaskan amarahnya dengan mengajaknya bercinta sepanjang hari yang mungkin akan membuatnya lebih baik.


"Aku janji sayang, tapi bisakan kamu cepat menyelesaikannya aku sangat lelah." mohon Dena, sungguh suaminya itu sangat mengerikan jika sedang marah.


Setelah mendapatkan pelepasannya, Edgar langsung beranjak dari tubuh sang istri. Menarik selimutnya lalu menutupi tubuh polos wanita itu.


"Maafkan aku." ucapnya seraya mengecup keningnya.


Setelah membersihkan dirinya Edgar segera keluar dari kamarnya, meninggalkan istrinya yang nampak tertidur di ranjangnya.


"Hallo Jun, apa kamu sudah mendapatkan informasi apa yang di cari istriku di hotel itu ?" ucapnya saat menghubungi asistennya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2