
~●~Mohon bijak dalam membaca, ada beberapa konten sensitif baiknya di skip agar tidak mengganggu ibadah puasanya atau dibaca di malam hari saja~●~
Melihat Olive yang pergi tanpa sepatah kata pun, Ricko langsung mengejar istrinya lalu menarik tangannya hingga gadis itu terperanjat kaget.
"Apa yang bapak...." protes Olive, namun terjeda karena bibirnya sudah di bungkam oleh bibir suaminya itu
Ricko nampak merapatkan tubuhnya hingga tidak ada celah di antara mereka, lalu ia *****@* bibir istrinya itu dengan lembut.
Menyesapnya dan menggigitnya kecil saat gadis itu menutup rapat bibirnya agar terbuka hingga ia bisa memperdalam ciumannya.
Saat Olive tersengal karena kehabisan napas, Ricko baru melepaskan ciumannya.
Kemudian ia mengusap sudut bibir istrinya yang sedikit basah karena ulahnya.
"Kamu cemburu, hm ?" ucapnya seraya menatap lekat Olive yang kini nampak bersemu merah.
"Tidak, siapa bilang." sangkal Olive, meski ia cemburu saat melihat suaminya itu di cium oleh Sarah.
"Kalau tidak cemburu kenapa ini tidak ada senyumnya ?" Ricko nampak mencubit gemas pipi Olive.
"Saya tidak cemburu." sungut Olive saat merasakan panas di pipinya, kemudian ia mengusapnya beberapa kali.
Sedangkan Ricko justru terkekeh melihat reaksinya. "Kalau cemburu katakan saja, saya suka kok." ucapnya.
"Saya tidak cemburu." teriak Olive dengan kesal.
"Tidak cemburu tapi kok marah ?" ledek Ricko.
"Bapak menyebalkan." Olive nampak memukuli dada bidang Ricko yang di balut dengan kemeja kerjanya itu secara membabi buta.
Dan itu membuat Ricko menatapnya dengan gemas, kemudian ia membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Saya janji, itu terakhir kalinya Sarah menyentuh saya." ucapnya sembari mengusap lembut punggung Olive yang terisak dalam pelukannya.
"Benarkah ?" Olive nampak mengangkat wajahnya menatap suaminya dengan mata sembabnya.
"Tentu saja sayang, karena hanya kamu satu-satunya istriku." sahut Ricko serius.
Olive yang mendapatkan panggilan 'sayang' langsung tercengang. "Apa bapak mencintai saya ?" tanyanya memberanikan diri.
"Ya, saya mencintaimu." sahut Ricko.
"Sejak kapan ?"
"Sejak kamu mencuri ciumanku waktu itu mungkin." sahut Ricko.
"Kalau begitu kenapa bapak memilih bertunangan dengan nona Sarah ?" tanya Olive lagi.
"Maaf, waktu itu saya belum menyadari perasaan saya." sahut Ricko.
__ADS_1
"Tapi sekarang saya sangat sadar, saya mencintaimu Olivia Jensen." ucapnya lagi dengan tegas.
Olive nampak menatap lekat suaminya, ia ingin mencari sedikit kebohongan dari sorot mata pria itu tapi ia tidak bisa menemukannya.
"Seandainya kamu mengetahui jika aku adalah gadis kecil yang selalu mengganggumu dulu dan bahkan sudah merebut ayahmu, apa kamu akan tetap mencintaiku ?"
Olive rasanya tidak mempunyai keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya, ia takut Ricko akan membencinya seperti waktu mereka masih kecil dulu.
"Saya juga mencintai bapak." ucapnya yang langsung membuat Ricko melebarkan senyumnya.
"Terima kasih." Ricko kembali memeluk Olive dengan sayang.
Mereka nampak saling berpelukan setelah mengetahui bagaimana perasaan mereka masing-masing.
"Pak, saya ingin kembali bekerja." Olive mengurai pelukannya.
"Bisa tidak mulai hari ini kita bicaranya 'aku dan kamu' saja bahkan saling memanggil sayang juga boleh." pinta Ricko.
"Tapi ini di kantor, saya tidak mau yang lainnya tahu." tolak Olive.
"Kenapa memangnya kalau tahu? kamu istriku, aku ingin semua orang tahu bahkan keluargaku juga." tegas Ricko.
"Untuk sementara waktu saya mohon, biarlah menjadi rahasia kita dulu sampai bapak benar-benar memutuskan hubungan dengan nona Sarah." mohon Olive.
Mendengar permintaan istrinya Ricko nampak menghela napas panjangnya. "Baiklah tapi ku pastikan itu tidak akan lama, aku bukan pria pengecut yang menyembunyikan pernikahannya." tegasnya tak setuju dengan ide Olive.
"Kamu mau bulan madu kemana ?" tanya Ricko kemudian.
"Hah ?"
"Bukannya pengantin baru harus bulan madu ?" tukas Ricko yang langsung membuat Olive bersemu merah.
"Tapi bagaimana kalau ada yang mengetahui hubungan kita ?" Olive nampak khawatir.
"Terus salahnya dimana, bukannya kita suami istri ?" Ricko nampak menaikkan sebelah alisnya dan itu membuat Olive langsung melotot menatapnya.
"Bapak." teriak Olive dengan kesal dan itu justru membuat Ricko merasa gemas dan ingin menggodanya terus.
Namun tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangannya hingga membuat mereka langsung salah tingkah.
"Maaf, pak." Pras menatap aneh pada boss dan asistennya yang sedang terlihat sedikit intim itu, seperti pasangan kekasih pikirnya.
Ehmm
Ricko nampak berdehem kemudian ia mulai membuka suaranya. "Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ?" tegurnya pada Pras, kemudian ia berlalu menuju kursi kerjanya.
Sedangkan Olive segera berlalu pergi, semoga saja Pras tidak mencurigai mereka berdua.
"Maaf pak, tadi saya sudah mengetuk pintu." sahut Pras seraya mengikuti langkah Ricko.
__ADS_1
"Katakan ada apa ?" tanya Ricko kemudian, setelah ia sudah duduk di kursi kerjanya, pandangannya fokus pada layar cctv yang menampakkan Olive sedang terlihat gelisah di tempat duduknya.
"Ini ada laporan yang harus anda tangani." Pras memberikan berkas yang ia bawa tadi.
"Letakkan saja di situ." sahut Ricko yang masih menatap layar cctv yang tersambung di layar komputernya.
"Apa bapak ada masalah ?" tanya Pras penasaran.
"Tidak." sahut Ricko, ia langsung mengambil berkas tersebut.
Setelah memeriksanya ia segera membubuhi tanda tangannya, kemudian memberikannya kembali pada Pras.
"Terima kasih pak, kalau begitu saya permisi." Pras segera berlalu pergi, namun saat berada di ambang pintu ia menatap kembali bossnya itu yang terlihat sedang senyum-senyum sendiri melihat layar komputernya.
"Ada apa dengan, boss. Baru kali ini beliau terlihat sebahagia itu." gumamnya.
Setelah menutup pintu ruangan Ricko, ia nampak menatap Olive yang terlihat sedang bermain ponsel sembari tersenyum sendiri juga.
"Aneh." gumam lagi.
Waktu berjalan begitu cepat kini siang pun berganti malam dan waktu menunjukkan pukul 7 malam Ricko baru pulang ke Apartemennya.
"Aaarrgghh, apa yang kamu lakukan." teriak Olive terkejut saat dirinya yang tadi sedang berendam di bathtub tiba-tiba saja suaminya itu mengecupi punggungnya dari belakang.
Sepertinya laki-laki itu baru pulang dari kantornya, karena tubuhnya masih terbalut kemeja kerjanya.
Sedangkan Olive sudah dua jam yang lalu tiba di Apartemennya tersebut.
"Kamu menggodaku, sayang." tukas Ricko dengan suara seraknya.
"Dasar mesum." rutuk Olive dengan menutup dua aset bagian atasnya itu dengan kedua tangannya, ia merutuki dirinya sendiri bisa-bisanya ia tertidur saat berendam.
"Kamu terlalu seksi, sayang ?" mendadak tenggorokan Ricko kering saat menatap dua gundukan milik istrinya yang tak tertutup sempurna.
Baru kali ini ia begitu tergila-gila dengan tubuh seorang wanita, padahal setiap hari ia sudah melihat tubuh seksi banyak wanita yang lalu lalang di jalanan maupun perkantoran.
Kemudian tangannya turun merayap mengusap paha istrinya hingga membuat gadis itu mendesah tertahan.
Ricko mendekatkan tubuhnya lalu *****@* bibir Olive dengan lembut, namun seiring gairahnya yang memuncak ia mulai tak sabar hingga mencium istrinya itu dengan rakus dan menuntut.
Merasa tak leluasa, Ricko langsung mengangkat tubuh wanita itu lalu membawanya ke atas ranjang empuknya.
Tak peduli tetesan air masih membasahi tubuh gadis itu, justru itu membuatnya semakin berhasrat pada wanita halalnya tersebut.
"Aku menginginkan mu, apa boleh aku minta malam pertama kita sekarang ?" mohon Ricko dengan pandangan berhasrat.
Sedangkan Olive langsung memicing. "Bukannya ini malam kedua kita ?" ucapnya, mengingat bagaimana waktu itu mereka telah tidur bersama saat sama-sama mabuk.
Mendengar perkataan istrinya, Ricko nampak menelan salivanya. Hampir saja ia keceplosan, ia harus mencari alasan bisa-bisa malam pertamanya akan gagal lagi jika istrinya itu mengetahui kebohongannya.
__ADS_1