
Beberapa hari setelah kejadian itu, kini mereka berdua telah resmi menjadi suami istri yang sah agama dan negara.
Meski sampai saat ini Olive masih meragukan kejadian malam itu, namun ia tidak bisa menolak saat Ricko mengajaknya menikah sebagai bentuk tanggung jawabnya pada pria itu.
"Bapak mau ngapain ?" Olive langsung menutup tubuhnya dengan selimut saat Ricko hendak melepaskan pakaiannya di hadapannya malam itu.
"Saya mau tidur." sahut Ricko.
"Tapi tidak dengan bertelanjang dada seperti itu, pak." protes Olive, ia merasa risih melihatnya.
"Saya tidak biasa tidur dengan berpakaian." sahut Ricko, setelah melemparkan pakaiannya ke atas sofa dan hanya menyisakan boxernya pria itu langsung naik ke atas ranjangnya.
"Apa bapak melihat guling ?" tanya Olive kemudian, gadis itu nampak celingukan kesana kemari.
"Tidak." sahut Ricko, ia nampak melirik istrinya itu sekilas yang nampak sedang mencari sesuatu kemudian ia kembali fokus dengan ponselnya.
"Perasaan kemarin masih ada." gerutu Olive sembari mengedarkan pandangannya mencari dua buah guling yang ada di kamar Ricko sebelumnya.
"Pak ACnya bisa di kecilin sedikit nggak, saya kedinginan." ucapnya saat merasakan udara di kamarnya begitu dingin menusuk kulitnya.
"Tidak bisa, ACnya akan otomatis menyesuaikan dengan keadaan udara. Lagipula perasaan biasa saja." sahut Ricko yang tadi sengaja membuat pendingin ruangannya berada pada suhu terendah.
"Memang ada ya seperti itu." gerutu Olive lagi, entah mengapa sejak mengenal Ricko ia mendadak bodoh, otak encernya tiba-tiba saja tumpul.
"Tentu saja ada, bukannya sekarang banyak teknologi canggih." sahut Ricko beralasan.
"Oh." Olive yang merasa sangat kedinginan terlihat gelisah.
"Mendekatlah mungkin kamu akan merasa hangat jika peluk saya." perintah Ricko kemudian.
"No." tolak Olive.
"Saya belum siap dan anda jangan mendekati saya." imbuhnya lagi seraya menggeser tubuhnya ke tepi ranjang.
"Bukannya menolak keinginan suami itu dosa ?" cibir Ricko menatapnya.
"Saya tahu, tapi bukannya kita menikah tanpa cinta jadi bagaimana bisa langsung melakukan itu." gerutu Olive.
"Buktinya malam itu kamu bisa saja, bahkan sangat liar." cibir Ricko lagi.
"Stop, pak." teriak Olive dengan wajah merah padam.
Mengingat beberapa hari lalu Ricko telah memberikan potongan video cctv yang ada di kamarnya, bagaimana waktu itu ia membuang semua guling yang menjadi penyekat mereka tidur dan dengan tak tahu malunya ia langsung memeluk tubuh polos laki-laki itu bahkan menciumnya dengan liar.
Alkohol memang kadang membuat seseorang menjadi tidak waras, karena bisa melakukan hal-hal di luar nalar.
"Sekarang bapak tidurlah, saya juga mau tidur." Olive langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Sementara itu Ricko nampak terkekeh, kemudian pria itu mulai memejamkan matanya.
Biarlah ia melewati malam pertamanya tanpa berbuat sesuatu yang penting gadis itu sudah menjadi istri sahnya. Kini ia tinggal memikirkan bagaimana memutuskan hubungannya dengan Sarah, lalu meyakinkan kedua orangtuanya agar menerima Olive.
Keesokan harinya...
"Aaarrgghh." teriak Olive pagi itu saat ia terbangun dalam pelukan Ricko.
"Bapak ngapain peluk-peluk saya ?" protesnya berapi-api.
__ADS_1
"Bukannya kamu yang memeluk saya." sahut Ricko seraya melihat bagaimana Olive menjadikannya sebagai guling.
"Hah, kok bisa." Olive segera menjauh.
"Kalau ingin memeluk saya bilang saja, jangan malu-malu. Bahkan saya bisa kok memberikan lebih dari sekedar pelukan." goda Ricko seraya bangkit dari tidurnya, ia nampak tersenyum menggoda menatap gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
"Dasar mesum." gerutu Olive yang langsung membuat Ricko terkekeh sembari berlalu ke kamar mandi.
"Bagaimana aku bisa memeluknya sih " imbuhnya lagi merutuki dirinya sendiri.
Setelah mereka selesai membersihkan dirinya, berganti pakaian kerja serta sarapan pagi. Kini mereka berangkat ke kantor dengan mobil masing-masing.
Sesuai perjanjian, saat berada di kantor mereka akan bersikap layaknya bos dan karyawan. Meski saat di Apartemennya pun, Olive juga masih menganggap suaminya itu sebagai atasannya bahkan ia memanggil pria itu pun masih dengan sebutan 'bapak'.
"Selamat siang, nyonya." sapa Olive saat melihat Ariana berjalan ke arahnya.
"Apa putraku ada ?" tanya Ariana dengan mengulas senyumnya.
"Ada nyonya, beliau ada di dalam." sahut Olive.
"Apa kamu sudah makan siang ?" tanya Ariana dengan ramah.
"Belum, nyonya." sahut Olive.
"Ini buat kamu, makanlah." Ariana nampak memberikan kotak bekal pada Olive.
Melihat itu Olive merasa terharu. "Tidak usah repot-repot nyonya, saya bisa makan di kantin nanti." ucapnya.
"Tidak apa-apa, kamu sudah bekerja keras membantu putraku. Lagipula saya juga tidak mau gadis yang di sukai oleh Dean kelaparan, karena terlalu bekerja keras." sahut Ariana, kemudian ia segera masuk ke dalam ruangan Ricko.
"Terima kasih." lirih Olive sembari melihat kepergian ibu mertuanya itu, sungguh ia sangat merindukan masakan seorang ibu.
"Aku bisa makan di luar, Mom." sahut Ricko yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya.
"Tidak, kamu harus makan masakan Mommy." keukeh Ariana sembari menyiapkan makanan yang dia bawa.
Dan tak berapa lama kemudian Sarah nampak masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Siang tante, apa aku terlambat ?" sapanya saat baru masuk.
"Oh sayang, kemarilah tante juga baru datang." sahut Ariana mengulas senyumnya menatap Sarah.
"Kalian janjian ?" Ricko nampak menatap bergantian ibu dan tunangannya itu.
"Mommy masak banyak, jadi kenapa tidak kita makan ramai-ramai saja. Tadi Mommy juga memberikannya pada sekretarismu." sahut Ariana.
"Baiklah, ayo sayang makan dulu." imbuhnya lagi menyuruh anak dan calon menantunya itu untuk segera makan.
"Hallo Olive, bawa kotak makanan yang di kasih Mommy tadi kesini." perintah Ricko saat menghubungi Olive.
Dan tak berapa lama kemudian gadis itu nampak masuk ke dalam ruangannya. "Permisi pak." sapanya.
"Kemarilah, makan bersama kami." perintah Ricko menatap Olive.
"Tapi pak...."
"Tidak apa-apa, ayo kemarilah bukannya kita juga akan menjadi keluarga nanti." kali ini Ariana yang membujuk, wanita paruh baya itu nampak tersenyum ramah menatap Olive.
__ADS_1
"Terima kasih, nyonya." Olive bergegas gabung duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan Ricko.
"Badanmu sangat kurus apa kamu jarang makan ?" tukas Ariana memulai pembicaraan.
"Badan saya memang seperti ini nyonya, mungkin karena sudah terbiasa sibuk bekerja dari kecil jadi saya tidak terlalu suka ngemil." sahut Olive.
"Makanlah yang banyak." Ricko nampak meletakkan beberapa potongan daging ke dalam piring Olive hingga membuat gadis itu melotot menatapnya.
Begitu juga dengan Ariana dan Sarah, mereka nampak tercengang dengan perhatian Ricko pada Olive.
Ricko memang sengaja melakukan itu di depan Sarah dan ibunya, bahkan ia juga berencana ingin mengatakan kalau ia sudah menikahi sekretarisnya tersebut.
Namun saat melihat Olive yang nampak melotot menatapnya, ia langsung menelan ludahnya.
"Kak Dean pasti akan marah jika aku tidak memperhatikannya." imbuhnya lagi menatap Sarah dan ibunya.
"Iya benar makanlah yang banyak sayang, Dean pasti khawatir jika kamu nanti sakit." tukas Ariana menatap Olive.
Sementara itu Sarah yang melihat semua orang memperhatikan gadis itu, ia nampak tersenyum kecut.
"Sayang cobalah, bukannya ini sayur kesukaanmu." Sarah nampak menyendokkan tumisan wortel bercampur brokoli ke dalam piring Ricko.
"Terima kasih." sahut Ricko dan itu tak luput dari pengawasan Olive.
"Dan aku ambil buncisnya ya." Sarah nampak mengambil buncis yang ada di piring Ricko.
"Ah maaf Mommy lupa kalau Ricko tidak menyukai buncis, tapi untung ada kamu Sarah jadi makanannya tidak mubazir karena terbuang." Ariana nampak bersalah.
"Tidak apa-apa tante, dari dulu aku dan Ricko memang selalu saling melengkapi." sahut Sarah dengan menekankan kata-katanya, ia ingin menunjukkan pada Olive bahwa ia dan Ricko adalah pasangan serasi.
"Ya benar, kenapa kalian tidak cepat menikah saja. Kalian berdua memang sangat cocok karena sudah saling mengenal luar dan dalam." tukas Ariana yang langsung membuat Sarah tersenyum puas.
Sedangkan Olive langsung tersedak saat mendengar ucapan ibu mertuanya tersebut.
"Pelan-pelan, ayo Minumlah." Ariana langsung memberikan segelas air putih.
"Terima kasih, nyonya." sahut Olive, saat ini ia merasa benar-benar menjadi orang ketiga dalam hubungan suaminya dan Sarah.
"Baiklah Mommy sudah selesai, sepertinya kita langsung ke salon aja ya Sar." tukas Ariana menatap Sarah.
"Tentu saja, tante." sahut Sarah.
"Biar saya yang membereskannya, nyonya." cegah Olive saat Ariana akan membereskan sisa makanan mereka.
"Saya jadi merepotkan mu." Ariana nampak tak enak hati.
"Tidak apa-apa, nyonya." sahut Olive.
"Baiklah, lain kali kalau kamu pas libur saya akan mengajakmu juga." tugas Ariana kemudian.
"Terima kasih, nyonya." sahut Olive.
"Bye-bye sayang, aku pergi dulu ya." Sarah nampak mencium pipi Ricko dan setelah itu ia berlalu pergi bersama Ariana.
Sementara itu Olive yang sedari tadi merasa cemburu, nampak bergegas membereskan sisa makanan tadi lalu ia segera meninggalkan ruangan bossnya tersebut.
Namun baru akan membuka pintu Ricko langsung menarik tangannya hingga membuat gadis itu terperanjat.
__ADS_1
"Apa yang bapak...." protesnya namun terjeda karena bibirnya sudah di bungkam oleh bibir suaminya itu.