Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~158


__ADS_3

"Saat ini aku hanya ingin memakanmu, sayang." ucap Edgar menatap lekat istrinya itu, memeluk pinggang rampingnya dengan posesif seakan tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi darinya.


Dena yang balik menatapnya tiba-tiba merasakan jantungnya berdegup dengan kencang, kemudian ia nampak memejamkan matanya saat pria itu mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya dengan lembut.


Baru kali ini Dena merasakan berciuman dengan dada yang berdebar-debar, darahnya seakan berdesir hingga menjalar ke seluruh tubuhnya bagaikan sebuah aliran listrik.


"Ada apa dengan diriku ?"


Ciuman yang awalnya sangat lembut kini menjadi rakus dan menuntut, Edgar nampak mendorong istrinya itu perlahan hingga jatuh di atas ranjangnya lalu ia segera mengungkungnya.


Dengan bibir yang masih bertautan, Edgar nampak melepaskan pakaiannya maupun pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu hingga kini mereka nampak polos.


Dan setelah itu hanya suara ******* dan rintihan yang saling bersahutan dari keduanya, entah kenapa Dena merasakan ada yang berbeda dari suaminya saat ini.


Laki-laki itu nampak menyentuhnya dengan dingin, seakan dirinya hanya sebuah obyek pemuas nafsunya semata. Kemana sosok Edgar yang sebelumnya selalu menatapnya dengan penuh cinta.


Bahkan di akhir penyatuannya biasanya suaminya itu selalu mengatakan kata-kata cinta padanya, tapi kali ini laki-laki itu nampak menikmati pelepasannya dalam diam.


"Tidurlah, kamu pasti lelah kan." ucap Edgar setelah beranjak dari tubuh istrinya itu, setelah itu ia segera berlalu ke dalam kamar mandi.


Dena yang melihat sikap aneh Edgar tiba-tiba dadanya terasa sesak.


"Ada apa denganmu ?"


Beberapa saat kemudian Edgar yang baru keluar dari kamar mandinya, nampak mendapati istrinya sudah tertidur pulas lalu ia melangkahkan kakinya mendekat.


Di pandanginya wajah istrinya itu dengan seksama. "Aku sangat mencintaimu." gumamnya, kemudian di kecupnya kening wanita itu dengan sayang.


Setelah itu Edgar segera kembali ke kantornya, sesampainya di sana ia nampak menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya.


Menyandarkan kepalanya di sana, menatap langit-langit ruangannya dengan pandangan kosongnya. Ketika mengingat ucapan Juno tadi pagi, ia nampak menertawai dirinya sendiri.


Flashback on.....


Pagi itu setelah menghubungi istrinya agar menyusulnya ke Bali, tiba-tiba Juno masuk ke dalam kantornya.


"Tuan, anak buah saya menemukan ini dari tempat sampah kamar anda." Juno menyerahkan sebuah botol obat yang sudah kosong.


"Apa ini ?" tanya Edgar tak mengerti.


"Setelah saya cek itu obat pencegah kehamilan, tuan." sahut Juno.


Deg!!


"Apa ?" Edgar langsung melotot tak percaya.

__ADS_1


"Benar tuan, sepertinya nyonya Dena yang mengkonsumsinya." sahut Juno menjelaskan.


"Apa kamu yakin ?" Edgar rasanya tidak percaya jika istrinya itu tega melakukan itu.


Beberapa bulan lagi usia Elkan sudah dua tahun, jadi apa salahnya istrinya itu mengandung lagi. Lagipula ia pasti tidak akan membuat wanita itu kesulitan meski mempunyai banyak anak.


Dengan kekayaan yang ia miliki ia bisa memanjakan istrinya tanpa harus lelah mengasuh anak-anaknya seorang diri.


"Botol itu di temukan di tempat sampah kamar anda, tuan." sahut Juno meyakinkan.


Edgar nampak mengepalkan tangannya, kenapa istrinya tega melakukan itu. Apa sedikit pun tak ada cinta di hati wanita itu untuknya.


"Maaf tuan kalau saya lancang, apa anda tidak merasa curiga kenapa tiba-tiba nyonya Dena yang biasanya selalu bersikap dingin itu tiba-tiba mengajak anda menikah ?" ucap Juno hingga membuat Edgar menatapnya serius.


"Dia bilang mencintaiku dan ingin merawat Elkan bersama-sama." sahut Edgar.


"Saya hanya khawatir kalau ternyata motif beliau mengajak anda menikah hanya untuk memanfaatkan anda untuk membalas dendam pada nona Sera dan ibunya." sahut Juno.


"Entahlah saya terlalu mencintainya hingga ingin menutup mata akan hal itu, padahal sebelumnya saya sempat curiga kalau yang menyebarkan foto pernikahan kami waktu itu adalah istriku sendiri." ucap Edgar.


"Sepertinya nyonya Dena dengan sengaja melakukan itu untuk membalas perbuatan nona Sera yang dulu pernah merebut tuan Arhan dari beliau." ucap Juno.


Mendengar ucapan Juno, Edgar nampak menghela napasnya. "Apa mungkin istriku masih mencintai mantan suaminya itu ?" ucapnya kemudian.


"Baiklah, terima kasih infonya. Kamu bisa pergi sekarang." perintah Edgar kemudian.


Setelah kepergian Juno, Edgar nampak tersenyum sinis saat melihat berita online di ponselnya.


Dari awal dirinya memang tidak akan pernah melepaskan Sera dan ibunya, kesalahan mereka teramat besar hingga tak patut untuk di ampuni.


Hanya saja Edgar tidak menginginkan istrinya itu mengotori tangannya sendiri untuk membalas mereka. Karena sesungguhnya, balas dendam hanya akan menyisakan luka dan ia tidak ingin istrinya itu akan merasakan kesakitan pada akhirnya.


Namun Edgar mengerti sifat wanita itu sangatlah keras, Dena selalu menjunjung tinggi harga dirinya.


Wanita itu pasti akan menolak jika ia menawarkan bantuan untuk membalaskan perbuatan ibu serta saudara tirinya.


Untuk itu Edgar akan membantunya diam-diam tanpa sepengetahuannya.


"Jika memang itu tujuanmu, aku pasti akan membantumu hingga selesai dan setelah itu aku akan melepaskan mu."


Flashback off


Sementara itu di kediaman Winata, sang pemilik rumah mewah itu nampak murka saat melihat surat kabar siang ini.


Plakkk

__ADS_1


Sebuah tamparan ia layangkan pada pipi mulus putri keduanya tersebut.


"Maafkan Sera pa, berita ini tidak benar. Itu pasti ulah kak Dena." mohon Sera seraya memegang pipinya yang terasa panas.


Ini pertama kalinya ayahnya tersebut bersikap kasar padanya.


"Semua bukti sudah ada, masih punya muka kamu untuk mengelak hah ?" bentak tuan Winata.


"Pa, kasihani Sera. Seandainya itu benar mungkin saja Arhan dan Sera saling mencintai saat itu, Papa kayak tidak tahu anak muda saja." bela nyonya Sita.


"Diam !!" hardik Tuan Winata hingga membuat sang istri langsung menutup mulutnya rapat, baru kali ini suaminya itu membentaknya.


"Kalau mereka saling mencintai, kenapa dulu tidak mereka saja yang menikah dan Papa tidak perlu mengorbankan Dena ?" ucapnya lagi dengan tegas.


"Tapi saat itu Papa tahu sendiri kan, karir Sera sedang di puncak. Jadi bagaimana bisa dia menikah, karena itu hanya akan menghancurkan karirnya." sahut nyonya Sita membela putrinya itu.


Mendengar ucapan istrinya, tuan Winata nampak tersenyum sinis.


"Jadi ini semua rencana mu, hah ?" hardiknya hingga membuat nyonya Sita merutuki dirinya sendiri, karena secara tidak langsung telah membuka rahasianya sendiri.


"Bu-bukan begitu, Pa..."


"Cukup !!" tuan Winata nampak mengangkat sebelah tangannya agar istrinya itu diam.


"Aku tidak menyangka kalian begitu pintar mengelabuhiku atau jangan-jangan yang Dena adukan selama ini, itu benar adanya ?" ucapnya lagi yang langsung membuat Sera dan ibunya memucat.


"Pa, itu tidak benar." mohon nyonya Sita.


"Kalian tahu, karena berita memalukan yang beredar itu perusahaan sedang dalam masalah. Para investor berbondong-bondong mencabut investasinya dari perusahaan kita." ujar Tuan Winata dengan nada frustrasi.


"Dan itu semua karena ulahmu Sera, ku pikir selama ini kamu anak papa yang sangat berharga tapi ternyata tak lebih dari seorang j*l*ng." bentak tuan Winata, kemudian beliau berlalu pergi.


Sedangkan Sera yang masih terduduk di atas lantai nampak terisak.


"Stop Sera, menangis tidak akan memecahkan masalah. Sekarang kita harus membuat rencana agar Papa mau mempercayai kita lagi." ujar nyonya Sita seraya membantu Sera untuk berdiri.


Sementara itu selepas bercinta dengan suaminya tadi siang, Dena belum bertemu lagi dengan laki-laki itu. Bahkan sampai tengah malam pria itu belum kunjung datang, apa suaminya itu begitu sibuk hingga tidak sempat pulang untuk beristirahat.


"Kamu kemana sih sayang, di telepon juga nggak aktif ?" baru kali ini Dena memiliki rasa khawatir yang berlebihan pada suaminya tersebut.


Biasanya ia tidak peduli dengan apa yang di lakukan oleh pria itu, karena di pikirannya hanya ada rencana dan rencana untuk membalas dendam.


Namun entah kenapa ia tiba-tiba sangat mengkhawatirkan suaminya saat ini.


"Astaga, ada apa dengan diriku? ingat Dena tidak boleh ada cinta, karena cinta hanya akan membuatmu terluka lagi."

__ADS_1


__ADS_2