Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~196


__ADS_3

"Hey bro, semoga di saat kamu membaca tulisanku ini kamu sudah sehat kembali dan tentunya aku sudah berada di tempat lain sekarang."


Dena dan Edgar nampak saling bertatapan saat baru membaca sepenggal isi surat tersebut, kemudian mereka melanjutkan membacanya kembali.


"Aku hanya ingin memohon tolong jaga kekasih hatiku dengan baik, sayangi dia dan jangan pernah menyakitinya. Ingat, setiap detak jantungmu adalah milikku yang hanya akan ku persembahkan pada kekasihku."


"Untukmu kekasihku terima kasih sudah memaafkan ku, meski ragaku sudah tiada tapi cintaku akan selalu menyertaimu. Terima kasih sayang sudah pernah mencintaiku dengan tulus, i love u. I love u Dena Winata."


Dena nampak sangat terkejut saat membaca pesan tulisan tangan Arhan tersebut, ia tidak menyangka Arhan lah yang telah menjadi pendonor untuk suaminya.


Itu berarti laki-laki itu kini sudah tiada, seketika ia menyesal kenapa waktu itu tidak memberikan permintaan terakhirnya.


Dena merasakan sesak luar biasa, ingin sekali ia menangis bagaimana pun juga dulu ia pernah mencintai laki-laki itu dengan sepenuh hati.


Banyak kenangan manis yang sudah mereka lalui waktu itu, sebelum akhirnya laki-laki itu menghianatinya.


Namun ia menahannya agar suaminya tak kecewa jika mengetahui bagaimana perasaannya saat ini.


"Aku sangat cemburu, sayang." lirih Edgar, ia nampak menghela napasnya dengan berat.


"Maaf, aku tidak pernah tahu jika pendonor itu adalah Arhan. Waktu itu kami semua sedang putus asa apalagi saat keadaanmu mulai melemah jadi kami tidak mencari tahu dulu." ucap Dena, ia takut suaminya itu tidak bisa menerimanya.


"Aku cemburu, ternyata cinta Arhan padamu lebih besar bahkan dia rela sebagian dari dirinya hilang hanya demi membuatmu bahagia." Edgar nampak tersenyum sinis, ia jadi merasa bersalah saat ini karena sebelumnya telah membenci laki-laki itu.


"Kamu tidak marah ?" Dena mengerutkan dahinya menatap laki-laki itu.


"Kenapa aku harus marah, sayang. Justru aku sangat berterima kasih padanya, berkatnya aku mendapatkan satu kesempatan memilikimu kembali. Aku pasti akan menjaga jantung ini untukmu." kali ini Edgar mengulas senyumnya dengan lembut.


"Menangislah jika ingin menangis." imbuhnya lagi saat melihat istrinya itu berkaca-kaca menatapnya.


Dena yang sedari tadi menahan sesak di dadanya, akhirnya tumpah juga di dalam pelukan suaminya.


Edgar nampak mengusap lembut punggung istrinya, meski kini jantung yang berdetak di dalam tubuhnya adalah milik Arhan ia tak mempermasalahkannya.


Justru ia bersyukur karena ia merasa semakin mencintai istrinya itu, ia dan Arhan seolah bersatu dalam jiwa yang sama untuk mencintai wanita itu.


Beberapa hari setelah Edgar sehat dan di perbolehkan pulang, ia nampak kembali ke kantornya.


Hampir dua bulan ia meninggalkan kantornya tersebut yang saat ini di gantikan oleh sang ayah.


"Pihak berwajib sudah menyelidikinya sekali lagi tuan sesuai permintaan anda, tapi memang tidak ditemukan unsur sabotase dalam kecelakaan yang di alami oleh tuan Edgar waktu itu." ucap Juno pagi itu pada tuan besarnya.


"Itu benar, Pa. Maaf itu semua kelalaianku, waktu itu Juno sudah mengingatkan ku jika mobilku sudah waktunya untuk servis rutin, hanya saja waktu itu aku terlalu sibuk membuat pesta kelahiran anakku." ucap Edgar saat baru masuk ke dalam ruangannya.

__ADS_1


"Edgar? kenapa kamu datang ke kantor? kamu sudah baikan ?" King nampak terkejut saat tiba-tiba putranya itu masuk ke dalam ruangannya yang memang sebelumnya tidak tertutup rapat.


"Aku sudah sangat sehat Pa dan aku sangat rindu untuk bekerja lagi." sahut Edgar meyakinkan.


"Apa kamu sudah periksa kembali ke dokter ?" tanya sang ayah khawatir.


"Sudah, semalam dan aku baik-baik saja." sahut Edgar.


"Syukurlah, perusahaan ini membutuhkan mu. Sepertinya Papa sudah terlalu tua hingga sudah tidak ada lagi ide-ide cemerlang dalam memajukan perusahaan ini." ucap King seraya menghela napas panjangnya.


"Bilang saja Papa hanya ingin bermain-main dengan anak-anakku." cibir Edgar bernada menggoda.


"Itu salah satunya Elkan dan Elsa begitu menggemaskan." sahut King seraya bangkit dari duduknya.


Setelah berbincang sebentar, laki-laki paruh baya itu pamit untuk pulang dan mulai hari ini ia menyerahkan kembali perusahaan pada sang Putra.


Semenjak saat itu Edgar terlihat sibuk dengan pekerjaannya, karena ada beberapa pekerjaan yang menumpuk.


"Jangan terlalu lelah, sayang." ucap Dena malam itu saat sang suami baru pulang bekerja.


"Apa anak-anak sudah tidur ?" tanya Edgar seraya menggandeng sang istri masuk ke dalam kamarnya.


"Mereka sudah tidur, tadi Elsa sedikit rewel namun sekarang sudah tidur nyenyak." sahut Dena.


"Baiklah." sahut Edgar, setelah itu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi.


Beberapa saat kemudian laki-laki itu keluar dengan handuk melilit di pinggangnya, sisa-sisa tetesan air terlihat masih membasahi tubuh kekarnya dan itu membuat Dena yang sedang duduk bersandar di headboard ranjangnya nampak menelan salivanya.


Sudah 3 bulan semenjak ia melahirkan, mereka belum melakukan ritual suami istri karena dokter melarang suaminya melakukan gerakan fisik yang berlebihan.


"Aku akan mengambilkan pakaian untukmu." ucap Dena saat sang suami melangkahkan kakinya menuju walk in closet.


Namun Edgar langsung menahan tangannya. "Aku tidak ingin ganti baju, sayang." sahutnya seraya menatap lekat sang istri.


"Apa kamu sudah selesai ?" imbuhnya lagi dengan tersenyum nakal.


Seminggu yang lalu setelah dokter memastikan dirinya sehat seperti sedia kala, ia sangat senang dan siap bertempur. Namun sang istri justru mendapatkan tamu bulanannya.


"A-aku....." Dena mendadak gugup, terlalu lama tak di sentuh oleh sang suami ia jadi merasa malu seperti seorang perawan.


"Tentu saja kamu sudah bersih sayang, ini adalah hari ke delapan." potong Edgar yang membuat Dena langsung bersemu merah, ternyata untuk urusan hal itu suaminya sangat hafal.


Melihat istrinya itu nampak malu-malu, Edgar menjadi gemas sendiri. Lalu di tariknya pinggang wanita itu mendekat hingga kini tak ada cela di antara mereka.

__ADS_1


Lalu Edgar langsung melahap bibir tipis istrinya dengan lembut, hingga membuat wanita itu mengerang di buatnya.


Sebelah tangannya nampak memegang tengkuk sang istri untuk memperdalam ciumannya, lalu tangan lainnya bergerelya masuk ke dalam kimono tidur wanita itu.


Menyentuh dengan lembut gundukan kenyal yang ada di dalam sana dan memainkan puncaknya hingga membuat wanita itu mendesah tertahan.


"Kamu sudah basah, sayang." ucap Edgar dengan suara beratnya saat tangannya menyentuh milik istrinya di bawah sana.


Kemudian ia langsung mengangkat tubuh wanita itu lalu membawanya ke atas ranjangnya.


"Sayang aku berat." pekik Dena, ia masih saja khawatir dengan kesehatan suaminya.


"Aku sudah sangat sehat sayang, bahkan aku sudah berencana membuatmu mendesah sepanjang malam." sahut Edgar nampak bersemangat.


Dan benar saja malam itu mereka melakukannya sepanjang malam, seolah mengganti hari-hati yang telah terlewatkan sebelumnya.


Keesokan harinya...


"Mama." teriak Elkan.


Dena yang masih mengantuk karena baru tidur dini hari, nampak mengerjapkan matanya saat mendengar suara anaknya memanggilnya.


"Astaga sayang, apa yang kamu lakukan." Dena langsung beranjak dari ranjangnya lalu berlari ke arah Elkan saat melihat bocah kecil itu mendorong kereta sang adik.


"Ini bahaya, sayang." tegur Dena seraya mengambil Elsa dari dalam kereta tersebut, bisa-bisanya bocah kecil itu menganggap kereta adiknya bagaikan mainan mobil-mobilannya.


Meski kadang cara bicara Elkan sok dewasa, tapi tetap saja tingkahnya masih seperti anak-anak.


"Adik menangis Mama, bibik macih ambil ail panas di bawah." ucap Elkan dengan polos.


"Baiklah, terima kasih ya sudah jaga adik." sahut Dena, lalu mengajak kedua anaknya itu naik ke atas ranjangnya.


Edgar yang baru keluar dari kamar mandi langsung terkekeh saat melihat kedua anaknya sudah berada di dalam kamarnya.


Ia langsung ikut bergabung dengan mereka, sungguh ia sangat bersyukur masih di beri kesempatan untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya.


Saat menatap sang istri yang sedang becanda dengan kedua anaknya, Edgar nampak mengulas senyumnya. Entah kenapa setiap menatap wanita itu ia selalu berdebar-debar seperti seseorang yang sedang jatuh cinta.


"Terima kasih Arhan, aku merasakan cintamu begitu besar pada Dena hingga membuatku merasa selalu jatuh cinta padanya."


.


Next part lanjut Sera ya guys, tentunya dengan cerita baru.

__ADS_1


__ADS_2