Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~206


__ADS_3

Pandangan mereka nampak terkunci beberapa saat dan entah siapa yang memulai namun kini mereka bagaikan sebuah magnet yang saling menempel jika di dekatkan.


Martin nampak mengusap lembut pipi Sera, kemudian ia langsung memanggut bibir tipis yang terlihat menggoda itu.


Menyesap dan mencecapnya dengan lembut, namun Sera langsung menjauhkan wajahnya hingga panggutan Martin di bibirnya terlepas. Ia tidak ingin mengulang masa lalunya dengan menjadi penghianat.


"Maaf, tidak seharusnya ini terjadi. Kamu bilang kita perlu bicara kan? baiklah ayo kita bicara." ucapnya, kemudian ia menjauh dari hadapan Martin lalu menghempaskan tubuhnya di sofa.


Laki-laki itu terlihat kecewa, namun ia ikut mendudukkan dirinya di hadapan Sera.


"Setelah mengetahui kebenarannya, apa yang akan kamu lakukan ?" ucap Sera menatap tegas Martin, meski saat ini jantungnya masih berdegup dengan kencang karena serangan tiba-tiba dari pria itu.


Namun sebagai seorang ibu dari ke enam anak, ia tidak akan mudah terlena hanya karena sebuah sentuhan.


Meski jujur ia juga sangat menginginkannya, tapi ia tidak mau melukai perasaan wanita lain. Cukup masa lalunya saja yang membuatnya menjadi wanita tak berperasaan.


Martin nampak menghela napasnya saat menatap intens Sera, ciuman kilat yang baru mereka lakukan tadi masih sangat mempengaruhi tubuhnya.


"Menikahlah denganku dan kita rawat Merry dan kelima anak-anak itu bersama-sama." sahutnya yang langsung membuat Sera menatap sinis padanya.


"Tuan Martin, apa anda lupa sebentar lagi anda akan menikah? jadi tolong jangan menyakiti hati wanita lagi." tegas Sera.


"Saya tidak pernah menyakiti hati wanita manapun dan ku rasa Lusi akan mengerti dengan keadaan kita." tukas Martin dengan enteng seakan membatalkan pernikahan itu hal biasa baginya.


"Tapi maaf saya tidak ingin menikah dengan anda, kita bisa menjadi orang tua bagi Merry meski tanpa menikah." tolak Sera, ia tidak ingin bahagia di atas kesedihan Lusi.


Lagipula ia juga tidak tahu bagaimana perasaan Martin padanya, menikah hanya demi anak dan tanpa ada cinta di dalamnya akan membuatnya tersiksa kelak.


Martin menatap Sera sejenak, kemudian ia bangkit dari duduknya. Dia bukan laki-laki perayu yang ulung, jika Sera menolaknya itu berarti wanita itu memang tidak menyukainya.


"Baiklah jika itu keputusanmu." Martin tidak akan berdebat lagi untuk saat ini mengingat wanita itu masih terlihat emosi.


"Sepertinya anak-anak sudah pulang." ucapnya lagi seraya membuka pintu rumah tersebut dan benar saja nampak anak-anak baru keluar dari mobilnya.


"Daddy." teriak Merry yang di ikuti oleh kelima saudaranya yang lain.


Hingga malam hari Martin baru beranjak dari rumah Sera setelah memastikan putrinya tidur. Sepanjang hari ia bermain dengan anak-anak tersebut yang membuatnya merasa sangat senang karena sejenak bisa melupakan pekerjaannya.


"Apa kamu tega membiarkan ku pulang ?" ucapnya saat Sera menyuruhnya pulang.


"Di sini hanya ada empat kamar dan semuanya sudah penuh oleh anak-anak." sahut Sera.

__ADS_1


"Tapi di luar sangat dingin."


"Aku menyuruhmu pulang, bukan tidur di luar." tegas Sera.


"Tapi perjalanan di malam hari itu sangat berbahaya, kamu tidak inginkan Merry menjadi anak yatim secepat itu." bujuk Martin dengan mengiba.


Sera nampak mendesah kesal. "Membahayakan bagaimana? justru orang yang bertemu denganmu yang merasa bahaya." batin Sera seraya menatap sebuah senjata api yang terselip di pinggang laki-laki itu.


"Baiklah, kalian bisa tidur di sofa." ucap Sera pada akhirnya yang membuat Martin langsung tersenyum puas.


Setelah itu Sera segera masuk ke dalam kamarnya yang sekaligus ia gunakan sebagai tempatnya bekerja.


Seharian Martin sangat menyita waktunya hingga membuatnya tak sempat melanjutkan pekerjaannya.


Ia harus segera menyelesaikan pakaian pernikahan Lusi, ia berharap setelah menikah laki-laki itu berhenti mengganggunya.


Hingga hampir dini hari Sera masih duduk di depan mesin jahitnya, meski matanya mengantuk ia berusaha tetap terjaga.


Namun tubuhnya yang terlalu lelah membuatnya langsung tertidur dengan kepalanya bertumpu di meja jahitnya.


Baginya itu sudah biasa dan ia sering melakukannya saat banyak sekali pesanan hingga membuatnya harus mengerjakannya sampai pagi hari.


Sementara itu Martin yang sedang tidur di sofa bersama dengan Mattew nampak berdecak kesal saat mendengar asistennya itu mendengkur dengan keras.


Di lihatnya putrinya itu nampak tertidur pulas, setelah memperbaiki selimutnya lalu mengecup keningnya ia kembali keluar.


Lalu ia mengecek kamar lainnya yang berisi para anak-anak laki-laki di sana, Martin nampak mengulas senyumnya saat melihat mereka semua tidur dengan nyenyak.


Ia tidak menyangka, Sera yang dahulu wanita manja kini mampu mengasuh keenam anak-anak tersebut tanpa sedikitpun mengeluh padahal kelima anak tersebut tidak ada hubungan darah dengannya.


"Helena benar, kamu banyak sekali berubah." gumam Martin, setelah itu ia berlalu keluar dari kamar tersebut.


Saat akan kembali ke sofanya yang ada di ruang tamu, ia menatap pintu kamar Sera yang masih nampak menyala.


"Apa dia belum tidur ?" gumam Martin seraya menatap jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul dua dini hari.


Martin mencoba membuka kamar Sera dan ia sedikit terkejut saat pintu tersebut tidak di kunci.


"Ceroboh sekali, kenapa tidak di kunci." gumamnya sambil melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar tersebut.


Sebuah kamar yang lumayan luas, nampak foto seorang pria dengan beberapa anak kecil terpatri di dinding.

__ADS_1


"Apa itu foto tuan Mauren, mantan suaminya Sera." gumamnya saat melihat laki-laki paruh baya nampak tersenyum di tengah kerumunan anak-anak kecil.


Tiba-tiba hatinya mencelos saat mengingat Sera pernah menikah dengan pria itu.


Lalu pandangannya tertuju pada ranjang yang masih kosong, Martin nampak terkejut saat tak melihat Sera di sana.


Lalu ia mengedarkan pandangannya dan melihat wanita itu tengah tertidur di meja jahitnya, nampak beberapa pakaian tergantung di sisinya.


"Maafkan aku, sepertinya selama ini kamu terlalu bekerja keras untuk menghidupi anak kita." gumam Martin seraya mendekati wanita itu.


Setelah itu ia mengangkat tubuh ringkih Sera lalu membawanya ke atas ranjangnya.


"Bahkan tubuhmu sangat ringan, apa kamu tidak pernah makan selama ini." ucapnya saat menidurkan Sera lalu ia menyelimutinya.


"Maafkan aku." ucapnya lagi.


Martin yang enggan keluar, ia nampak merebahkan dirinya di samping Sera. Masuk ke dalam selimut yang sama lalu memeluk wanita itu dengan erat.


Biarlah ia mendapatkan amukan dari wanita itu esok paginya daripada harus tidur di sofa dengan mendengarkan suara dengkuran Mattew.


Lagipula ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan mendekati wanitanya itu.


Keesokan harinya....


"Bunda mana kak ?" tanya Merry saat tak melihat ibunya di dapur.


"Bunda masih tidur, jangan di ganggu kasihan Bunda." sahut Alex, bocah remaja itu nampak membuat roti bakar buat sarapan adik-adiknya.


Ia memang sering menggantikan peran sang ibu mengurus adik-adiknya saat ibunya sedang sibuk atau pun sedang sakit.


Lalu setelah menghabiskan sarapannya, mereka segera pergi ke sekolahnya.


Saat matahari mulai merangkak naik, Sera baru mengerjapkan matanya. Ia merasa semalaman tidurnya terasa nyenyak, bahkan sangat nyenyak.


Namun Ia harus segera bangun untuk membuatkan sarapan anak-anaknya, tapi saat membuka matanya ia langsung terkejut saat berada dalam pelukan seorang pria.


"Apa aku sedang bermimpi." gerutunya, kemudian ia memejamkan matanya kembali, lalu setelah itu ia membuka matanya lagi dan ia masih saja memeluk tubuh pria tersebut.


"Tidak, aku tidak sedang bermimpi." Sera langsung menjauhkan dirinya lalu melihat siapa pria yang berani-beraninya naik ke atas ranjangnya.


"Tu-tuan Martin? apa yang sedang anda lakukan di kamar saya ?' hardiknya saat melihat Martin nampak memperhatikannya dengan senyum mengembang di bibirnya.

__ADS_1


.


Maaf ya guys lagi-lagi terlambat up, tadi Othor lagi sibuk jadi nggak ada waktu nulis 😁


__ADS_2