
Pagi itu Martin nampak membuka matanya dan hal pertama yang ia lihat adalah wajah Sera yang masih tertidur pulas menghadap ke arahnya.
Martin langsung mengulas senyumnya, di usapnya dengan lembut pipi wanita itu lalu ia mencuri sedikit ciuman di bibirnya.
Sera yang merasa nyaman terlihat semakin merapatkan tubuhnya lalu memeluk pria itu, namun beberapa saat kemudian ia langsung berteriak saat menyadari ada orang lain di sisihnya.
"Tu-tuan Martin? apa yang sedang anda lakukan di kamar saya ?' hardiknya saat melihat Martin nampak memperhatikannya dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Semalam di luar sangat dingin bahkan saya hampir membeku, mau tidur di kamar anak-anak tempat tidur mereka sangat sempit jadi daripada saya mati konyol jadi lebih baik tidur di sini saja." sahut Martin dengan tampang tak bersalah.
"Tapi tidak di sini juga." gerutu Sera dengan kesal.
"Mau bagaimana lagi dari pada saya mati lalu Merry menjadi anak yatim kan tidak lucu, lagipula kamu juga terlihat menikmati keberadaan saya di sini." sahut Martin dengan nada meledek.
"Menikmati apa? kamu saja yang sengaja dekat-dekat. Sudah mau menikah juga masih saja ganjen." Sera nampak bersungut-sungut, namun itu justru membuat Martin terkekeh gemas.
"Oh, jadi memeluk dengan kencang itu tidak menikmati ?" ledeknya sambil melihat ke arah kakinya yang masih di gunakan oleh wanita itu sebagai guling.
Sera yang melihat arah mata Martin langsung menelan ludahnya. "Sialan." gumamnya seraya menjauhkan kakinya, lalu ia bergeser menjauh. Ternyata dirinya yang semalam mendekati pria itu, sungguh Sera merasa malu saat ini.
"Ini pasti efek lama tidak di sentuh laki, dasar tubuhku tak tahu diri."
Sera segera beranjak dari ranjangnya, ia harus segera membuatkan sarapan untuk anak-anaknya. Namun baru juga turun dari ranjangnya, Martin sudah menarik tangannya hingga ia kembali tidur.
"Astaga apa yang kamu lakukan, anak-anakku sedang menungguku." teriak Sera sambil memberontak saat Martin memeluknya dengan erat.
"Temani aku di sini sebentar, lagipula anak-anak sudah berangkat di antar oleh Mattew." ujar Martin yang kini menyusupkan wajahnya di ceruk leher Sera hingga membuat wanita itu meremang.
"Tolong lepaskan aku." mohon Sera, ia takut khilaf kalau seperti ini. Apalagi saat ini pria itu hanya memakai celana boxernya dan membiarkan tubuh atasnya tak memakai apapun.
"Biarkan seperti ini sebentar." ucap Martin dengan lirih, ia nampak menikmati harum tubuh wanitanya itu.
"Tidak, kita tidak bisa seperti ini. Bagaimana kalau Lusi melihatnya ?" protes Sera.
"Dia tidak melihatnya." sahut Martin.
"Tapi sama saja kamu menghianati kepercayaannya."
"Aku tidak pernah menghianatinya." sahut Martin lagi.
__ADS_1
"Bukannya menyentuh wanita lain itu termasuk berhianat." gerutu Sera kesal karena Martin sama sekali tak ada perasaan bersalah.
"Tidak juga." sahut Martin, kali ini ia nampak mengecupi leher jenjang Sera dengan lembut.
"Tuan Martin menjauhlah." teriak Sera tak terima saat merasa dirinya di lecehkan oleh laki-laki itu.
Martin nampak mengangkat wajahnya lalu menatap Sera dengan pandangan berkabut. "Aku menginginkan mu ?" ucapnya dengan suara berat.
Sera yang berada di bawah kungkungannya, nampak memucat. "Tidak, semoga dia tidak memperkosaku seperti dulu. Tuhan tolong aku, aku hanya ingin menjaga kehormatanku sebagai seorang ibu."
"Aku tidak akan melakukannya kalau bukan dengan suamiku." tolak Sera dengan tegas.
"Ya sudah ayo menikah dan kita bisa melakukannya setiap hari." mohon Martin.
"Sudah ku bilangkan kita tidak mungkin menikah jadi tolong lepaskan aku dan cepatlah pulang Lusi pasti sudah menunggumu." bujuk Sera dengan setengah berteriak.
"Apa kamu tidak mencintaiku ?" tanya Martin kemudian yang langsung membuat Sera terperangah.
"Tentu saja aku mencintaimu tapi aku tidak mau melukai perasaan wanita lain."
"Aku tidak mencintaimu, maaf." dusta Sera yang langsung membuat Martin menatapnya kecewa.
"Lalu siapa pria yang kamu cintai? apa tuan Mauren pria tua itu? apa dia juga menyentuhmu seperti aku dulu menyentuhmu hah ?" ucapnya mulai emosi.
Padahal selama ini hanya ada dua pria yang menyentuh tubuhnya, Arhan dan pria itu.
Mendengar jawaban Sera, Martin nampak mengeraskan rahangnya. Ia merasa cemburu saat miliknya juga di miliki oleh orang lain.
Tanpa berkata-kata lagi ia langsung menggenggam kedua tangan Sera lalu meletakkannya di atas kepala wanita itu.
Lalu dengan kasar ia melum😘t bibir Sera tak peduli wanita itu memberontak, karena semakin Sera memberontak maka ia semakin menekan tubuhnya hingga membuat wanita itu tak berdaya.
Martin terus saja mencium bibir Sera dengan rakus meski wanitanya itu tak membalasnya, rasa cemburu dan amarah kini menguasai dirinya.
Karena Sera tak kunjung membuka bibirnya, Martin nampak menggigitnya hingga membuat wanita itu terpekik dan Martin langsung memasukkan lidahnya.
Mengobrak-abrik pertahanan wanita itu hingga membuat Sera nampak pasrah saat tenaganya mulai lemah.
Martin memanggut bibir tipisnya dengan bergairah, menyesapnya dan mencecapnya. Kemudian tangannya mulai menelusup ke dalam piyama wanita itu, meremasnya lalu memainkan puncaknya yang membuat Sera langsung mendesah tertahan dalam ciuman pria itu.
__ADS_1
"Tolong jangan lakukan itu padaku." mohon Sera dengan isak tangisnya saat Martin melepaskan panggutannya, meski tubuhnya menginginkannya tapi ia harus mempertahankan harga dirinya.
Martin seakan tuli dengan rintihan Sera, ia terus saja menikmati tubuh wanita yang kini hampir tak berbusana itu dengan rakus.
Ia meninggalkan banyak sekali bekas kepemilikan di tubuhnya, lalu dengan lihai ia memainkan puncak gundukan indah itu dengan bibirnya. Melahapnya, menghisapnya lalu mengulumnya dengan rakus.
"Tuan Martin, ku mohon jangan lakukan itu." mohon Sera lagi dengan lemah saat Martin mulai menelusupkan tangannya ke dalam miliknya di bawah sana.
"Bahkan kamu sudah sangat basah, sayang." lirih Martin dengan suara seraknya.
Sera hanya bisa mencengkeram seprainya saat Martin memainkan miliknya, bahkan kini tangannya nampak membungkam mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan erangannya.
"Ini baru pemanasan sayang, tapi tubuhmu sangat menikmatinya, apa pria tua itu juga menyentuhmu seperti ini hah." ucap Martin yang nampak tersenyum puas saat melihat tubuh Sera menggeliat karenanya.
Namun saat Sera merasakan akan sampai pada puncaknya, dengan tak berperasaan Martin langsung menjauhkan tangannya hingga membuat Sera merasa kecewa sekaligus rasa bersalah karena telah menikmati cumbuan pria itu.
Martin nampak tersenyum sinis menatap Sera yang kini tak berdaya di atas ranjangnya, kemudian ia segera beranjak dari sana lalu memunguti pakaiannya dan segera memakainya.
kemudian di ambilnya senjata apinya yang semalam ia letakkan di atas nakas. Lalu ia mengarahkan pada foto tuan Mauren yang terpatri di dinding.
Setelah menarik pelatuknya, Martin langsung melepaskan tembakannya beberapa kali tepat pada wajah tuan Mauren hingga membuat Sera terpekik.
Bahkan Mattew yang sedang berada di luar pun, langsung berlari lalu mengetuk kamar Sera.
"Tuan, nyonya anda baik-baik saja ?" teriaknya khawatir.
Sedangkan Martin yang kini menatap Sera nampak mengusap lembut pipi wanita itu. "Siapa pun yang berani menyentuhmu, maka nasibnya akan sama seperti foto itu." ucapnya lirih, namun penuh penekanan.
Setelah itu ia langsung mencium kening Sera, kemudian berlalu pergi meninggalkan wanita itu di kamarnya seorang diri.
"Tuan, anda baik-baik saja ?" tanya Mattew saat Martin membuka pintu kamarnya.
"Hm." sahut Martin.
"Apa nyonya Mauren juga baik-baik saja ?" tanya Mattew lagi seraya mencoba melihat keadaan di dalam kamar, namun Martin langsung menutup pintunya dengan keras.
Mana mungkin ia membiarkan asistennya itu menatap tubuh polos wanitanya, jika sampai itu terjadi ia pasti akan menghabisinya.
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi di hadapan ku." teriak Martin dengan kesal.
__ADS_1
"Maaf, maksud saya apa nyonya Sera baik-baik saja ?" ucap Mattew lagi.
"Hm, dia baik-baik saja, segera siapkan mobilnya kita akan kembali ke kota." perintah Martin kemudian seraya melangkahkan kakinya keluar dari rumah tersebut.