
Olive menghela napasnya pelan untuk menetralkan debaran hatinya ketika melihat sang Ayah yang sedang duduk di meja nomor 7.
Setelah itu ia mulai melangkahkan kakinya menuju kesana, semoga saja ayahnya tersebut tak mengenalinya seperti Ricko yang selama ini juga tak pernah mengenalinya.
"Permisi." ucapnya kemudian, lalu mulai meletakkan beberapa minuman dan makanan ringan pesanan Demian dan keluarganya.
"Terima kasih." sahut Ariana dan juga Dena menatap Olive.
Sedangkan Olive hanya membalasnya dengan senyuman kecil dan anggukan kepala, setelah itu ia berlalu pergi.
"Tunggu." panggil Demian saat Olive sudah berjalan beberapa langkah.
Deg!!
"Daddy." Olive masih sangat hafal dengan suara ayahnya tersebut, kenapa memanggilnya apa pria itu mengenali dirinya.
"Ya, tuan. Bisa saya bantu ?" tanya Olive setelah berbalik badan, semaksimal mungkin ia bersikap biasa saja padahal kini jantungnya seperti marathon dan dadanya rasanya sangat sesak.
Ingin sekali ia berteriak mengatakan jika dirinya adalah Olive, putri kecilnya. Sungguh ia sangat merindukan ayahnya tersebut, merindukan dekapannya dan canda tawanya.
"Nama kamu Olive ?" tanya Demian seraya menatap name tag di seragam Olive hingga membuat Ariana, Ricko dan juga Edgar langsung menatap ke arah gadis itu.
"Benar tuan, saya Olive Hudson." sahut Olive dengan senyuman tipis.
"Nama yang bagus, apa kamu orang Asia ?" tanya Demian lagi.
"Benar tuan, tapi saya besar di sini." sahut Olive.
"Pantas logat bicara mu seperti asli orang sini." ucap Demian.
"Apa ada yang mau di pesan lagi, tuan ?" tanya Olive lagi seraya menatap bergantian semua orang yang duduk di meja nomor 7 tersebut.
Ia nampak bersitatap dengan Ricko sejenak, namun pria itu langsung mengalihkan pandangannya dengan mengambil gelas minumannya.
"Tidak, tidak ada." sahut Demian.
"Kalau begitu saya permisi." ucap Olive kemudian berlalu pergi.
"Syukurlah mereka tidak mengenaliku." gumamnya, ia nampak memegangi dadanya yang sedang berdebar-debar.
Semenjak bekerja di restoran ini lima bulan yang lalu, baru kali ini Ricko menatapnya hingga membuat jantungnya langsung bertalu-talu.
Ia pikir dulu perasaannya pada Ricko hanya sebuah rasa suka seorang anak kecil pada sahabatnya, nyatanya semakin bertambah tahun dan dewasa rasa itu semakin dalam.
Bukan rasa suka lagi yang ia rasakan, tapi rasa itu berubah menjadi perasaan cinta di hatinya.
"Mas, kamu baik-baik saja ?" Ariana nampak menggenggam tangan Demian saat melihat suaminya itu tiba-tiba murung.
__ADS_1
"Olive pasti sudah bahagia di atas sana, Mas." imbuhnya lagi menenangkan.
"Ya, kamu benar." sahut Demian menatap istrinya tersebut.
"Seandainya dia masih hidup pasti sudah sebesar gadis itu." imbuhnya lagi seraya menatap Olive yang terlihat sibuk melayani pelanggan lainnya.
"Apa tidak ada yang mau makan ?" timpal Ricko saat semua orang di sana belum menyentuh makanannya.
"Ya tentu saja kami akan makan." sahut Edgar yang langsung mengambil minumannya dan di ikuti oleh yang lainnya.
Setelah itu mereka nampak melupakan keberadaan Olive dan mulai menikmati makanan siangnya.
Sedangkan Ricko diam-diam nampak memperhatikan Olive, namun ia langsung membuang muka saat Olive menatap ke arahnya.
Sore harinya.....
"Kamu terlambat lagi ?" tegur manager hotel saat Olive baru datang.
"Maaf pak saya harus mengerjakan tugas kuliah dulu." sahut Olive merasa bersalah.
"Selalu saja, cepatlah bersiap-siap. Nanti malam ada pesta di hotel ini." tegur manager tersebut.
"Siap, pak." sahut Olive.
Setelah itu ia segera menuju ruangan karyawan untuk mengganti pakaiannya, ia sangat senang jika di hotel tempatnya bekerja di adakan pesta itu berarti ia akan lembur dan mendapatkan uang lebih.
Ibu dua anak tersebut terlihat sangat cantik dengan gaun malamnya. "Sayang, kamu cantik sekali. Tidak bisakah kita batalkan saja pestanya dan menghabiskan malam panjang di kamar ini." ucap Edgar seraya memeluk istrinya dari belakang.
Dena yang sedang berhias di depan cermin, nampak terkekeh mendengar ide gila suaminya.
"Dan semua tamu undangan pasti akan langsung memaki kita setelah itu." sahutnya.
"Habisnya kamu membuatku selalu terpesona." ucap Edgar seraya mengecupi bahu terbuka sang istri.
"Sayang, jangan membuat ku kehilangan akal." rutuk Dena kegelian, ia segera menjauhkan dirinya dari sang suami sebelum ia ikutan khilaf dan berakhir gulat di atas ranjang.
Sementara itu Sera yang masih berada di kamarnya nampak bersungut-sungut saat melihat bayangan dirinya di dalam cermin.
Bagaimana tidak, harusnya dia bisa bertemu Ayahnya dan juga Dena di Jerman nyatanya gagal total karena suaminya itu mengurungnya sepanjang hari di kamarnya.
Nampak beberapa gaun pesta di atas ranjangnya, namun satu pun tidak ada yang cocok menurutnya.
"Gaun-gaun itu hanya akan membuatku malu." gerutunya dengan kesal saat melihat banyak sekali jejak kepemilikan di tubuhnya terutama bahu dan lehernya.
Suaminya itu benar-benar mengerikan karena tak ada lelahnya bercinta dengannya sepanjang hari.
"Dasar maniak." batinnya.
__ADS_1
"Sayang, kok belum siap ?" Martin yang baru keluar dari kamar mandi nampak terkejut saat sang istri masih memakai kimono mandinya.
"Aku bingung memakai gaun yang mana." sahut Sera beralasan.
"Yang mana saja bagus sayang atau bagaimana dengan yang hitam itu pasti terlihat cantik di tubuhmu." saran Martin.
Sera nampak menelan ludahnya saat melihat gaun hitam seksi dengan tali spaghetti.
"Tapi...."
"Aku tidak suka penolakan, cepat pakailah atau kita tidak usah datang dan menghabiskan malam panjang di kamar ini saja." perintah Martin dengan senyuman nakalnya.
"Bukan begitu Dad, tapi gaun ini terlalu terbuka sedangkan kulitku banyak sekali tanda kemerahan di sana." tolak Sera.
"Apa kamu malu dengan perbuatan ku, hm? bukannya kita pasangan suami istri jadi wajar melakukan itu kecuali sedang ada pria lain yang ingin kamu incar ?" Martin nampak mengeraskan rahangnya.
"Mana ada, baiklah aku akan memakainya." Sera langsung mengambil gaun hitam tersebut lalu segera memakainya, ia paling takut jika suaminya marah karena orang lain pasti akan menjadi sasarannya.
"Perfect, kamu sangat cantik sayang." puji Martin saat melihat istrinya dengan gaun hitam melekat di tubuh rampingnya.
"Aku jadi ingin memakanmu." imbuhnya lagi seraya membawa wanita itu ke dalam dekapannya lalu ia langsung *****@* bibirnya dengan rakus.
"Kamu membuat lipstikku berantakan." protes Sera saat Martin baru melepaskan panggutannya.
"Tapi tetap cantik." puji Martin, lalu ia segera mengganti pakaiannya sebelum hilang akal lalu menghempaskan istrinya itu ke atas ranjangnya.
Beberapa saat kemudian pesta di mulai, meski tidak banyak tamu hadir tapi pesta tersebut berjalan dengan lancar dan penuh kebahagiaan.
Ariana terlihat cantik malam itu, begitu juga dengan Demian yang terlihat tampan di usia matangnya. Pasangan suami istri itu sepertinya tak lekang oleh waktu.
Mereka masih terlihat mesra meski sudah mempunyai putra yang beranjak dewasa.
"Siapa gadis cantik ini, Nak ?" Ariana nampak terkejut saat tiba-tiba putranya itu membawa seorang gadis cantik ke dalam pesta tersebut.
"Dia sarah, Mom. Teman dekatku." sahut Ricko.
"Teman dekat atau kekasih." ledek Demian.
"Kami hanya teman dekat, Om. Tapi berharap sih lebih dari itu." sahut Sarah menatap penuh cinta ke arah Ricko.
Sedangkan Ricko hanya menanggapinya dengan kekehannya, namun genggaman tangan mereka mengisyaratkan kedekatan mereka saat ini.
"Lebih dari itu juga nggak apa-apa kok yang penting kalian menjalin hubungan yang sehat." ucap Ariana, ia melihat sepertinya Sarah gadis yang baik.
"Terima kasih, tante." sahut Sarah senang.
Sementara itu tak jauh dari sana, Olive yang sedang memakai pakaian pelayan nampak berkaca-kaca saat melihat bagaimana Ricko menggenggam erat tangan gadis lain.
__ADS_1
Dadanya tiba-tiba sesak dan ia ingin sekali menangis saat ini, ternyata cinta dalam diamnya begitu menyiksanya saat mengetahui pria yang ia sukai ternyata sudah mempunyai kekasih.