
Malam itu Olive keluar dari kamarnya setelah menidurkan Dila putri Dean.
Karena merasa kehausan wanita itu nampak menuruni tangga dengan pelan karena tidak ingin mengganggu para ARTnya yang sedang beristirahat.
Kemudian menuju dapur lalu membuka lemari pendingin dan mengambil air es di sana.
"Belum tidur ?" ucap Ricko tiba-tiba yang langsung membuat Olive terperanjat kaget, lalu berbalik badan menatap laki-laki itu.
"Aku haus." sahutnya kemudian, lalu kembali meminum air dinginnya tersebut.
"Di luar hujan deras, kenapa minum air dingin ?" tukas Ricko.
"Aku merasa kepanasan." sahut Olive dengan cuek.
Sedangkan Ricko nampak menelan ludahnya dengan susah payah saat memperhatikan penampilan Olive yang begitu cantik dan seksi malam ini.
Sungguh penampilan wanita itu begitu menggoda imannya, pahanya yang tak tertutup sempurna oleh kimono tidurnya itu seakan menantangnya untuk mengelusnya.
Lalu pandangannya naik ke atas tubuh wanita itu dan berhenti di dadanya yang nampak membusung indah dari balik kimononya.
Bahkan saat wanita itu menunduk untuk mengambil tutup botol yang terjatuh, aset berharganya itu nampak mengintip malu yang membuat tenggorokannya langsung tercekat.
"Sialan." umpatnya dalam hati lalu membuang mukanya.
"Kamu haus juga ?" tukas Olive saat melihat Ricko terlihat gelisah.
"Atau mau makan? masih ada kok sisa makan malam tadi." imbuhnya lagi saat Ricko masih bergeming menatapnya.
"Aku hanya ingin memakanmu." lirih Ricko.
"Apa kamu bilang ?" Olive tak begitu jelas mendengarnya.
"Tidak, bukan apa-apa." sahut Ricko.
"Apa kamu belum makan malam? wajahmu terlihat pucat." Olive nampak khawatir.
Melihat kekhawatiran di wajah mantan istrinya itu, hati Ricko langsung tumbuh bunga sekebon dan mulailah dia berakting mumpung rumah lagi sepi.
"Sepertinya aku merasa kurang enak badan." dustanya kemudian, tidak apalah dia berbohong sedikit siapa tahu dapat perawatan gratis dari mantannya tersebut.
"Benarkah? makanya kalau makan jangan telat-telat." tegur Olive dengan kesal.
"Sepertinya aku juga demam." tukas Ricko lagi.
"Benarkah ?" tanpa sadar Olive langsung mengangkat punggung tangannya lalu menyentuh kening Ricko yang memang terasa sangat panas, namun sepertinya bukan panas karena deman tapi panas karena sedang menahan hasratnya.
"Kepalamu sangat panas, sebentar ya aku ambilkan obat dulu." Olive bergegas pergi untuk mengambil kotak obat, namun Ricko tiba-tiba menarik pinggangnya hingga wanita itu seketika menabrak dada bidangnya.
"A-apa yang kamu lakukan ?" hardik Olive menatap tajam Ricko.
"Aku tidak butuh obat." sahut Ricko.
"Tapi kamu demam, aku akan mengambilkan mu obat." Olive berusaha melepaskan tangan Ricko dari pinggangnya hingga tangan kekar itu terlepas lalu ia beringsut menjauh.
"Sudah ku bilang, aku tidak butuh obat." Ricko menarik lagi pinggang wanita itu dan kali ini ia semakin memepetnya.
__ADS_1
"Ka-kamu apa-apaan sih ?" protes Olive.
"Sebagai seorang istri, lain kali berpakaianlah yang sopan di depan laki-laki lain." tegur Ricko dengan napas naik turun menahan hasratnya.
"Pakaianku sopan dan tertutup kok." kilah Olive tak terima.
Mungkin baginya itu tertutup tapi bagi laki-laki sebuah kimono tidur berbahan satin itu sangat menggoda.
"Pikiranmu saja yg kotor." imbuhnya lagi yang langsung membuat Ricko merasa gemas dengan wanita ngeyelan itu.
Olive yang merasakan sesuatu yang mengeras mengenai pahanya, ia nampak menelan salivanya.
Ia harus segera mencari cara agar bisa terlepas dari kungkungan mantan suaminya itu.
Lalu ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi pria itu, mengusapnya dengan lembut hingga membuat mantannya itu terbuai di buatnya.
Laki-laki itu nampak memejamkan matanya, merasakan betapa hangat dan lembutnya tangan Olive membelai wajahnya.
Dan di saat pelukan Ricko mengendur, Olive langsung beringsut menjauh darinya.
Kemudian ia langsung berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya, lalu menguncinya dengan rapat.
"Hampir saja."
Olive terkikik saat membayangkan bagaimana Ricko tersiksa tadi karena tidak bisa menyentuhnya dengan lebih.
"Syukurin, siapa suruh ceraikan aku." gumamnya lagi.
Sementara itu Ricko nampak mengumpat keras saat tak bisa mengendalikan dirinya, ia meraup wajahnya dengan kasar karena selalu tidak bisa menahan dirinya jika berada di dekat wanita itu.
Beberapa saat kemudian Ricko kembali ke kamarnya, namun saat melewati pintu kamar Olive ia mendengar suara tangisan bayi.
"Dila." teriaknya lagi saat Olive belum juga menyahut.
"Dil..." ucapannya terpotong saat Olive membuka pintu.
"Apa ?" tegur Olive dengan wajah kesal karena mengingat kejadian tadi, ia kesal karena Ricko masih begitu menginginkannya tapi kenapa dulu harus menyerah dengan keadaan dan tidak memperjuangkannya.
"Dila kenapa ?" Ricko terlihat khawatir saat melihat Dila dalam dekapan Olive.
"Nggak tahu dari tadi nangis terus." keluh Olive.
"Sudah minum susu ?"
"Sudah tapi tidak mau." keluh Olive.
"Mana susunya ?" tanya Ricko kemudian.
"Tuh ada di dalam." sahut Olive tanpa sadar ia menggeser badannya agar Ricko masuk ke kamarnya untuk mengambil botol susu Dila lalu ia mengikuti pria itu di belakangnya.
Kemudian Ricko nampak menenangkan Dila dengan mencoba memberikannya susu, namun bayi itu tetap rewel.
"Coba kamu beri asi saja ?"perintah Ricko kemudian yang langsung membuat Olive melotot menatapnya.
"Bagaimana mungkin, aku nggak mau." teriak Olive kesal sepertinya dia lupa kalau sedang berakting. Lagipula enak saja dia yang menyusui, melahirkannya saja tidak.
__ADS_1
"Ya mungkin saja, kamu kan ibunya ?" Ricko nampak kesal sekaligus gemas.
"Hah." Mendengar ucapan Ricko, Olive baru tersadar akan sandiwaranya.
"Hah apa? dia bukan anakmu ?" Ricko nampak menatap curiga Olive.
"Ten-tentu saja dia anakku, dia rewel karena kangen papanya." sahut Olive kemudian.
"Ya sudah kalau begitu coba beri dia asi dulu." perintah Ricko dengan tak sabar.
"Sudah ku bilang dia nggak mau." tolak Olive.
"Karena kamu belum mencobanya." cibir Ricko.
"Aku sudah pernah mencobanya, tapi dia tidak mau." dusta Olive.
"Ya sudah sekarang coba lagi." desak Ricko dengan tak sabar, ia nampak kasihan dengan Dila.
"Ya sudah kamu keluar dulu." pinta Olive.
"Aku tetap di sini, kalau aku pergi yang ada kamu tidak akan memberikannya asi." keukeh Ricko.
"Jadi kamu mau melihatku menyusui dia ?" Olive nampak membulatkan matanya.
"Kenapa memangnya? aku sudah pernah melihat seluruh tubuhmu bahkan aku juga pernah merasakannya." sahut Ricko tak berperasaan.
"Dasar sinting, mesum. Aku bukan istrimu lagi, cepat pergi dari sini." teriak Olive sembari mendorong tubuh Ricko keluar kamarnya, setelah itu ia menutup pintunya dengan rapat.
Keesokan harinya....
"Aaarrgghh, Dila kemana ?" Olive yang baru bangun langsung berteriak saat tak melihat Dila di sisihnya.
"Bik, Dila hilang." teriak Olive dengan keras sembari menuruni anak tangga.
"Ada apa mbak ?" beberapa ART di rumah tersebut langsung berlarian datang.
"Dila hilang, tadi subuh dia masih tidur di sebelahku." sahut Olive panik, mengingat bayi itu baru bisa tidur menjelang dini hari.
"Jangan panik mbak, Dilanya di ajak mas Ricko sama pengasuhnya jalan-jalan. Katanya mbak di suruh ke kantor saja." tukas bik ART.
"Syukurlah." Olive nampak lega, setelah itu ia kembali ke kamarnya untuk bersiap ke kantor.
Sementara itu di tempat lain Dean sedang sarapan pagi bersama sang istri di sebuah restoran di Bali.
Mereka nampak sangat mesra bak pengantin baru yang sedang berbulan madu.
"Sayang, aku kangen sama Dila. Tak biasanya aku meninggalkannya begitu lama." keluh Diana.
"Setelah kerjaan beres kita pulang sayang, lagipula Dila pasti aman bersama Olive dan kak Ariana." sahut Dean.
"Entah kenapa pikiran ku tidak enak." Diana nampak khawatir.
"Sudah tenang saja." Dean langsung membawa istrinya itu ke dalam pelukannya.
"Lain kali kita bawa saja anak kita biar kamu tidak kepikiran." imbuhnya lagi menenangkan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian mereka nampak terkejut saat mendengar teriakan seseorang.
"Ck, jadi ini kelakuan kakak di belakang Olive ?" hardik Ricko yang membuat Dean dan Diana langsung menatapnya terkejut.