Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~73


__ADS_3

Demian menatap lekat wanita yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Aku akan memberikan mu satu kesempatan, katakan kalau kamu mencintai ku maka aku akan membatalkan pertunanganku yang akan di laksanakan dua hari lagi." ujarnya dengan tegas.


Sedangkan Ariana nampak menghela napasnya, selama ini ia sudah berusaha untuk melupakan Demian tapi hingga sekarang laki-laki itu masih bertahta sepenuhnya di hatinya.


Orang bilang kesempatan itu hanya datang satu kali, apa yang akan ia putuskan maka itulah jalan yang akan ia lalui dan nyatanya Ariana tidak bisa berjalan tanpa laki-laki itu di sampingnya.


"A-aku mencintaimu." sahut Ariana, namun bersamaan dengan itu terdengar ketukan pintu lagi dari luar.


tokk


tokk


Demian menghela napasnya dengan kasar, kemudian ia segera membuka pintu mobilnya dan ingin memaki siapa pun yang sudah berani mengganggunya saat ini.


"Tuan...." Victor menjeda ucapannya ketika Demian langsung menyela dan menatap tajam padanya.


"Diamlah Vic, akhir-akhir ini kamu sudah banyak sekali memerintahku dan kali ini saya tidak akan mendengarkan mu." sungut Demian, kemudian ia menutup pintu mobilnya kembali dengan keras.


Victor nampak mematung di tempatnya, melihat penampilan atasannya itu yang berantakan dan dengan mood yang buruk apa mereka berdua sedang bertengkar di dalam?


Victor hanya bisa bertanya-tanya dalam hati, semoga saja atasannya itu tidak merusak rencana yang sudah mereka susun.


"Kamu tadi bilang apa sayang? tolong katakan sekali lagi." Demian belum yakin dengan jawaban Ariana, karena selama ini wanita itu selalu memegang harga dirinya dengan tinggi.


"Aku mencintaimu mas, aku men.....hmmptt." Ariana belum menyelesaikan perkataannya tapi Demian sudah membungkam bibirnya dengan ciumannya.


"Aku juga mencintaimu, sayang." ucap Demian setelah melepaskan panggutannya, kemudian ia mengusap sudut bibir wanita itu yang basah karena ulahnya.


Setelah itu Demian mengusap lembut pipinya yang nampak kemerahan.


"Kenapa kamu sulit sekali untuk jujur dengan perasaan mu sayang, kenapa harus menyiksa diri sendiri seperti ini? bahkan kamu terlihat lebih kurusan sekarang." lanjut Demian lagi.


"Karena aku tidak mau kamu...."


"Menjadi anak durhaka ?" sela Demian yang langsung membuat Ariana menganggukkan kepalanya.


"Tidak semua kemauan orangtua harus kita patuhi sayang, karena orangtua bukan Tuhan. Mereka hanya manusia biasa yang kadang juga berbuat salah dan kita sebagai seorang anak wajib mengingatkan hal itu." imbuhnya lagi.


"Jadi apa kamu akan membatalkan pertunanganmu dengan wanita itu ?" tanya Ariana memastikan.


"Tentu saja tidak sayang....."


"Apa? jadi kamu masih mau melanjutkan pertunanganmu setelah aku mengakui perasaanku. Dasar playboy mesum, apa kamu mau beristri dua hah ?"" sungut Ariana sembari memukuli Demian secara membabi buta hingga membuat laki-laki itu mengadu kesakitan.


"Sayang sakit, kamu benar-benar seperti Thanos." keluh Demian.


"Siapa suruh jadi laki rakus banget, kalau begitu aku tarik lagi kata-kataku tadi." sungut Ariana kesal.


"Astaga sayang kamu salah paham, sebenarnya selama ini aku sedang membuat rencana untuk menyadarkan Mama bahwa wanita-wanita pilihannya itu nggak ada yang baik dan semoga kali ini Mama akan menyadari kesalahannya." ujar Demian menjelaskan.


Ariana yang menatap kesal padanya perlahan merubah mimik wajahnya. "Kamu serius ?" ucapnya kemudian.


"Tentu saja, bukannya cinta harus di perjuangkan. Tapi sepertinya aku hanya berjuang sendirian." sindir Demian.

__ADS_1


"Bukan begitu, tapi..."


"Mungkin aku juga hanya cinta sendirian." sela Demian lagi dengan mimik sedih yang sengaja dia buat-buat.


Ariana yang melihat itu nampak menyesal, harusnya dia juga berjuang untuk mendapatkan restu dari ibunya Demian. Bukan menjadi pengecut dan menyerah sebelum berusaha.


"Maafkan aku." Ariana langsung memeluk Demian dengan erat, seakan takut laki-laki itu akan meninggalkannya.


Sedangkan Demian nampak terkikik, karena sudah berhasil membuat wanita itu merasa bersalah.


"Kamu tertawa ?" cebik Ariana ketika baru mengurai pelukannya.


Melihat Ariana kesal, Demian semakin tertawa nyaring. Sungguh hal yang mengasyikkan bisa menggoda wanita itu lagi.


"Ikh jahat banget sih." Ariana memukuli dada bidang Demian, namun laki-laki itu langsung memegang tangannya dengan erat lalu membawakan ke dalam dekapannya.


"Apapun yang akan terjadi ayo kita hadapi bersama-sama, aku akan menjadi orang terdepan untuk melindungi mu dan Ricko." ucap Demian yang langsung membuat Ariana mendongak menatapnya.


"Lalu bagaimana kalau ibumu tetap tidak merestui kita ?" ucapnya kemudian.


"Aku yakin Mama akan merestui kita, tunggu hari pertunangan itu tiba akan ada kejutan di sana." sahut Demian.


"Apa ?"


"Rahasia."


"Ayo katakan mas, aku penasaran." bujuk Ariana.


"Rahasia, sayang."


"Ah, malas."


"Ogah, pasti modus." cebik Ariana.


"Baiklah, bagaimana kalau kita lakukan saja di sini." goda Demian dengan senyuman nakalnya.


"Mas." teriak Ariana kemudian ia langsung membuka pintu mobil tersebut dan berlalu keluar meninggalkan Demian yang masih tertawa nyaring.


Setelah Ariana masuk ke dalam rumahnya, Demian segera keluar dari dalam mobilnya.


"Tuan, saya sudah menyuruh anak buah saya untuk mengantar nona Jessica pulang." ucap Victor saat melihat Demian keluar dari mobilnya.


"Terima kasih." sahut Demian yang tak terlihat marah seperti sebelumnya.


"Jadi apa anda akan kembali ke kantor ?" tanya Victor kemudian.


"Kosongkan jadwal hari ini sampai malam dan bawa pekerjaanku ke sini saja." sahut Demian.


"Tapi anda masih ada beberapa meeting lagi, tuan."


"Saya bilang kosongkan dan jangan ganggu saya karena hari ini saya akan menginap di sini." tegas Demian.


"Lalu bagaimana dengan rencana kita selanjutnya tuan ?"


"Untuk selanjutnya biar saya yang menjalankan rencana saya sendiri." tegas Demian.

__ADS_1


"Baik tuan, lalu bagaimana kalau nyonya besar bertanya tentang anda ?"


"Katakan saja saya sedang sibuk dan suruh Mama menyiapkan pesta sebaik mungkin." perintah Demian dengan tegas.


"Baik tuan." sahut Victor mengerti.


Setelah itu Demian langsung melangkahkan kakinya masuk ke dalam gerbang rumah Ariana.


Hari ini ia ingin menghabiskan waktu dengan wanita itu dan juga sang putra.


Keesokan harinya....


"Mas kamu nggak ke kantor ?" Ariana mengguncang pelan tubuh Demian yang nampak masih terlelap tidur.


"Sebentar lagi, sayang." sahut Demian seraya menarik tangan Ariana hingga wanita itu terjatuh ke dalam pelukannya.


"Mas, aku mau mengantar Ricko sekolah." protes Ariana.


"Biar Victor yang mengantar, sayang." Demian nampak menenggelamkan kepalanya di ceruk leher wanita itu lalu menciumnya dalam-dalam aroma tubuhnya yang harum.


"Nggak bisa Mas, hari ini ada pertemuan wali murid dan aku harus datang." tolak Ariana.


"Baiklah, kamu sangat menyebalkan." Demian melonggarkan pelukannya sembari menggerutu kesal.


"Bahkan semalam kamu meninggalkan ku tidur sendiri." imbuhnya lagi.


Mengingat bagaimana semalam Victor membawakan pekerjaannya ke rumah hingga tengah malam ia baru menyelesaikannya dan ketika masuk kamar Ariana sudah terlelap tidur.


"Memang kita mau ngapain mas kalau bukan tidur, lagipula aku tidak mau melakukan itu sebelum kita menikah." tegas Ariana, ia juga seorang wanita dewasa dan menyadari apa yang laki-laki itu inginkan darinya.


"Kan tipis-tipis saja, sayang." celetuk Demian dengan pandangan menggoda dan itu membuat Ariana ingin menendang laki-laki itu agar otak mesumnya sedikit benar.


"Nggak ada itu tipis-tipis, mas." tegas Ariana lagi.


"Tega kamu sayang."


"Biarin." sungut Ariana seraya melangkahkan kakinya pergi.


"Lihat saja nanti sayang, setelah menikah aku akan mengurungmu di kamar." teriak Demian ketika Ariana dengan tak berperasaan meninggalkannya seorang diri.


Sedangkan Ariana tetap saja melangkahkan kakinya meninggalkan kamarnya karena khawatir telat ke sekolahnya Ricko.


Sesampainya di sekolahnya Ricko, Ariana yang baru turun dari mobilnya nampak terkejut ketika melihat nyonya Anggoro sudah berdiri di depan gerbang sekolahnya Ricko.


Ini pertama kalinya Ariana bertemu dengan wanita paruh baya tersebut setelah kejadian di pesta beberapa waktu lalu.


Ariana mendesah pelan, namun kemudian ia segera menyapa wanita tersebut yang terlihat sedang menunggunya.


"Apa kabar, tante ?" sapa Ariana dengan mengulas senyumnya tak peduli wanita itu menatap tak suka padanya.


"Tentu saja, saya sangat baik sekali." sahut nyonya Anggoro dengan angkuh.


"Syukurlah, kalau begitu saya permisi dulu karena sebentar lagi ada pertemuan wali murid." ucap Ariana kemudian berlalu meninggalkan wanita paruh baya tersebut.


"Tunggu !!" sergah nyonya Anggoro yang langsung membuat Ariana berhenti.

__ADS_1


"Ini undangan pernikahan Demian dan Jessica, ku harap kamu membawa Ricko besok untuk menyaksikan hari bahagianya Papanya." Nyonya Anggoro menyerahkan sebuah undangan pada Ariana.


"Me-menikah ?" ucap Ariana terkejut, bukannya mereka hanya bertunangan saja tapi kenapa tiba-tiba menikah.


__ADS_2