Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~174


__ADS_3

Halu ala Edgar & Dena



Dena tak bisa berkutik saat suaminya mulai melucuti pakaiannya, ia ingin menolak tapi takut jika akan di kutuk oleh malaikat. Bagaimana pun juga Edgar masih sah menjadi suaminya sampai saat ini.


"Ed, please hentikan. Masih banyak hal yang harus kita bicarakan." Dena mencoba membujuk saat suaminya mulai mencumbunya.


"Tentu saja banyak yang harus kita bahas sayang, tapi tidak sekarang dan aku tidak suka kamu memanggilku seperti itu." lirih Edgar dengan suara beratnya.


"Tapi aku maunya sekarang." Dena mencoba mendorong Edgar dari atas tubuhnya, namun sia-sia saja karena suaminya itu sedikitpun tak bergerak.


"Sayang, bagaimana aku bisa berpikir sekarang. Tidakkah kamu kasihan padaku? aku sudah cukup lama menahannya." ucap Edgar setengah memohon seraya menggesekkan miliknya yang sudah mengeras di bawah sana.


"Aku tidak percaya, bisa sajakan kamu melakukannya dengan wanita itu. Siapa namanya tadi? oh ya Maya." cibir Dena, mengingat dahulu Edgar juga pernah melakukannya dengan dirinya padahal waktu itu mereka belum saling mengenal.


Mendengar ucapan sang istri, Edgar mendadak geram. Tidak bisakah sedikit saja istrinya itu mempercayainya, sepertinya wanita itu memang sengaja memancing kemarahannya.


Lalu dengan sekali hentakan Edgar berhasil menyatukan tubuhnya yang membuat Dena langsung melotot padanya.


"Ka-kamu ?" ucapnya geram.


"Kamu bisa menolakku sayang, tapi lihatlah bahkan tubuhmu sangat menerimaku." cibir Edgar dengan tersenyum puas.


"Kamu memperkosaku ?" sungut Dena.


"Ck, tidak ada ceritanya suami memperkosa istrinya sayang yang ada dahulu kamu yang sudah memperkosaku. Bahkan kamu telah membayar keperjakaanku hanya dengan 100 juta saja." cibir Edgar yang langsung membuat Dena memalingkan wajahnya, rasanya malu sekali jika mengingat hal itu.


"Jadi terima saja hukuman mu, sayang." lanjutnya lagi seraya menggerakkan tubuhnya pelan.


Pada akhirnya Dena hanya bisa pasrah, meski ada perasaan was-was di hatinya. Karena biasanya suaminya akan melakukannya dengan sedikit kasar jika sedang marah.


Dena khawatir jika itu akan mempengaruhi janin yang ia kandung, karena laki-laki itu pasti belum mengetahui jika dirinya sedang hamil saat ini.


Namun perkiraan Dena salah, suaminya menggauli dirinya dengan begitu lembut. Laki-laki itu terlihat sangat hati-hati saat melakukannya.


Hentakan demi hentakan Edgar lakukan dengan pelan hingga membuat Dena mulai terbuai di bawah kungkungannya.


Selanjutnya hanya ******* yang saling bersahutan dari keduanya, nampak peluh keringat membasahi tubuhnya. Namun itu justru membuat mereka semakin terpacu untuk meraih puncaknya.


Dan sebuah ******* panjang mengakhiri penyatuan mereka, Edgar nampak ambruk di atas tubuh istrinya dengan napas terengah-egah.


Beberapa saat kemudian terdengar bunyi ponsel berdering, Edgar nampak mendesah kesal namun ia tetap menjawabnya setelah mengetahui siapa yang menghubunginya.

__ADS_1


"Sebentar ya, sayang." ucapnya pada sang istri setelah ia beranjak dari tubuh wanita itu.


"Hallo, ada apa? hm. Baiklah, kamu tunggu di situ aku akan segera kesana." ucapnya lagi saat menjawab teleponnya, kemudian ia segera mematikan panggilannya.


"Sayang, maafkan aku ya. Aku harus pergi sebentar, aku janji tidak akan lama." ucap Edgar menatap lekat istrinya itu.


"Mau kemana ?" Dena memicing saat melihat suaminya itu nampak terburu-buru memakai pakaiannya.


"Ada urusan penting." sahut Edgar sembari mengancingkan kemejanya.


"Apa sangat penting? tapi urusan kita jauh lebih penting ?" ucap Dena kesal.


"Sayang ini sangat penting, kita bisa membicarakan masalah kita nanti." mohon Edgar.


"Sepenting itu kah, memang ada masalah apa? bukannya masalah pekerjaan sudah beres ?" tanya Dena menyelidik.


"Nanti aku pasti akan ceritakan sayang, aku pergi dulu ya." sahut Edgar, lalu mencium kening istrinya itu dengan sayang.


"Ingat jangan kemana-mana, tunggu aku di sini. Kalau ingin sesuatu kamu bisa minta tolong pada asistenku di sini." imbuhnya lagi, setelah itu ia segera pergi sebelum istrinya itu menahannya.


"Memang ada yang lebih penting dariku ya, setelah puas kamu pergi begitu saja."


Dena terlihat sangat kesal, sepertinya ia harus menyelidiki apa yang sedang suaminya itu lakukan.


Meski tidak sebesar kantornya di tanah air, tapi ruangan tersebut lumayan besar.


Dena nampak menghempaskan tubuhnya di kursi kerja suaminya, ia terlihat membuka beberapa laci yang ada di meja kerja tersebut.


Kemudian ia mengambil sebuah album yang sudah terlihat usang namun masih terawat, karena penasaran Dena segera membukanya.


Di sana nampak kumpulan foto Edgar bersama teman-teman kuliahnya dulu, namun pandangan Dena nampak terpaku saat melihat sebuah foto Edgar bersama seorang wanita.


"Wanita ini, bukannya dia Maya. Mereka terlihat sangat dekat, apa dia mantannya Edgar dulu ?"


Dena nampak menghela napas panjangnya, sungguh ia tak pernah mengetahui kehidupan suaminya itu sebelumnya. Karena saat menikah dengannya yang ia pikirkan hanya bagaimana memanfaatkan laki-laki itu untuk membalas dendam.


Kini Dena jadi penasaran bagaimana dengan kehidupan Edgar, siapa mantan-mantan kekasihnya selain Sera. Ia yakin seorang Edgar, laki-laki hampir sempurna itu pasti mempunyai banyak mantan kekasih.


Namun bukan berarti ia cemburu, bukannya dia pemenangnya? Siapa pun yang menjadi mantan kekasih Edgar, mereka hanya masa lalu dan dirinya masa depannya kini.


Apalagi mengingat di dalam rahimnya saat ini ada buah cinta mereka, Dena tak sabar ingin memberikan kejutan pada suaminya.


Laki-laki itu pasti akan senang jika mengetahui kehamilannya, mengingat dari dulu Edgar menginginkan seorang anak lagi darinya.

__ADS_1


Setelah bosan di dalam ruangan Edgar, Dena nampak meninggalkan kantor tersebut. Namun baru saja membuka pintu, seorang pria berperawakan tinggi besar langsung menghampirinya.


"Anda mau kemana nyonya ?" tanya pria tersebut yang ia ketahui sebagai asisten Edgar di kantornya tersebut.


"Aku mau jalan-jalan atau mungkin pulang ke Apartemen suamiku." sahut Dena.


"Tapi tuan Edgar menyuruh anda untuk tetap berada di sini nyonya, sampai beliau kembali." ucap pria tersebut.


"Ck, aku bukan tahanan. Aku bosan dan ingin jalan-jalan." ucap Dena mulai kesal.


"Maaf nyonya, tapi ini perintah tuan Edgar." tegas pria tersebut.


"Ya sudah beritahu bossmu aku bosan di sini." perintah Dena kemudian.


"Baik nyonya." pria tersebut langsung menghubungi Edgar, namun panggilannya selalu di luar jangkauan.


"Jadi bagaimana ?" Dena nampak tersenyum sinis saat pria itu tak berhasil menghubungi suaminya, karena sedari tadi ia juga tak dapat menghubungi laki-laki itu.


"Maaf nyonya, ponsel tuan Edgar tidak bisa di hubungi." sahut pria tersebut.


"Baiklah aku tahu di mana dia, jadi boleh kan aku pergi dari sini ?" bujuk Dena.


"Tapi nyonya...."


"Aku istrinya dan aku lebih tahu dia berada di mana sekarang." sela Dena berdusta.


Pria tersebut nampak berfikir, namun kemudian ia mengangguk ragu.


"Baiklah, terima kasih." ucap Dena seraya menepuk bahu pria itu yang terasa keras, pria itu pasti bukan sembarang pria dari perawakannya saja sangat tegas dan garang.


Apa suaminya itu sengaja mempekerjakan seorang bodyguard sebagai asistennya, memikirkan hal itu Dena nampak bergidik ngeri.


Setelah keluar dari kantor tersebut, Dena segera mencari taksi. Ia tak tahu harus kemana, tapi mengelilingi kota tersebut sepertinya lebih baik.


Ia akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli oleh-oleh buat sang putra.


Saat taksi berhenti di sebuah traffic light, Dena tak sengaja melihat suaminya itu sedang berbicara dengan seorang wanita di pelataran sebuah toko.


"Maya ?"


Dena nampak terkejut saat mengetahui siapa wanita yang bersama Edgar, namun ia lebih terkejut lagi saat melihat Maya tiba-tiba memeluk suaminya.


Melihat itu Dena langsung keluar dari taksi, masalahnya dengan Edgar sebelumnya saja belum sempat mereka bicarakan baik-baik. Sekarang bisa-bisanya laki-laki itu membuat masalah baru.

__ADS_1


"Oh, jadi kamu meninggalkan ku demi wanita ini ?" cibir Dena yang langsung membuat Edgar dan Maya terkejut menatapnya.


__ADS_2