
"Bagaimana kamu bisa masuk ke kamarku ?" protes Ariana padahal dia sudah mengganti password pintu kamarnya dengan password yang baru.
Demian yang masih duduk dengan angkuh nampak berdecih.
"Ck, kamu lupa ya siapa yang mendesain rumah ini? bahkan di mana kamu menyimpan pakaian dalammu saja aku tahu." ucapnya yang langsung membuat wajah Ariana memerah.
"Dasar sinting." umpat Ariana kesal.
"Jadi mau apalagi kamu datang kesini, bukannya semua sudah jelas dan hubungan kita sudah berakhir." imbuhnya lagi.
Demian nampak menatap lekat Ariana, wanita itu terlihat segar setelah mandi. Kalau saja tidak sedang bersandiwara, ia pasti sudah melemparkannya keatas ranjang lalu mengungkungnya di sana.
"Sabar."
Demian hanya bisa menghela napasnya perlahan ketika merasakan miliknya di bawah sana sudah menegang sempurna.
"Sial, bahkan baru melihatnya saja milikku sudah menegang. Awas kamu sayang, tunggu waktunya tiba akan ku buat kamu tak bisa berjalan."
Demian mengumpat dalam hati seraya memandang Ariana.
"Aku akan mengambil hak asuh Ricko." ucapnya kemudian.
"Apa ?" Ariana terbelalak tak percaya.
Wanita itu langsung menghentakkan kakinya dengan kesal ke arah Demian
"Tidak boleh, jika kamu berani melakukan itu aku akan membawa Ricko pergi jauh." ancamnya.
Demian tersenyum sinis. "Kamu lupa siapa aku, mungkin dulu aku kesulitan mencarimu karena kamu sudah memalsukan dokumenmu tapi sekarang jangan harap kamu bisa melangkahkan kaki dari kota ini." ancam balik Demian.
"Kamu...." Ariana menunjuk Demian dengan kesal.
"Serakah banget sih kamu, aku sudah berbaik hati mengizinkan mu ikut merawat Ricko tapi justru mau menguasainya sendiri." gerutu Ariana.
Demian yang melihat kekesalan di wajah Ariana nampak menahan tawa, kemudian ia langsung menarik tangannya hingga wanita itu terduduk di sampingnya.
"Kalau bicara itu di depan orangnya langsung, bukan menggerutu tidak jelas." tegur Demian seraya menatap lekat Ariana.
Harum tubuh wanita itu nampak menguar menusuk hidungnya, hingga membuat Demian ingin menciumnya lebih dalam.
Bahkan bibir merah wanita itu terlihat menggoda seakan memintanya untuk ia lum😘t dengan rakus.
"Ah sialan."
Demian nampak meraup wajahnya dengan kasar, sepertinya otaknya sedikit bergeser karena kecelakaan tadi sore. Entah kenapa ia jadi tidak tahan untuk menerkam wanita di sampingnya itu padahal dia harus bersandiwara.
"Pokoknya aku tidak akan menyerahkan hak asuh anakku, enak saja aku yang mengandung, melahirkannya dengan taruhan nyawa dan membesarkan seorang diri tapi kamu tiba-tiba main ambil." ucap Ariana dengan keukeh.
__ADS_1
Demian mendesah kesal, ia sudah yakin Ariana pasti menolaknya dan sepertinya itu lebih baik karena rencananya pasti akan berjalan lancar.
"Baiklah, tapi ada syaratnya jika kamu mau merawat Ricko." ujar Demian.
"Memang siapa kamu berani mengajukan syarat padaku ?" cibir Ariana kesal.
"Tentu saja aku ayahnya, aku yang menanam benihnya kalau kamu lupa." sahut Demian tak mau kalah, ia nampak memandang Ariana dengan lekat. Rasanya sedikitpun ia tak ingin berpaling dari wanita itu.
Sedangkan Ariana tentu saja salah tingkah, ia nampak membuang mukanya kemana pun asal tidak bertatapan dengan Demian.
Duduk bersebelahan dengannya saja rasanya hatinya sudah bergejolak, apalagi mereka saling bertatapan yang ada dia akan khilaf.
"Cepat katakan, setelah itu pergilah dari sini." ucapnya kemudian.
Demian nampak menahan tawanya ketika melihat Ariana kesal dan salah tingkah.
"Baiklah, kalau kamu tidak ingin aku mengusik Ricko putuskan Edgar sekarang juga dan jangan pernah dekat-dekat dengannya atau laki-laki manapun." tegas Demian yang langsung membuat Ariana melotot padanya.
"Apa? enak saja, kamu bisa dekat-dekat dengan wanita lain tapi aku tidak." protes Ariana tak terima, syarat macam apa itu.
"Cih, kamu bicara seperti seorang wanita yang sedang cemburu saja." cibir Demian.
"Siapa juga yang cemburu, kita sudah putus kalau kamu lupa." sungut Ariana kesal.
Mendengar jawaban Ariana, Demian nampak menggeram. Wanita memang pintar sekali menutupi perasaannya, sudah Jelas-jelas dia cemburu tapi tidak mau ngaku.
Tentu saja Herman tetap ia izinkan menjadi ayah Ricko, karena bagaimana pun juga jasa Herman dan istrinya sangat besar pada Ariana dan Ricko.
Bahkan sekarang Demian sudah memberikannya imbalan sebuah jabatan yang tinggi di kantornya sebagai rasa terima kasih Demian pada mereka.
"Menyebalkan apa dia mau membuatku sendiri seumur hidup, sedangkan dia asyik-asyikan dengan wanita itu." gerutu Ariana mengingat tak lama lagi Demian pasti akan menikah dengan Jessica sesuai kemauan ibunya.
Demian yang mendengar Ariana menggerutu kesal nampak semakin gemas, rasanya tidak tahan untuk menerkamnya sekarang juga.
"Jadi ?" ucapnya kemudian.
Ariana nampak mendengus kesal, tapi demi Ricko agar tetap di sisinya mau tak mau dia harus menyetujui syarat Demian.
Lagipula dia juga tak berniat untuk menikah dengan siapapun, cintanya pada Demian teramat besar. Ia tidak mungkin bisa mencintai laki-laki lain lagi.
"Baiklah, sekarang pergilah dari sini aku mau tidur." sahut Ariana, kemudian dia beranjak dari duduknya.
"Baiklah apa ?" Demian menarik tangan Ariana lagi hingga wanita itu terduduk kembali di sampingnya.
"Kalau ngomong itu yang jelas, lihat orangnya. Kamu kira aku angin yang bisa mengikuti kemana arah matamu." ledek Demian sembari menahan tawanya.
Ariana menggeram kesal, sedari tadi dia sudah berusaha untuk tidak menatap laki-laki itu lebih dari satu detik. Karena dari tadi Demian sedikitpun tak berpaling darinya.
__ADS_1
"Iya aku setuju, puas ?" sungut Ariana dengan menatap Demian.
Benarkan hatinya saat ini langsung bergejolak hebat dan jantungnya sudah melompat-lompat tak karuan dari tempatnya saat mereka bersitatap seperti saat ini.
Demian yang juga merasakan hal sama, hatinya seakan mendorongnya untuk semakin dekat dengan wanita yang sudah satu minggu ini sangat ia rindukan.
Entah siapa yang memulai tapi kini bibir mereka sudah saling bersentuhan, mereka saling memejamkan matanya mengikuti naluri hatinya.
Setelah itu mereka nampak berciuman dengan sangat lembut, saling melum😘t dan menyesap hingga membuat desiran aneh tapi terasa nikmat di tubuh mereka.
Tanpa mereka sadari kini Demian sudah mengungkung tubuh Ariana di atas sofa, mereka masih nampak saling bertukar saliva seakan enggan untuk saling melepaskan.
Demian membuka matanya, ia nampak mengangkat sudut bibirnya saat menatap Ariana yang terlihat sangat menikmati ciumannya.
"Kalau cinta katakan cinta sayang, kenapa kamu harus menjadi orang naif dan menyiksa diri sendiri." gumam Demian dalam hati.
Kemudian Demian nampak menurunkan ciumannya ke leher jenjang Ariana, di hirupnya aroma tubuh wanita yang teramat ia rindukan itu dalam-dalam.
Lalu ia memberikannya sebuah kecupan-kecupan kecil yang langsung membuat Ariana mengerang nikmat.
Demian menggelap, reaksi Ariana begitu membutakan matanya. Ia semakin rakus mencium leher jenjang wanita itu dan sesekali menghisapnya dengan kuat yang ia yakini akan menimbulkan bekas kemerahan setelahnya.
Bahkan kini tangannya sudah merayap masuk ke dalam bathrobe wanita itu, menjangkau sesuatu di dalamnya yang selalu membuatnya candu untuk merasakannya.
Di remasnya gundukan kenyal itu dengan lembut dan sesekali ia memainkan puncaknya hingga membuat Ariana mendesah tak karuan.
"Ah sial."
Demian yang merasakan miliknya di bawah sana sudah sangat mengeras, ia langsung menghentikan cumbuannya lalu bangkit dari tubuh Ariana.
Jika dia tidak segera menghentikannya, ia takut tidak akan pernah bisa berhenti lagi. Sungguh tubuh wanitanya itu selalu membuatnya candu.
Ehmmm
Demian langsung berdehem untuk menetralkan pikiran mesumnya, ia harus bisa tahan agar sandiwaranya berjalan dengan lancar.
Lagipula selain itu ia juga berniat menghukum Ariana yang sok kuat menahan perasaannya, jadi sekalian saja ia ikuti permainan wanita itu.
"Kamu sepertinya sangat menikmatinya, sayang." cibirnya pada Ariana seraya bangkit dari sofa tersebut, ia nampak tersenyum mengejek menatap Ariana.
"Baiklah sepertinya aku harus pergi, ingat perjanjian kita jika masih mau melihat Ricko." ucapnya lagi, setelah itu ia melangkahkan kakinya keluar dari kamar tersebut.
Ariana yang merasa di permainkan, ia nampak sangat geram dan merutuki dirinya sendiri yang gampang sekali terbuai dengan sentuhan Demian.
"Menyebalkan."
Ariana mengacak rambutnya ketika memperhatikan penampilannya yang mengenaskan saat ini.
__ADS_1