Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~90


__ADS_3

"Sayang, kamu dengar nggak sih aku ngomong." tegur Demian saat Ariana menatap keluar jendela.


"Iya dengar."


"Kamu lihat apa sih ?" Demian yang penasaran juga menatap keluar Jendela mobilnya.


"Nggak ada apa-apa." sahut Ariana, kemudian ia menyandarkan tubuhnya di bahu sang suami yang langsung membuat Demian melingkarkan tangan memeluknya.


"Mas."


"Hm."


"Kamu mempunyai sepupu nggak atau ponakan gitu ?" pancing Ariana, sungguh ia masih penasaran dengan anak laki-laki yang sedang bersama ayah mertuanya tadi.


"Aku anak tunggal sayang, Mama juga anak tunggal setelah saudara kembarnya meninggal. Begitu juga dengan Papa tak punya saudara lain, untuk itu kenapa aku menginginkan banyak anak karena menjadi anak tunggal itu rasanya sangat sepi." sahut Demian.


"Kalau begitu siapa anak laki-laki tadi? mereka terlihat akrab. Jangan-jangan, oh astaga itu tidak mungkin. Papa terlihat sangat mencintai Mama, itu tidak mungkin terjadi."


"Kenapa bertanya seperti itu, sayang ?" lanjut Demian yang langsung membuyarkan lamunan Ariana.


"Nggak apa-apa, karena sejak kita menikah aku belum pernah mengenal saudara-saudara kamu." sahut Ariana beralasan.


"Karena aku tidak punya saudara sayang, ada sih saudara jauh tapi semua di luar negeri." ucap Demian.


"Jadi apa itu mungkin anak Papa dari wanita lain? mengingat bagaimana Demian dahulu. Pasti sifatnya itu menurun dari Papanya."


"Mas."


"Apa ?"


"Du-dulu kan kamu berkencan dengan banyak wanita, mungkin nggak salah satu dari mereka hamil anak kamu sepertiku ?" tanya Ariana yang langsung membuat Victor yang berada di balik kemudi tersedak oleh ludahnya sendiri.


Uhukk


uhukk


"Hati-hati Vic, kalau sudah bosan hidup jangan ajak-ajak kami." tegur Demian pada asistennya tersebut.


"Maaf, tuan."


Ariana yang menatap aneh pada Victor langsung membuat Demian mengecup pipinya.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu, hm ?" ucapnya kemudian.


"Bisa sajakan ?" sahut Ariana.


"Tidak usah berpikir macam-macam sayang, ku akui dulu aku memang brengsek tapi setidaknya aku selalu memakai pengaman saat melakukan itu." tegas Demian.


"Lalu kenapa ketika denganku kamu tak memakainya ?"


"Entahlah, kamu satu-satunya wanita yang waktu itu ingin sekali ku miliki. Selama ini mereka semua menginginkan ku tanpa perlu ku minta, tapi kamu beda kamu selalu mengabaikan ku seakan aku ini sama sekali tak berharga dan maaf aku khilaf malam itu." sahut Demian menyesal.


Ariana nampak menatap Demian dengan seksama, kemudian ia mengalihkan pandangannya ke depan.


"Aku hanya takut saja, suatu saat salah satu di antara teman-teman kencanmu itu datang dan membawa seorang anak padamu." ucap Ariana.


"Astaga sayang, asal kamu tahu sejak melakukan itu sama kamu. Aku selalu di hantui perasaan bersalah padamu, hingga rasa untuk melakukan itu seakan hilang begitu saja dan kamu tenang saja hal itu tidak akan terjadi." tegas Demian meyakinkan yang langsung membuat Ariana menatapnya lagi.


Berusaha mencari kejujuran di mata suaminya itu, meski laki-laki itu terlihat jujur, hanya saja rasa khawatir selalu saja menghantui wanita itu.

__ADS_1


"Sudah jangan berpikir macam-macam, sayang." lanjut Demian ketika tak ada tanggapan dari sang istri.


"Aku percaya Mas, ayo turun." sahut Ariana saat mobil sudah berhenti di lobby kantornya, bahkan kini Victor sudah membukakan pintu untuk mereka.


Ariana keluar terlebih dahulu, ketika lewat di depan Victor. Perutnya tiba-tiba terasa mual, mungkin tak sengaja mencium aroma parfum laki-laki itu.


Kemudian ia segera menutup hidungnya melewati Victor.


"Perasaan aku sudah mandi." gerutu Victor seraya mengendus tubuhnya sendiri yang menurutnya sangat harum.


"Selamat pagi tuan dan untuk nyonya muda selamat atas kehamilan anda." sapa salah satu pimpinan di sana ketika berpapasan dengan pemilik perusahaannya tersebut.


"Selamat nyonya, muda." sapa beberapa karyawan disana juga.


Ariana yang sedari tadi sudah menahan mual, tanpa membalas sapaan mereka langsung berlari ke toilet umum yang berada tak jauh dari sana.


"Sayang, kamu baik-baik saja ?" Demian nampak khawatir ketika melihat Ariana memuntahkan semua isi perutnya.


"Akhir-akhir ini kamu jarang sekali muntah, kenapa sekarang muntah lagi ?" imbuhnya lagi.


"Maaf merepotkan, hanya saja aku tidak tahan mencium bau parfum mereka." sahut Ariana yang langsung membuat Victor yang berdiri tak jauh darinya bernapas lega, ternyata dirinya tak bau.


"Vic." panggil Demian pada asistennya tersebut.


"Ya tuan ?"


"Perintahkan pada semua karyawan di sini baik itu laki-laki maupun wanita untuk mengganti parfumnya dengan merk dan aroma yang seperti istriku pakai. Kalau perlu bagikan mereka satu-satu, saya ingin mereka memakainya sampai istri saya melahirkan." perintah Demian.


"Baik tuan, apa saya juga perlu berganti parfum juga tuan ?" tanya Victor.


"Tidak perlu, kalau kamu memang sudah bosan bekerja di sini." cibir Demian yang langsung membuat asistennya itu mengulas senyumnya.


"Vic, apa kamu sudah mempunyai kekasih ?" tanya Ariana kemudian sembari melangkah menuju lift, ia nampak menempelkan botol parfumnya di hidungnya sepanjang jalan.


"Saya tidak berpikiran kesana, nyonya." sahut Victor.


"Dia tidak suka wanita, sayang." Kali ini Demian yang menimpali.


"Hah, serius ?" Ariana langsung menghentikan langkahnya.


"Dan tenang saja, dia juga tidak suka laki-laki." ujar Demian lagi yang langsung membuat Ariana lega.


"Carilah kekasih Vic dan segera menikah biar hidupmu lebih bahagia." ujar Ariana.


"Terima kasih nyonya, saya belum kepikiran kesana." sahut Victor.


"Mau ku bantu ?" tawar Ariana.


"Tidak perlu nyonya, kalau jodoh pasti akan datang sendiri." sahut Victor.


"Jodoh tidak akan datang kalau tidak di cari, Vic." cibir Demian.


"Saya yakin pasti akan datang, tuan." sahut Victor keukeh.


"Kamu tahu, wajahmu itu mengingatkan ku pada seseorang. Apa kalian berjodoh ya, soalnya sangat mirip." celetuk Ariana.


"Itu hanya mitos, nyonya." tegas Victor.


"Bisa jadi sih." sahut Ariana.

__ADS_1


Tak terasa mereka sekarang sudah sampai di depan pintu ruangan Demian.


"Sayang." panggil Demian ketika baru menutup ruangannya.


"Hmm."


"Memang siapa wanita yang mirip dengan, Victor ?" tanya Demian penasaran.


"Ada, tetangga ku dulu. Nina namanya."


"Masih gadis ?"


"Iya."


"Bekerja ?"


"Iya, di club malam."


"Astaga sayang, Victor mana mau dengan gadis seperti itu. Tipe dia itu gadis alim, anak rumahan persis seperti dia." sela Demian.


"Jodoh siapa yang tahu, Mas."


"Jangan-Jangan kamu dulu kerja di club malam karena rekomendasi darinya kan ?" tanya Demian curiga.


"Aku menggantikannya karena dia sakit, lagipula waktu itu aku juga perlu uang untuk biaya sekolah Ricko. Tapi kamu harus berterima kasih padanya juga, kalau tidak mungkin kita tidak akan pernah bertemu."


"Benar juga sih, aku pasti akan memberikannya hadiah."


"Aku juga berpikir seperti itu, Nina gadis yang baik dan dia juga sayang banget sama Ricko." sahut Ariana, tiba-tiba ia jadi merindukan tetangga kostnya itu dulu.


Sementara itu Victor yang baru tiba di sekolahnya Ricko siang itu, nampak memicingkan matanya ketika melihat seorang wanita tengah berbicara dengan anak bossnya itu di gerbang sekolah.


Seorang wanita dengan dandanan menor serta pakaiannya yang kurang bahan tersebut nampak sesekali tertawa bersama Ricko.


"Ricko." panggil Victor khawatir.


"Om Victor."


"Kamu tidak boleh berbicara dengan orang asing, Nak." ujar Victor seraya memandang tak suka pada gadis yang sedang bersama bocah kecil itu.


"Ini tante Nina, Om. Tetangga Ricko dulu." sahut Ricko.


"Ayo kenalan, Om." lanjut Ricko lagi.


Victor nampak memindai penampilan Nina dari atas hingga bawah, kentara sekali bukan wanita baik-baik. Pikirnya.


"Tidak perlu, Nak. Ayo pulang, kamu sedang di tunggu sama Mommy dan Daddy di kantor." sahut Victor kemudian.


"Mommy di kantor Daddy ?" tanya Ricko antusias.


"Iya."


"Asyik, ayo Om cepat kesana. Bye-bye tente Nina." ucap Ricko, kemudian berpamitan pada Nina.


Nina nampak mengulas senyumnya menatap Ricko, sungguh ia sangat merindukan bocah kecil itu dan ia juga bersyukur akhirnya Ariana sudah berkumpul bersama suaminya.


Namun perlahan senyumnya menyurut ketika menatap Victor.


"Dasar laki-laki sombong, kamu pikir aku menyukaimu. Ingat tuan, jangan pernah menilai seseorang dari penampilannya. Kadang penampilan seseorang itu hanya sebuah kamuflase." gerutu Nina sembari melihat mobil Ricko yang semakin menjauh dari pandangannya.

__ADS_1


__ADS_2