
Saat Maya sudah berdiri di hadapannya, Dena langsung mendorong Edgar agar melepaskan panggutannya.
Sedangkan Maya nampak sangat kesal saat menatap sepasang suami istri yang sedang bercumbu mesra itu, sungguh mereka benar-benar tidak tahu malu menurutnya.
Bisa-bisanya mereka bercumbu mesra di tengah keramaian, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
"Sayang menjauhlah, ada Maya." lirih Dena namun masih terdengar di telinga Maya.
Edgar yang menoleh ke arah Maya langsung terkekeh menatap wanita itu.
"Maaf May, kelepasan." ucapnya pada teman wanitanya itu, namun tangannya langsung memeluk pinggang istrinya dengan erat.
Bahkan ia tak segan mencium puncak kepala Dena dengan gemas di hadapan Maya.
"Tidak apa-apa aku hanya kebetulan lewat, saat melihat kalian aku langsung mampir kesini. Kalian benar-benar seperti remaja yang baru pacaran saja." ucap Maya bernada sindiran.
Tanpa Maya tahu sepasang suami istri di hadapannya itu memang sedang menjalani fase pacaran, karena mereka menikah tanpa berpacaran terlebih dahulu.
Apalagi saat ini mereka baru menyadari bagaimana perasaan masing-masing yang membuat mereka enggan untuk saling berjauhan.
"Sepertinya kami akan pacaran sampai tua ya kan, sayang ?" celetuk Edgar seraya menatap sang istri agar membenarkan ucapannya.
"Nggak ah, aku nggak mau punya kekasih mesum." sahut Dena sembari terkekeh.
"Mesum-mesum begini bisa membuat perutmu bengkak dua kali loh sayang." sarkas Edgar yang langsung membuat Maya membulatkan matanya.
"Ja-jadi kalian mau mempunyai anak lagi? itu berarti..." ucapnya tertahan saat Edgar memotongnya.
"Istriku sedang hamil lagi, May." potong Edgar dengan raut wajah bahagia.
"Oh, kalau begitu selamat ya aku juga ikut senang." Maya mengulurkan tangannya ke hadapan Edgar, namun Dena buru-buru menyambutnya.
"Terima kasih, semoga kamu secepatnya juga menyusul." sahut Dena dengan mengulas senyumnya.
Berdasarkan cerita Edgar, ia tahu jika Maya belum di karunia seorang anak dan itu yang membuat wanita itu dan suaminya sering berselisih paham dan berakhir dengan kekerasan rumah tangga.
"Entahlah hubungan kami sedang tidak baik-baik saja, tapi semoga segera ada jalan keluar. Baiklah kalau begitu aku pergi dulu ya, ada sedikit urusan yang harus segera ku selesaikan." ucap Maya sesaat setelah Dena melepaskan jabat tangannya.
Setelah itu dengan perasaan kecewa Maya meninggalkan restoran tersebut.
__ADS_1
"Sepertinya lebih baik jika Maya sering-sering berkeliaran di sekitar kita deh." celetuk Edgar saat Maya sudah pergi menjauh.
"Maksud kamu ?" Dena langsung memicing menatap suaminya itu.
"Jika ada dia kamu lebih agresif, sayang." sahut Edgar dengan tersenyum menggoda, ia mengingat bagaimana tadi Dena tiba-tiba menciumnya saat melihat Maya yang akan menghampirinya.
"Modus, aku hanya tidak mau milikku di sukai sama orang lain. Apalagi melihat sikapmu yang suka membuat para wanita baper." ketus Dena.
"Aku tidak pernah membuat para wanita baper sayang." sanggah Edgar.
"Tapi kebaikanmu dan perhatianmu pada mereka itu yang membuat mereka baper." sungut Dena kesal.
"Aku kan hanya berbuat baik sayang, tapi hatiku cuma buat kamu kok." bujuk Edgar.
"Tahu ah, malas." cebik Dena.
"Iya aku minta maaf, lain kali tidak begitu lagi. Sekarang tersenyum dong." bujuk Edgar lagi.
"Bodoh amat." sungut Dena.
"Tak gigit loh nanti." goda Edgar gemas.
Dan benar saja ia langsung menggigit leher istrinya itu dan sedikit menghisapnya hingga membuat Dena berteriak kaget, namun Edgar langsung membungkam bibirnya dengan telapak tangannya.
Dena yang tak kehabisan akal langsung menggigit telapak tangan sang suami, hingga membuat laki-laki itu melepaskan tangannya dari bibirnya.
"Astaga sayang, ini namanya kekerasan dalam rumah tangga tahu." ujar Edgar mengadu kesakitan.
"Kamu yang melakukan kekerasan bisa-bisanya membungkam mulutku, kamu mau membunuhku." sarkas Dena kesal.
"Itu namanya antisipasi sayang, kalau tidak ku bungkam anti kamu mendesah lagi kan bikin yang mendengar jadi kepengen." sahut Edgar dengan tampang tak berdosanya yang langsung membuat Dena mengerucutkan bibirnya kesal.
Lebih baik dia diam saja, menanggapi suaminya itu pasti nggak ada habisnya. Karena laki-laki itu selalu saja mempunyai akal buat menggodanya.
Sedangkan Edgar nampak terkekeh saat melihat tanda merah keunguan di leher sang istri karena ulahnya tadi.
Sementara itu di tempat lain dan di waktu yang sama Sera nampak mengepalkan tangannya sesaat setelah membaca pesan di ponselnya.
Setelah itu ia segera menghubungi seseorang melalui ponselnya. "Bodoh, melakukan begitu saja tidak becus." sarkasnya pada seseorang di ujung telepon.
__ADS_1
"Kalau begitu apa bedanya kamu denganku, kalau kamu pintar kamu sudah memiliki Edgar saat ini." sahut Maya dengan sinis.
"Sialan, kamu memang tidak berguna." maki Sera.
"Terserah kamu mau bilang apa, aku tidak mau mengejar Edgar lagi. Aku ingin balikan dengan suamiku." sahut Maya.
"Tapi aku sudah memberikan mu uang banyak, sialan." umpat Sera.
"Sudahlah Ser, mereka berdua saling mencintai. Aku menyerah dan asal kamu tahu Dena hamil lagi dan itu semakin memperkuat cinta mereka. Lebih baik kamu sudahi semua sebelum kamu menyesal." ujar Maya menasihati.
Maya adalah seniornya Sera di agensinya dulu dan Sera sangat tahu jika Maya sudah menyukai Edgar semenjak mereka masih berada di bangku kuliah.
Hanya saja sejak Maya menikah dengan pria yang di jodohkan oleh orangtuanya, wanita itu keluar dari agensi dan ikut suaminya.
Sera yang mengetahui keadaan rumah tangga sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja melalui media sosialnya yang ia ikuti, ia langsung menghubungi Maya dan menawarkan kerja sama.
Tentu saja Maya sangat senang, apalagi ia mengetahui jika pernikahan Edgar sedang bermasalah sama seperti pernikahannya.
Sejak saat itu Maya berusaha mendekati Edgar, kebetulan perusahaan tempatnya bekerja sedang mengadakan kerja sama dengan perusahaan laki-laki itu.
Namun sekeras apapun Maya menggoda Edgar bahkan membuat laki-laki itu merasa kasihan padanya karena kekerasan rumah tangga yang di lakukan oleh suaminya, tetap saja Maya tidak bisa memiliki hati laki-laki itu dan pada akhirnya ia memutuskan untuk menyerah.
Setelah Maya mematikan panggilannya, Sera nampak menggeram. Ia tidak suka jika Dena bahagia dan ia harus melakukan sesuatu.
Sudah sebulan lebih ia menjadi seorang pelayan di kediamannya yang dulu pernah menjadi istananya.
Bahkan saat ini ia hanya bisa memandang istana itu tanpa bisa masuk ke dalam, karena Dena sama sekali tak memberinya akses untuk masuk kesana.
Ia di asingkan di rumah pelayan yang ada di belakang Mansion tersebut, setiap hari ia dan ibunya bekerja keras mencuci pakaian dan menyetrikanya.
Baik itu pakaian Dena, anaknya maupun tuan Winata bahkan pakaian para pelayan pun ia yang mencucinya.
"Aku tidak bisa seperti ini terus, Ma. Ini bukan pekerjaanku, aku ini seorang model." keluh Sera pada ibunya saat mereka sedang menjemur pakaian.
"Diamlah Sera, bersyukur kita masih di beri makan di sini dan tidak di jebloskan ke penjara." ujar Nyonya Sita.
"Tapi ini namanya perbudakan, aku tidak terima di giniin. Cepat atau lambat aku harus membuat Dena menderita atau ku lenyapkan sekalian." teriak Sera dengan kesal, namun suara seseorang membuatnya langsung bersembunyi di belakang ibunya.
"Apa yang ingin kamu lakukan, Ser ?" hardik tuan Winata menatap tajam ke arah Sera serta ibunya itu.
__ADS_1