Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~119


__ADS_3

"Mas, siapa yang datang ?" tanya Ariana saat suaminya masuk kembali ke dalam kamarnya.


"Kata Bibik, di bawah ada wanita yang sedang mencari Mama." sahut Demian seraya melangkah ke arahnya.


"Siapa ?" tanya Ariana penasaran.


Sejak menjadi menantu keluarga Anggoro, ia sedikit banyak sudah mengenal baik teman-teman ibu mertuanya tersebut.


Sebelum menjawab Demian nampak menatap lekat istrinya itu.


"Wanita itu, Jenny." sahutnya pelan namun sukses membuat Ariana melotot menatapnya.


"Jenny? Wanita yang sama dengan wanita yang mendonorkan darahnya untuk Dean ?" tanya Ariana kemudian.


"Hm." sahut Demian.


"Aku akan menemuinya." Ariana langsung turun dari ranjangnya, nampak kimono tidur masih melekat di tubuhnya.


"Sayang, apa kamu yakin akan turun menemuinya ?" tanya Demian seraya mengikuti istrinya ke dalam walk in closet.


"Kenapa memangnya? bukannya kita harus berterima kasih padanya ?" tanya Ariana balik namun raut wajahnya nampak menyelidik.


Kenapa suaminya keberatan ia mau menemuinya, mencurigakan pikir Ariana.


Kemudian tanpa malu ia melepaskan kimononya di hadapan suaminya hingga membuat laki-laki itu menelan salivanya, lalu ia menggantinya dengan sebuah dress selutut bertali spaghetti.


"Sayang, pakaianmu terlalu terbuka." protes Demian, rasanya tidak rela jika kulit mulus istrinya di pamerkan pada orang lain.


"Mas, sejak kapan kamu protes dengan penampilanku bukannya akhir-akhir ini aku selalu berpakaian seperti ini ?" sahut Ariana.


"Apa ?" Demian nampak melotot, sejak kapan istrinya itu berpakaian seksi seperti ini.


Setahu dia wanita itu selalu berpakaian tertutup, apalagi saat hamil memakai dress atau daster hamil pun selalu yang berlengan. Karena sejak hamil Ariana tidak lagi mengikuti aturan ibunya yang mengharuskannya berpenampilan sempurna.


"Hm, tepatnya sejak Mama datang." angguk Ariana kemudian melangkahkan kakinya keluar menuju meja riasnya.


"Kenapa aku tidak tahu? apa karena beberapa hari ini aku sibuk menjaga Dean."


Demian yang masih bingung dengan ucapan sang istri langsung membuka lemari pakaian wanita itu dan benar saja banyak sekali pakaian yang sama dengan model dan warna yang berbeda.


Ngomong-ngomong sejak kapan istrinya mempunyai baju-baju terbuka tanpa lengan seperti itu, setahunya sejak hamil wanita itu setiap hari hanya memakai kimono tidur atau daster rumahan.


"Sayang, kenapa di dalam lemarimu banyak sekali pakaian baru ?" tanya Demian penasaran, matanya tercengang saat melihat istrinya itu nampak cantik dengan polesan make up tipis di wajahnya.


"Mama yang belikan, katanya pakaianku yang lama terlalu kampungan." sahut Ariana.


Demian tiba-tiba bersyukur pada sang ibu karena membuat istrinya yang sejak hamil selalu berpenampilan sederhana dengan daster batik andalannya kini nampak luar biasa cantik dengan dress mahalnya.


Bukannya biasanya tidak cantik, namun penampilannya sekarang membuatnya terlihat lebih cantik dan seksi.


"Kenapa melihatku seperti itu ?" tanya Ariana mengerutkan dahinya.

__ADS_1


"Kamu sangat cantik, sayang." puji Demian.


"Memang biasanya tidak cantik ?" Ariana memicing.


"Memakai apapun itu kamu selalu cantik sayang, apalagi kalau tidak memakai baju." sahut Demian dengan tatapan menggoda.


"Dasar mesum." sungut Ariana.


Lalu ia mematut penampilannya sendiri di depan kaca, ternyata pakaian yang bagus dan juga riasan yang tepat membuat seorang wanita itu jauh terlihat lebih cantik lagi.


Dia jadi menyesal kenapa dulu selalu berat hati saat ibu mertuanya itu mengatur penampilannya dan saat ia hamil justru memanfaatkan kehamilannya untuk berbuat sesukanya.


Sekarang ia baru menyadarinya meski sedang hamil pun seorang wanita harus bernampilan cantik dan menggoda, agar wanita lain berpikir lagi jika ingin menggoda suaminya karena sudah ada istri yang menawan.


Sungguh ia sangat berterima kasih pada ibu mertuanya itu yang akhir-akhir ini selalu mengajaknya melakukan perawatan tubuh di salonnya.


Biasanya ia lebih senang berpenampilan sederhana, apalagi sejak hamil ia merasa bebas dari aturan ibu mertuanya. Namun sejak kehadiran wanita yang bernama Jenny yang ia sangka akan menjadi bibit pelakor dalam rumah tangganya, Ariana mulai peduli dengan penampilannya lagi.


Mulai saat ini ia akan selalu memuaskan pandangan mata suaminya hingga laki-laki itu tidak akan sempat melirik wanita lain.


Karena pada dasarnya setiap lelaki itu menyukai sesuatu yang sedap di pandang, jadi jangan merasa nyaman dengan ucapan laki-laki yang katanya akan menerima apapun dirimu. Karena itu hanya salah satu rayuan seorang laki-laki, namun tak bisa di pertanggung jawabkan.


Apalagi di luaran sana banyak sekali wanita yang mungkin akan mengincar suaminya dan salah satunya mungkin saja si Jenny-Jenny itu.


Toh duit suaminya itu banyak jadi buat apa dia harus berhemat lagi kalau hanya sekedar untuk merawat tubuhnya. Lebih baik dia yang menghabiskan uang laki-laki itu dari pada pelakor di luaran sana yang akan menghabiskannya nanti.


"Ayo, Mas." ajak Ariana.


Namun ia juga harus segera menyelesaikan masalah apapun yang berhubungan dengan Jenny tersebut, agar sang istri tidak semakin salah paham.


Ariana yang sudah siap untuk menghadapi wanita yang ia anggap bibit pelakor itu nampak terkejut saat melihat wanita yang bernama Jenny itu. Ia pikir wanita itu datang sendirian, namun di sana nampak seorang anak balita beserta seorang pria duduk di sampingnya.


"Selamat sore nyonya dan tuan Demian, maaf mengganggu waktu anda." sapa Jenny seraya beranjak dari duduknya.


"Oh ya selamat sore, silakan duduk." sahut Demian dengan ramah begitu juga dengan Ariana.


Ariana nampak lega ternyata tak sesuai dugaannya, karena Jenny terlihat sangat sopan jauh dari kata wanita penggoda.


"Sekali lagi saya ucapkan banyak terima kasih sudah menolong nyawa adik saya." lanjut Demian lagi.


"Tidak apa-apa tuan, bagi pemilik darah langkah seperti kami memang harus saling membantu. Lagipula mendiang Mama dan tante Mia adalah teman baik jadi sudah sepatutnya saya melakukan itu." sahut Jenny.


Kemudian ia mengambil sebuah undangan dari dalam tasnya lalu memberikannya pada Ariana.


"Tadinya saya ingin mencari tante Mia, karena beliau sedang tidak ada jadi saya mau menitipkan undangan ini." lanjutnya lagi.


"Anda mau menikah ?" tanya Ariana setelah melihat undangan tersebut.


"Benar dan ini calon suami saya." sahut Jenny seraya memperkenalkan suaminya.


Ariana langsung mengulas senyumnya dengan lebar, akhirnya prasangkanya tidak benar.

__ADS_1


"Astaga nih laki mau nikah, tapi matanya masih saja jelalatan."


Gerutu Demian saat calon suaminya Jenny menatap lekat istrinya.


Ehmm


Demian nampak berdehem pelan lalu melingkarkan tangannya pada bahu sang istri.


"Tentu saja kami pasti akan datang." ucapnya kemudian.


"Terima kasih tuan, nyonya. Kalau begitu kami pamit undur diri." ucap Jenny seraya bangkit dari duduknya yang di ikuti oleh calon suaminya.


"Terima kasih tuan Demian senang bertemu dengan pengusaha sukses seperti anda." ujar calon suaminya Jenny berbasa-basi, laki-laki berprofesi dokter tersebut juga nampak menatap Ariana dengan pandangan kagum.


"Sama-sama." sahut Demian sedikit tak ramah.


Setelah kepulangan mereka, Ariana nampak sangat lega. Namun tidak dengan Demian, laki-laki itu terlihat kesal.


"Kamu kenapa, Mas? sedih karena Jenny yang janda kembang itu sudah mau menikah ?" goda Ariana.


"Ck, bahkan aku tidak peduli. Aku hanya tidak menyukai laki-laki itu." sahut Demian.


"Kenapa? sepertinya beliau orang baik, dokter lagi dan tampan tentunya." sahut Ariana yang membuat Demian semakin kesal.


"Sayang, daster kamu yang lama kemana sih ?" tanya Demian tiba-tiba.


"Daster batik itu, Mas ?"


"Hmm."


"Sudah di buang sama Mama." sahut Ariana.


"Aku tidak suka kamu memakai daster seperti ini." protes Demian seraya menatap Daster seksi milik sang istri.


"Kenapa memangnya, daster ini sangat cantik kok dan Mama membelinya dengan harga yang sangat mahal Mas." sahut Ariana.


"Tapi gara-gara kamu pakai daster ini, calon suaminya si Jenny itu matanya melotot melihat kamu." keluh Demian kesal.


"Bagus dong kalau begitu, itu berarti peringatan buatmu Mas." sahut Ariana.


"Maksud kamu ?" Demian langsung memicing.


"Tentu saja itu peringatan buat Mas, di saat Mas mengagumi wanita cantik di luar sana, Mas juga harus ingat ada laki-laki lain yang juga sedang mengagumi istrimu di rumah. Ingat setiap perbuatan itu ada karmanya." ketus Ariana lalu bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi meninggalkan suaminya yang nampak sedang mencerna perkataannya.


"Sial, bagaimana aku ada waktu mengagumi wanita lain sayang. Kalau kamu berpenampilan seperti itu terus justru waktuku akan habis untuk menutup mata laki-laki lain agar tidak terus memandangimu." gumam Demian kesal seraya bangkit dari duduknya untuk menyusul istrinya itu.


Namun saat tak sengaja menatap ke arah anak tangga, istrinya itu nampak terduduk di sana sambil meringis kesakitan.


"Mas tolong, perutku sakit." rintihnya.


Tak menunggu lama Demian langsung berlari ke arahnya. "Sayang, apa kamu mau melahirkan ?" ucapnya panik.

__ADS_1


__ADS_2