Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~106


__ADS_3

"Mommy."


"Mommy."


Olive berteriak nyaring saat baru bangun dari siumannya, sudah 3 hari bocah kecil itu tak sadarkan diri saat di temukan tak berdaya di pinggir pantai dengan tubuh penuh luka.


"Kamu baik-baik saja, Nak. Syukurlah kamu sudah siuman." ucap seorang laki-laki paruh baya dengan logat bahasa inggrisnya.


Olive yang dari kecil sudah sangat pandai berbicara dengan bahasa asing, ia langsung mengerti ucapan laki-laki itu.


"Mommy, di mana Mommy ?" tanya Olive bingung, ia nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut ruangan bernuansa putih tersebut.


"Mommy ?" tanya laki-laki tersebut tak mengerti.


"Dimana Mommy ?" tanya Olive lagi.


"Kakek tidak tahu Nak, tiga hari yang lalu kakek menemukan mu pingsan di pinggir pantai." sahut kakek tersebut khawatir.


Olive nampak terdiam mencoba mengingat kejadian sebelum dirinya tak sadarkan diri.


"Mommy apa yang terjadi ?" Olive merasakan guncangan hebat di dalam pesawat yang ia tumpangi saat itu.


"Tenanglah sayang, ayo peluk Papa dan Mommy. Kita sama-sama berdoa ya." sahut ayah kandung Olive seraya memeluknya dengan erat.


Dan beberapa detik kemudian Olive merasakan kehilangan napasnya dan kemudian berangsur tak sadarkan diri.


"Mommy, Papa." teriak Olive histeris.


"Tenanglah Nak, kamu baik-baik saja sekarang." kakek tersebut langsung memeluk bocah 9 tahun itu, beliau merasa sangat kasihan padanya.


"Berita petang ini, 120 penumpang pesawat dan awak kabin yang jatuh 3 hari lalu tujuan Jakarta telah di temukan serta di identifikasi dan 6 lainnya sampai sekarang belum di temukan, kuat dugaan mereka terbawa oleh pusaran air di dasar laut."


Sebuah televisi di dalam kamar rumah sakit tersebut nampak mengabarkan berita jatuhnya pesawat yang terjadi tiga hari yang lalu.


"Mommy, Papa." gumam Olive saat melihat nama kedua orang tuanya tercantum dalam korban yang sudah di temukan dalam keadaan meninggal.


Sedangkan namanya masuk dalam enam nama korban yang hilang, melihat itu Olive nampak terdiam.


Sebelumnya ia sangat bahagia di ajak liburan oleh kedua orangtuanya, meski tadinya ia sempat syok mengetahui bahwa Demian bukanlah ayah kandungnya.


"Nak, apa kakek boleh tahu siapa namamu ?" ucap kakek tersebut membuyarkan lamunan Olive.


"O-Olive." sahut Olive lirih.


"Apa kamu mempunyai orangtua? katakan di mana kamu tinggal, kakek akan menghubungi keluargamu." tanya kakek itu hati-hati.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak Olive nampak menggelengkan kepalanya, orangtuanya sudah meninggal. Ia sendiri di dunia ini sekarang, bahkan Demian yang ia anggap sebagai ayah kandungnya ternyata hanya orang lain.


"Bolehkah Olive ikut kakek saja? Olive sudah tidak punya orangtua maupun keluarga." sahut Olive pada akhirnya.


Ingin sekali ia tinggal bersama Demian apalagi laki-laki itu sebelumnya menawari dirinya untuk tinggal bersamanya.


Namun ia tidak mau egois, laki-laki itu bukan ayah kandungnya meski ia sangat menyayanginya.


Lalu Olive meraih lehernya, ia lega masih menemukan kalungnya di sana.


"Kamu berhak bahagia Ricko, maafkan aku sudah mengambil Daddy mu selama ini. Semoga kamu hidup bahagia disana, suatu saat jika Tuhan menghendaki kita pasti akan bertemu meski itu sangat mustahil. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu dari pertama bertemu. Maafkan aku sudah membuatmu sulit selama ini."


"Baiklah, kamu boleh ikut kakek tapi tempat ini sangat terpencil dan jauh dari kota. Kakek tidak tahu apa kamu akan betah." sahut kakek itu, ia curiga Olive adalah korban dari jatuhnya pesawat tersebut.


Olive senang saat melihat ketulusan laki-laki tua itu. "Olive akan betah, kek. Olive akan menjadi anak baik dan penurut." sahut Olive.


Kakek tersebut langsung memeluk Olive, matanya nampak berkaca-kaca karena senang.


Tuan Jensen sangat senang karena mendapatkan keluarga baru di saat ia merasakan kesepian di hari tuanya.


Selama ini laki-laki itu mengabdikan hidupnya pada instansi pemerintahan di daerah terpencil di negara kanguru tersebut dan sangat mudah baginya untuk mengurus dokumen Olive agar bisa masuk ke dalam keluarganya.


Sementara itu Demian dan Ariana sudah bisa menerima kenyataan bahwa Monica dan Olive sudah tiada.


"Ayo pulang sayang, kamu tidak boleh terlalu lelah." ajak Demian seraya membawa sang istri masuk ke dalam mobilnya bersama Ricko dan juga Victor.


Setelah beberapa hari ini sangat sibuk dengan pekerjaannya dan juga mengurus pemakaman Monica, kini akhirnya Victor bisa bernapas dengan lega karena mempunyai waktu senggang.


Hampir satu minggu ini ia tidak bertemu dengan Nina, karena setelah pemakaman Monica, Victor harus menggantikan pekerjaan Demian yang berada di luar kota.


Dan di sinilah ia sekarang berada, di sebuah restoran di mana Nina sedang bekerja paruh waktu.


Victor jadi merasa bersalah pada Nina, gadis itu pasti sangat marah padanya karena tak pernah menemuinya dan memberikannya kabar.


Ia menyalahkan dirinya sendiri karena lupa bertukar nomor ponsel, hingga tak bisa menghubungi gadis itu.


Victor langsung geram saat dari kejauhan melihat kekasihnya itu di peluk oleh bossnya yang ada di Bar.


"Pak, tolong lepaskan saya." mohon Nina saat tiba-tiba Yudo memeluknya dengan erat.


"Aku mohon Nin, ayo menikah denganku. Aku tidak mau kehilangan kamu, aku sudah lama menyukaimu." pinta Yudo.


"Pak saya minta maaf, tapi saya tidak bisa." tolak Nina.


"Memangnya kenapa, apa kamu masih mengharapkan laki-laki yang tidak pernah peduli denganmu itu." desak Yudo, ia sudah menyelidiki siapa Victor.

__ADS_1


Victor bukanlah laki-laki yang baik buat Nina, laki-laki itu selalu bersinggungan dengan mafia kelas kakap ataupun lawan bisnisnya perusahaan Anggoro.


Nina pasti tidak akan aman jika bersama laki-laki itu, untuk itu Yudo memberanikan diri untuk melamar Nina.


"Maaf pak, saya tidak mau berurusan dengan ibu anda yang sudah jelas-jelas membenci saya." tolak Nina yang langsung membuat Victor tersenyum.


"Good, sayang." gumam Victor saat mencuri dengar pembicaraan mereka.


"Kita bisa kawin lari Nin, aku punya uang cukup banyak untuk menghidupi mu dan anak-anak kita." bujuk Yudo.


Namun itu justru membuat Victor geram, Nina tidak boleh terpengaruh oleh bujuk rayu laki-laki itu.


Ehmmm


Victor langsung berdehem nyaring saat mendekat ke arah mereka hingga membuat Nina dan Yudo menoleh ke arahnya dengan pandangan terkejut.


"Hai sayang apa kamu merindukan ku, hm ?" ujar Victor seraya melingkarkan tangannya di bahu Nina.


Nina nampak geram, ingin rasanya ia meremas wajah laki-laki tak tahu malu itu. Enak saja pergi tanpa kabar dan sekarang datang-datang dengan tampang tak bersalah.


"Kenapa kamu masih di sini, apa kamu mau melihat kemesraan kami ?" cibir Victor pada Yudo.


"Nina tidak menyukaimu jadi jangan pernah mengganggunya lagi." tegas Yudo.


"Benar begitu, sayang ?" Victor bertanya pada Nina, namun Nina terlihat bingung. Ingin rasanya ia berlari sejauh mungkin untuk menghindari dua lelaki itu.


"Sampai saat ini Nina adalah kekasih saya, jadi mulai detik ini menjauhlah kalau tidak mau Bar kebanggaan keluargamu itu rata dengan tanah." ancam Victor kemudian.


"Kamu...." Yudo nampak sangat geram.


"Atau bagaimana kalau sedikit membuat ibumu yang sombong itu mendapatkan pelajaran." ancam Victor lagi dengan tersenyum menyeringai.


"Jangan pernah berani menyentuh keluargaku." hardik Yudo.


"Kalau begitu menjauhlah dari pandanganku ataupun Nina." tegas Victor.


"Brengsek."


Yudo yang tidak mungkin bisa melawan Victor, ia segera berlalu pergi dengan segala umpatannya.


"Pria pengecut seperti itu tidak akan pantas denganmu, sayang." ucap Victor dengan lembut.


"Kamu pikir aku juga mau sama kamu ?" ujar Nina geram sekaligus takut, sepertinya laki-laki di hadapannya ini sangat berbahaya dan ia harus menghindarinya sejauh mungkin.


Namun saat Nina akan melangkahkan kakinya menjauh, Victor justru menarik pinggangnya lalu melum😘t bibirnya dengan rakus.

__ADS_1


__ADS_2