Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~92


__ADS_3

Ariana masih berbaik hati tidak membawa keluarga suaminya itu makan pecel lele di pinggir jalan, selain panas pasti juga sangat ramai.


Jadi ia memutuskan makan di sebuah saung di pinggiran kota dengan pemandangan alam di sekitarnya dan sedikit mahal tentunya karena mendapatkan bonus pemandangan alam yang asri.


"Tempat yang sangat bagus, apa sebelumnya kamu sering kesini ?" tanya Demian selepas keluar dari mobilnya.


"Pernah Dad, sama Om Edgar." celetuk Ricko yang langsung membuat Demian melotot.


"Dulu mas, sebelum kita bertemu." ujar Ariana menjelaskan tapi bukan Demian kalau tidak cemburu.


Laki-laki itu langsung memasang muka masam dan sudah Ariana tebak pasti sedang cemburu.


"Tunggu hukumanmu nanti malam sayang, berani-beraninya makan di tempat seindah ini dengan laki-laki lain." bisik Demian.


"Dasar labil." gerutu Ariana kesal.


"Kamu bilang apa tadi, sayang ?"


"Nggak, nanti malam aku yang di atas." bisik Ariana yang langsung membuat Demian mengulas senyumnya lebar.


"Istri idaman memang sayangku ini." ucap Demian dengan gemas.


Sedangkan nyonya Anggoro yang biasa makan di restoran sebuah Mall atau hotel berbintang nampak tak semangat. Apalagi saat melihat jalan berkerikil menuju saung-saung tersebut.


"Kampungan." gerutunya.


"Mama di sini saja, tidak mau masuk." sinisnya kemudian.


"Ayolah Ma, Mama tidak pernah makan di sini kan? Papa jamin pasti akan sangat nikmat tidak kalah dengan masakan hotel." bujuk tuan Anggoro.


"Memang Papa pernah makan di tempat kampungan seperti ini ?" sahut nyonya Anggoro.


"Pernah, Ma."


"Kapan? kok Mama nggak pernah tahu ?" selidik nyonya Anggoro, hampir 34 tahun mereka menikah dan selama itu pula mereka selalu makan di tempat-tempat yang mahal.


"Ya, ya pernah Ma. Dulu bersama koleganya Papa." dusta tuan Anggoro, dahulu beliau memang sering makan di tempat seperti ini tapi bukan dengan koleganya. Namun bersama dengan seseorang di masa lalunya.

__ADS_1


Ehmmm


Melihat tuan besarnya terpojok, Victor nampak berdehem pelan. Kemudian ia segera mengajak mereka masuk menuju sebuah saung yang sudah ia pesan sebelumnya.


"Mari tuan, nyonya. Saya sudah memesankan saung dengan pemandangan yang sangat indah disini." ajak Victor yang langsung membuat tuan Anggoro tersenyum tipis menatapnya.


"Terus kamu menyuruh saya menyusuri jalan bebatuan itu dengan heels ku ini ?" sungut nyonya Anggoro tak terima.


"Tenang saja Ma, saya punya sesuatu buat Mama." Ariana langsung mengambil simpanan sendal jepit sejuta umatnya di dalam tasnya yang sudah ia bungkus dengan sebuah kresek hitam.


"Oh astaga, kamu tahu berapa harga tas ini? 300 juta Ariana, lalu bisa-bisanya kamu menyimpan barang sampah begini di dalamnya." Nyonya Anggoro rasanya mau pingsan ketika melihat tingkah kampungan menantunya tersebut.


"Tapi sendal ini sangat berguna Ma, saya yakin sekali jika Mama memakainya pasti akan nagih." bujuk Ariana.


"Dalam mimpimu." sungut nyonya Anggoro yang membuat Ariana langsung kecewa.


"Baiklah saya akan menyimpannya kembali, saya hanya takut saja jika Mama masuk ke dalam sana dengan heels setinggi itu akan membuat Mama terjatuh dan kuku-kuku Mama yang cantik itu akan rusak." ucap Ariana dengan nada rendah.


"Itu benar, Ma." bujuk tuan Anggoro yang langsung membuat istrinya itu mendesah kasar.


"Baiklah, bawa sini." sahut nyonya Anggoro terpaksa.


Kemudian wanita paruh baya tersebut segera memakainya, sangat nyaman itulah kesan pertama menurutnya tapi beliau enggan mengakuinya.


Victor yang sedari tadi mengawasi mereka nampak mengulas senyum tipisnya, sungguh nyonya mudanya itu benar-benar merubah tatanan hidup keluarga besar Anggoro dan itu lebih baik menurutnya.


Setelah drama sendal jepit usai, akhirnya mereka mulai masuk menuju salah satu saung yang sudah Victor reservasi sebelumnya.


"Sungguh sangat indah sekali." puji tuan Anggoro ketika melihat pemandangan di restoran tengah sawah itu, ia masih belum percaya di kota metropolitan ini masih ada tempat asri seperti ini.


"Sebenarnya ini tempat buatan tuan, karena saat ini justru tempat-tempat seperti ini yang banyak di minati oleh sebagian besar masyarakat di tengah kota." ujar Victor menjelaskan.


"Demian, apa kamu tidak berniat membuat usaha seperti ini? lihatlah istri dan anakmu sepertinya sangat menyukai tempat ini." celetuk tuan Anggoro seraya menatap Ariana dan juga Ricko yang nampak sibuk memberi makan ikan-ikan di kolam.


"Sepertinya, Pa." sahut Demian tertarik.


Sedangkan nyonya Anggoro yang memilih duduk lesehan di sebuah saung, diam-diam juga menikmatinya apalagi menatap pemandangan alam di sekitarnya yang membuat hatinya tiba-tiba menghangat.

__ADS_1


"Tak seburuk yang ku kira." gumamnya dalam hati.


Setelah puas melihat-lihat, mereka nampak duduk lesehan di dalam saung tersebut di temani oleh angin sepoi-sepoi siang itu.


Mereka memesan beraneka ragam masakan nusantara dari olahan ikan hingga unggas.


"Di mana sendoknya ?" tanya nyonya Anggoro ketika hendak makan, tak ia pungkiri hidangan di depan matanya itu sungguh menggugah seleranya.


Ada ayam dan berbagai ikan yang di goreng maupun di bakar, serta berbagai macam sambal yang membuat liurnya menetes.


"Disini tidak ada sendok Ma, semua menggunakan tangan." sahut Ariana.


"A-apa? kamu becanda kan ?" sungut nyonya Anggoro.


"Ayolah Ma, sekali-sekali pakai tangan ini sangat nikmat." bujuk Demian yang langsung di anggukin oleh tuan Anggoro. Sedangkan Victor nampak terkekeh dalam hati.


"Ka-kalian sejak kapan bisa makan menggunakan tangan seperti itu ?" ujar nyonya Anggoro tak percaya jika suami serta anaknya itu nampak mahir makan dengan menggunakan tangannya.


Mendengar pertanyaan sang istri tuan Anggoro langsung tersedak. "Pelan-pelan tuan." Victor langsung mengulurkan segelas air putih.


"Terima kasih, Vic." sahut tuan Anggoro setelah menghabiskan air putihnya tersebut.


"Dahulu Tuan besar sering makan di tempat seperti ini bersama dengan para koleganya, nyonya." Kali ini Victor yang menjelaskan, ia nampak menatap Tuan besarnya itu sejenak.


"Lalu kamu ?" tanya nyonya Anggoro pada Demian yang nampak lahap makan pecel lele menu yang sama dengan anak dan istrinya.


"Tidak usah di jelaskan." ucapnya lagi, anaknya itu pasti sudah biasa makan seperti itu sejak bertahun-tahun lalu bersama Ariana.


Kemudian nyonya Anggoro dengan terpaksa makan menggunakan tangannya, meski awalnya kaku tapi lama kelamaan beliau terlihat menikmati.


Hingga sebuah ikan bakar di hadapannya nampak tandas bersama sambalnya. Melihat itu Ariana nampak menahan senyumnya, keinginannya membuat mertuanya itu berubah perlahan-lahan berhasil.


Hanya sifat angkuhnya saja yang membuat Ariana harus berpikir keras bagaimana cara merubahnya. Karena menurutnya ibu mertuanya itu mempunyai sifat yang keras hati.


Apa beliau mempunyai masa lalu yang buruk? entahlah sepertinya Ariana harus mencari tahu.


Tekad Ariana untuk merubah ibu mertuanya itu semakin besar, karena baginya satu-satunya ibunya di dunia saat ini hanya wanita itu.

__ADS_1


Mulia sekali hati Ariana, semoga berhasil.


__ADS_2