
"Asisten pribadi ?" Olive langsung melotot tak percaya.
"Apa yang sedang kamu rencanakan ?" gumamnya dalam hati.
"Tentu saja, selama ini banyak relasi kerja saya pada bertanya kenapa sekretaris saya kok pria. Kenapa tidak wanita saja agar memberi suasana baru dan saya berpikir kenapa tidak mencobanya saja." tukas Ricko sembari menatap Olive dan Pras bergantian.
"Apa anda berniat menjual saya ?" tuduh Olive.
"Saya sudah kaya buat apa menjualmu." sahutnya dengan nada angkuh.
"Baiklah, Pras. Terima kasih sudah menjadi asisten saya selama ini, kerjamu sangat loyal dan mulai hari ini kamu akan menggantikan posisinya kak Dean." imbuhnya lagi menatap Pras.
"Baik pak, saya akan bekerja lebih baik lagi." sahut Pras senang karena mendadak naik jabatan.
"Sekarang kamu boleh pergi." tukas Ricko.
"Dan kamu tetap di sini, saya akan memberikan mu daftar tugas sebagai asisten pribadi saya." imbuhnya lagi menatap Olive.
Setelah Pras berlalu pergi, kini tinggallah Olive dan Ricko berada di ruangan tersebut.
"Ini tugasmu selama menjadi asisten pribadi saya." Ricko nampak menyerahkan lembaran kertas pada Olive.
"What." Olive langsung melotot saat membacanya.
"Pak, apa anda sedang becanda? ini tidak lucu pak, saya bukan seorang baby sitter." protes Olive setelah membaca tugas-tugasnya tersebut.
"Baby sitter ?" Ricko nampak mengernyit tak mengerti.
"Tentu saja, apa namanya kalau bukan baby sitter. Masa saya harus mengurus anda mulai dari bangun tidur pagi, sampai malam anda mau tidur lagi." rutuk Olive dengan kesal.
Ricko langsung beranjak dari duduknya, kemudian berjalan mendekati gadis itu.
"Bukannya itu memang tugas seorang asisten pribadi? dan ingat saya bukan bayi, karena orang yang kamu sebut bayi ini bisa saja membuatmu memiliki seorang bayi. Mengerti." ucapnya tepat di telinga Olive yang langsung membuat gadis itu meremang sekaligus menelan ludahnya.
"Jadi, segera kembali ke ruanganmu dan pelajari tugasmu dengan baik karena saya tidak menyukai sedikitpun kesalahan." tegas Ricko lagi, kemudian kembali duduk di kursi kerjanya.
"Sialan."
Olive segera berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan kesal, sedangkan Ricko yang melihat itu nampak tersenyum menyeringai.
"Pras, kamu mau kemana ?" tanya Olive saat melihat Pras membereskan barang-barangnya.
"Tentu saja pindah ke ruangan pak Dean." sahut Pras.
"Tapi bagaimana kalau pak Dean cepat kembali ?"
"Tenang saja, sepertinya beliau agak lama di sana." sahut Pras.
"Baiklah." Olive nampak terduduk lemas di kursinya.
Kemudian ia membaca lagi lembaran tugasnya yang di berikan oleh Ricko tadi.
Keesokan harinya...
Olive nampak berlari menyusuri koridor Apartemen Ricko pagi itu, agar tidak terlambat membangunkan laki-laki itu.
"Semoga saja dia belum bangun." gumamnya seraya membuka pintu unit Ricko dengan beberapa angka password.
"Kamu terlambat 3 menit." ucap Ricko saat Olive baru membuka pintunya.
Sedangkan Olive yang melihatnya langsung berjingkat kaget, karena bossnya itu tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu.
"Tapi kan cuma 3 menit pak." sanggah Olive membela diri.
__ADS_1
"Kamu tahu kenapa seseorang susah sekali sukses? itu karena mereka suka memboroskan waktu." tegas Ricko.
"Sekarang cepat masuk dan buatkan saya sarapan." imbuhnya lagi, kemudian ia berlalu pergi menuju kamarnya.
"Sialan."
Beberapa saat kemudian saat Olive baru selesai dengan masakannya, Ricko tiba-tiba keluar kamar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.
"Aaahhh, anda mesum." teriak Olive saat melihat itu, ia langsung menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Di mana pakaian kerjaku ?" tanya Ricko kemudian.
"Pakaian apa? saya tidak tahu." sahut Olive.
"Astaga, apa kamu tidak membaca tugas-tugasmu itu dengan teliti ?" tegur Ricko.
Sedangkan Olive nampak menggelengkan kepalanya.
"Sekarang siapkan pakaianku." perintah Ricko kemudian, setelah itu ia berlalu masuk kamarnya yang di ikutin oleh Olive.
Sesampainya di dalam Olive segera berjalan menuju walk in closet.
"Banyak sekali pakaiannya." gumamnya menatap ruangan tersebut.
Ia segera memilih pakaian kerja untuk bossnya tersebut, lalu saat akan mengambil cel@na dalam wajahnya langsung memanas.
"Ah sial, aku memikirkan apa sih."
Setelah itu ia segera memberikan pakaian kerja tersebut pada Ricko.
"Terima kasih." sahut Ricko.
"Tunggu, apa bapak akan berganti pakaian di sini ?" cegah Olive saat bossnya dengan tak tahu malu akan melepaskan handuknya.
"Dasar mesum." rutuk Olive.
"Makanya berbalik badanlah kalau tidak mau melihat." perintah Ricko kemudian sembari menahan kekehannya karena berhasil menggoda gadis itu.
Setelah Ricko berganti pakaian, ia langsung menyuruh Olive memakaikan dasinya.
"Tolong pakaikan dasiku." perintahnya kemudian.
"Memang bapak tidak bisa memakainya sendiri ?" protes Olive.
"Mulai hari ini, itu akan menjadi tugasmu." tegas Ricko.
"Menyebalkan." gerutu Olive dalam hati.
Ricko sedikit menunduk saat Olive akan memakaikan dasinya, ia nampak menatap lekat gadis itu yang sedang serius memasang dasinya.
"Cantik." gumamnya, lalu pandangannya turun menuju bibir ranumnya.
Ingin sekali ia merasakan lagi bibir tipis dengan warna merah alami itu, pasti rasanya sangat manis seperti sebelumnya.
"Sudah selesai." tukas Olive yang langsung membuyarkan hayalan Ricko.
"Baiklah, terima kasih." sahut Ricko, kemudian berlalu dari hadapan gadis itu sebelum ia khilaf lalu menerkamnya.
Kini mereka berdua sedang berada di meja makan. "Apa kemarin kamu tidur di unitnya kak Dean ?" tanya Ricko di sela mengunyah makanannya.
"Iya." sahut Olive.
"Apa kalian tidur berdua ?" tanya Ricko lagi yang langsung membuat Olive meletakkan garpunya sedikit nyaring.
__ADS_1
"Anda pikir saya wanita apaan, saya hanya membantu pak Dean membereskan barang-barangnya." tegas Olive sedikit kesal.
Sedangkan Ricko nampak bernapas lega. "Saya hanya bertanya kenapa kamu marah." ucapnya datar.
"Pertanyaan anda seperti menghina saya." cibir Olive.
"Saya hanya tidak mau asisten saya hamil di luar pernikahan." tukas Ricko dengan santai namun sukses membuat Olive berang.
"Anda pikir saya wanita apaan, bahkan pacaran saja saya tidak pernah." ucap Olive, ingin sekali ia membungkam mulut bossnya itu dengan saus sambal di depannya tersebut.
Mendengar itu Ricko semakin lega, ternyata ia jatuh cinta pada wanita yang tepat.
"Baiklah, saya sudah selesai." Ricko segera beranjak dari duduknya lalu membawa piring bekas makanannya ke wastafel, kemudian ia mencucinya.
Olive yang melihat itu nampak melebarkan matanya, ternyata Ricko yang terlihat angkuh dan sok berkuasa itu tak segan mencuci piringnya sendiri.
"Apa Apartemen ini juga dia sendiri yang membersihkannya ?." gumamnya seraya mengedarkan pandangannya ke setiap sudut unit tersebut yang terlihat bersih dan rapi.
Sesampainya mereka di kantor, Ricko segera masuk ruangannya dan Olive kembali duduk di kubikelnya.
Berdekatan dengan Ricko membuatnya sesak napas, bagaimana pun ia mencoba untuk bersikap profesional tapi ia tidak bisa membohongi hatinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, nampak Sarah menghampiri mejanya.
"Apa kekasihku ada di dalam ?" tanyanya to the point.
"Ada, Non." sahut Olive.
"Baiklah." dengan senyum mengembang di bibirnya, Sarah segera masuk ke dalam ruangan Ricko.
Sedangkan Olive yang melihat kepergian wanita itu nampak menghela napasnya. "Sabar." batinnya.
"Sayang, tumben menyuruhku kesini pagi-pagi ?" ucapnya pada Ricko.
"Kamu sudah datang, kemarilah." sahut Ricko seraya bangkit dari kursi kerjanya, kemudian ia berjalan mendekati Sarah.
"Ada apa ?" tanya Sarah penasaran.
"Sebelumnya aku minta maaf." tukas Ricko memulai pembicaraan.
"Ada apa sih ?" Sarah makin penasaran.
"Aku ingin mengakhiri semuanya." ucap Ricko menatap gadis itu.
"Aku tidak mengerti apa maksudmu ?" sahut Sarah.
"Aku sudah menemukan wanita yang ku cintai." ucap Ricko yang langsung membuat Sarah tercengang.
"Benarkah? secepat itu, bahkan kita baru bertunangan. Kamu berbohongkan ?" ucapnya tak percaya, matanya mulai mengembun.
"Maafkan aku." sahut Ricko.
"Nggak, ku mohon." Sarah langsung memeluk Ricko.
"Aku mencintaimu Ricko, ku mohon beri aku kesempatan sedikit lagi. Aku pasti bisa membuatmu mencintaiku." ucapkan lagi sembari mengeratkan pelukannya.
"Aku menyayangimu Sarah tapi maafkan aku, aku harus mengakhiri hubungan ini sesuai kesepakatan kita dari awal." tegas Ricko.
"Nggak, Ricko. Aku akan mati jika kamu meninggalkan ku." Sarah mulai histeris.
"Maafkan aku." Ricko segera menenangkan gadis itu dengan mengusap lembut punggungnya.
Sementara itu, Olive yang baru masuk ke dalam ruangan Ricko nampak tercengang saat melihat pasangan kekasih itu sedang berpelukan.
__ADS_1
"Olive." Ricko nampak terkejut saat melihat gadis itu.