Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~42


__ADS_3

Pagi itu Ariana nampak mengerjapkan matanya, ketika mendengar ponsel Demian berdering nyaring. Namun karena masih mengantuk, ia merasa malas membuka matanya lagi.


Belum lagi udara dingin di kamarnya membuatnya semakin memeluk Demian layaknya guling di rumahnya.


Sedangkan Demian yang sudah terbangun dari tadi nampak terkekeh dengan tingkah wanitanya itu. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar proses perceraiannya dengan Monica segera di putuskan oleh pengadilan.


Karena jika seperti ini terus dia takut tidak bisa menahan dirinya, jangankan berpelukan seperti saat ini hanya dengan melihat wanitanya itu saja ia sudah merasakan hasratnya yang langsung naik.


"Sayang, apa aku begitu nyaman hingga kamu tak mau melepaskan ku." bisik Demian tepat di telinga Ariana, sepertinya ia harus segera menjauh dari sana sebelum khilaf menerkam wanita itu.


Mendengar bisikan Demian, Ariana hanya menggumam tak jelas. Sepertinya ia benar-benar masih mengantuk.


"Sayang." bisik Demin lagi, kali ini laki-laki itu sedikit menggigit daun telinga Ariana yang tentu saja membuat wanita itu langsung membuka matanya.


"Mas, kamu ngapain dekat-dekat aku." teriak Ariana ketika melihat Demian ada di sampingnya.


"Yang dekat-dekat siapa sayang, bukannya kamu sendiri yang dari semalam nempelin aku. Sampai aku hampir sesak napas, karena kamu peluk." ledek Demian.


Ariana langsung bergerak menjauh, ah rasanya malu sekali. Ia mengingat semalam yang mendekati Demian duluan karena hawa dingin yang begitu menusuk kulitnya.


Pantas saja semalam tidurnya nyenyak banget, ternyata ia sudah memeluk guling hidup.


"Sayang, mau kemana ?" Demian langsung mencekal tangan Ariana ketika wanita itu akan beranjak dari tidurnya.


"Tentu saja bangun, aku harus segera membuat sarapan." sahut Ariana dengan wajahnya yang masih kemerahan.


"Ini hari minggu sayang, bisa kah kamu bersantai sedikit. Lagipula sudah ada ART yang akan menyiapkan semuanya." Demian menarik lagi Ariana hingga wanita itu tidur kembali di sisinya.


"Mas, tapi bagaimana kalau Ricko mencariku." bujuk Ariana.


"Sepertinya Ricko masih tidur, sayang. Ini baru pukul 7 pagi, lagipula sudah ada Victor yang akan menjaganya." sahut Demian.


"Memang semalam Victor tidur di sini? bukannya kamu bilang kamar tamu belum ada kasurnya ?"


"Victor tidur di rumahnya lah sayang, tapi kemarin aku suruh dia kemari pagi-pagi." sahut Demian.


"Astaga Mas, ini hari minggu loh masa Victor masih kamu suruh kerja juga." protes Ariana.


"Dia ku gaji besar sayang, jadi dia harus siap 24 jam." sahut Demian.


"Benar-benar bos zaman koloni." gerutu Ariana.


"Kamu bilang apa, sayang ?" ujar Demian seraya memeluk Ariana.


"Nggak ada, ih Mas jauh-jauh sana gih aku nggak bisa bernapas." teriak Ariana.

__ADS_1


"Makanya katakan dulu kamu bilang apa tadi ?"


"Aku bilang kamu itu boss zaman koloni, suka semena-mena sama bawahan." sungu Ariana.


"Benarkah? buktinya mereka senang-senang aja kerja sama aku." kilah Demian tak mau kalah.


"Tau ah." Ariana langsung memunggungi laki-laki itu.


Sedangkan Demian nampak terkekeh, namun kemudian wajahnya berubah pias ketika mengingat seseorang.


"Sayang." panggilnya kemudian.


"Hm."


"Siapa itu Ed ?" tanya Demian serius.


Mendengar perkataan Demian, Ariana langsung berbalik badan menatap laki-laki itu. Mungkin ini saatnya dia harus membahasnya, lagipula ia tidak ingin ada rahasia dalam hubungan mereka.


"Dia....." Ariana menjeda ucapannya.


"Dia Edgar." lanjutnya lagi.


"Edgar ?" Demian nampak memicingkan matanya, nama yang begitu tidak asing baginya.


"Iya Edgar, sahabat kamu." sahut Ariana yang langsung membuat Demian bangun dan menyenderkan tubuhnya di headboard ranjang.


"Kamu mengenalnya ?" ucapnya dengan nada dingin.


Seingat Demian, ia tidak pernah mengenalkan Ariana pada Edgar dan hanya Gilang satu-satunya sahabatnya yang ia kenalkan 8 tahun silam.


"Tentu saja, waktu itu Edgar yang menemani ku sepanjang pesta. Karena seseorang yang mengajakku justru sedang sibuk bermesraan dengan wanita lain." cibir Ariana, rasanya masih sakit ketika mengingat peristiwa 8 tahun silam itu.


"A-aku waktu itu...." Demian rasanya ingin memutar waktu lagi kalau bisa, dirinya dahulu yang seorang player selalu tidak tahan jika melihat wanita cantik.


Dan sekarang ia hanya bisa menyesali kebodohannya dulu, sungguh dia tidak menyangka ternyata Ariana mengenal baik Edgar.


Tidak, Ariana tidak boleh dekat-dekat dengan Edgar. Edgar adalah sosok laki-laki yang sempurna dan ia takut jika Ariana akan menyukai laki-laki itu.


"Sudah lupakan saja, aku dan Edgar hanya berteman." sela Ariana, kemudian ia langsung beranjak dari ranjangnya.


"Sayang." Demian langsung mengejar Ariana lalu memeluknya dari belakang.


"Maafkan, aku." ucapnya kemudian.


"Aku bilang lupakan saja." sahut Ariana.

__ADS_1


"Kamu nggak marah kan ?" tanya Demian memastikan.


"Marah buat apa juga, bukannya itu semua sudah berlalu." sahut Ariana.


"Terima kasih sayang, kamu memang yang terbaik." Demian nampak mencium puncak kepala Ariana dengan gemas.


"Aku mau melihat Ricko, mas. Bisa lepaskan tidak ?" pinta Ariana.


"Bisa tapi berjanjilah dulu." Demian mengurai pelukannya lalu memutar tubuh Ariana agar menghadap ke arahnya.


"Janji apa ?"


"Jangan dekat-dekat dengan Edgar lagi." pinta Demian.


"Kita hanya berteman, mas. Lagipula dia juga sudah tahu kita ada Ricko."


"Pokoknya aku tidak mau tahu sayang, kamu harus menjauhi Edgar." ujar Demian dengan menekankan perkataannya.


"Hm, baiklah." akhirnya Ariana hanya mengangguk pasrah, karena membantah pun juga percuma.


Disisi lain, pagi itu Monica segera pergi ke rumah mertuanya. Ia sudah tidak tahan menyimpan kenyataan pahit tentang Demian seorang diri.


"Mau ngapain kamu pagi-pagi kemari ?" sinis nyonya Anggoro ketika melihat Monica baru masuk ke dalam mansionnya.


Sepertinya wanita paruh baya itu masih belum bisa memaafkan menantunya tersebut.


"Ma, ku mohon maafkan aku. Aku sangat menyesal." mohon Monica.


"Pergilah Mon, lagipula sebentar lagi kalian juga akan berpisah kan." ujar nyonya Anggoro dingin.


"Jadi mama juga setuju Demian menceraikan ku ?" Monica nampak tak percaya, selama ini ibu mertuanya itulah yang membuatnya bertahan hingga sampai sekarang.


"Mungkin itu lebih baik, pernikahan kalian tidak ada perkembangan sama sekali dan keluarga Anggoro juga butuh seorang penerus. Apalagi usia Demian sudah tidak muda lagi, jadi untuk apa dia bertahan dengan pernikahan yang tak bisa di harapkan." tegas nyonya Anggoro.


Deg!!


Monica terbelalak, sepertinya harapannya untuk bersama Demian sudah pupus. "Tapi aku masih mencintai Demian, ma." ucapnya mengiba.


"Demian akan menikah dengan wanita yang akan memberikannya keturunan." tegas nyonya Anggoro lagi.


Monica nampak terisak, dirinya bukan tidak bisa memberikan keturunan. Hanya saja, Demian tak pernah menyentuhnya selama ini.


Monica nampak mengepalkan tangannya, kemudian ia mengambil ponsel di dalam tasnya.


"Apa wanita seperti ini yang mama inginkan untuk memberikan keluarga ini keturunan ?"

__ADS_1


Monica menunjukkan beberapa foto Demian dan Ariana yang nampak saling bergandengan tangan dengan mesra dan itu membuat nyonya Anggoro langsung terbelalak.


__ADS_2