Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~65


__ADS_3

"Victor, apa yang kamu lakukan di sini ?" tanya Ariana seramah mungkin.


Tentu saja dia harus ramah, kalau bisa akan mentraktir laki-laki itu makan siang agar tutup mulut.


"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan pada anda, nyonya." sahut Victor seraya menatap Edgar berharap laki-laki itu tahu diri dan segera pergi dari sana.


Merasa di perhatikan oleh Victor, Edgar tersenyum sinis. "Bicaralah Vic, aku tidak akan mengganggu." ucapnya yang nampak enggan bangkit dari kursinya.


"Tapi ini masalah pribadi, tuan." tegas Victor setelah Edgar tak kunjung pergi.


"Masalah Ariana juga akan menjadi masalahku, Vic." sergah Edgar.


Ia takkan meninggalkan Ariana, karena Victor bisa saja melakukan hal buruk pada wanita itu.


"Ed, ku mohon pergilah jangan menyulitkan ku. Aku akan baik-baik saja." mohon Ariana.


Edgar menghela napasnya, kemudian dia bangkit dari duduknya.


"Baiklah, tapi segera kabari aku kalau ada apa-apa." ucapnya seraya menatap Ariana, kemudian berbalik menatap Victor dengan tajam dan setelah itu ia berlalu pergi dari sana.


"Duduklah Vic, kamu mau bicara apa? atau mau ku pesankan makan siang." ucap Ariana dengan ramah.


"Saya sedang tidak ada waktu Nyonya, saya cuma mau mengingatkan anda untuk tidak lagi bertemu dengan tuan Edgar atau pun laki-laki lain lagi. Apalagi sampai berpegangan tangan seperti tadi, karena tuan Demian pasti tidak akan suka." ujar Victor dengan nada ancaman.


Ariana langsung mendengus kesal, apa Demian mulai memata-matainya.


"Katakan pada bossmu itu, dia tidak punya hak melarangku berteman dengan siapa pun apalagi memata-mataiku." kesal Ariana.


"Anda hanya tinggal menurut saja nyonya, kalau tidak mau hak asuh Ricko jatuh pada tuan Demian." Victor memperingatkan lagi.


"Baiklah, hanya itu saja kan ?" Ariana bangkit dari duduknya.


"Iya nyonya." angguk Victor.


"Menyebalkan."


Ariana langsung menghentakkan kakinya di hadapan Victor kemudian berlalu pergi meninggalkan laki-laki itu.


Victor yang melihat kekesalan Ariana nampak mengulas senyumnya.


"Pantas saja tuan jatuh cinta pada anda nyonya, ternyata marahpun anda terlihat lucu."


Tak berapa lama Demian langsung menghampiri Victor. "Bagaimana Vic ?" tanyanya.

__ADS_1


Rupanya sedari tadi Demian sudah mengawasi mereka dari kejauhan.


"Sudah tuan, sepertinya mereka tidak akan bertemu lagi." sahut Victor.


"Baguslah, kamu awasi terus dan jangan lengah." perintah Demian seraya duduk di bangku yang Ariana duduki tadi.


"Anda mau makan siang tuan? bagaimana kalau saya carikan meja lain saja." tawar Victor, karena bekas makan Ariana dan Edgar tadi masih berada di sana.


"Tidak, kita kembali ke kantor saja."


Demian nampak mengambil sisa jus mangga kesukaan Ariana yang baru di minum sedikit, lalu ia meminumnya hingga tandas.


"Mau saya pesankan, tuan ?" tanya Victor ketika melihat atasannya itu bertingkah absurd dengan meminum jus orang lain.


"Tidak perlu, saya hanya tidak suka jika bekas bibir wanitaku akan di nikmati oleh orang lain." sahut Demian seraya bangkit dari duduknya.


Sedangkan Victor hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, ternyata cinta bisa mengalahkan logika.


Setelah itu mereka segera meninggalkan restoran tersebut.


"Mau apa kamu datang kesini ?" Ariana yang baru membuka pintu rumahnya sore itu nampak mendengus kesal ketika melihat Demian sudah berada di depannya.


"Tentu saja bertemu putraku." sahut Demian angkuh.


"Masuklah aku akan memanggilnya dan ingat batasmu sampai lantai satu saja." ujar Ariana kemudian berlalu pergi.


"Mau ngapain kamu membawanya kesana ?" tanyanya dengan pandangan curiga.


"Tentu saja bertemu dengan kakek dan neneknya." sahut Demian.


"Aku tidak mengizinkan." tegas Ariana.


"Mereka juga keluarganya dan Ricko harus belajar mengenalnya, kamu tenang saja aku akan menjaganya dengan baik. Lagipula hari ini kami akan membicarakan masalah pertunangan ku, jadi bukannya Ricko harus mengenal calon ibu tirinya ?" ucap Demian seraya menekankan kata 'ibu tiri'.


"Dasar playboy kunyuk baru juga bercerai sudah mau nikah lagi." gerutu Ariana kesal.


"Apa kamu bilang ?" tanya Demian yang pura-pura tidak mendengar ucapan Ariana.


"Tidak lupakan saja, baiklah aku mengizinkan Ricko pergi asal mbak Surti juga ikut bersamanya." sahut Ariana.


Surti adalah pengasuh Ricko sejak mereka tinggal di rumah itu dan tanpa Ariana tahu, Surti adalah orang kepercayaan Victor dan termasuk semua karyawan yang bekerja di rumah itu adalah orang-orangnya Victor.


"Terserah kamu saja." sahut Demian dengan menahan tawanya karena kentara sekali wanita itu sedang cemburu.

__ADS_1


"Makanya jadi orang jangan terlalu naif sayang, nggak enakkan cemburu."


Demian semakin terkikik ketika melihat Ariana menghentakkan kakinya menaiki anak tangga, sepertinya wanita itu benar-benar sangat cemburu saat ini.


Sementara itu di sebuah Mansion yang terlihat bak istana di negeri dongeng sore itu terlihat beberapa orang lalu lalang di sana.


Mereka sedang menyiapkan untuk acara nanti malam, sedangkan nyonya Anggoro sedang bersiap di kamarnya.


"Pa, apa ini bagus ?" tanyanya pada sang suami yang sedang membaca koran di sofanya.


"Apapun yang kamu kenakan selalu bagus, Ma." sahutnya tanpa menoleh pada sang istri.


"Bagaimana Papa bisa bilang bagus, melihatnya saja tidak." rajuknya.


"Iya aku lihat, lagipula untuk apa kamu harus tampil maksimal. Lagipula ini hanya makan malam biasa seperti sebelum-sebelumnya."


"Ini akan menjadi hari spesial buat putra kita, Pa."


"Apa kamu tidak terlalu terburu-buru, Demian itu baru saja bercerai. Apa kamu tidak takut media akan membuat berita yang aneh-aneh." Tuan Anggoro memperingatkan.


Sebenarnya ia tidak menyetujui rencana sang istri untuk menjodohkan Demian dengan Jessica, lagipula sudah ada Ariana yang jelas-jelas sudah memberikannya cucu.


Namun ternyata Demian mempunyai rencana lain dan meminta ayahnya itu untuk mengikuti kemauan ibunya saja.


"Aku tidak peduli Pa, aku harus buru-buru menyatukan mereka sebelum wanita rendahan itu merebut Demian."


"Matamu terlalu di butakan oleh harta dan kedudukan Ma, berhati-hatilah karena suatu saat itu bisa saja menghancurkan mu." Tuan Anggoro memperingatkan.


"Sudahlah Pa jangan ceramah di depan Mama, Mama melakukan ini semua hanya untuk menyelamatkan kehormatan keluarga kita." sungut nyonya Anggoro.


tokk


tokk


Terdengar ketukan pintu dari luar, kemudian nyonya Anggoro langsung membukanya.


"Maaf nyonya besar, para tamu sudah datang." ucap seorang laki-laki dengan dasi kupu-kupunya.


"Baiklah, layani mereka dengan baik, kami akan segera turun." titah nyonya Anggoro, setelah itu ia langsung menutup pintunya kembali.


Wanita itu mendengus kesal, ternyata perdebatannya dengan sang suami tak terasa memakan waktu hingga malam sampai ia belum selesai bersiap-siap.


Sedangkan Demian yang baru turun dari mobilnya bersama Ricko nampak saling bergandengan tangan.

__ADS_1


"Siap, boy ?" ujar Demian sebelum masuk ke dalam Mansion orang tuanya.


"Siap, Dad." sahut Ricko seraya mengedipkan matanya yang langsung membuat Demian mengacak rambutnya dengan gemas.


__ADS_2