
Ehmmm
Demian berdehem ketika baru memasuki Mansion yang langsung membuat semua orang yang berada di ruang keluarga tersebut menatap ke arahnya.
Nyonya Anggoro nampak girang ketika melihat Demian, akhirnya putranya itu datang juga. Namun pandangannya kemudian jatuh pada anak kecil di sisi putranya tersebut.
Anak itu terlihat memakai stelan berwarna putih dan dasi kupu-kupu yang nampak sangat tampan persis waktu Demian kecil dulu.
"Semoga saja anak itu tidak merusak acara malam ini." batin nyonya Anggoro.
"Dem apa kabar? lama tidak bertemu, aku sangat merindukan mu." Jessica yang bangkit dari duduknya langsung melangkahkan kakinya ke arah Demian dan ingin memeluk laki-laki itu.
Namun Ricko langsung menggeser badannya tepat di depan ayahnya sembari tersenyum nyengir, hingga membuat Jessica mengurungkan niatnya.
"Apa dia putramu ?" Jessica menatap Ricko seraya mengacak rambutnya dengan gemas, namun Ricko langsung buru-buru merapikannya kembali.
"Kenalkan dia putraku, namanya Ricko. Ayo Nak beri salam pada semua orang." ujar Demian, kemudian memerintahkan putranya itu untuk menyapa.
Ricko langsung menyapa satu persatu tamu di sana dengan takzim. Ketika sedang mencium tangan sang nenek, wanita itu nampak akan mengusap kepala Ricko. Namun ia segera menarik tangannya kembali.
Sepertinya rasa gengsi masih menyelimuti hati wanita paruh baya tersebut.
"Hallo cucunya kakek, bagaimana sekolahmu hari ini hm ?" tuan Anggoro langsung memangku Ricko saat bocah kecil itu menghampirinya.
"Baik kek." sahut Ricko.
"Baiklah karena sudah berkumpul semuanya, ayo kita mulai makan malamnya." ujar nyonya Anggoro.
Nampak beraneka ragam makanan mewah terhidang di meja panjang tersebut.
Demian yang terlihat sangat malas langsung mendudukkan dirinya di samping sang ayah, namun ketika Jessica akan duduk di sebelahnya Ricko sudah terlebih dahulu menduduki kursinya.
"Sialan nih bocah, dari tadi selalu mengganggu momenku bersama Demian."
Gerutu Jessica dalam hati seraya menatap tak suka pada Ricko, sedangkan bocah kecil itu hanya menanggapinya dengan senyuman nyegir tanpa dosa.
Demian yang sedang sibuk dengan ponselnya nampak menahan tawanya, sepertinya putranya itu sudah melakukan tugasnya dengan baik.
"Dem, kamu sudah tahu kan kalau sebenarnya makan malam ini untuk membicarakan pertunangan mu dengan Jessica. Dulu kalian pernah satu kampuskan dan seingat mama kalian dulu juga sangat dekat." ujar nyonya Anggoro membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Kami dulu memang sangat dekat tante, lebih dekat dari sekedar pacaran malahan. Iyakan Demian? karena aku adalah wanita pertama yang dia kencani." Jessica nampak malu-malu menceritakan masa lalunya semasa mereka kuliah dulu.
"Bahkan mungkin saja dulu aku adalah cinta pertamanya dia." imbuhnya lagi percaya diri mengingat bagaimana ia dulu sangat dekat dengan Demian.
Mendengar perkataan Jessica, Demian nampak tersenyum sinis, tidak ada cinta pertama dalam kamus hidupnya. Kecuali cinta satu malam, karena sejak remaja ia sudah menggilai banyak wanita cantik.
Berkat ketampanan dan kekayaan keluarganya, dengan mudah ia membuat wanita-wanita cantik melemparkan tubuhnya dengan sukarela ke atas ranjangnya.
Namun itu dahulu sebelum ia bertemu dengan Ariana, seorang gadis penyapu jalanan yang mampu merontokkan kesombongannya sekaligus mempora-porandakkan hatinya.
Mengingat Ariana, Demian jadi merindukan wanita keras kepala itu. Sedang apa dia sekarang? semoga saja dia cepat menyadari kesalahannya dan mau mengakui perasaannya.
"Dari dulu aku memang selalu dekat dengan banyak wanita cantik." sanggahnya kemudian yang langsung membuat Jessica menyurutkan senyumnya.
Sedangkan tuan Anggoro nampak tertawa nyaring. "Namanya juga anak muda, biarlah mereka berpuas diri saat masih sendiri dan harus menghentikannya saat berumah tangga. Benar begitu Rud ?" ujarnya seraya menatap Rudy Santoso ayah dari Jessica.
"Oh, ten-tentu saja. Aku yakin setelah mereka menikah pasti akan menjadi pasangan yang bahagia." sahut Rudy sedikit gugup karena dirinya sendiri juga suka bermain perempuan di belakang Siska sang istri.
Ehmmm
Nyonya Demian nampak berdehem. "Jadi bagaimana Dem, kamu tidak masalah kan dengan perjodohan ini ?" tanyanya pada Demian.
"Terserah Mama saja, bukannya dari dulu aku tidak berhak memilih." sarkasnya.
Sepertinya putranya tersebut sudah menyadari wanita mana yang pantas mendampinginya.
"Akhirnya kita besanan, Jeng." nyonya Siska terlihat sangat bahagia.
"Terima kasih Dem, tidak sia-sia aku menunggumu sekian lama." ucap Jessica dengan wajah berbinar-binar.
"Hmm." Demian hanya berdehem tanpa menatap Jessica yang sedang duduk di sebelah Ricko.
"Ngomong-ngomong setelah kita menikah nanti apa anakmu juga akan ikut kita ?" tanya Jessica.
Demian langsung menatap wanita itu tak suka. "Tentu saja, bahkan aku sedang mengurus hak asuhnya." sahut Demian berbohong.
Sedangkan Ricko yang sedang di pandang oleh Jessica dengan tatapan dingin, nampak tersenyum nyengir padanya. Seolah-olah bocah kecil itu sedang mengejeknya.
"Sialan, bocah tengil ini pasti akan merepotkan ku nantinya."
"Bukannya sebagai seorang istri dan ibu yang baik, kamu juga akan menyayangi anakku ?" imbuh Demian lagi.
__ADS_1
"Ten-tentu saja, aku pasti akan menjadi ibu yang baik buat anak kamu. Iya kan, Nak ?" ucap Jessica seraya memegang bahu Ricko.
Ricko yang sedang memegang gelas minuman dengan refleks langsung menumpahkannya pada pakaian Jessica.
"Apa yang kamu lakukan dengan pakaianku ?" bentak Jessica tanpa sadar hingga membuat semua orang di sana menatapnya, termasuk nyonya Anggoro yang terlihat terkejut dengan sikap Jessica tersebut.
"Maaf tante, Ricko nggak sengaja." ucap Ricko dengan mimik memelas.
Jessica yang menyadari semua orang menatapnya, langsung melembutkan suaranya.
"Nggak apa-apa kok, sayang." ucapnya dengan memaksakan senyumnya.
"Jess, lebih baik kamu bersihkan dulu bajumu di kamar tamu." perintah nyonya Anggoro yang melihat pakaian Jessica basah karena terkena tumpahan jus jeruk.
"Tapi aku nggak bawa pakaian ganti, tante." rengek Jessica.
"Baiklah, kalau begitu biar Demian yang akan mengantarmu pulang." ujar nyonya Anggoro yang langsung membuat Jessica tersenyum senang.
Akhirnya ia bisa berduaan dengan Demian tanpa di ganggu oleh anaknya tersebut.
"Ricko ngantuk, Dad." rengek Ricko seraya mengucek matanya.
Nyonya Anggoro yang sedang duduk di hadapannya, mau tak mau langsung membujuknya agar cucunya tersebut tidak mengganggu ayahnya bersama Jessica.
Bagaimana pun Demian dan Jessica harus sering menghabiskan waktu berdua agar semakin dekat.
"Ricko, kamu tidur di rumah nenek saja ya." bujuk nyonya Anggoro.
"Tapi besok Ricko sekolah." tolak Ricko.
"Besok pagi kan bisa di antar pak sopir." bujuk nyonya Anggoro lagi.
"Tapi Ricko tidak bisa tidur, kalau tidak di temani sama Daddy." rajuk Ricko memelas sembari memegang lengan Demian.
"Maaf Jess, sepertinya kamu harus pulang bersama Om dan tante. Kamu lihat sendiri kan putraku tidak bisa di tinggal." ujar Demian kemudian.
Jessica yang tadinya nampak cemberut langsung mengulas senyumnya, karena Demian berbicara lembut padanya.
"Nggak apa-apa, aku ngerti kok." sahutnya dengan tak kalah lembut.
Demian yang melihat senyuman palsu Jessica, nampak sinis. Mengingat bagaimana wanita itu sudah merundung Ariana di dalam hotel waktu itu.
__ADS_1
"Tersenyumlah sebanyak yang kamu bisa, karena tak lama lagi kamu akan lupa bagaimana caranya tersenyum."
Gumam Demian seraya mengeraskan rahangnya dan tangannya nampak mengepal, ia pasti akan membalas setiap kesakitan yang di alami oleh Ariana.