
Malam itu Ariana nampak gelisah karena memikirkan Demian yang sedang berkencan dengan Jessica.
"Percuma juga aku memikirkannya, palingan dia juga sedang bersenang-senang dengan wanita itu. Ayo Ariana move on dan lupakan Demian."
Ariana nampak kesal sendiri, sedari tadi ia hanya bolak-balik di atas ranjangnya.
"Apa sebaiknya aku terima tawaran Edgar saja untuk menikah dengannya, meski aku tak mencintainya tapi ku pikir dia akan menjadi ayah yang baik buat Ricko."
"Tapi, bagaimana kalau Demian mengambil hak asuh Ricko ?"
Ariana terlihat frustrasi dengan pemikiran-pemikirannya sendiri, ibaratnya maju salah mundur pun dia juga salah.
Dan karena lelah dan malampun mulai larut, akhirnya ia juga mulai terlelap tidur.
Sementara itu Demian yang baru sampai di rumah Ariana, langsung membuka pintu rumah tersebut dengan sidik jarinya.
"Maling." teriak seorang ART di sana yang melihat seseorang sedang berjalan mengendap-endap.
ART tersebut langsung mengambil sebuah sapu lalu memukul Demian secara membabi buta.
"Bik, ini saya." tegur Demian kesal karena sapu ARTnya tersebut berhasil mendarat di punggungnya.
"Eh, tuan maaf." ART tersebut langsung menyalakan lampu.
"Makanya lihat-lihat dulu." ujar Demian.
"Maaf tuan habisnya gelap, apa tuan baik-baik saja ?" ART tersebut nampak sangat bersalah sekaligus takut.
"Tidak apa-apa, apa putraku sudah tidur ?" tanya Demian.
"Sudah dari tadi, tuan." sahut ART tersebut seraya melihat jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari.
"Nyonya ?" tanya Demian lagi.
"Sepertinya sudah tidur juga, tuan."
"Baiklah jangan katakan pada siapapun kalau saya datang kesini." titah Demian.
"Baik, tuan."
"Kalau begitu bibik bisa kembali tidur." perintah Demian, kemudian ia berlalu menaiki anak tangga.
Demian membuka pintu kamar Ariana dengan perlahan agar si pemilik kamar tidak terbangun.
Meski lampu kamar tersebut terlihat temaram, tapi Demian bisa melihat wanitanya itu nampak tertidur pulas.
"Aku sangat merindukanmu, sayang." gumam Demian lirih seraya menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Ariana.
Lalu di kecupnya dahi wanita itu, setelah itu ia mengecup bibirnya.
__ADS_1
"Bahkan aku sangat candu dengan bibir indahmu ini." gumamnya lagi sesaat setelah mengecupnya.
Merasa tak puas hanya dengan memandangnya saja, dengan pelan Demian merangkak ke atas ranjang lalu merebahkan dirinya di samping Ariana.
Di pandanginya wajah yang begitu teduh itu dengan lekat, wajah yang menyimpan banyak kesedihan akhir-akhir ini karena rencana sialan Victor.
"Maafkan aku, sayang." gumamnya seraya mengusap lembut pipi Ariana yang nampak tak terusik oleh perbuatannya.
Kemudian di kecupnya lagi bibir tipis nan lembut itu dengan penuh perasaan, tak puas mengecupnya ia sedikit mengulumnya lalu melum😘tnya.
Kemudian di turunkannya bibirnya ke leher Ariana yang lembut dan putih itu, di hirupnya dalam-dalam wangi tubuhnya yang selalu membuatnya candu.
Karena tak ada reaksi juga, Demian nampak memberikan ciuman-ciuman kecil di sana hingga membuat Ariana mengerang dalam tidurnya.
Bahkan laki-laki tak segan memberikannya tanda kepemilikan yang mungkin saja akan membuat wanita itu terkejut keesokan harinya
"Aku mencintaimu, sayang."
Demian nampak menyusuri leher jenjang wanita itu dengan bibirnya kemudian turun ke punggungnya.
Hingga membuat Ariana mendesah pelan, namun matanya masih terpejam. Mungkin saja ia menganggap semua ini hanya mimpinya belaka.
Sepertinya Demian lupa akan pesan Victor, bahkan kini laki-laki itu mulai melepaskan kancing piyama Ariana satu persatu.
"Bagaimana aku bisa berhenti sayang, kamu selalu membuatku menginginkan mu lagi dan lagi."
Namun tiba-tiba ponselnya yang sengaja ia silent nampak bergetar terus menerus di dalam saku celananya.
"Sialan."
Demian langsung bangkit dari tubuh Ariana lalu mengecek ponselnya.
"Tuan, tolong tahan sebentar. Kalau tidak mau rencana yang kita susun gagal."
Sepertinya Victor sangat tahu apa yang sedang di lakukan oleh bossnya saat ini, hingga ia berani mengirim pesan peringatan.
"Sialan kamu Vic, awas saja setelah semua ini selesai akan ku buat kamu panas dingin."
Demian nampak mengumpat asistennya tersebut, karena sudah berani mengganggunya.
Akhirnya ia hanya bisa menatap nanar wanita setengah polos di depannya tersebut dan setelah itu dengan berat hati ia mulai merapikan pakaian tidur Ariana lalu menyelimutinya kembali.
"Tidurlah sayang, mimpi indah. Maafkan aku mungkin selanjutnya akan membuatmu sedikit terluka, tapi percayalah setelah itu kita akan selalu bersama selamanya."
Demian mengecup dahi Ariana, kemudian ia segera melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Keesokan harinya.....
Ariana nampak mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari yang melewati celah gorden mengenai matanya.
__ADS_1
"Aku bangun kesiangan." gumamnya seraya melihat jam dinding menunjukkan pukul 7 pagi, putranya itu pasti sudah berangkat ke sekolah.
Kemudian ia memejamkan matanya kembali, mengumpulkan serpihan-serpihan mimpinya yang entah kenapa terasa begitu nyata.
Apa ia begitu merindukan Demian, hingga semalam memimpikan laki-laki itu sedang mencumbunya.
"Bagaimana aku bisa melupakannya, bahkan di dalam tidur pun aku memimpikan setiap sentuhannya."
Ariana tiba-tiba meremang mengingat mimpinya yang begitu liar semalam, sebagai seorang wanita dewasa dan normal jujur ia juga membutuhkan sentuhan dari laki-laki yang ia cintai.
Tidak mau terlalu larut dalam lamunannya, Ariana segera beranjak dari ranjangnya lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Ia berdiri di depan kaca kemudian di bukanya pakaiannya satu persatu, namun ia langsung melotot ketika melihat dadanya yang penuh bercak kemerahan.
Kemudian ia langsung mengikat rambutnya untuk melihat lehernya apa juga bernasib sama.
"Oh astaga apa yang telah terjadi, siapa yang melakukan ini semua ?"
Ariana menatap horor dirinya dari pantulan cermin, ia melihat beberapa jejak kemerahan di kulit lehernya.
"Siapa yang melakukan ini, tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarku kecuali Ricko dan Demian dan tidak mungkin Demian yang melakukan ini semua. Bukannya dia sedang kencan dengan wanita itu dan tak ada tanda-tanda dia datang kemari."
Seketika bulu kuduk Ariana langsung berdiri dan akhirnya ia mengurungkan mandi paginya lalu kembali mengenakan piyama tidurnya.
"Bik, apa semalam ada yang datang ?" tanya Ariana ketika baru menuruni anak tangga.
"Tidak ada, Bu." sahut ARTnya.
"Bibik yakin ?" desak Ariana yang kini mendudukkan dirinya di meja makan.
"Iya buk tidak ada yang datang semalam." sahut ART tersebut.
"Lalu....." Ariana menjeda perkataannya, tiba-tiba ia langsung merinding.
"Jangan-Jangan ada setan genit di kamar.
"Ibu baik-baik saja ?" ART tersebut nampak khawatir.
"Ten-tentu saja." Ariana langsung memasukkan sepotong roti ke dalam mulutnya agar tak kelihatan sedang gugup.
Sementara itu di sisi lain, di sebuah hotel bintang lima nampak seorang wanita sedang tidur pulas dalam dekapan seorang laki-laki.
"Demian aku mencintaimu, akhirnya kamu menjadi milikku juga." ucapnya seraya mengeratkan pelukannya, rasanya malas sekali untuk membuka matanya setelah mengingat percintaan panasnya semalaman.
Namun bunyi ponsel yang berdering nyaring membuatnya mau tak mau membuka matanya.
"Si-siapa kamu ?"
Jessica nampak terbelalak ketika melihat seorang laki-laki asing bertelanjang dada sedang tidur di sampingnya.
__ADS_1