Menggenggam Rindu

Menggenggam Rindu
Part~214


__ADS_3

Sera nampak terisak dalam pelukan Martin, ingin sekali ia egois memiliki pria itu sendiri. Lalu bagaimana dengan Lusi?


"Kalau terus menangis wajahmu jadi jelek, sayang." Martin mengurai pelukannya lalu mengusap air mata Sera.


"Aku memang jelek." sahut Sera.


Martin terkekeh gemas, kemudian ia membingkai wajah wanita itu dengan kedua telapak tangannya.


"Kamu akan tetap cantik di mataku." ucapnya seraya menatap lekat wanitanya itu, lalu di kecupnya bibir tipis itu dengan lembut.


Bagaikan magnet yang enggan terpisah, mereka nampak saling memejamkan mata menikmati penyatuan bibirnya.


Saling melum😘t dan menyesap satu sama lain hingga terdengar erangan dari keduanya saat merasakan desiran aneh dalam darahnya.


Seakan ingat sesuatu, Martin segera menyudahi panggutannya lalu mengusap bibir wanita itu yang basah karena ulahnya.


"Aku ada kejutan buat kamu, ayo." ajaknya seraya menarik lembut pergelangan tangan Sera.


"Mau kemana ?" Sera menghentikan langkah Martin.


"Kejutan." sahut Martin dengan mengulas senyumnya, kemudian ia menarik lagi tangan wanita itu agar mengikuti langkahnya.


"Tunggu." cegah Sera.


"Apalagi, sayang." Martin terlihat gemas melihat wanitanya itu.


"Wajahmu kenapa lebam semua ?" tanya Sera menatapnya khawatir, pria itu sepertinya habis di pukuli oleh seseorang.


"Aku baik-baik saja, ayo." sahut Martin yang nampak enggan menjawab pertanyaan Sera.


Kemudian ia segera mengajak wanita itu meninggalkan kamarnya menuju sebuah aula di hotel tersebut.


Di sana nampak banyak sekali para undangan yang sudah datang hingga membuat Sera enggan untuk masuk.


"Tunggu, aku bisa masuk sendiri nanti. Tolong lepaskan tanganku dan masuklah duluan, aku takut Lusi akan salah paham melihat kita seperti ini." ucapnya dengan menghentikan langkah Martin, ia mencoba melepaskan tangannya dari genggaman pria itu namun gagal.


"Itu tidak masalah, bagaimana aku bisa memberikan kejutan kalau kamu tidak segera masuk." bujuk Martin.


"Tapi Lusi....." Sera menggantung ucapannya saat Martin memotongnya.


"Aku tidak suka penolakan." potong Martin lalu membawa Sera masuk ke dalam.


Sera yang baru menginjakkan kakinya masuk ke dalam aula tersebut, nampak menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap para undangan di sana yang pasti akan menyebutnya sebagai seorang wanita perebut.


"Tuhan tolong lindungi aku." Sera nampak merem@s kuat genggaman Martin, tangannya mendadak dingin dan berkeringat.

__ADS_1


"Semua akan baik-baik saja, sayang." ucap Martin menenangkan seakan ia tahu wanitanya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Bunda." teriak beberapa anak-anak yang langsung membuat Sera terkejut, ia mengenali suara itu. Suara anak-anaknya, apa ini halusinasinya?


Sera langsung mengangkat wajahnya dan ia benar-benar terkejut saat melihat wajah-wajah polos anak-anaknya sedang tersenyum menatapnya.


"Apa ini mimpi? bagaimana kalian bisa ada di sini ?" ucapnya tak percaya.


"Bunda kan mau menikah sama Daddy, jadi kami ingin mendampingi Bunda." sahut Alex.


"Benar Bunda." sahut Merry membenarkan ucapan sang kakak.


"A-apa menikah ?" Sera nampak terkejut lalu ia menatap Martin meminta penjelasan.


Martin yang sedang berdiri di sisihnya langsung menekuk kakinya, menjadikan sebelah lututnya sebagai tumpuhan di lantai.


"Will you marry me ?" ucapnya dengan menyentuh sebelah tangan Sera.


Sera yang melihat itu nampak diam terpaku, kemudian ia mengangkat wajahnya lalu mengedarkan pandangannya ke setiap sudut tempat itu.


Nampak wajah para tamu undangan yang terlihat antusias menatapnya.


"Terima."


Suara para tamu undangan nampak bergema memenuhi aula tersebut, mereka seakan mendukungnya untuk menikah dengan Martin.


Lalu di mana Lusi? Sera tak melihat keberadaan wanita itu di sana.


"La-lalu bagaimana dengan Lusi ?" ucapnya lirih menatap Martin dan tak berapa lama kemudian nampak sebuah layar besar menampakkan keberadaan Lusi di sana.


"Hallo kakak ipar, maaf tidak hadir dalam pernikahan kalian. Saat kalian melihat video ini mungkin aku sudah dalam perjalanan keluar negeri. Maaf aku terlambat menyadari kalau sebenarnya aku yang terlalu muda ini tak pantas bersanding dengan kak Martin yang menurutku sudah terlalu tua." ucap Lusi sambil terkekeh.


"Kak Martin lebih cocok denganmu dan keenam anak-anaknya, jadi tolong jaga kak Martin. Kak Helena di atas sana pasti sangat bahagia melihat kalian bersatu kembali." imbuhnya lagi dan setelah itu layar tersebut mati.


Sera nampak terharu, ia tidak percaya Lusi mempunyai hati yang lapang sama seperti Helena.


"Terima kasih." ucapnya dalam hati.


"Jadi nona Sera Winata, mau kah kamu menikah denganku ?" ucap Martin lagi yang masih dengan posisinya semula, meski lututnya sudah terasa kram tapi ia tak peduli.


"Hm." angguk Sera menatap Martin.


"Hm apa ?" Martin nampak menaikkan sebelah alisnya pura-pura tak mengerti dengan jawaban wanita itu.


"Ya, aku mau menikah denganmu." sahut Sera dengan mengulas senyumnya, meski pelupuk matanya kini nampak mengembun karena terharu.

__ADS_1


"Terima kasih." sahut Martin, lalu mengecup punggung tangan wanitanya itu, setelah itu ia mulai berdiri.


"Ada satu kejutan lagi buatmu." bisik Martin lagi.


"Jangan macam-macam." protes Sera, saat ini jantungnya sudah seperti lari marathon. Jangan sampai ia mendadak pingsan karena sebuah kejutan lagi yang di berikan oleh laki-laki itu.


"Tuan, tolong kemarilah." panggil Martin pada seseorang yang sedang berada di dalam kerumunan para undangan.


Nampak tuan Winata, Dena serta Edgar melangkah mendekat ke arah mereka.


"Pa-papa, kak Dena ?" Sera nampak memucat saat melihat ayah serta saudara angkatnya tersebut.


"Tolong ampuni aku." Sera langsung berlari mendekati tuan Winata dan Dena, lalu ia bersimpuh di hadapan mereka.


"Bangunlah, Nak." ucap tuan Winata, meski pernah sakit hati pada Sera tapi ia pernah bertahun-tahun mengasuhnya seperti anak sendiri.


Sera nampak enggan untuk bangun, ia tetap bersimpuh mohon ampun pada ayah dan saudarinya itu.


"Tolong maafkan aku." ucapnya lagi dengan berlinang air matanya.


"Kami sudah lama memaafkan mu." Dena nampak membungkukkan badannya menatap Sera.


"Ayo bangunlah." imbuhnya lagi seraya membantu Sera untuk bangun.


"Maafkan aku, aku sangat menyesal." ucap Sera dengan penuh penyesalan menatap Dena.


"Aku sudah memaafkanmu." sahut Dena, lalu membawa Sera ke dalam pelukannya.


Sera nampak menangis haru karena saudarinya itu mempunyai hati yang sangat lapang memaafkan semua kesalahannya, ia berjanji akan menjadi saudara yang baik buat Dena.


Setelah Dena mengurai pelukannya, Sera nampak menatap tuan Winata. "Pa, maafkan aku." ucapnya dengan menatap pria paruh baya yang kini terlihat semakin tua itu.


"Papa sudah memaafkan mu, ayo kemarilah peluk Papa." ucap tuan Winata dengan membuka lebar tangannya.


Sera yang ragu untuk menyambut pelukan ayahnya, ia nampak menatap Dena.


"Papa sangat merindukanmu." ucap Dena dengan mengulas senyumnya.


"Papa." Sera langsung berhambur ke pelukan tuan Winata.


Sungguh ia sangat merindukan ayahnya tersebut, ia berjanji akan menebus kesalahannya dengan merawat pria itu di hari tuanya.


Setelah pertemuan yang mengharukan itu, Sera dan Martin segera melaksanakan prosesi pernikahannya.


Kini mereka sudah menjadi suami istri yang sah, namun Sera masih penasaran bagaimana tuan Winata dan Dena bisa datang dalam pernikahan mereka.

__ADS_1


__ADS_2