
"Terima kasih kamu sudah mau mengerti." ucap Martin pada Lusi sore itu, beberapa hari yang lalu ia sudah memutuskan untuk menceritakan semuanya tentang Sera pada wanita itu.
Ia pikir Lusi akan marah dan tidak terima, namun gadis itu dengan berbesar hati menerima keputusannya.
"Mungkin sore ini aku gagal menikah, tapi aku senang telah menjalankan amanat kak Helena." sahut Lusi.
"Kamu akan tetap menjadi adikku sampai kapanpun." ucap Martin kemudian.
"Pasti, aku juga akan berusaha menganggapmu sebagai kakakku." sahut Lusi dengan serius, meski kini hatinya terasa sesak namun ia sudah belajar untuk mengikhlaskan.
"Jadi kamu tidak mau menunggu sampai aku selesai menikah ?" tanya Martin kemudian.
"Aku pasti akan ketinggalan pesawat kalau melakukan hal itu." sahut Lusi sembari terkekeh.
"Aku sedikit kecewa, aku mengenalmu sejak kecil tapi giliran aku menikah kamu tak ada." Martin terlihat kecewa, ia sudah menganggap Lusi seperti adiknya sendiri.
"Ayolah, aku sudah merencanakan kepergian ku dari beberapa hari yang lalu. Lagipula aku masih muda, aku ingin berpetualang." ucap Lusi memohon.
"Hm, baiklah gadis nakal." Martin mengacak rambut Lusi.
"Boleh aku memelukmu, sebelum kau menjadi milik kakak ipar ?" pinta Lusi.
"Tentu saja." Martin nampak membuka kedua tangannya dengan lebar agar Lusi bisa memeluknya.
"Terima kasih." ucap Lusi lalu memeluk Martin dengan erat.
Bersamaan dengan itu Sera nampak melewati kamar mereka yang memang terbuka.
"Tidak bisakah mereka melakukannya nanti setelah sah, tidak sabaran banget." gerutunya saat melihat mereka sedang berpelukan, rasanya dada Sera mendadak sesak.
"Nona, anda baik-baik saja ?" tanya Mattew saat melihat Sera mendadak murung.
"Hm." sahut Sera.
"Kamar anda di sini, nyonya." Mattew menunjukkan kamar pada Sera.
"Tunggu, kenapa aku di bawa kesini bukannya ke tempat pesta ?" tanya Sera tak mengerti.
"Acaranya akan di mulai malam hari, nyonya." sahut Mattew.
"Bukannya sore hari ya ?" tanya Sera memperjelas seraya menunjukkan kartu undangan.
"Tadinya seperti itu nyonya, tapi undangan sudah di revisi beberapa hari sebelumnya. Maaf kami tidak sempat memberitahu anda." sahut Mattew menjelaskan.
"Oh, astaga." gerutu Sera, sebisa mungkin ia datang terlambat agar tidak terlalu lama berada di dalam pesta tersebut dan nyatanya sekarang pestanya saja belum di mulai.
"Silakan, nyonya." Mattew membuka pintu kamar hotel itu lalu mempersilakan Sera untuk masuk ke dalam.
"Hm, terima kasih." sahut Sera lalu melangkahkan kakinya masuk.
"I-ini apa ?" imbuhnya lagi saat melihat sebuah gaun di atas ranjangnya.
"Itu milik anda." sahut Mattew.
__ADS_1
"Tapi saya mempunyai gaun sendiri." tolak Sera seraya menunjukkan pakaian sederhana yang dia kenakan sekarang.
Sebuah dress selutut dengan lengan panjang yang terlihat pas di tubuhnya.
"Ini permintaan nona Lusi, nyonya." sahut Mattew.
Sera nampak mendesah pelan. "Ini terlalu berlebihan." ucapnya seraya menatap gaun pesta panjang dengan punggung terbuka.
"Seperti gaun pengantin saja." imbuhnya lagi.
"Silakan bersiap-siap nyonya, dua jam lagi saya akan menjemput anda." ucap Mattew sebelum ia pergi.
"Hm, terima kasih. Sekarang pergilah aku mau tidur sebentar." perintah Sera kemudian.
"Tidak bisa nyonya, anda harus bersiap-siap." cegah Mattew, setelah itu ia menepuk tangannya dan datanglah 4 orang pelayan hotel masuk ke dalam kamar tersebut.
"Mereka mau ngapain ?" Sera nampak melebarkan matanya.
"Mereka akan membantu anda bersiap." sahut Mattew.
"Aku tidak mau." tolak Sera.
"Tapi ini perintah nona Lusi, nyonya." bujuk Mattew.
"Menyebalkan." gerutu Sera.
Setelah itu ia nampak pasrah dan membiarkan para pelayan itu membersihkan dan merawat kulit tubuhnya.
Beberapa saat kemudian....
Sera nampak cantik dan anggun malam itu, ia sampai pangling dengan dirinya sendiri karena sudah lama sekali tidak menyentuh alat make up.
"Maaf nona, kami akan mewarnai kuku anda." sahut salah satu pelayan tersebut.
"Tidak perlu, aku tidak suka itu." tolak Sera.
"Maaf nona, ini perintah nona Lusi." tegas pelayan tersebut
"Oh astaga, sebenarnya yang mau menikah dia atau aku sih." gerutu Sera dengan kesal, akhirnya ia memilih untuk duduk kembali di sofa.
Sebenarnya ia ingin sekali tidur barang sekejap, tapi para pelayan tersebut sama sekali tak membiarkannya memejamkan mata.
Tak berapa lama kemudian Sera yang sedang menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, nampak terlelap tidur. Sungguh ia tidak bisa menahan kantuknya lagi.
Para pelayan yang sedang mengecat kukunya nampak tersenyum saat melihatnya, biasanya wanita lain sangat menyukai perawatan tapi berbeda dengan wanita ini pikir mereka.
Beberapa saat kemudian pintu kamar nampak terbuka. "Tuan." sapa para pelayan tersebut.
"Apa sudah selesai ?" tanya Martin dengan lirih saat melihat Sera nampak tertidur, ia melangkahkan kakinya pelan mendekati wanita itu.
"Sudah, tuan." sahut sang pelayan dengan pandangan menunduk.
"Baiklah, kalian bisa pergi." perintah Martin kemudian.
__ADS_1
Setelah para pelayan tersebut pergi dan menutup pintunya kembali, Martin nampak menatap Sera dengan intens.
Wanita itu kini terlihat sangat cantik, bagaikan putri salju yang tertidur karena sebuah kutukan. Tak bereaksi meski Martin sedang menyentuhnya.
"Aku sangat merindukanmu." ucapnya lirih seraya mengusap lembut pipi Sera, ia sengaja menghindari wanita itu beberapa hari ini.
Ia ingin memberikan wanita itu waktu untuk berpikir dan selama satu minggu ini, diam-diam ia selalu menemui Merry dan kakak-kakaknya di sekolahnya.
Saat merasakan ada yang menyentuh pipinya, Sera langsung mengerjapkan matanya.
"Tu-tuan Martin ?" teriaknya terkejut, Sera langsung bangun dari tidurnya. Ia nampak mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar hotelnya, namun sudah tidak ada pelayan-pelayan tadi.
"A-apa yang kamu lakukan di kamarku ?" tanya Sera waspada.
"Kamu sangat cantik." bukannya menjawab Martin justru memuji wanita itu.
Sera nampak bersemu merah, namun ia mencoba bersikap datar. "Apa yang sedang kamu lakukan di kamarku ?" tanyanya lagi.
"Hanya ingin memastikan kamu sudah siap atau belum." sahut Martin.
"Aku bukan tamu spesial di sini, jadi tolong jangan berlebihan. Lagipula aku hadir atau tidak itu sama sekali tidak penting, jadi tolong keluar dari ruangan ini." pinta Sera.
"Kamu mengusirku ?" Martin menaikkan sebelah alisnya.
"Akan sangat tidak baik jika Nona Lusi melihatmu di sini." tegas Sera.
Martin nampak mengulas senyum tipisnya. "Baiklah." sahutnya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi.
Sera yang melihat kepergian Martin nampak melebarkan matanya.
"Hah segitu aja, dasar menyebalkan. Sepertinya kata cinta yang kamu ucapkan waktu itu hanya bualan semata." gerutunya saat melihat Martin meninggalkannya, rasanya sesak sekali melihat pria itu berhenti memperjuangkannya lagi.
"Kamu bicara sesuatu ?" Martin yang akan membuka pintu langsung ia urungkan saat mendengar Sera menggerutu tak jelas.
"Tidak." sahut Sera dengan nada dingin.
"Dasar nggak peka." imbuhnya dalam hati.
"Apa ada yang ingin kamu tanyakan ?" ucap Martin kemudian.
"Hm, apa kamu tidak merindukan Merry ?" tanya Sera seraya menatap lekat pria itu.
"Tentu saja merindukannya." sahut Martin.
"Tapi kenapa kamu tidak pernah datang mengunjunginya ?" tanya Sera lagi.
"Aku sibuk." sahut Martin yang kini masih bergeming di tempatnya.
"Aku tahu kamu sibuk, tapi apa sedikitpun kamu tak ada waktu buat anakmu? padahal kamu masih berada di kota yang sama. Bagaimana nanti kalau kamu sudah menikah dengan Lusi dan tinggal di luar negeri, kamu pasti akan melupakan Merry kan ?" ucap Sera penuh emosi.
"Apalagi kalau kalian sudah mempunyai anak sendiri, mungkin Merry sudah tidak ada artinya bagimu." imbuhnya seraya mengusap air matanya yang mengalir membasahi pipinya, ia selalu emosional jika menyangkut anak-anaknya.
Martin yang kini berdiri di hadapan Sera nampak menatapnya dengan gemas "Sudah bicaranya, hm ?" ucapnya kemudian.
__ADS_1
"Sebenarnya yang rindu bukan Merry tapi kamu kan ?" imbuhnya lagi yang langsung membuat Sera menatapnya.
"Kenapa susah sekali untuk jujur, jika rindu katakan rindu. Jika cinta katakan cinta, sesimpel itu. Tapi kenapa harus menyakiti diri sendiri." ucap Martin lalu membawa Sera ke dalam pelukannya.