
"Bang, jangan gitu ah! Nanti kita ketahuan loh," protes ku pada bang Agus.
"Bentar aja, sayang," balas bang Agus sambil menciumi bibir ku.
"Tapi nanti kalau ada orang yang lihat, gimana coba?" tanya ku semakin gelisah.
"Biarin aja lah, sayang," balas bang Agus lagi.
Bang Agus terus menggerayangi tubuh ku dalam posisi berdiri, dan akhirnya aku pun hanya bisa pasrah dengan kelakuan nakal nya.
Ini lah kisah nyata dalam hidup ku yang saat ini sedang aku jalani. Jujur, aku melakukan semua ini karena sikap dan perlakuan suami ku yang dingin, dan tidak pernah memberikan ku kehangatan di ranjang.
Aku melampiaskan hasrat kepada tetangga yang hanya berjarak lima langkah dari rumah ku. Sebenarnya, aku tidak tega mengkhianati pernikahan ini. Tapi ya, mau bagaimana lagi?
Aku juga manusia biasa yang punya hasrat dan nafsu. Aku juga butuh belaian, kasih sayang, dan kehangatan. Dan semua itu, aku dapat kan dari tetangga lima langkah ku.
Awal mula aku berselingkuh dengan bang Agus, waktu itu aku berada di rumah sendirian. Lalu bang Agus datang menghampiri ku.
Berhubung aku berjualan pakaian di rumah, jadi sudah biasa bagi ku kalau ada orang yang datang ke rumah untuk melihat-lihat barang dagangan ku.
"Kak, ada baju kemeja ukuran ku gak?" tanya bang Agus.
"Kalo baju kemeja sih ada, bang. Tapi kalo ukuran untuk abang kurang tau juga. Coba bang cari sendiri!" usul ku.
"Oh iya, kak. Aku cari sendiri aja ya," balas bang Agus.
"Ya," jawab ku.
Aku menunjuk ke arah gantungan baju-baju yang terletak di pojok dinding. Bang Agus tersenyum, dan mulai memilah milih baju kemeja dan mencocokkan ke badan nya.
"Kak, yang besar gak ada ya?" tanya bang Agus.
"Udah habis bang, gak ada lagi. Tinggal itu aja baju kemeja nya," jawab ku.
"Wah, kekecilan kalo gitu, kak," lanjut bang Agus.
Aku menghela nafas panjang, saat mendengar penuturan bang Agus. Setelah itu, aku pun mulai mengoceh panjang lebar pada nya.
"Abang ni pun ada-ada aja. Semua mau nya serba yang besar. Baju yang besar, celana pun yang besar, sepatu juga harus yang ukuran besar. Semua serba besar," gerutu ku sambil tersenyum geli.
"Ah, kakak ini tau aja kalo semua nya serba besar, hahahaha,"balas bang Agus sambil tertawa lepas.
Setelah selesai dengan tawa nya, bang Agus pun kembali bertanya.
"Kak, ada punya teman cewek gak? Kenalin ke aku dong," tanya bang Agus sembari mencuri-curi pandang pada ku.
"Gak ada, bang. Teman-teman kerja ku dulu udah pada pulang kampung semua. Ada juga yang udah pada nikah," jawab ku jujur.
Pria kepala botak itu langsung manggut-manggut menanggapi penuturan ku. Kemudian ia pun kembali bertanya...
"Oh gitu ya, kalo sama kakak boleh gak?" tanya bang Agus sambil tersenyum genit pada ku.
Mata ku langsung membulat sempurna, ketika mendengar pertanyaan nyeleneh nya. Aku sama sekali tidak menyangka, jika tetangga lima langkah ku itu berani melontarkan pertanyaan seperti itu kepada ku, yang masih berstatus sebagai istri orang.
"Hah, apa aku gak salah dengar, bang? Aku kan masih ada suami, kalo aku janda sih gak masalah. Emang nya gak takut kalo sampe ketahuan suami ku?" tanya ku heran.
"Ya kalo ketahuan, kita nikah aja lah!" jawab bang Agus dengan santai nya.
"Boleh minta nomor ponsel nya gak, kak?" tanya bang Agus.
"Buat apa? Jangan macam-macam loh!" jawab ku.
"Gak lah, kak. Takut kali pun kakak ini. Aku juga tau batasan nya kok," balas bang Agus.
Bang Agus segera menyerahkan ponsel nya pada ku, lalu aku pun menerima nya dan mengetik nomor ku di benda pipih milik nya.
"Oke makasih ya, kak."
Bang Agus mengucapkan terima kasih, sambil melihat nomor ku yang sudah tersimpan di dalam ponsel nya. Aku hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ya udah aku pulang dulu ya, kak. Nanti aku hubungi ya, boleh kan?" tanya bang Agus.
"Boleh, tapi jangan di waktu suami ku di rumah ya," balas ku.
Aku mewanti-wanti bang Agus, agar tidak sembarang untuk menghubungi ku di saat suamiku sedang berada di rumah.
"Oke siap, kak," jawab bang Agus, dan dia pun mulai berjalan keluar dari rumah ku.
"Hadehh, ada-ada aja," gumam ku sembari menghela nafas panjang.
Aku tersenyum menatap kepergian bang Agus. Tak berselang lama, ponsel ku pun berdering nyaring tanda panggilan masuk.
"Nomor baru, siapa ya kira-kira?" batin ku heran.
Tanpa pikir panjang lagi, aku pun segera menerima panggilan tanpa nama itu.
"Halo, siapa nih?" tanya ku.
"Ya ampun, kak. Baru aja kita ketemu tadi, masa udah lupa sih?" oceh bang Agus.
"Ohh, bang Agus ya. Kirain siapa," jawab ku.
Aku tidak menyangka, kalau bang Agus akan benar-benar menghubungi ku.
"Kak, boleh video call gak?" tanya bang Agus.
"Boleh, tapi jangan lama-lama ya, soal nya bentar lagi suami ku pulang," jawab ku kembali mewanti-wanti nya.
"Iya, kak bentar aja kok," jawab bang Agus lagi.
Bang Agus langsung mengalihkan panggilan nya menjadi video call. Setelah itu, terpampang lah wajah nya dengan jelas, yang sedang tersenyum manis dengan wajah imut nya. Menurut aku sih begitu ya, pemirsa. Entah kalau menurut kalian, hahaha.
"Lagi ngapain, kak?" tanya bang Agus.
"Gak lagi ngapa-ngapain, bang. Lagi duduk santai aja," balas ku.
__ADS_1
Aku menjawab sambil duduk selonjoran di atas sofa, dan memijat-mijat pelan betis dan lutut ku yang terasa sedikit pegal dan kesemutan.
"Kak, aku boleh manggil say gak?" tanya bang Agus lagi.
"Hah," pekik ku dengan mata terbelalak.
Aku langsung terkejut dan melongo, saat mendengar permintaan bang Agus. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun pasrah dan memperbolehkan nya untuk memanggil ku dengan sebutan "say."
"Terserah abang, aja lah," balas ku.
"Oke, makasih ya, say."
Bang Agus langsung cengar-cengir salah tingkah, setelah mendengar persetujuan ku. Dia tampak sangat senang karena mendengar jawaban ku barusan.
"Bang, aku boleh nanya gak?" tanya ku.
"Mau tanya apa, say?" tanya bang Agus balik.
"Hmmmm, abang beneran serius dengan ucapan yang tadi?" tanya ku penasaran.
"Ya serius lah, say. Emang nya kenapa, gak boleh ya?" tanya bang Agus.
Aku menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong menerawang. Sambil terus memegangi ponsel, aku pun kembali berceloteh pada nya.
"Ya, aneh aja sih. Abang kan tau sendiri kalo aku udah punya suami. Kenapa berani ngomong kayak gitu sama ku?" selidik ku.
"Kalo aku mau jujur boleh gak, say?" tanya bang Agus.
"Iya boleh," balas ku sambil tersenyum.
Bang Agus terdiam sejenak, ia tampak sedang memikirkan kata-kata yang pas untuk di utarakan pada ku. Setelah beberapa saat berpikir, ia pun mulai mengungkapkan isi hati nya.
"Sebenarnya aku tu udah lama suka sama mu, say. Tapi aku gak berani untuk ngungkapin nya," tutur bang Agus lirih.
"Aku takut kamu marah. Aku juga sering curi-curi pandang, kalo aku lewat di depan rumah mu," terang bang Agus.
Aku tidak menjawab sepatah kata pun, aku hanya diam sambil terus mendengarkan ucapan nya.
"Aku juga sering memperhatikan dirimu, kalo kamu pergi ke warung," tambah bang Agus lagi.
Setelah mendengar penuturan bang Agus, aku pun menghela nafas dalam-dalam. Suasana pun menjadi hening seketika. Setelah beberapa saat saling membisu, aku pun kembali bertanya pada nya.
"Emang nya apa yang abang suka dari aku? Aku tu cantik enggak, kaya pun enggak. Gak ada yang bisa di harap kan dari ku," balas ku.
"Bagi ku, kamu itu sangat cantik, say. Cantik luar dalam malah, hehehe," balas nya lagi.
"Hmmm, sok tau abang tu. Kayak pernah lihat dalam ku aja, hahahaha," ujar ku sambil terkekeh.
"Ya, emang blom pernah sih. Emang nya boleh gak kalo aku pengen lihat dalam mu?" tanya bang Agus.
"Iiihh, gilak!" umpat ku sambil tersipu malu, di hadapan wajah bang Agus yang ada di layar ponsel ku.
"Kalo aku ajak keluar mau gak, say?" tanya bang Agus lagi.
"Emang nya mau kemana sih?" tanya ku penasaran.
Aku tersentak kaget mendengar ajakan bang Agus. Aku sama sekali tidak menyangka, kalau dia berani terang-terangan mengajak ku untuk berkencan di hotel.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya dengan berat hati aku pun menolak secara halus ajakan nya.
"Aku pikir-pikir dulu ya, bang. Aku gak bisa janji atau pun memutuskan sekarang," jawab ku.
"Iya gak papa, say. Oke lah, sampai jumpa besok ya, bye!" balas bang Agus.
Bang Agus menutup panggilan video nya. Setelah panggilan berakhir, aku tersenyum-senyum sendiri mengingat ucapan tetangga lima langkah ku itu.
Aku pun langsung menghayal yang tidak-tidak akibat ulah bang agus.Tak lama kemudian, suami ku pulang dari tempat kerja nya.
"Assalamualaikum," salam bang Darma.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Bang Darma melangkah masuk ke dalam rumah, dan aku pun segera menyambut kepulangan nya dengan mencium punggung tangan nya takzim.
Setelah itu, bang Darma langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya. Sambil menunggu bang Darma selesai mandi, aku menyiap kan cemilan pisang goreng dan secangkir teh manis hangat. Lalu meletakkan nya di atas meja kamar.
Karena aku sudah hafal kebiasaan suami ku itu. Kalau dia selesai mandi dan sholat, dia pasti langsung bermain ponsel di kamar sambil rebahan. Maka dari itu, cemilan dan teh nya aku letakkan di kamar, bukan di ruang tamu.
"Gimana kerja nya tadi, bang?" tanya ku basa-basi.
"Ya, biasa aja. Tadi ada pembeli, trus ya di layani. Trus muat barang buat di jual," jawab bang Darma.
Dia menjelaskan tentang kegiatan nya di gudang besi tua.
"Oh," balas ku.
Waktu terus berlalu, tiba lah saat nya waktu tidur. Aku mendekati tubuh Bang Darma yang sedari tadi sibuk dengan ponsel nya di sebelah ku.
Dengan posisi bang Darma yang miring menghadap tembok, aku pun mulai memeluk nya dari belakang dan menciumi tengkuk leher nya. Aku juga menggesek-gesekkan kaki ku ke betis nya sambil berbisik...
"Bang, aku pengen!" bisik ku dengan suara serak akibat terbakar gairah ku sendiri.
"Abang capek, dek," jawab bang Darma.
Aku berucap dengan nafas yang mulai memburu. Namun, jawaban bang Darma sangat mengecewakan bagi ku. Dia menolak ku sambil melepaskan pelukan ku.
Mendapat perlakuan seperti itu, aku pun langsung merubah posisi untuk memunggungi nya. Hati ku terasa sangat sakit karena mendapatkan penolakan dari nya.
Tanpa sadar, air mata pun jatuh membasahi pipi ku. Ini bukan pertama kalinya dia menolak ku, tapi sudah sering kejadian seperti ini aku alami.
Jangan kan membelai dan memberikan kehangatan pada ku, mencium ku saja belum tentu setahun sekali. Memanggil ku dengan kata sayang pun tidak pernah, sejak menikah selama 6 tahun ini.
Apa lagi kalau bang Darma minta jatah, dia sama sekali tidak perduli, apakah aku sudah merasa puas atau belum? Apakah aku sudah memuncak atau belum?
Yang penting bagi nya adalah, dia sudah merasa puas sendiri. Ya, bagimana aku bisa puas? Kalau lima kali goyang saja punya dia sudah keluar, sedang aku belum apa-apa.
__ADS_1
Jujur, aku sering merasa kecewa setiap kali bermain di ranjang dengan suami ku itu. Dia selalu saja seperti itu pada ku. Tanpa cumbuan dan tanpa belaian, langsung main masuk saja. Setelah lima atau enam kali goyang, sudah keluar.
Setelah menerima penolakan dari bang Darma, aku pun memutuskan untuk menerima tawaran dari bang Agus. Aku mengambil ponsel yang berada di atas meja, lalu mengetik pesan kepada bang Agus.
"Oke, besok aku mau, bang."
Aku mengirim kan pesan teks itu kepada bang Agus. Tak butuh waktu lama, bang Agus pun langsung membalas pesan ku.
"Jam berapa kita jumpa nya, say?" tanya bang Agus.
"Jam sepuluh pagi aja," balas ku.
"Oh oke, say," balas bang Agus.
Setelah percakapan kami berakhir, aku kembali meletakkan ponsel ke atas meja dan mulai memejamkan mata. Tak berselang lama, aku pun tertidur pulas dengan posisi saling memunggungi dengan bang Darma.
Pagi menjelang, aku beranjak dari ranjang dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, aku segera membuat kan teh manis hangat untuk bang Darma.
Bang Darma tidak pernah mau sarapan pagi, tidak biasa kata nya. Maka nya cuma teh manis hangat saja yang aku sediakan untuk nya. Selesai mandi, bang Darma pun duduk di sofa dan mulai menyeruput teh nya dengan perlahan.
"Dek, abang berangkat kerja ya," pamit bang Darma.
"Iya," balas ku sambil mencium kedua pipi nya.
Setelah kepergian bang Darma, aku bergegas ke dapur untuk memasak makan siang. Karena jam dua belas nanti dia pasti pulang untuk makan di rumah.
Selesai masak, aku melanjutkan tugas ku mencuci baju. Setelah semua pekerjaan beres, aku pun bergegas membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah memakai pakaian, aku segera mengambil ponsel untuk menghubungi bang Agus.
Tut tut tut...
Setelah panggilan tersambung, aku pun langsung bertanya tentang keberadaan nya.
"Halo lagi dimana, bang?" tanya ku.
"Aku udah di taman nih, kira-kira masih lama gak, say?" balas bang Agus.
"Bentar lagi, aku cari ojek dulu," jawab ku.
"Oke, say jangan lama-lama ya," balas bang Agus.
"Iya," jawab ku.
Aku menutup panggilan dan segera melangkah keluar dari rumah. Setelah selesai mengunci pintu, aku langsung berjalan menuju pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari rumah ku.
"Bang, tolong antar kan ke taman ya!" pinta ku pada si tukang ojek.
"Oke siap, kak," jawab nya lalu menyerahkan helm pada ku.
Selesai memakai helm, aku langsung naik ke atas motor dan dia pun mulai melaju kan kendaraan roda dua nya untuk menuju taman kota.
Sesampainya di taman, aku segera turun dari motor dan menyerahkan helm sambil membayar ongkos nya.
"Makasih ya, bang," ucap ku sembari tersenyum.
"Sama-sama, kak," balas si tukang ojek.
Setelah menerima uang ongkos dari ku, tukang ojek itu pun segera melajukan motornya kembali ke jalan raya.
Beberapa saat kemudian, bang Agus pun tiba di depan ku dengan mengendarai motor nya.
"Ayo, say!" ajak bang Agus.
Dia memberikan helm pada ku dan aku pun segera memakai nya. Setelah itu, aku pun langsung naik ke atas motor, dan melingkarkan kedua tangan ku di perut nya.
Setelah menempuh perjalanan sekitar kurang lebih sepuluh menit, kami berdua pun tiba di depan gedung hotel yang cukup tinggi. Sekitar lima lantai lah kira-kira. Lupa ngitung soal nya, hehehe.
Bang Agus memarkir kan motor nya dengan rapi di tempat parkiran yang sudah tersedia. Lalu kemudian, kami berdua pun mulai berjalan beriringan menuju meja resepsionis.
"Ada kamar kosong, kak?" Bang Agus bertanya pada wanita resepsionis yang sedang bertugas.
"Ada, bang. Bentar ya," jawab nya.
Resepsionis itu menyerahkan kunci kamar. Lalu bang Agus pun langsung menerima kunci itu dan membayar tagihan nya.
Setelah selesai urusan dengan resepsionis, kami segera melangkah menuju kamar yang berada di lantai dua dengan bergandengan tangan.
"Kayak mau nyebrang jalan aja pake acara gandengan tangan segala, hihihi," batin ku terkikik geli.
Sesampainya di depan kamar, bang Agus segera membuka pintu. Setelah itu, kami berdua pun langsung melangkah masuk dan mengunci pintu kembali.
Setelah sampai di dalam kamar, bang Agus langsung mendekap erat tubuh ku dan menciumi bibir ku.
"Sabar dulu, bang!" ujar ku sambil meregangkan pelukan nya.
"Kenapa sih, say?"
Bang Agus bertanya dengan mata yang sayu dan nafas yang memburu, akibat gairah nya sendiri yang sudah naik sampai ke ubun ubun.
"Aku kebelet buang air kecil. Tunggu bentar ya!" jawab ku.
Aku berucap sambil berlari kecil menuju kamar mandi, untuk membuang air kecil dan mencuci kaki.
Setelah selesai, aku melihat bang Agus sedang mengotak-atik remot AC untuk menyetel suhu nya. Bang Agus yang sudah melihat ku keluar dari kamar mandi, kembali melancarkan aksi nya yang sempat tertunda tadi.
Dengan perlahan dia mulai membuka pakaian ku satu persatu. Setelah itu, dia juga membuka pakaian dalam ku sampai polos tak bersisa.
Setelah melucuti semua pakaian ku, tanpa pikir panjang lagi bang Agus pun langsung menyerang ku. Dia mulai mencumbui seluruh tubuh ku, tanpa terlewatkan satu inci pun. Dan akhirnya, pergumulan panas pun terjadi di kamar hotel tersebut.
Bang Agus melakukan aksinya itu sampai berulang-ulang kali. Hingga membuat badan ku menjadi lemas tak berdaya. Setelah pergumulan panas itu berakhir, bang Agus tersenyum pada ku dan berkata...
"Makasih ya, say," ujar bang Agus.
Dia mengecup kening ku dengan mesra, kemudian dia pun menjatuhkan tubuh nya di samping ku dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
__ADS_1
Dia tampak sangat kelelahan akibat pertempuran panas tadi. Dan akhirnya, kami berdua pun mulai memejamkan mata sambil berpelukan.
Tak butuh waktu lama, kami mulai terlelap dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun di bawah selimut.