SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Akhir Dari Perdebatan Panjang


__ADS_3

"Karena apa?" desak ku semakin penasaran.


"Karena ingin membalas dendam atas perbuatan mu." jawab bang Darma.


Aku langsung mengernyitkan dahi saat mendengar penuturan bang Darma. Aku segera membalikkan badan untuk menghadap pada nya.


"Balas dendam tentang apa? Emang nya aku ada berbuat apa sama mu?" tanya ku bingung.


"Gak usah pura-pura bego lah. Kau pasti sudah tau kesalahan mu sendiri." cibir bang Darma kesal.


Aku terdiam sejenak, aku sedang memikirkan maksud dari kata-kata bang Darma. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun kembali bersuara.


"Apa ini ada hubungan nya dengan perselingkuhan ku?" selidik ku.


"Ya," jawab bang Darma ketus.


"Ooohh, itu toh. Jadi hanya karena aku selingkuh, trus kau juga ikut-ikutan icip sana sini ya?" tanya ku lagi.


"Iyaaaa, udah tau jawaban nya pun masih aja nanya." jawab bang Darma mulai sewot.


"Ya, siapa tau aja ada masalah lain. Misal nya, kau memang ingin mencicipi tubuh wanita lain selain aku, atau kau memang kegatalan sendiri."


"Maka nya kau cari-cari alasan terus, untuk selalu menyudutkan ku agar bisa menutupi kesalahan mu itu. Ya kan, bener gak dugaan ku?" oceh ku panjang lebar.


"Mana ada sih, ngarang aja kau tu." jawab bang Darma ketus.


Bang Darma menolak mentah-mentah tuduhan ku barusan. Dia tidak terima jika aku menduga yang tidak-tidak tentang diri nya.


"Ya udah, kalo memang enggak, ya gak usah sewot gitu lah. Masa cuma di bilangin gitu aja langsung ngegas, aneh." omel ku.


"Siapa yang ngegas?" tanya bang Darma pura-pura bingung.


"Tuh, kucing garong sebelah yang ngegas." jawab ku asal.


"Hahahaha, gemblung." gelak bang Darma.


Aku memutar bola mata malas, saat melihat tawa bang Darma. Karena terlalu asyik dengan tawa nya, tanpa sadar bang Darma sedikit lengah, dan membuka kuncian tangan dan kaki nya dari badan ku.


Setelah terbebas dari belenggu bang Darma, aku pun mulai menggerakkan tubuh ku untuk segera beranjak dari ranjang.


Tapi ternyata, pergerakan ku di ketahui oleh bang Darma, hingga membuat nya kembali mendekap ku dan membawa ku ke dalam pelukan nya.


"Eits, mau kabur ya? Gak semudah itu, sayang. Kau harus layani aku dulu, baru boleh keluar dari kamar ini." ujar bang Darma sembari tersenyum menyeringai.


"Ogah," jawab ku sembari memalingkan wajah ke samping.


"Kok ogah, sih? Mau di kasih enak kok malah gak mau, aneh." gerutu bang Darma kesal.


"Minta sama benalu kesayangan mu aja sana! Aku udah malas melayani hasrat mu lagi." balas ku ketus.


"Ya gak bisa gitu lah, kau itu kan masih istri sah ku. Kau wajib melayani ku kapan pun aku mau, paham!" ujar bang Darma tegas.


"Gak, aku gak mau." balas ku masih tetap kekeuh menolak keinginan nya.

__ADS_1


Mendapat penolakan yang berulang-ulang dariku, bang Darma bukan nya menyerah. Dia malah semakin memaksakan kehendak nya pada ku.


Dia membuka paksa seluruh pakaian yang melekat di tubuh ku, lalu mencampakkan nya ke sembarang tempat.


Setelah tubuh ku polos, bang Darma terus saja memandangi ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, seperti singa yang sedang kelaparan melihat mangsa lezat di depan nya.


"Ayo, layani aku, sayang! Kita akan melewati saat-saat indah ini dengan kenikmatan yang sangat luar biasa." bisik bang Darma.


"Kalo aku bilang enggak ya enggak, kuping mu itu udah budeg ya. Kan dari tadi udah aku bilang, aku gak mau lagi melayani mu. Masa gak ngerti-ngerti juga sih!" gerutu ku.


"Hahahaha, terserah kau mau bilang apa. Yang penting, aku akan tetap menikmati mu hari ini." balas bang Darma sembari tertawa ngakak di depan ku.


"Ck, suka hati kau lah situ. Udah capek rasa nya mulut ini berdebat terus sama mu." balas ku pasrah sembari berdecak kesal.


Setelah mendengar ucapan ku, wajah bang Darma yang tadi nya kusut dan lecek persis seperti kain lap, kini langsung berbinar cerah. Dia tampak sangat bahagia dengan kata-kata ku tersebut.


"Naaah, gitu kek dari tadi. Kalau kau gak ngelawan terus, kan gak bakalan berdebat jadi nya." ledek bang Darma.


"Ya ya ya, suka-suka kau aja lah." cibir ku.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah aku berikan, bang Darma pun langsung menerkam ku secara beringas. Dia mulai menggerayangi ku dengan lidah dan tangan-tangan nakal nya.


Sedangkan aku, aku hanya diam menerima layanan nya tersebut. Aku sama sekali tidak tertarik atau pun tergiur untuk membalas perbuatan nya.


Aku mematung di tempat, persis seperti debok pisang yang dingin dan kaku.


Karena tidak mendapatkan respon apa pun dari ku, bang Darma pun akhirnya menjadi kesal. Dia sengaja menggigit kuat bibir bawahku, hingga membuat ku langsung memekik seketika.


"Aauw, sakit setaaaan!" umpat ku sembari menjitak kuat jidat bang Darma.


"Adoooh, sakit jidat ku kau buat, dek!"


Pekik bang Darma sembari mengelus-elus kening nya yang sudah memerah, akibat perbuatan ku barusan.


"Sokor, maka nya jangan gatal kali jadi orang. Kena jitakan maut kan jadi nya, hahaha." umpat ku sambil tertawa terbahak-bahak.


"Ck, kasar kali pun jadi perempuan." gerutu bang Darma sembari memanyunkan bibir nya ke depan.


"Udah tau aku kasar pun, masih aja maksain terus. Ya keluar lah jiwa jantan ku jadi nya, hahaha." oceh ku kembali tertawa.


Wajah bang Darma semakin cemberut, karena mendengar ledekan-ledekan yang keluar dari bibir ku. Dia terlihat semakin kesal, karena tidak pernah bisa menang kalau berdebat dengan ku.


Setelah merasa agak mendingan, bang Darma kembali mendekati ku dan langsung menindih tubuh ku.


Dia merentangkan kedua tangan ku, lalu menciumi bibir ku dengan rakus, hingga membuat ku sesak dan sedikit kesusahan untuk bernafas.


"Iiihhhh, lepasin! Sesak nafas ku nih."


Rengek ku sembari mendorong pelan tubuh bang Darma, agar sedikit menjauh dari ku.


"Ck, berisik kali pun dari tadi. Diem aja kenapa sih! Tinggal menikmati pelayanan ku aja pun susah kali." gerutu bang Darma.


"Gimana mau menikmati, kalau pelayanan mu buruk kayak gitu?" oceh ku.

__ADS_1


"Jadi mau di layani yang model gimana, hah?" tanya bang Darma.


"Ya yang lembut lah, yang mesra dikit. Ini enggak, malah kayak orang kesurupan gitu kelakuan mu." cibir ku.


Bang Darma langsung tersenyum menyeringai, setelah mendengar penuturan ku. Dia kembali mendekat kan wajah nya pada ku, lalu berbisik...


"Oh, jadi kau mau aku layani dengan lembut dan mesra ya? Kok gak ngomong dari tadi sih! Sok malu-malu ayam pulak. Orang tinggal bilang aja pun, pake acara gengsi segala." sindir bang Darma.


"Siapa pulak yang malu-malu ayam? Gila kau ya!" umpat ku sembari menoyor jidat bang Darma.


"Ya, siapa lagi kalau bukan kau. Gak mungkin lah tetangga sebelah, aneh." oceh bang Darma.


Bang Darma terus saja mengoceh di depan ku, dengan posisi yang masih menindih tubuh ku.


Karena sudah merasa muak dan malas meladeni omongan bang Darma, akhirnya aku pun menyuruh nya untuk cepat-cepat menyelesaikan tugas nya.


"Ini mau di lanjutin lagi atau enggak nih?" tanya ku.


"Ya di lanjutin lah, sayang. Emang nya kenapa? Kau udah gak sabar ya, ingin merasakan kenikmatan dari junior ku ini?"


"Cih, kepedean kali jadi orang! Aku tu mau istirahat, bukan kepengen sama junior mu itu." cibir ku sembari berdecih.


"Halah, bohong. Bilang aja kau udah kangen dengan junior ku ini, ya kan ngaku aja deh!" goda bang Darma sembari mengerlingkan sebelah mata nya.


"Idih, narsis." cibir ku lagi.


"Hahahaha," gelak bang Darma.


Dia tampak senang melihat raut wajah ku, yang berubah masam dengan bibir mengerucut.


"Gak usah di maju-majuin gitu muncung nya. Apa mau minta di gigit lagi ya?" ledek bang Darma.


"Yeee, siapa juga yang minta di gigit sama bibir berbisa mu itu. Gak usah terlalu narsis kali lah jadi laki-laki." umpat ku kesal.


"Ya, siapa tau aja ngasih kode, biar aku gigit lagi." goda bang Darma sembari tersenyum miring.


"Udah ah, gak usah ngoceh terus muncung mu itu! Cepat lah mulai, aku udah ngantuk nih mau tidur." desak ku.


"Oke lah, kalau kau memang memaksa. Aku akan melakukan nya sekarang." jawab bang Darma.


"Iiiisss, siapa juga yang maksa? Bener-bener udah gila nih orang." umpat ku.


Bang Darma kembali menyunggingkan senyum nya, karena mendengar ocehan-ocehan receh ku.


Setelah melewati perdebatan dan percekcokan yang sangat panjang, akhirnya bang Darma pun kembali melanjutkan kegiatan nya.


Dia melakukan permainan nya dengan semangat empat lima. Karena saking semangatnya, sampai-sampai dia tidak sadar kalau aku terus saja memperhatikan wajah jelek nya dari bawah.


Aku masih tetap seperti debok pisang yang kaku dan dingin. Aku enggan melayani hasrat nya, jika mengingat perbuatan nya dengan Yuni.


Setelah melakukan gerakan-gerakan liar nya selama hampir satu jam, bang Darma pun menyudahi permainan nya dengan keringat yang mengucur deras di seluruh tubuh nya.


"Makasih ya, dek. Abang puas banget bermain dengan mu." ujar bang Darma dengan nafas yang masih tampak sesak.

__ADS_1


"Ya," balas ku singkat.


__ADS_2