
Darma hanya terdiam mendengar cibiran Ayu yang benar ada nya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena walau bagaimana pun dia menjelaskan, toh Ayu tidak akan pernah percaya lagi dengan nya.
"Angkat aja, aku gak papa kok. Aku juga ingin mendengar percakapan kalian." ujar Ayu.
Darma langsung tertegun mendengar penuturan istri nya. Ia terlihat bimbang untuk menerima panggilan dari gadis kecil nya tersebut.
Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya dengan berat hati Darma pun memutuskan untuk menerima panggilan itu, dan mengaktifkan pengeras suara nya. Agar Ayu juga bisa mendengarkan percakapan mereka berdua.
"Ya halo, ada apa lagi?" tanya Darma langsung to do point.
"Loh, kok gitu sih nanya nya? Emang abang gak kangen ya sama Yuni?" tanya Yuni dengan nada kesal.
"Enggak," jawab Darma dingin sambil melirik ke arah Ayu dengan ekor mata nya.
"Ck, kok jahat banget sih? Emang jampi-jampi apa yang udah di bacakan perempuan gila itu, sampai-sampai abang berubah drastis seperti ini?" omel Yuni semakin kesal.
"Gak ada." jawab Darma masih dengan nada dingin nya.
Yuni terdiam sejenak, setelah itu ia pun kembali berkicau dan berusaha merayu Darma.
"Kesini dong, bang! Yuni kangen pengen ehem-ehem sama abang." rengek Yuni dengan suara yang sengaja di buat mendayu-dayu.
"Gak ah, lagi males." tolak Darma mentah-mentah.
Darma kembali melirik Ayu yang sedang mendengarkan percakapan nya, dengan memasang wajah tanpa ekspresi. Ayu terlihat santai dan tenang, seperti tidak ada kejadian apapun di depan nya.
"Kok dia gak ada cemburu-cemburu nya dikit pun ya, aneh banget?" batin Darma heran.
Yuni tidak patah semangat, walau Darma sudah menolak keinginan nya, dia tetap saja merayu lelaki itu dengan berbagai macam cara dan upaya.
"Ayo lah, bang! Pliiiiss, sekali niiiii aja. Yuni kangen banget nih." rengek Yuni lagi.
"Kalo aku bilang enggak, ya enggak. Pekak kuping mu ya? Udah, jangan telpon-telpon aku lagi, aku mau tidur." bentak Darma.
"Tapi, bang..."
Tut tut tut...
Belum sempat Yuni meneruskan kata-kata nya, Darma pun langsung memutuskan panggilan sepihak. Ia terlihat bingung melihat reaksi Ayu yang sama sekali tidak marah atau pun cemburu pada nya.
"Apa dia benar-benar sudah tidak mencintai ku lagi ya? Masa iya, dia gak ada rasa cemburu sedikit pun dengan percakapan kami tadi?"
Darma kembali membatin, sambil terus memandangi wajah istrinya yang masih terlihat santai dan tenang di tempat duduk nya.
__ADS_1
Karena merasa di perhatikan, Ayu pun menoleh dan menautkan kedua alisnya, lalu bertanya...
"Ada apa? Kenapa nengokin aku kayak gitu?" tanya Ayu bingung.
"Gak ada papa, cuma heran aja." jawab Darma sembari menggelengkan kepala nya.
"Heran? Heran kenapa?" selidik Ayu.
"Ya heran lihat sikap aneh mu itu lah." jawab Darma kesal.
Ayu semakin menajamkan tatapan nya. Ia terlihat kebingungan dengan perkataan suaminya. Ketika Ayu ingin menjawab ucapan Darma, tiba-tiba Dina datang dengan senyum sumringah di wajah nya.
"Hai, Dar!" sapa Dina tanpa merasa canggung sedikit pun.
Saat mantan istri suami nya itu hendak melangkah masuk ke dalam rumah, Ayu pun langsung membentak nya dengan suara menggelegar.
"STOP! Kalau sampai kau berani memijakkan kaki mu di rumah ini, maka jangan salahkan aku, kalau asbak kaca ini akan melayang ke muka jelek mu itu." ancam Ayu sambil memegang asbak kaca yang cukup tebal di tangan nya.
Mendengar suara Ayu, Dina pun langsung menghentikan langkah nya. Ia tidak berani masuk dan tetap berdiri di depan pintu, sambil menatap sinis kepada Ayu.
"Anak sama babon nya kok sama saja tingkah nya, sama-sama gatal. Apa perlu aku garuk barang busuk kalian itu pakai linggis, hah?" cibir Ayu sembari tersenyum miring meledek Dina.
Dina langsung bergidik ngeri mendengar ancaman sadis Ayu. Ia terlihat menciut sambil sesekali melirik ke arah Darma, yang masih tampak tenang sembari menghisap rokok nya.
Karena merasa tidak ada kesempatan untuk berbicara empat mata dengan Darma, akhirnya Dina pun memutuskan untuk pergi. Tapi sebelum itu, ia pun mengutarakan maksud kedatangan nya kepada Darma.
"Dar, aku tunggu di hotel biasa ya!" teriak Dina dari depan pintu.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Dina pun berlalu pergi dengan menggunakan ojek pangkalan.
Mata Darma langsung terbelalak selebar-lebar nya, ketika mendengar teriakan Dina. Ia sama sekali tidak habis pikir dengan isi kepala mantan istri nya tersebut.
"Ck, bikin masalah aja pun perempuan sinting satu itu." umpat Darma dalam hati.
Wajah Darma langsung memerah seketika. Ia mengeratkan kepalan tangan nya dan mengeraskan rahang nya. Darma terlihat sangat geram dan emosi dengan kelakuan nekat Dina.
Sedangkan Ayu, ia hanya tersenyum sinis memandangi kepergian musuh bebuyutan nya. Setelah bayangan Dina hilang dari pandangan nya, Ayu pun mengalihkan perhatian nya kepada Darma, suami edan nya tersebut.
"Tunggu apa lagi? Udah, pergi sana! Mantan mu mau ngajak indehoy tuh. Kan lumayan, dapat lubang gratis, hahahaha." gelak Ayu lalu menyalakan rokok, dan menghembuskan asap nya ke arah wajah Darma.
"Dasar, gila!" umpat Darma.
Lalu ia pun masuk ke dalam kamar, dan membaringkan tubuh nya di atas kasur. Sambil menatap langit-langit kamar, Darma pun kembali mengumpat perbuatan Dina tadi.
__ADS_1
"Dasar, perempuan gak tau diri! Bisa-bisanya dia mengatakan hal itu di depan Ayu. Apa dia gak mikir, gimana perasaan Ayu saat mendengar ucapan nya itu." gerutu Darma dalam hati.
Darma mengusap kasar wajah nya. Ia tampak gusar dan frustasi atas kejadian yang menimpa nya hari ini.
"Mimpi apa sih aku semalam? Kok bisa-bisanya mendapatkan kesialan bertubi-tubi seperti ini."
Gumam Darma sembari memijat-mijat dahi nya yang mulai berdenyut nyeri, akibat ulah anak beranak tersebut.
Sedangkan Ayu, ia tersenyum miring melihat Darma yang tampak begitu stres, karena memikirkan kedua wanita selingkuhan nya.
"Kapok kau kan, bang! Langsung puyeng lah otak mu yang gak seberapa itu, karena ulah para benalu kesayangan mu, hahaha." gumam Ayu girang.
Setelah mematikan api rokok nya, Ayu pun bangkit dari sofa dan berjalan ke arah kios milik nya.
"Buka kios dulu ah, mudah-mudahan aja ada rejeki hari ini, aaamiiiiin." gumam Ayu penuh harap.
Dengan senyum yang merekah di wajah nya, Ayu pun membuka kios dan mulai merapikan barang-barang dagangan nya.
Saat sedang asyik berkutat dengan dagangan nya, tiba-tiba Ayu di kejutkan dengan tepukan di bahu nya.
"Hai mbak Ayu, apa kabar?" sapa mbak Tuti, tetangga kepo yang selalu ingin tahu tentang kehidupan orang lain.
"Eh copot eh copot." Ayu melatah sembari terlonjak kaget.
"Aduuuuh, mbak Tuti bikin kaget aja." gerutu Ayu kesal.
"Hehehehe, maaf mbak, aku gak sengaja." balas mbak Tuti sembari nyengir kuda.
Ayu tidak menghiraukan permintaan maaf tetangga kepo nya. Ia kembali melanjutkan kegiatan nya sambil memasang wajah masam.
Melihat reaksi Ayu yang tidak memperdulikan nya, mbak Tuti pun mendudukkan tubuh tambun nya di kursi plastik, dan membuka suara nya kembali.
"Ngomong-ngomong, tadi kayak nya aku ada dengar suara Dina. Trus, dia bilang di tunggu di hotel biasa. Emang siapa yang di tunggu nya, mbak?" tanya mbak Tuti kepada Ayu.
"Entah, mana ku tau dia nungguin siapa. Kalo mbak Tuti penasaran, kenapa gak nanya langsung sama orang nya?" tanya Ayu tanpa menoleh sedikit pun kepada mbak Tuti.
Mendengar jawaban ketus Ayu, mbak Tuti pun langsung salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.
"Mana mungkin aku berani nanya langsung ke dia, mbak. Bisa-bisa nanti aku di gorok sama dia." jawab mbak Tuti.
"Lah, kenapa mesti takut? Kalau pun kalian berdua berantem, pasti dia yang bakalan kalah. Secara kan besaran badan mbak Tuti dari pada dia." ujar Ayu lalu membalikkan badan nya, dan menatap wajah mbak Tuti dengan serius.
"Eh, bener juga ya. Kenapa aku harus takut dengan perempuan kerempeng seperti dia?" gumam mbak Tuti sambil manggut-manggut membenarkan ucapan Ayu.
__ADS_1
"Hihihi, baru nyadar dia rupanya, kalau sahabat karib nya itu badan nya cuma sebesar lidi." batin Ayu sembari terkikik geli.