
"Panggil Rendi aja lah. Kangen juga rasa nya sama si brokokok satu itu!" gumam ku.
Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhir nya aku memutuskan untuk menghubungi Rendi mantan kekasih ku dulu.
Tut tut tut...
"Halo, assalamualaikum,"
Aku mengucap kan salam setelah Rendi menerima panggilan ku, dan dia pun membalas salam ku dengan suara serak khas bangun tidur.
"Wa'laikum salam," balas Rendi.
"Lagi dimana, bos? Suara nya berat banget kedengaran nya. Lagi di atas perut seseorang ya?" canda ku.
"Ngawur aja kalo ngomong! Abang sedang tidur sendirian nih di rumah. Ada apa, sayang? Tumben nelpon abang." selidik Rendi.
"Gak ada apa-apa aku cuma iseng aja kok." bohong ku.
Aku berucap sambil menggigit bibir bawah ku dan kembali menghisap rokok. Pandangan mata ku mengamati setiap sudut kamar yang sedang aku tempati.
"Gak mungkin cuma iseng aja, pasti lagi kangen kan sama abang?" tebak Rendi.
Aku tersenyum-senyum sendiri mendengar tebakan Rendi yang tidak meleset sedikit pun. Sambil terus menghisap rokok, aku pun kembali menjawab ucapan Rendi.
"Gak usah kepedean jadi orang, siapa juga yang kangen sama situ?" balas ku pura-pura jual mahal.
"Halah, gak usah ngeles lagi lah, sayang. Abang kenal dirimu itu bukan sehari dua hari aja, tapi sudah hampir tujuh tahunan." balas Rendi.
"Abang sudah hafal semua sifat dan juga tubuh mu, bagian luar maupun dalam. Bahkan sampe ke area yang paling terdalam pun abang sudah tau semua nya." tambah Rendi.
"Iya iya aku ngaku, aku memang lagi kangen sama dirimu." jawab ku lirih.
Akhirnya aku pun mengakui yang sejujurnya kepada Rendi, kalau aku memang sedang merindukan nya saat ini.
"Tuh kan, filing abang memang gak pernah salah. Ya udah, abang kesana sekarang ya." balas Rendi.
"Eh eh eh, tunggu dulu!" cegah ku.
"Ada apa lagi sih, sayang? Abang mau siap-siap dulu nih. Mau jumpain kekasih hati yang lagi ngomong ini." balas Rendi kesal.
"Iya tau, tapi abang mau jumpain aku dimana?" tanya ku.
Rendi langsung terdiam mendengar pertanyaan ku. Dia tampak nya sedang berpikir akan menemui ku dimana. Tak lama kemudian, Rendi pun kembali bertanya pada ku.
"Emang nya dirimu lagi dimana sekarang? Lagi di rumah atau di luar?" tanya Rendi.
"Aku lagi di luar, di hotel tempat kita sering menginap dulu kamar nomor dua puluh!" jawab ku.
"Loh, ngapain di sana?" tanya Rendi lagi.
"Udah gak usah banyak tanya lagi, cepetan kesini! Nanti aja aku jelasin nya kalo abang udah di sini" jawab ku.
"Oke siap, sayang ku. Abang otewe sekarang ya!" balas Rendi.
"Oke," jawab ku menutup percakapan.
Setelah panggilan dengan Rendi berakhir, aku pun mengambil rokok dan menyalakan nya kembali.
Begitulah diriku kalau sedang setres, hanya rokok lah tempat pelampiasan utama ku. Putus sambung terus, sudah seperti kereta api asap nya mengepul kemana-mana.
"Semalam nginap dengan bang Agus, malam ini menginap dengan Rendi. Udah kayak wanita panggilan aja aku ini. Gonta ganti pasangan terus, hihihi." gumam ku sembari cekikikan sendiri.
"Di kecewa kan oleh suami, di hibur oleh para selingkuhan. Benar juga kata peribahasa, patah satu tumbuh seribu, hahaha."
Aku bergumam sambil tertawa lepas. Aku mentertawai nasib hidup ku sendiri yang penuh dengan godaan dan cobaan. Godaan nya dari Rendi dan bang Agus. Sedang kan cobaan nya dari bang Darma suami ku.
"Ah, entahlah. Jalani aja lah apa ada nya, mengeluh pun gak ada guna nya juga. Aku nikmati aja hidup ku dengan ketiga lelaki ini." gumam ku pelan.
Sedang asyik menghayal sambil menghisap rokok, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu tiga kali. Aku segera beranjak dari ranjang dan berjalan menuju pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, Rendi langsung melangkah masuk dan mengunci pintu itu kembali. Setelah itu, dia pun mulai mendekat dan memeluk erat tubuh ku.
"Abang kangen banget dengan mu, sayang!" ucap Rendi sambil mengelus-elus rambut panjang ku.
__ADS_1
Aku yang tadi nya hanya berdiam diri, kini membalas pelukan hangat nya. Aku mulai melingkarkan kedua tangan ku di pinggang Rendi, dan menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
"Aku juga kangen, bang." bisik ku.
Setelah mendengar bisikan ku, Rendi pun mulai menciumi seluruh wajah dan leher ku. Dan itu berhasil membuat ku lepas kendali.
"Apakah abang boleh melakukan nya, sayang?" tanya Rendi.
Rendi berbisik manja di telinga ku sambil sesekali menggigit kecil leher ku. Mendapat sentuhan seperti itu, aku pun langsung mengangguk sebagai jawaban.
Setelah mendapatkan persetujuan dari ku, Rendi pun mulai melancarkan aksinya. Dia pun mulai mengabsen setiap inci lekuk tubuh ku.
Dan akhirnya, kenikmatan dunia pun di mulai. Aku akui kalau kekuatan Rendi sama imbang dengan bang Agus.
Mereka berdua sama-sama kuat dan perkasa dalam kegiatan panas seperti itu. Tidak ada kata lelah atau pun capek kalau soal begituan.
Setelah bergumul ria selama kurang lebih satu jam, Rendi pun menyudahi permainan nya. Dia mencium kening ku dan menjatuhkan tubuh nya yang bermandikan keringat di samping ku.
"Bersihin dulu yok, bang! Biar kita bisa nyantai sambil cerita-cerita." ajak ku.
Aku berdiri di samping Rendi yang masih terlentang di atas ranjang dalam keadaan polos. Aku menarik-narik lengan Rendi untuk mengajak nya ke kamar mandi.
"Ayok lah, bang!" rengek ku sambil terus menariknya.
"Iya, sayang. Tunggu bentar ya, abang ambil handuk dulu!" jawab Rendi.
"Gak usah pake handuk segala, polos gitu aja gak papa kok." balas sambil tersenyum genit pada nya.
Rendi langsung mencubit hidung ku gemas, karena mendengar kata-kata ku tadi. Dalam keadaan sama-sama polos, Rendi pun kembali memeluk tubuh ku dan mencium bibir ku dengan lembut.
Aku yang sempat terlena dengan ulah nya itu pun langsung tersadar. Aku berusaha melepaskan diri dari pelukan Rendi dan mendorong pelan tubuh nya.
"Dasar nakal, di ajak ke kamar mandi kok malah yang lain pulak yang di kerjakan nya." oceh ku.
"Hehehe, gak sengaja, sayang." balas Rendi sambil cengar-cengir.
Melihat Rendi yang sedang salah tingkah, aku pun mempunyai ide untuk menggoda lelaki ku itu. Aku menjulurkan tangan ke bawah, dan mulai mengelus-elus mainan kesayangan ku tersebut.
"Aauuuw! Sakit, sayang." rengek Rendi.
"Hahaha, kapok!" ledek ku.
Aku langsung berlari kecil ke kamar mandi, dan di susul oleh Rendi dari belakang. Dia mengejar ku dan berusaha meraih tubuh ku sambil berkata...
"Udah mulai nakal sekarang ya, mau minta di hukum lagi kayak nya nih." goda Rendi.
Sampai di dalam kamar mandi, aku segera menyalakan shower dan berdiri di bawah nya. Sedang kan Rendi, dia hanya berdiam diri di depan pintu.
Rendi memperhatikan seluruh tubuh ku yang sedang basah kuyup di bawah guyuran shower.
Rendi menelan ludah nya secara kasar. Dia tampak sangat tergiur melihat pemandangan yang sangat indah di depan mata nya.
Tanpa basa-basi lagi, Rendi pun langsung memeluk tubuh ku dari belakang. Dia kembali menggerayangi ku dengan tangan-tangan nakal nya.
Setelah puas dengan aksinya, Rendi pun mulai membawa ku mundur ke belakang, hingga punggung ku menempel di tembok kamar mandi. Setelah itu, Rendi berjongkok di depan ku dan mulai melancarkan kegiatan nya kembali.
Di saat kegiatan nya itu sedang berlangsung Rendi pun bertanya pada ku. Dia mendongak kan kepala nya ke atas, dan menatap wajah ku yang sedang menunduk melihat aksi nya tersebut.
"Kalau di giniin suka gak?" tanya Rendi.
"Suka banget dong, sayang!" balas ku manja.
Aku menjawab dengan senyum yang sumringah, sambil mengelus-elus kepala nya yang sedang berada di bawah ku .
Setelah selesai dengan tugas nya, Rendi pun memulai kegiatan panas nya kembali.
Dengan tubuh yang basah kuyup di bawah guyuran shower, kami berdua pun mulai melakukan olahraga bersama. Dan akhirnya, suara-suara indah pun mulai menggema di dalam kamar mandi akibat ulah nakal Rendi.
"Nikmat gak, sayang?"
Rendi bertanya sambil terus melakukan olahraga nya dari belakang. Dengan nafas yang ngos-ngosan aku pun menjawab pertanyaan Rendi.
"Iya, bang. Nikmat banget rasanya. Teruskan aja, bang!" jawab ku.
__ADS_1
Mendengar jawaban ku, Rendi pun semakin bersemangat dan kembali bersuara dengan nafas yang juga ngos-ngosan seperti ku.
"Dari dulu sampe sekarang, dirimu memang gak pernah berubah ya, sayang! Gairah mu itu masih sama seperti yang dulu." ujar Rendi.
"Hehehe, ya iya lah, bang. Udah tau gitu pun masih aja nanya!" balas ku.
Setengah jam kemudian, Rendi mengakhiri olahraga nya dan kami berdua pun mulai membersihkan diri masing-masing.
Setelah urusan kamar mandi selesai, aku duduk di tepi ranjang dengan handuk yang melilit di tubuh ku.
Begitu juga dengan Rendi, dia duduk di samping ku dan masih mengenakan handuk di pinggang nya.
"Kamu masih merokok ya, sayang?"
Rendi bertanya setelah melihat sebungkus rokok yang berada di atas meja. Aku hanya mengangguk dan mengambil rokok itu kemudian menyalakan nya.
"By the way, tadi kata nya mau cerita. Emang nya mau cerita tentang apa?" tanya Rendi lagi.
"Tentang rumah tangga ku yang sedang berantakan seperti kapal pecah, bang." jawab ku asal.
Aku menghela nafas sambil menghisap rokok ku kembali. Rendi menatap ku penuh selidik saat melihat mata ku yang mulai berembun, Rendi pun langsung memeluk tubuh ku dari samping sambil membelai rambut ku.
Mendapat perlakuan hangat dari Rendi, tangis ku pun pecah seketika. Aku menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan Rendi. Aku menumpahkan segala luka dan lara ku pada mantan kekasih ku itu.
"Sabar, sayang. Di balik semua kejadian pasti ada hikmahnya. Allah tidak akan menguji di luar batas kemampuan hambanya." ucap Rendi.
Rendi memberikan wejangan padaku. Dia juga semakin mempererat pelukannya dan sesekali mengecup kening ku. Rendi seolah-olah sedang memberikan semangat untuk hidup ku.
Sedangkan aku, tidak menjawab apa pun ucapan Rendi. Aku terus saja menangis bahkan sampai sesegukan, di dalam pelukan nya.
Aku semakin menenggelamkan wajah ku di dada Rendi dan menghirup aroma wangi dari tubuh nya.
Dengan cara seperti itu lah aku bisa merasakan sedikit ketenangan saat ini. Rendi dari dulu memang tidak pernah berubah. Dia selalu saja mengerti tentang diriku.
Dia mampu menenangkan hati ku, di kala aku sedang rapuh dalam menghadapi beban hidup ku.
Setelah beberapa saat suasana haru menyelimuti hati ku, Rendi pun mulai merenggang pelukan nya dan berlutut di hadapan ku.
"Jika kau merasa bahagia dengan nya, maka teruskan lah. Tapi jika kau sudah tidak sanggup lagi, maka lepaskanlah dan datang lah pada ku." ujar Rendi.
"Aku akan siap menerima kehadiran mu dalam hidup ku. Pintu rumah ku akan selalu terbuka lebar untuk mu." lanjut Rendi.
Mendengar penuturan Rendi, tangisan ku yang tadi nya sudah mereda kini kembali pecah. Aku sangat terharu dengan ketulusan cinta Rendi yang sedari dulu tidak pernah berubah pada ku.
Tubuh ku langsung merosot dan terduduk di lantai tepat di depan Rendi. Melihat air mata ku yang semakin mengucur deras, Rendi pun mengusap lembut kedua pipi ku dengan jari-jari tangan nya.
"Udah dong, sayang! Jangan mewek terus, jelek tau." ledek Rendi.
Tangisan ku langsung mendadak berhenti, akibat candaan receh Rendi barusan. Karena merasa malu, aku pun memukul-mukul pelan dada Rendi sambil merengek manja pada nya.
"Iiihhhh, apa an sih, bang. Orang lagi sedih-sedih gini kok bukan di hibur, malah di ledekin pulak!" omel ku dengan suara serak.
Aku menghapus air mata ku sendiri dengan kedua tangan ku lalu mengambil tisu di atas nakas. Kemudian aku mengeluarkan cairan yang meleleh keluar dari hidung ku, yang sedari tadi sangat mengganggu pernapasan ku.
"Srooott,"
Raut wajah Rendi langsung berubah geli, mendengar suara yang keluar dari hidung ku itu. Bahu nya bergidik melihat tisu yang aku gunakan untuk membersihkan hidung ku tadi.
"Iiiisss, jorok banget sih, sayang! Cepat buang tisu nya itu ke tong sampah sana!" perintah Rendi.
Sedari dulu, Rendi memang paling anti sama yang namanya ingus. Dia paling jijik jika melihat hal yang satu itu. Melihat gelagat Rendi seperti itu, aku pun mulai mengerjai nya lagi.
Aku mendekat kan tisu yang aku gunakan itu ke arah wajah nya. Dan itu berhasil membuat Rendi lari tunggang langgang mengitari ranjang.
"Hahaha, maka nya jangan suka ngeledekin aku, kena imbas nya sekarang kan."
Aku tertawa terbahak-bahak sambil membawa tisu, dan terus mengejar Rendi yang sedang berlarian kesana kemari.
Persis seperti tikus yang sedang ketakutan karena di kejar-kejar oleh kucing garong.
Setelah merasa lelah, aku pun berhenti mengejar Rendi dan kembali duduk di tepi ranjang.
"Huh, capek juga ternyata lari-larian kayak gini!" sungut ku dengan nafas ngos-ngosan.
__ADS_1