SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Sandal Siapa?


__ADS_3

"Hehehe," Rendi hanya cengar-cengir menanggapi ledekan ku.


Beberapa menit kemudian, dua pelayan pun datang sambil membawa nampan yang berisikan makanan dan minuman di tangan nya masing-masing.


"Silahkan di nikmati hidangan nya, mas, mbak!" ucap si pelayan dengan ramah.


"Oke, makasih ya, mbak." balas ku dan Rendi serempak.


Setelah selesai menghidangkan makanan di atas meja, kedua pelayan itu pun berlalu pergi kembali melayani pelanggan lain nya. Aku mulai menyeruput jus jeruk hingga habis setengah gelas.


"Alhamdulillah, seger banget jus nya." ujar ku.


"Hah, dirimu haus atau doyan, Yu? Masa sekali nyeruput bisa habis sampe setengah gelas gitu?" tanya Rendi sedikit terkejut.


"Sssttt, berisik! Udah diem aja, jangan banyak tanya. Ayok kita makan aku udah lapar banget nih!" jawab ku pelan.


Rendi hanya tersenyum mendengar jawaban ku. Setelah selesai bercanda dan berdebat bersama Rendi, kami berdua pun mulai memakan makanan yang ada di atas meja, sembari menikmati pemandangan laut yang sangat indah.


Selesai makan, Rendi kembali membuka percakapan. Dia masih sangat penasaran dengan kejadian pembunuhan yang terjadi di samping kamar kami semalam.


"Yu, abang masih penasaran banget nih, sama kejadian yang semalam. Ceritain dong, Yu! Tadi kan dirimu udah janji mau ceritain ke abang." pinta Rendi sembari menyalakan rokok nya.


"Oh, masalah itu. Jadi gini ceritanya, waktu kita keluar cari makan semalam, ada pasangan yang check in di kamar sebelah kita." jelas ku


"Trus, apa lagi?" desak Rendi.


"Dua jam kemudian si laki-laki keluar, dia pergi dengan tergesa-gesa menaiki motor nya." lanjut ku.


"Trus, gimana lagi cerita nya?" tanya Rendi.


"Tras trus tras trus! Lama-lama abang kayak tukang parkir aja ngomong nya." balas ku.


Aku menjawab sambil memanyunkan bibir ku ke depan, lalu kembali menyeruput jus jeruk sampai tandas tak bersisa. Sedangkan Rendi, dia malah cengengesan mendengar omelan ku barusan.


"Habis nya abang masih penasaran, sayang. Abang pengen tau cerita yang sebenarnya." ujar Rendi.


"Iya, aku lanjutin nih ceritanya. Jam sebelas tadi pas aku baru bangun tidur, ternyata sudah banyak polisi di depan kamar kita. Mereka menggotong bungkusan besar yang isi nya mayat perempuan." jelas ku.


Rendi langsung terlonjak kaget mendengar penjelasan ku. Dia tampak sangat ketakutan dan bergidik ngeri sambil terus menatap wajah ku.

__ADS_1


"Abang kenapa sih, kok jadi gelisah gitu duduk nya?" tanya ku heran.


"Abang jadi ngeri sendiri ngebayangin nya. Ternyata semalam ada orang mati di samping kamar kita, hiiiiii." jawab Rendi.


Rendi kembali bergidik ngeri, dia sama sekali tidak menyangka kalau semalam terjadi hal yang sangat menakutkan dan menyeramkan. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lelaki ku itu.


"Trus, tadi dirimu ngomong sama siapa, Yu?Sewaktu kita mau check out dari hotel tadi?" tanya Rendi lagi.


"Oh itu, bukan siapa-siapa kok. Aku cuma mau ngetes abang aja tadi. Ternyata lelaki ku ini takut juga rupa nya, hahaha." jawab ku.


Aku tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah Rendi yang berubah menjadi masam. Dia tampak sangat kesal dengan kelakuan ku sewaktu di kamar hotel tadi.


"Oalah, kirain tadi dirimu beneran lihat hantu, ternyata cuma prank. Untung aja abang gak pingsan gara-gara ulah mu tadi, Yu. Dasar bocah nakal!" gerutu Rendi sambil tersenyum.


"Masa gitu aja bisa pingsan sih, bang? Cemen banget jadi cowok, hihihi." cibir ku.


Aku terkikik geli mengingat reaksi Rendi, sewaktu aku kerjain di kamar hotel tadi. Rendi langsung mengacak-acak rambut ku, dia tampak sangat gemas dengan ulah ku tersebut.


"By the way, habis dari sini kita mau kemana lagi?" tanya Rendi.


Aku terdiam sejenak dan kembali menatap pemandangan laut yang ada di hadapanku. Dengan pandangan yang menerawang, aku pun kembali menjawab pertanyaan Rendi.


"Kalo saran abang sih, lebih baik selesai kan aja dulu masalah mu dengan suami mu itu." usul Rendi.


"Kalo memang hubungan kalian gak bisa di teruskan lagi, baru lah kamu bisa memikirkan jalan selanjut nya." lanjut Rendi lagi.


Aku tidak langsung menjawab ucapan Rendi. Aku masih tetap memandangi lautan dengan tatapan kosong. Setelah beberapa kali menghembuskan nafas kasar, aku pun kembali membuka suara.


"Oke lah kalo gitu, aku akan selesai kan masalah ini dengan suami ku. Apa pun keputusan nya nanti, aku akan menerima nya dengan lapang dada." balas ku.


"Tolong antar kan aku pulang ya, bang!" pinta ku sambil menyampirkan tas selempang di bahu kiri ku.


"Oke, mau pulang sekarang atau nanti?"


Rendi bertanya sembari mematikan rokoknya di dalam asbak yang ada di depan nya. Mendengar pertanyaan Rendi, aku pun langsung menoleh pada nya sambil berkata...


"Sekarang aja!" jawab ku.


"Ya udah kalo gitu, kita pulang sekarang!" balas Rendi.

__ADS_1


Setelah selesai membayar tagihan makanan di meja kasir, aku dan Rendi berjalan beriringan menuju parkiran dan langsung masuk ke dalam mobil.


Tanpa basa-basi lagi, Rendi pun mulai melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke arah rumah bang Darma.


Di tengah perjalanan, Rendi menghentikan laju kendaraan nya dan mengeluarkan beberapa lembar uang merah dari dompet nya. Dia langsung menyelipkan uang itu ke dalam genggaman tangan ku.


"Selesai kan masalah mu dengan kepala dingin ya, sayang. Kalo ada apa-apa, langsung aja hubungi abang. Biar abang yang akan menghadapi suami mu itu." ujar Rendi.


Rendi memberikan wejangan pada ku, sembari memeluk tubuh ku dan mengecupi seluruh wajah ku. Aku hanya menganggukkan kepala mengiyakan ucapan nya.


Rendi mulai melepaskan pelukan nya dan kembali melajukan kendaraan roda empat nya dengan santai.


Tidak ada perbincangan apa pun lagi di antara kami berdua. Aku dan Rendi sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tak butuh waktu lama, kami pun sudah tiba di depan rumah bang Darma. Pintu rumah nya terbuka lebar dan tampak ada sepasang sandal asing yang tergeletak di depan pintu.


"Sandal siapa itu, kok aku gak pernah lihat ya?"


Aku membatin dengan kening yang mengkerut. Aku terus saja memperhatikan ke arah pintu rumah suami ku.


Rendi yang melihat reaksi aneh ku itu pun tampak bingung dan heran, karena aku tidak langsung turun dari mobil nya. Aku masih saja berdiam diri dan duduk anteng di sebelah nya.


"Kok malah diam, Yu? Apa kita putar balik aja ya?" tanya Rendi.


"Eh, gak usah, bang. Aku turun disini aja ya, lain waktu nanti kita jumpa lagi, bye." pamit ku.


"Oh, ya udah gak papa. Hati-hati ya, sayang!" balas Rendi.


"Iya, makasih ya, bang." jawab ku.


Aku mencium punggung tangan Rendi dan mencium kilat kedua pipi nya. Rendi langsung tersenyum sumringah mendapatkan perlakuan seperti itu dari ku.


Setelah aku turun dari mobil nya, Rendi langsung melajukan kendaraannya kembali, dan berlalu pergi meninggalkan ku yang masih terpaku di depan rumah bang Darma.


"Huh, semoga semua nya baik-baik aja, amin. Bismillahirrahmanirrahim," doa ku dalam hati.


Dengan perasaan ragu dan bimbang, aku mulai melangkah kan kaki ku menuju ke teras rumah. Sampai di depan pintu, aku langsung terpaku saat melihat sandal wanita yang ada di depan ku.


"Sandal siapa ini?" batin ku.

__ADS_1


__ADS_2