SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kembali Mengganggu


__ADS_3

Setelah selesai memberikan pelajaran, kepada tetangga yang super duper kepo itu, aku kembali ke dalam kios. Dan tak lama berselang, bang Darma pun pulang untuk makan siang.


"Assalamualaikum," salam bang Darma.


"Wa'laikum salam." balas ku.


Bang Darma turun dari motor ojek, dan melangkah masuk ke dalam rumah. Aku pun segera bergegas menyambut nya, dan mencium punggung tangan nya.


"Mau makan sekarang, atau mau shalat dulu, bang?" tanya ku.


"Nanti aja makan nya, dek! Abang mau shalat dulu." jawab bang Darma.


Bang Darma langsung berjalan ke kamar mandi, untuk membersihkan diri nya. Aku pun turut mengekori langkah nya dari belakang. Dan mulai menghidangkan makanan, dan perlengkapan lain nya di atas meja ruang tamu.


Setelah selesai shalat, bang Darma duduk bersila di atas lantai, aku pun segera menurunkan semua makanan yang sudah aku siap kan tadi, dan meletakkan nya di depan bang Darma.


Setelah semua nya beres, kami berdua pun mulai memakan makanan itu dengan suasana hening, tanpa percakapan apa pun. Beberapa menit kemudian, acara makan siang pun selesai.


Tanpa berkata apa pun pada ku, bang Darma langsung berangkat kembali, ke tempat kerja nya. Melihat sikap bang Darma yang mendiami ku seperti itu, aku sama sekali tidak merasa tersinggung, atau pun marah.


Karena, itu sudah biasa bagi ku. Kalau pikiran nya sudah tenang kembali, bang Darma pasti akan bersikap seperti biasa lagi.


Setelah kepergian bang Darma, aku pun langsung mendudukkan diri atas sofa, sambil mengotak-atik ponsel ku. Dan tiba-tiba...


Kring kring kring...


Ponsel yang sedang berada di tangan ku itu pun berdering, tanda panggilan masuk. Aku langsung mengerutkan kening, melihat foto profil yang tampil di layar ponsel ku tersebut.


"Yuni," gumam ku.


"Ngapain lagi sih ini bocah, telpan telpon aku segala? Gak ada capek-capek nya nih orang, buat masalah dengan ku. Apa hidup nya gak bisa tenang ya, kalau tidak menggangu ku?" batin ku.


Aku terus saja bergumam dan membatin, sambil melihat ponsel yang sedang berdering nyaring tersebut.


"Angkat gak, ya?" batin ku mulai ragu.


"Ah, angkat aja lah. Siapa tau, dia memang ada perlu dengan ku." lanjut ku.


Akhirnya, dengan berat hati dan penuh pertimbangan, aku pun menerima panggilan dari Yuni, dengan hati yang sedikit was-was.


"Halo, assalamualaikum. Ada apa, Yun?" tanya ku.


"Heh, perempuan gila! Apa yang sudah kau lakukan pada anak ku semalam, hah?" tanya Dina.


Ya, ternyata bukan Yuni yang menghubungi ku. Melainkan Dina, ibu nya Yuni. Aku reflek menjauhkan ponsel dari telinga ku. Sebab, telinga ku langsung berdengung, karena tidak tahan mendengar suara cempreng, dari wanita tersebut.


Setelah telinga ku kembali normal, aku pun mulai menjawab pertanyaan dari nenek lampir tersebut.


"Emang nya, anak mu kenapa? Apakah dia kesurupan? Atau mungkin, dia sudah ikut-ikutan gila seperti dirimu?" jawab ku.

__ADS_1


Setelah mendengar jawaban ku, Dina semakin bertambah emosi. Dia kembali melontarkan kata-kata yang cukup pedas pada ku.


"Apa kau bilang? Berani sekali, kau menghina kami berdua. Udah bosan hidup kau, ya?" tanya Dina geram.


"Yang udah bosan hidup itu, aku atau kau? Dasar, perempuan setres!" jawab ku.


"Kau bilang apa tadi, hah? tanya Dina lagi.


"Maka nya, kalau punya kuping itu jangan budeg kali, jadi orang. Masa, aku ngomong gitu aja gak dengar? Dasar, budeg!" jawab ku.


"Kau memang..."


Sebelum Dina meneruskan kalimatnya, aku dengan cepat memotong kata-kata nya tersebut.


"Ya, aku memang cantik, imut, dermawan dan juga baik hati. Itu kan, yang mau kau bilang tadi? Hahaha." jawab ku.


Aku langsung tertawa terbahak-bahak, setelah mengucapkan kalimat, yang bisa membuat Dina semakin emosi tingkat dewa.


"Cuih, kepedean kali kau jadi orang! Ngaca dong, ngaca! Hanya mata orang-orang rabun, yang bilang kau itu cantik." balas Dina kesal.


"Oh, ya?" ledek ku.


"Ya, iya lah! Muka jelek dan pas-pasan gitu kok, di bilang cantik! Mimpi loe, ya? Hahaha." balas Dina.


"Iya lah, ngalah aja! Sekarang mau mu apa, hah? Ngapain kau kerajinan kali, nelpon-nelpon aku? Kangen, ya?" tanya ku.


"Uwek, langsung mual perut, dengar nya!" balas Dina.


"Kau..."


"Udah, cepetan! Kau ada perlu apa sebenarnya, hah? Aku gak punya banyak waktu, untuk meladeni orang-orang yang gak penting, seperti kalian." ucap ku.


"Heleh, sok kali kau. Dasar, benalu!" jawab Dina.


Kening ku langsung mengkerut, mendengar makian Dina tersebut. Kata-kata yang diucapkan nya, semakin lama semakin menjadi-jadi.


"HEH, perempuan luknut! Dengar baik-baik, ya! Yang benalu itu kalian, bukan aku. Gak sadar diri, selalu aja mengganggu rumah tangga orang lain!" jawab ku lantang.


"Dan satu lagi, yang harus kau dengar. Buka kuping mu itu, lebar-lebar! Bagaimana pun usaha mu, untuk menghancurkan rumah tangga ku. Itu semua gak bakalan mempan, ingat itu!" lanjut ku.


Aku langsung menutup panggilan dari Dina, secara sepihak. Aku sudah malas meladeni omongan nya, yang semakin ngelunjak seperti itu.


"Dari pada menjadi beban pikiran buat ku, mendingan aku blokir saja, no nya!" batin ku.


Aku pun segera memblokir kembali no Yuni. Agar mereka tidak bisa, menghubungi ku lagi. Setelah itu, aku merebahkan diri di atas tempat duduk ku tadi.


Setelah beberapa saat meluruskan pinggang, salah satu tetangga ku yang bernama Nur datang. Dia ingin melihat-lihat, barang dagangan ku tersebut.


"Hai, mbak Ayu. Lagi santai, ya? Kira-kira, aku mengganggu gak, nih?" tanya Nur.

__ADS_1


"Ya gak lah, Nur. Emang nya, ada perlu apa?" tanya ku.


"Oh ini, mbak. Aku mau lihat-lihat baju dan sandal, mana tau ada yang cocok. Karena nanti sore, aku mau pergi kondangan." jawab Nur.


"Oh, gitu. Ya udah, kita langsung ke kios aja, yok!" ajak ku.


"Iya, mbak." balas Nur.


Kami berdua pun melangkah masuk, ke dalam kios ku. Sampai di dalam, Nur pun langsung memilih-milih barang yang di perlukan nya. Kemudian, dia mulai mencoba, beberapa gamis dan sandal.


Setelah beberapa saat mencobanya, Nur menghampiri ku yang sedang duduk santai di kursi. Yang berada tidak jauh, dari tempat nya memilih tersebut.


"Gamis dan sandal yang ini, harga nya berapa ya, mbak?" tanya Nur.


Nur menyodorkan selembar gamis batik, dan sepasang sandal wedges pada ku. Aku langsung menerima nya, dan mengecek harga nya.


"Harga gamis nya, 150 ribu, Nur. Kalau sandal nya, 80 ribu!" balas ku.


"Harga nya gak bisa kurang lagi ya, mbak?" tawar Nur.


"Bisa, Nur. Tapi, cuma dikit aja kurang nya!" balas ku.


"Emang nya berapa, mbak?" tanya Nur lagi.


"Gamis, 140 ribu. Kalau sandal 75 ribu. Jadi total nya, 215 ribu." jelas ku.


"Oh, segitu ya, mbak. Oke lah, aku jadi ambil gamis dan sandal nya ya, mbak!" jawab Nur.


"Alhamdulillah. Oke, Nur. Aku bungkus sekarang, ya!" balas ku.


"Iya, mbak Ayu."


Nur segera menyerahkan uang sebesar 250 pada ku. Dan aku pun, langsung bergegas membungkus gamis dan sandal itu. Lalu, menyerahkan nya ke tangan Nur.


"Bentar ya, Nur! Aku ambil kembalian nya dulu, ke dalam." ucap ku.


"Oke, mbak." balas Nur.


Setelah itu, aku langsung berlari kecil ke dalam kamar, dan mengambil uang kembalian nya di dalam dompet. Kemudian, kembali lagi ke dalam kios, dengan langkah cepat.


"Makasih banyak ya, Nur." ucap ku.


Aku menyerahkan uang kembalian itu ke tangan Nur, sambil tersenyum. Dan mengucapkan terima kasih, pada nya. Nur menerima uang itu, sambil membalas senyuman ku.


"Iya, sama-sama, mbak. Oke lah, mbak. Aku pamit ya, kapan-kapan aku kesini lagi!" balas Nur.


"Oke, Nur." balas ku.


"Alhamdulillah, untuk rezeki hari ini, ya Allah." ucap syukur ku dalam hati.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Nur pun mulai melangkah kan kaki nya, keluar dari kios ku. Setelah kepergian Nur, aku kembali rebahan di atas sofa. Dan, kembali meneruskan lamunan ku, yang sempat tertunda tadi.


__ADS_2