SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pertengkaran Ibu dan Anak


__ADS_3

Sesudah melayani hasrat Dina, Darma pun kembali melanjutkan ritual mandi nya. Setelah selesai, ia pun kembali ke kamar Yuni dengan wajah segar dan rambut yang masih basah.


"Kok lama banget sih? Itu mandi atau ketiduran?" tanya Yuni kesal.


Yuni menatap tajam ke arah Darma dengan mata elang nya. Dia tampak curiga dengan gelagat Darma yang terlihat sedikit aneh menurut pandangan nya.


Melihat tatapan horor Yuni, Darma pun langsung gelagapan dan panik seketika. Dia tampak sedang berpikir keras untuk mencari alasan yang tepat, agar Yuni tetap percaya dengan nya.


"Eh itu anu, perut abang tadi mules banget, maka nya agak lama." jawab Darma gugup lalu memakai pakaian nya kembali.


"Beneran?" selidik Yuni sambil menajamkan tatapan nya.


"Iya beneran, sayang. Untuk apa abang bohong, gak ada guna nya juga." jawab Darma dengan wajah serius.


"Oh, ya udah deh." balas Yuni.


Mendengar jawaban Darma yang tampak sangat meyakinkan, Yuni pun langsung terdiam dan tidak bertanya apa pun lagi pada nya. Yuni kembali fokus memainkan game online yang ada di ponsel nya.


Melihat reaksi Yuni yang tampak percaya dengan kebohongan nya, Darma pun menghela nafas panjang sambil mengelus dada nya.


"Huh, untung aja dia langsung percaya. Kalau tidak, bakalan perang dunia lagi nanti nya." batin Darma lega.


Selesai berpakaian, Darma pun berjalan menuju meja rias lalu menyisir rambut nya, dan menyemprotkan sedikit parfum ke tubuh nya. Setelah itu, dia pun duduk di sebelah Yuni lalu menyalakan rokok nya.


"Mana makanan nya, Yun? Kok belum nyampe-nyampe juga?" tanya Darma membuka percakapan kembali.


"Ntar lagi, palingan masih di jalan" jawab Yuni ketus.


"Oh," balas Darma sambil terus menghisap rokok nya.


Beberapa detik kemudian, ponsel yang sedang di pegang Yuni pun berdering nyaring tanda panggilan masuk.


Kring kring kring...


Yuni yang sedang asyik bermain game pun langsung tersentak, sambil mengelus-elus dada nya.


"Haduhh, kaget aku." gumam Yuni kesal.


Dengan perasaan sedikit dongkol, Yuni pun langsung menempel kan ponsel itu ke telinga nya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo, siapa ini?" tanya Yuni dengan suara cempreng nya.


"Halo, mbak. Saya kurir pengantar makanan. Saya udah di depan nih, mbak." jawab si kurir.


"Oh, oke. Tunggu bentar ya, bang. Saya keluar sekarang." balas Yuni.


"Oke, mbak." balas si kurir lalu menutup panggilan nya.


Dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa, Yuni pun langsung mengambil dompet nya yang tergeletak di atas meja rias, lalu keluar dari kamar dengan langkah lebar.


Setelah membuka pintu utama, Yuni pun langsung membuka dompet nya lalu menyerahkan uang itu kepada si kurir makanan, sambil berkata...


"Bang, ini uang nya, makasih ya!" ujar Yuni sembari tersenyum lebar.


"Iya mbak, makasih kembali."


Balas si kurir sambil menerima uang pemberian Yuni, lalu menyerahkan makanan itu kepada gadis manis yang ada di depan nya.


Setelah kurir itu pergi dari hadapan nya, Yuni pun melangkah masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu kembali. Saat hendak masuk ke dalam kamar nya, tiba-tiba Yuni di kejutkan dengan suara Dina.

__ADS_1


"Apa yang kau bawa itu, Yun?"


Tanya Dina yang sudah berdiri tegak di depan pintu kamar nya, dengan menggunakan pakaian tidur yang sangat minim, dan belahan dada yang sedikit lebar. Hingga menampakkan dua bukit kembar nya yang sedikit menyembul keluar.


"Makanan untuk kekasih ku." jawab Yuni ketus sambil melirik ke arah tubuh Dina.


Karena merasa tidak senang dengan pakaian yang dikenakan Dina, Yuni pun langsung berkomentar pedas kepada ibu kandung nya tersebut.


"Mamak ini apa-apaan sih? Udah tuwir(tua) gitu pun, masih aja hobi pake baju kurang bahan kayak gitu, bikin malu aja." cibir Yuni sembari menatap sinis kepada Dina.


Mendengar cibiran pedas anak nya, Dina pun langsung naik emosi nya langsung naik sampai ke ubun-ubun. Sambil berkacak pinggang dan mata yang membulat sempurna, Dina pun membalas ucapan anak nya tersebut.


"Heh, anak gak tau diri! Berani-beraninya kau mengatur orang tua mu sendiri, udah bosan hidup kau ya?" omel Dina sambil memasang wajah horor nya.


"Pake ngata-ngatain tuwir segala lagi. Mau aku sumpal pake cabe mulut busuk mu itu, hah?" gertak Dina dengan suara yang cukup tinggi.


Dan itu berhasil membuat Yuni sedikit tersentak, dan mundur beberapa langkah ke belakang. Wajah Yuni langsung pucat dan tampak sangat ketakutan, saat menghadapi kemarahan Dina.


"Ya...Ya kan kenyataan nya emang gitu sih. Mamak itu memang udah tuwir, jadi harus sadar diri dikit lah. Jangan belagak kayak anak ABG terus, malu sama umur." tambah Yuni semakin menghina ibu nya.


Emosi yang sedari tadi di tahan-tahan oleh Dina pun, akhirnya meledak juga. Dina langsung menarik rambut Yuni dengan sekuat tenaga nya. Kemudian dia pun menghempaskan nya ke lantai, sambil berkata...


"Kurang aja, bukan nya minta maaf malah semakin ngelunjak. Mau aku masukkan lagi ke dalam perut, hah?" pekik Dina dengan suara menggelegar.


Mendapat tarikan kuat di kepala nya, Yuni pun langsung menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Dina dari rambut nya.


"Aaaaaa, sakiiiiit! Lepasin, maaakkk." pekik Yuni sambil meronta-ronta di atas lantai.


Mendengar keributan di depan kamar, Darma pun segera bergegas keluar dan langsung mematung di tempat, saat melihat pertengkaran antara ibu dan anak tersebut.


"Heh heh heh, kalian ini apa-apaan sih? Pake acara berantem segala. Apa kalian gak malu, kalau sampai di dengar sama tetangga?" pekik Darma berusaha melerai keduanya.


Karena merasa iba dan prihatin dengan keadaan Yuni, Darma pun akhirnya bertindak tegas kepada Dina. Dia mendorong tubuh Dina dengan kuat, hingga membuat mantan istri nya itu terjatuh dan tersungkur ke lantai.


"Auuw, sakiiit!" pekik Dina sambil meringis kesakitan memegangi pinggang nya.


Melihat Dina yang sedang kelesotan di lantai, Yuni pun langsung tersenyum penuh kemenangan. Dia tampak sangat bahagia, karena mendapat pembelaan dari lelaki pujaan nya tersebut.


"Sukurin, maka nya jangan sok jagoan jadi orang. Sekarang rasakan lah akibat nya, hahaha!" cibir Yuni sembari tertawa ngakak.


"Dasar, anak kurang ajar! Awas kau ya, aku akan balas semua perbuatan kalian!" ancam Dina lalu berusaha bangkit dari lantai dan kembali mendekati Yuni.


Melihat gerak-gerik ibu nya yang ingin membalas kan dendam nya, Yuni pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar nya, sambil menarik pergelangan tangan Darma. Setelah mengunci pintu, Yuni pun langsung merebahkan tubuh lelah nya di atas kasur.


Sedangkan Dina, dia menjerit-jerit sambil menendangi pintu kamar Yuni dengan sekuat tenaga nya.


Brakk brakk brakk...


"Buka pintu nya, setaaaan! Dasar, pengecut kalian berdua. Cepat keluar, hadapi aku sekarang!" jerit Dina dengan emosi tingkat dewa.


Darma hanya terpaku dan melongo seperti ayam penyakitan, sambil terus mendengarkan pekikan Dina yang sangat memekakkan telinga.


Sedangkan Yuni, bukan nya merasa bersalah atas perbuatannya, dia malah tersenyum miring melihat aksi brutal ibu nya tersebut.


Karena tidak ada jawaban dari kamar Yuni, Dina pun akhirnya pasrah dan menyudahi kegilaan nya.


"Awas kalian ya, aku tidak akan pernah memaafkan perbuatan kalian hari ini, camkan itu baik-baik!" ancam Dina.


Sambil menggerutu kesal, Dina pun kembali masuk ke kamar nya, lalu membanting pintu dengan kuat. Hingga membuat dinding kamar nya sedikit bergetar, akibat ulah nya tersebut.

__ADS_1


Mendengar dentuman pintu yang cukup kuat, Darma pun langsung bernafas lega sambil mengelus dada nya.


"Hufff, syukur lah. Akhirnya dia berhenti juga." gumam Darma.


Setelah keadaan di luar sudah mulai aman, Darma pun mendekati Yuni yang masih berbaring telentang di atas kasur nya.


"Kalian itu kenapa sih, Yun? Kok tiba-tiba berantem gitu? Apa masalah nya?" tanya Darma membuka perbincangan.


Yuni langsung menoleh dan bangun dari baring nya, setelah mendengar pertanyaan Darma. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Darma, kemudian dia pun mulai menceritakan kejadian yang sebenarnya, kepada lelaki paruh baya tersebut.


"Tadi tu mamak marah, karena Yuni tegur cara berpakaian nya. Dia gak terima waktu Yuni bilang, udah tuwir jangan belagak kayak anak ABG terus." jelas Yuni.


Darma langsung menghembuskan nafas kasar, setelah mendengar penuturan Yuni barusan. Dia sama sekali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Dina. Dia tidak terima dengan kritikan anak nya sendiri yang jelas-jelas benar ada nya.


"Udah lah, biarin aja mamak mu seperti itu. Gak usah kau campuri lagi urusan nya. Biarkan dia hidup dengan gaya dan kemauan nya sendiri."


Usul Darma, sambil membelai rambut panjang Yuni dengan penuh kasih sayang. Mendapat perlakuan lembut dari Darma, Yuni pun langsung tersenyum dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Darma, lalu berkata...


"Ya udah deh, yuni akan turuti perintah abang. Asalkan abang janji, jangan pernah tergoda dengan penampilan mamak yang selalu terbuka seperti tadi." ujar Yuni dengan penuh penekanan.


"Iyaaaa, abang janji. Abang gak bakalan tergiur ataupun tergoda dengan mamak mu lagi." balas Darma berusaha meyakinkan Yuni dengan wajah serius nya.


"Oke, Yuni akan pegang janji abang. Tapi ingat, kalau sampai kalian ketahuan ada main di belakang Yuni. Awas aja, Yuni tidak akan segan-segan menghancurkan kalian berdua, ingat itu!" ancam Yuni.


"Iya iya, abang gak bakalan ingkar janji kok, percaya lah!" tambah Darma.


Kemudian ia pun mengecup kening Yuni, lalu memeluk tubuh gadis kecil nya itu ke dalam dekapan nya. Setelah beberapa saat saling berpelukan, tiba-tiba Darma teringat akan sesuatu.


"Ngomong-ngomong, makanan yang kau pesan tadi mana, Yun?" tanya Darma lalu merenggang kan pelukan nya dari tubuh Yuni.


"Oiya, hampir aja Yuni lupa, hehehe." jawab Yuni sambil menepuk jidat nya sendiri.


Yuni segera bangkit dari duduk nya, dan melangkah menuju meja kecil yang berada di samping lemari pakaian. Dia mengambil bungkusan plastik hitam itu, lalu duduk melantai di depan Darma.


Setelah membuka semua makanan itu, dan menyiapkan alat-alat makan nya, Yuni pun langsung mengajak Darma untuk bersantap bersama nya.


"Udah siap nih, bang. Ayo kita makan!" seru Yuni.


"Oke, sayang." balas Darma dengan senyum mengembang di bibir nya.


Darma dan Yuni pun mulai memakan makanan nya masing-masing dengan lahap dan hening, tanpa percakapan apa pun lagi. Setelah acara makan malam selesai, Yuni pun mulai membereskan kotak dan kertas pembungkus makanan itu ke dalam tong sampah.


Setelah selesai, ia pun kembali duduk di tempat semula. Sedangkan Darma, dia menyalakan rokok nya dan menghembuskan asap nya ke udara, lalu bertanya...


"Yun, abang boleh minta sesuatu gak?" tanya Darma.


"Ya boleh-boleh aja sih, asal jangan minta yang aneh-aneh aja. Emangnya abang mau minta apaan sih?" tanya Yuni penasaran dengan kening mengkerut.


"Tapi janji jangan marah ya!" ujar Darma.


"Iya, Yuni gak bakalan marah kok. Ayo cepetan ngomong! Bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja kerjaan nya." desak Yuni semakin tidak sabar.


Darma menghela nafas dalam-dalam, lalu membuang nya dengan kasar. Dia tampak sangat ragu untuk mengungkapkan keinginan nya tersebut.


"Hhhmmm, kalau seandainya kita menikah, kau mau gak tinggal satu rumah dengan Ayu?" tanya Darma.


Yuni langsung terpekik kuat, setelah mendengar perkataan Darma. Dia sama sekali tidak menduga, bahwa Darma akan mengatakan hal itu pada nya.


"APA?" pekik Yuni dengan mata terbelalak lebar.

__ADS_1


__ADS_2