
"Bang, malam ini aku nginap di rumah Naya. Dia mengajakku untuk menginap di rumah mama nya."
Aku mengirim pesan teks kepada bang Darma. Setelah pesan itu terkirim, aku langsung menonaktifkan ponsel ku dan menyimpan nya kembali ke dalam tas.
Tak lama kemudian, bang Agus pun keluar dari kamar mandi. Wajah nya tampak segar dan tubuh juga masih sedikit basah.
Melihat pemandangan itu, aku langsung terpaku di tempat duduk. Mata ku terus memandangi tubuh bang Agus yang cukup seksi menurut ku.
"Suami mu udah di kabari belum, say?"
Bang Agus bertanya sambil berjalan mendekati ku. Dia tersenyum miring melihat ku yang sedang terbengong di atas kursi tersebut.
Karena tidak ada jawaban dari ku, bang Agus pun menoel-noel hidung ku untuk menyadarkan lamunan ku.
"Say...Say... Kesurupan atau gimana sih? Dari tadi kok bengong terus!" tanya bang Agus.
Bang Agus memanggil-manggil sambil menyentuh hidung ku, sehingga aku pun langsung tersadar. Aku tersenyum malu karena ketahuan sedang terpana, melihat tubuh bang Agus yang cukup menggiurkan bagi ku.
"Eh iya, bang. Abang ngomong apa tadi?" tanya ku salah tingkah.
"Suami mu udah di kabari belum kalau malam ini dirimu gak pulang ke rumah?" tanya bang Agus lagi mengulang pertanyaan nya.
"Udah, bang. Aku udah kirimkan pesan teks pada bang Darma." jawab ku.
"Oh, kirain belum di kabari. Nanti di kira suami mu istrinya di culik hantu pulak, karena gak pulang-pulang ke rumah, hihihi." canda bang Agus sambil cekikikan.
"Bukan di culik hantu, bang. Tapi di culik tuyul yang ganas." balas ku tak mau kalah.
"Hahaha, iya juga ya, say!" balas bang Agus.
Bang Agus langsung tertawa lepas mendengar penuturan ku yang sangat lucu menurut nya.
"Sini, bang!" seru ku.
Aku memanggil bang Agus sambil menepuk-nepuk kursi yang ada di samping ku. Aku meminta nya untuk duduk di kursi itu. Bang Agus pun langsung mendudukkan dirinya dan menghadap ke arah ku.
Dia masih memakai handuk yang melilit di pinggang nya. Berhubung handuk hotel itu sedikit pendek, jadi di saat bang Agus duduk kepala kayu nya pun tampak sangat jelas di depan ku.
"Mau ngomong apa, say?" tanya bang Agus sambil menyalakan rokok.
"Itu di tutup dulu lah, bang! Bikin konsentrasi ku buyar aja itu kayu keras nya." oceh ku.
Bang Agus langsung mengikuti arah pandangan mata ku. Bukan nya di tutup, bang Agus malah semakin membuka lebar handuk nya. Sehingga tampak lah kayu keras itu dengan sempurna.
"Suruh di tutup, bang! Bukan di suruh buka, aneh-aneh aja nih botak." gerutu ku semakin kesal.
__ADS_1
"Hehehe, gak papa lah, say. Biar dirimu bisa puas memandangi nya terus!" balas bang Agus.
"Gimana aku mau cerita kalau pandangan ku kesitu terus." jawab ku ketus.
"Udah santai aja kenapa sih, say! Bising terus dari tadi." ujar bang Agus.
"Gimana aku bisa santai kalau kayu itu terpampang jelas kayak gitu? Bikin aku nyut-nyutan aja kerjaan nya." balas ku sewot.
"Apa nya yang nyut-nyutan sih, sayang?" tanya bang Agus.
"Pake tanya pulak, ya udah pasti pasangan kayu itu lah. Emang nya apa lagi coba?" balas ku.
Aku memprotes bang Agus sambil terus memandangi kayu yang sudah tegak lurus di hadapan ku itu. Aku menghembuskan nafas berulang-ulang, karena tidak tahan dengan pemandangan indah yang ada di depan ku.
"Iya iya, abang tutup nih. Biar dirimu gak ngos-ngosan kayak gitu!" balas bang Agus pasrah.
Bang Agus pun menutup sebagian kayu itu, hingga yang terlihat kini hanya kepala nya saja yang masih tampak menyembul keluar.
"Udah, nutupin nya gini aja ya?" tanya nya.
"Ya gak papa, gitu pun jadi lah. Dari pada terbuka lebar kayak tadi, bikin aku ngiler aja." jawab ku asal.
"Tadi kata nya mau cerita, emang nya ada masalah apa lagi sih, say?" tanya bang Agus.
"Oh itu, aku cuma mau cerita tentang sikap bang bang Darma yang akhir-akhir ini selalu membela mantan istri nya itu." jawab ku.
Aku pun mulai menceritakan satu persatu tentang kejadian semalam. Dan juga kejadian-kejadian lain nya yang sudah terjadi selama beberapa bulan ini.
Bang Agus hanya manggut-manggut mendengar semua ocehan ku. Setelah selesai bercerita panjang lebar pada bang Agus, aku pun mengambil rokok dan menyalakan nya.
"Itu lah masalah yang sedang aku hadapi sekarang, bang. Kira-kira gimana solusinya menurut abang?" tanya ku meminta pendapat.
Aku bertanya sambil sesekali melirik ke arah kepala kayu yang tampak menyembul keluar. Seolah-olah melambai pada ku dan ingin minta di sentuh.
Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya aku pun langsung berlutut di depan bang Agus. Aku membuang handuk nya ke sembarang tempat, dan mengarah kan bibir ku ke kayu itu.
Mendapatkan serangan mendadak dariku, bang Agus pun tampak sangat terkejut dengan aksi nakal ku.
"Lagi makan es krim ya, say?" canda bang Agus.
"Iya, es krim nya enak banget, bang. Bikin aku ketagihan terus untuk memakannya." jawab ku asal.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus pun tersenyum dan mulai memejamkan mata nya. Dia tampak sangat menikmati hasil dari perbuatan ku.
"Ah, sayang. Abang udah gak tahan lagi nih." rintih bang Agus dengan suara serak.
__ADS_1
Bang Agus pun memboyong tubuh ku ke atas ranjang. Tanpa pikir panjang lagi, bang Agus langsung melancarkan aksinya kembali.
Sedang asyik-asyiknya menikmati permainan, tiba-tiba ponsel bang Agus berdering nyaring di atas nakas.
"Di angkat dulu itu ponsel nya, bang! Mana tau ada keperluan penting." ujar ku.
Aku menyuruh bang Agus untuk menerima panggilan dari ponsel nya. Bukan nya menuruti ucapan ku, bang Agus malah semakin menggila dengan kegiatan nya.
"Biarin aja lah, say! Gak ada yang lebih penting dari pada kegiatan kita ini." jawab bang Agus dengan semangat yang menggebu-gebu.
Bang Agus pun semakin menambah kecepatan nya dan itu berhasil membuat ku semakin tidak terkendali. Suara-suara indah yang keluar dari bibir ku, semakin terdengar berisik dan cukup memekakkan telinga.
"Tapi, bang..."
"Sssttt, udah gak usah banyak tanya lagi! Nikmati aja pemberian abang ini biar dirimu bisa merasa puas." oceh bang Agus.
Melihat jari telunjuk nya masih menempel di bibir ku, aku pun langsung memasukkan jari nya itu kedalam mulut ku.
"Kau memang pandai, sayang." ucap bang Agus.
Bang Agus memuji kelakuan nakal ku itu sambil tersenyum dan terus melakukan tugas utama nya.
"Gak capek ya, bang?"
Aku bertanya karena melihat keringat yang mulai membasahi seluruh tubuh bang Agus. Dia yang masih tampak asyik dengan tugas nya itu pun langsung menggeleng kan kepala nya.
"Enggak, sayang. Kan udah abang bilang, kalau soal yang beginian abang tidak akan pernah bosan atau merasa capek sedikit pun." jawab bang Agus.
"Apa lagi kalau di ajak ngomong kayak ini, jadi makin lama selesai nya." lanjut nya lagi.
"Oh, gitu." balas ku.
"Dan ada satu lagi yang bikin abang tambah semangat melakukan nya, say." ucap bang Agus.
Kening ku langsung mengkerut setelah mendengar ucapan terakhir bang Agus. Karena penasaran aku pun bertanya kepada nya.
"Apa tuh?" tanya ku.
"Suara-suara seksi yang keluar dari bibir mu, say." jawab bang Agus.
"Masa sih, bang?" tanya ku seakan tidak percaya.
"Iya, say. Itu membuat abang jadi semakin bersemangat untuk memberi kan kenikmatan itu pada mu, say." jawab bang Agus lagi.
"Oh, ya udah kalo gitu. Nanti aku bersuara nya pakai toak aja ya, bang. Biar abang makin tambah semangat kalau suara ku semakin kuat." canda ku.
__ADS_1
"Hahaha, gila." bang Agus langsung tertawa terbahak-bahak mendengar candaan receh ku itu.
Setelah selesai ber haha hihi dengan bang Agus, aku pun kembali memejamkan mata untuk menikmati hasil kegiatan, dari selingkuhan lima langkah ku itu.