
"Kira-kira, siapa yang akan aku panggil, untuk menemaniku di kamar ini, ya?" gumam ku.
"Sepi juga rasa nya, kalo gak ada yang nemani."
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku memutuskan untuk menghubungi bang Agus. Aku segera mengambil ponsel, dan mencari kontak bang Agus.
"Halo, lagi dimana, bang?" tanya ku setelah bang Agus menerima panggilan.
"Lagi di tempat kerja, say. Emang kenapa, say?" tanya bang Agus balik.
"Pulang kerja nya jam berapa, bang?"
Bukan nya menjawab, aku malah kembali bertanya kepada selingkuhan lima langkah ku itu.
"Ini udah mau pulang, say. Emang nya ada apa sih, bikin penasaran aja?" tanya bang Agus lagi.
"Nanti balik nya ke hotel X aja ya, bang! Aku tungguin di sini." jawab ku.
"Ngapain di sana? Trus, check in nya sama siapa tadi?" selidik bang Agus.
"Gak usah banyak tanya lagi, nanti aja aku ceritakan. Yang penting, nanti abang kesini ya!" jawab ku.
"Oke, say. Bentar lagi abang meluncur." balas bang Agus.
"Oke, cepat ya, bang! Aku tunggu." jawab ku.
"Iya, sayang. Abang pasti datang kok, gak usah khawatir." balas bang Agus menutup percakapan..
Setelah panggilan berakhir, aku menyalakan tv dan mengambil rokok, dari dalam saku celana panjang ku.
"Bang Darma, sedang apa kau sekarang? Apakah kau sangat membenci ku? Sebegitu marah nya kah, kau dengan ku?" batin ku kembali merenung.
Aku menghisap rokok, sambil terus menetes kan air mata. Akibat ulah ku sendiri, rumah tangga ku jadi hancur berantakan seperti ini. Bang Darma yang dulu nya baik dan royal, kini berubah menjadi monster yang sangat mengerikan.
Bang Darma sangat kecewa dan sakit hati, karena mengetahui perselingkuhan ku. Dan sekarang, dia juga terus di pengaruhi oleh anak dan mantan istri nya, untuk menyiksaku.
"Apakah ini karma untuk ku? Apakah ini balasan atas perbuatan ku?" gumam ku.
Aku memejamkan mata, mengingat kembali kejadian demi kejadian, yang terjadi dengan rumah tangga ku. Sedang asyik merenung, tiba-tiba ponsel ku berdering.
Kring kring kring...Kring kring kring...
Aku tersentak kaget, karena mendengar suara deringan ponsel, yang terletak di samping ku. Mata ku langsung membulat sempurna, melihat nama yang tertera di layar ponsel yang ada di tangan ku.
"Bang Darma?"
__ADS_1
"Mau ngapain lagi dia menghubungi ku? Aku angkat gak ya?" gumam ku ragu.
Aku terus saja bergumam, sambil memandangi ponsel yang sedang berdering nyaring, di atas telapak tangan ku.
"Ah, angkat aja lah, siapa tau dia berubah pikiran." batin ku.
"Ada perlu apa, telpan-telpon aku lagi, hah?" tanya ku langsung to do point.
"Dimana kau sekarang?" tanya bang Darma.
"Di hotel, emang nya kenapa?" tanya ku balik.
"Ck ck ck, sudah hebat kau sekarang, ya! Laki-laki mana lagi, yang membeli mu? Di bayar berapa, harga diri mu itu?" cibir bang Darma.
"Bukan urusan mu." jawab ku ketus.
Aku menghisap rokok kembali, dan menghembuskan asap nya dengan kasar ke udara.
"Ya udah pasti jadi urusan ku lah, sayang. Kau itu kan masih istri ku. Aku masih berhak mengatur hidup mu, termasuk keuangan mu." balas bang Darma.
"Gak sudi aku di atur-atur, oleh suami seperti mu!" jawab ku lantang.
"Harus sudi dong, sayang. Nanti, kalau sudah mendapatkan bayaran dari lelaki itu, langsung setor kan aja uang nya sama aku ya, sayang!" balas bang Darma.
Aku memekik kuat, sambil memukul-mukul ranjang hotel, yang sedang aku duduki. Dada ku juga berdegup kencang, akibat emosi yang sedang meluap-luap, karena mendengar semua ucapan bang Darma.
"Jangan gitu dong, sayang! Abang ini kan suami mu, kita harus saling berbagi satu sama lain. Jadi kalo ada rejeki, ya harus di bagi-bagi juga dong!" jawab bang Darma dengan santai nya.
"Gak, aku gak akan mau memberikan apa pun pada mu. Aku akan kirim kan semua uang ku, untuk ayah ku. Termasuk semua perhiasan ku." jawab ku tegas.
"Eh eh eh, jangan dong, sayang! Untuk apa di kirim kan kesana? Mending di kirim kan untuk abang aja, biar abang bisa foya-foya, dengan Yuni dan Dina, hahaha."
Bang Darma tertawa terbahak-bahak. Dia tampak sangat bahagia, setelah mengucapkan kata-kata itu.
"Udah dulu ya, bang. Tamu yang membeli ku, udah datang nih. Nanti kita sambung lagi ngobrol nya, kalo kami udah siap main ya, bye." bohong ku.
"Dasar, perempuan..."
Tut tut tut..
Aku langsung memutuskan panggilan dengan bang Darma, secara sepihak. Kemudian, aku segera menonaktifkan ponsel ku, dan meletakkan nya di atas meja.
"Nah, kalau gini kan aman. Bang Darma gak bakalan bisa gangguin aku lagi, hihihi."
Aku terkikik sendiri, melihat ponsel ku yang tergeletak di atas meja tv.
__ADS_1
"Kira-kira, muka bang Darma seperti apa ya, sekarang? Apakah seperti zombie, atau seperti drakula? Sama-sama penghisap darah soal nya, hahaha."
Aku kembali tertawa, membayangkan wajah bang Darma yang sedang emosi tidak karuan, akibat mendengar penuturan ku tadi. Setelah lelah tertawa sendiri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Yu, buka pintu nya!" titah bang Agus.
"Ya, bentar!" pekik ku sambil berlari kecil ke arah pintu.
Ceklek...
Setelah pintu terbuka lebar, aku melihat bang Agus berdiri sambil tersenyum di depan ku. Dia juga membawa beberapa bungkusan, di tangan kanan nya.
"Ayo masuk, bang!" ajak ku.
"Iya, say." balas bang Agus.
Setelah bang Agus masuk, aku kembali mengunci pintu, dan mengekori langkah bang Agus dari belakang.
"Bawa apa an tu, bang?" tanya ku sembari mendudukkan diri di atas kursi.
"Martabak keju, sate ayam, gorengan, sama jus wortel kesukaan mu, say." jawab bang Agus.
"Wow, mantap banget, bang. Kekasih ku ini tau aja kalo aku lagi lapar, hehehe." aku berdiri dari kursi, dan..."Cup"
Aku mencium kilat bibir bang Agus, dan kembali duduk di tempat semula, sambil tersenyum manis pada nya. Bang Agus langsung terpaku di tempat, karena mendapatkan ciuman dari ku.
"Udah makin genit sekarang, ya." ujar bang Agus, sembari mencondongkan wajah nya di hadapan ku.
"Jangan berpikiran yang aneh-aneh dulu, bang! Kecupan itu, aku berikan sebagai tanda ucapan terima kasih ku. Karena abang sudah membawakan makanan untuk ku, hehehe." balas ku.
"Loh, bukan karena sayang ya, say?" selidik bang Agus.
"Ya, termasuk itu juga." jawab ku sambil nyengir kuda.
Wajah bang Agus langsung berbinar cerah, karena mendengar jawaban ku. Dia tampak sangat senang, dengan kata-kata ku barusan.
"Serius, say?" tanya bang Agus.
"Iya, botaaak. Bukan serius lagi, tapi sepuluh rius untuk abang, hahaha."
Aku tertawa lepas, melihat raut wajah bang Agus, yang tampak sangat lucu dan menggemaskan, menurut ku. Sedangkan bang Agus, dia hanya tersenyum dan mengelus-elus tengkuk leher nya sendiri.
"Kita makan yok, say! Perut abang juga udah lapar nih, dari tadi." ajak bang Agus.
__ADS_1