SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Sama Saja


__ADS_3

"Ya, ide bagus juga tuh." ujar Darma menyetujui ucapan Yuni.


Senyum sumringah langsung terpancar dari bibir Yuni, setelah melihat Darma yang sudah terpengaruh oleh semua ucapan nya. Dia bersorak dalam hati karena merasa telah bisa menguasai pikiran Darma.


"Yes, akhirnya bapak terpengaruh juga sama kata-kata ku." batin Yuni girang.


Selesai berbincang-bincang mengenai rencana untuk memergoki perselingkuhan Ayu, Darma pun mulai membaringkan tubuh nya di atas ranjang.


Darma menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu. Rasa gelisah, takut, panik, dan bingung. Semua campur aduk jadi satu.


Melihat ekspresi wajah Darma yang sedang melamun, Yuni pun mulai mendekat dan berbaring di sebelah Darma. Dia memeluk tubuh Darma lalu meletakkan satu kaki nya di atas perut Darma.


"Pak, kalau Yuni minta batalin rencana rujuk dengan mamak, apa bapak mau menuruti nya?" tanya Yuni sembari membingkai dada Darma dengan jari-jari lentik nya.


"Hah, yang bener aja permintaan mu itu!" pekik Darma sedikit terkejut.


Darma menoleh ke arah Yuni dengan kening mengkerut. Dia heran mendengar ucapan Yuni yang semakin lama semakin ngelantur.


"Emang kenapa kalau kami rujuk lagi, hah? Apa kau merasa terganggu dengan pernikahan kami nanti?" selidik Darma.


"Iya," jawab Yuni lirih.


"Terganggu kenapa?" Apa alasan nya?" tanya Darma semakin penasaran.


"Karena Yuni cemburu kalau bapak main sama mamak." jawab Yuni.


"Kok cemburu? Bapak kan udah janji kalau bapak akan melayani mu juga. Kenapa harus cemburu gitu?" tanya Darma lagi.


"Entah lah, Yuni juga bingung kenapa Yuni bisa cemburu buta gitu sama mamak dan buk Ayu." jawab Yuni.


Darma mendengus kesal mendengar penuturan Yuni. Dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran Yuni yang tiba-tiba melarang nya untuk menikahi Dina.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Darma kembali membuka percakapan. Dengan perasaan sedikit ragu, Darma pun melontarkan pertanyaan nya kepada Yuni.


"Apa kau mau mengganti kan posisi mamak mu untuk menikah dengan bapak?" tanya Darma.


"Ya, Yuni mau." jawab Yuni mantap.


"Hah, serius?" pekik Darma semakin terkejut.

__ADS_1


"Iya Yuni serius, pak. Yuni mau menikah dengan bapak, biar Yuni bisa terus berada di sisi bapak tanpa ada yang melarang lagi." jawab Yuni lagi.


Darma membelalakkan mata mendengar penuturan Yuni. Dia sama sekali tidak pernah menyangka, jika Yuni sampai segitunya ingin memiliki diri nya.


"Aduuuh, kok bisa jadi ruwet gini sih urusan nya. Kenapa Yuni makin nekat gini hanya karena ingin terus bersama ku?" gerutu Darma dalam hati.


Darma semakin heran dengan tingkah Yuni yang semakin hari semakin menjadi-jadi. Ada sedikit rasa penyesalan di hati nya, karena sudah memulai hubungan terlarang dengan anak angkat nya tersebut.


"Emang nya bapak serius mau menikahi Yuni?" tanya Yuni.


"Ya gak mungkin lah itu terjadi, ngawur aja kau itu. Di mata orang-orang, kau itu anak kandung bapak. Apa kata mereka nanti kalau kita menikah." jawab Darma.


"Loh, kok ngawur sih. Kan bapak sendiri yang bilang tadi, kenapa jadi nyalahin Yuni?" tanya Yuni lagi.


"Bapak bukan nyalahin dirimu, tapi bapak mikir secara logika aja. Gak mungkin bapak menikahi mu, bisa-bisa bapak di usir warga nanti kalau sampai itu terjadi." jelas Darma.


"Kan kita bisa tinggal di tempat lain. Rumah bapak itu di kontrakan aja, trus uang nya kita pakai buat ngontrak rumah lain." usul Yuni.


Yuni masih terus berusaha mencuci otak Darma untuk menuruti keinginan nya. Dia tidak henti-hentinya mempengaruhi pikiran Darma, agar selalu tunduk dan percaya dengan semua ucapan nya.


"Ya udah, nanti bapak pikir-pikir dulu saran mu itu." balas Darma.


Setelah perbincangan selesai, Yuni kembali menggoda Darma dengan rayuan maut nya. Dia mencium leher dan menyenggol-nyenggol milik Darma dengan kaki nya, sembari berbisik...


"Pak, Yuni pengen."


Bisik Yuni dengan suara serak akibat di selimuti oleh gairah nya sendiri. Mendapatkan bisikan gaib dari Yuni, bulu kuduk Darma pun seketika meremang. Darma menoleh pada Yuni dan menatap mata sayu nya dengan menautkan kedua alisnya.


"Tadi kan kita udah main dua kali, kenapa sekarang minta lagi?" tanya Darma heran.


"Ya habis nya gimana lagi, Yuni ingin merasakan nya sekarang. Ayo lah, pak!" rengek Yuni manja.


Dengan sedikit berat hati, akhirnya Darma pun menuruti keinginan Yuni. Dia kembali melayani hasrat Yuni yang sudah tampak bergairah di sebelah nya.


"Oke, bapak akan layani. Tapi sebentar aja ya, pinggang bapak masih pegel banget nih." tutur Darma.


"Ya sebentar pun gak papa, yang penting kita main sekarang." jawab Yuni.


Tanpa menjawab apa pun lagi, Darma pun mulai menyerang Yuni. Dia memberikan sentuhan-sentuhan lembut nya di seluruh tubuh Yuni, hingga membuat Yuni semakin tidak terkendali dengan aksinya tersebut.

__ADS_1


Setelah merasa cukup puas mengabsen tubuh Yuni, Darma pun segera memulai permainan nya. Dia kembali memacu gerakan cepat nya di atas tubuh Yuni dengan semangat empat lima.


Sedangkan Yuni, jangan di tanya lagi. Dia menjerit-jerit dengan suara tertahan, menikmati permainan yang sedang di lakukan oleh Darma.


Mereka berdua saling memberi dan menerima kepuasan, di atas ranjang hotel tersebut.


Setelah kurang lebih hampir satu jam melakukan kegiatan panas mereka, akhirnya Darma dan Yuni pun memuncak dan terkulai lemas, dengan tubuh yang basah oleh keringat mereka sendiri.


Dengan nafas yang masih ngos-ngosan, Darma pun mengajak Yuni untuk membersihkan hasil kegiatan mereka ke kamar mandi.


"Ayo bersihin dulu, Yun! Biar gak tercecer kemana-mana itu nya." seru Darma sembari menunjuk ke arah area pribadi Yuni.


"Iya, pak."


Jawab Yuni sembari bangkit dari ranjang, lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi bersama Darma.


Selesai membersihkan diri, mereka berdua pun kembali duduk di tepi ranjang, dengan handuk yang melilit di tubuh mereka masing-masing.


Darma mulai menyalakan rokok nya dan mengisap nya perlahan. Sedangkan Yuni, dia sedang asyik bergelayut manja di lengan kiri Darma, sambil sesekali mengecup pipi Darma.


Yuni sengaja memanjakan diri dengan Darma, agar Darma semakin bertekuk lutut dan semakin tergila-gila pada nya. Setelah beberapa menit suasana hening, Yuni pun kembali melontarkan pertanyaan nya kepada Darma.


"Pak, mana yang lebih puas, main sama Yuni atau sama buk Ayu?" tanya Yuni.


"Sama aja rasa nya, gak ada beda nya kok." jawab Darma santai sembari menghisap rokok nya kembali.


"Masa gak ada beda nya sih? Yuni kan masih gadis, sedangkan buk Ayu udah janda dua kali. Masa bapak gak bisa merasakan perbedaan nya sih, aneh?" tanya Yuni sewot.


"Biar pun Ayu udah janda dua kali, tapi punya dia itu masih seperti gadis. Dia pandai merawat diri dan kebersihan tubuh nya." jawab Darma.


"Ah, gak mungkin. Masa iya gadis sama janda dua kali gak ada beda nya, aneh-aneh aja bapak." gerutu Yuni kesal.


Yuni tidak terima jika diri nya di sama kan dengan Ayu yang sudah janda dua kali. Dia juga tidak percaya, kalau milik Ayu masih sama rasa nya seperti gadis.


"Kan bapak sendiri yang merasakan nya. Ya pasti bapak tau lah mana yang enak, dan mana yang tidak." tambah Darma.


"Iya, Yuni tau. Tapi jawaban bapak itu gak masuk akal. Gak mungkin lah rasa nya masih sama, sedangkan dia aja udah janda dua kali. Pasti rasa nya udah beda lah, gak seenak punya ku." balas Yuni kesal.


"Sama aja, Yun. Badan Ayu juga bersih mulus, gak ada noda sedikit pun. Dia itu memang sangat pandai merawat badan nya sendiri." jelas Darma mengulang perkataan nya.

__ADS_1


__ADS_2