SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Melayani Aki-Aki Genit


__ADS_3

Pagi menyapa, Ayu dan Darma terbangun dari tidur panjang nya dan kembali beraktivitas seperti biasa.


Ayu sibuk membersihkan rumah dan memasak di dapur. Sedangkan Darma, ia duduk di ruang tamu sambil menikmati secangkir kopi dan pisang goreng sebagai pelengkap nya.


Sedang asyik menikmati sarapan pagi nya, tiba-tiba Darma membelalakkan mata nya saat melihat satu pesan masuk di layar ponsel nya.


Ting...


"Bang, tolongin Yuni sekarang! Yuni terpeleset di kamar mandi." bunyi pesan yang di kirimkan oleh Yuni kepada Darma.


Raut wajah Darma langsung panik seketika, setelah membaca isi pesan dari gadis kecil kesayangan nya.


"Waduh, kasian banget dia. Aku harus kesana sekarang. Tapi, gimana cara ngomongnya sama Ayu?" batin Darma.


Darma kebingungan memikirkan alasan yang tepat, untuk bisa keluar dari rumah. Sesekali ia melirik ke arah Ayu yang masih tampak sibuk berperang dengan alat-alat dapur nya.


"Apa aku bilang aja ke dia, kalau aku mau cari kerjaan di luar ya?" lanjut Darma.


Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya Darma pun memutuskan untuk berbohong kepada istri nya, dan berpura-pura ingin ke rumah teman nya untuk menanyakan lowongan pekerjaan.


Sebelum mengutarakan niat nya, Darma pun membalas pesan Yuni terlebih dahulu. Setelah mematikan api rokok nya, Darma pun mulai mengetik satu pesan lalu mengirimkan nya.


"Oke, tunggu bentar ya, abang kesana sekarang." balas Darma.


"Oke, cepetan ya, bang!" balas Yuni.


Darma tidak membalas nya lagi, ia segera mengantongi ponsel nya dan melangkah ke arah dapur untuk menghampiri istri nya.


"Dek, abang keluar dulu ya! Barusan teman abang chat, kata nya ada lowongan kerja untuk abang. Abang mau cek kesana dulu ya." bohong Darma.


Mendengar penuturan Darma, Ayu pun menoleh sekilas lalu melanjutkan kegiatan masak nya. Ia langsung percaya begitu saja, tanpa menaruh curiga sedikit pun atas perkataan suami nya.


"Ya, pergi lah!" balas Ayu.


Setelah mendapat izin dari Ayu, Darma tidak langsung pergi. Ia masih terus berdiri di depan pintu dapur, sambil memperhatikan punggung istri nya dari belakang.


Karena merasa di perhatikan, Ayu pun menoleh dan menatap wajah Darma dengan kening mengkerut.


"Kok masih nonggok di situ? Tadi kata nya mau ngecek kerjaan?" tanya Ayu heran.


"Hhhmmm, abang gak ada uang buat ongkos ojek nya. Abang boleh pinjam uang mu dua ratus gak? Nanti kalau abang udah kerja, pasti bakalan abang ganti kok." balas Darma ragu.


Ayu terdiam sejenak, ia memperhatikan Darma dari atas sampai bawah dengan tatapan menyelidik.


"Kok banyak amat ongkos ojek nya sampe dua ratus ribu? Emang kau mau pergi kemana?" tanya Ayu heran.


"Ya mau keliling-keliling lah. Siapa tau aja nanti gak cocok kerja di sana, abang mau lanjut cari ke tempat lain." bohong Darma lagi.


"Oh," balas Ayu.


Ia pun langsung merogoh saku celana nya, dan memberikan dua lembar uang biru ke tangan Darma.


Melihat uang di tangan nya, Darma pun langsung menautkan kedua alisnya dan menatap bingung kepada Ayu.


"Kok cuma seratus? Tadi kan abang minta nya dua ratus?" tanya Darma heran.


Mendengar ucapan Darma yang tidak tahu berterima kasih, Ayu pun langsung naik pitam. Ia langsung mengomel panjang lebar, sambil berkacak pinggang dan mata yang membulat sempurna.


"Heh, pengangguran kelas kakap! Kau mau uang itu atau enggak? Kalau enggak, aku ambil lagi nih." ancam Ayu.


"Orang kok gak ada rasa syukur nya dikit pun. Masih untung aku mau ngasih. Kalau tidak, jalan kaki aja kau kesana." lanjut Ayu.


Kemudian ia pun mengulurkan tangan nya untuk mengambil uang itu kembali. Tetapi sebelum itu terjadi, Darma langsung mengantongi uang itu dengan cepat, lalu berkata...


"Ya udah, segini pun jadi lah, dari pada gak ada sama sekali." ujar Darma dengan wajah masam, lalu pergi meninggalkan Ayu begitu saja.

__ADS_1


Ayu tersenyum miring sambil menggeleng-gelengkan kepala nya, ketika melihat tingkah laku suami nya tersebut.


"Dasar, laki-laki gak berguna! Cuma modal batang kisut aja belagu." umpat Ayu.


Setelah kepergian Darma, Ayu pun melanjutkan kegiatan masak nya kembali. Setengah jam kemudian, pekerjaan dapur nya pun sudah beres dan bersih seperti semula.


"Hufff, capek juga ternyata." gumam Ayu sembari mendudukkan bokong nya di sofa panjang.


Saat hendak merebahkan tubuh nya, tiba-tiba Ayu terkejut mendengar suara deringan ponsel nya sendiri.


"Haduhh, bikin jantungan aja nih ponsel." gerutu Ayu sambil mengelus-elus dada nya.


Dengan gerakan malas, Ayu pun merentangkan tangan nya untuk meraih ponsel yang sedang memekik di atas meja.


Setelah mendapatkan nya, Ayu pun langsung menautkan kedua alisnya, saat melihat nama "Pak Kades" yang tertera di layar benda pipih nya tersebut.


"Kira-kira ada perlu apa ya, aki-aki genit itu nelpon pagi-pagi gini?" gumam Ayu, sambil terus memandangi layar ponsel yang sedang menyala di tangan nya.


Dengan perasaan sedikit ragu, Ayu pun menerima panggilan dari salah satu partner ranjang nya tersebut.


"Ya halo, ada apa pak? tanya Ayu langsung to do point.


Bukan nya menjawab, pak Kades malah balik bertanya kepada Ayu.


"Halo juga cantik, kamu lagi dimana sekarang? Suami ada di rumah gak, sayang?" tanya pak Kades dengan suara lembut dan sedikit mendayu-dayu.


Mendengar gombalan receh pak Kades, Ayu pun langsung tersedak dan terbatuk-batuk seketika.


"Uhuk...uhuk...uhuk..." Ayu terus saja terbatuk sampai mata nya merah dan berair.


"Lololoh, mbak Ayu kenapa? Kok tiba-tiba batuk-batuk gitu?" tanya pak Kades cemas.


"Gak papa, pak. Aku baik-baik aja kok. Bapak ada perlu apa nelpon aku sepagi ini?" tanya Ayu lagi.


"Gak ada, dia udah pergi ke tempat kawan nya. Emang nya kenapa, pak?" tanya Ayu balik.


"Waaahh, kebetulan sekali. Ayo kita keluar mbak, mumpung suami mu gak ada di rumah. Saya tunggu di hotel biasa ya, mau gak?" tanya pak Kades.


"Oke pak, aku siap-siap dulu. Bapak duluan aja ya, nanti aku nyusul." jawab Ayu.


"Oke, mbak. Tapi cepetan ya, saya udah kangen banget nih." desak pak Kades.


"Iya, cerewet. Oke lah, aku tutup telpon nya ya, bye!" ujar Ayu lalu menutup panggilan sepihak, tanpa menunggu balasan dari pak Kades.


Setelah panggilan terputus, Ayu pun bergegas berganti pakaian dan merias diri di depan cermin. Setelah selesai, ia mengambil tas selempang kecil lalu memasukkan dompet dan ponsel ke dalam nya.


Tanpa berlama-lama lagi, Ayu pun langsung melangkah keluar dan menaiki kendaraan roda dua nya menuju hotel, tempat dimana pak Kades sudah menunggu nya.


Setibanya di halaman hotel, Ayu mengambil ponsel lalu menghubungi pak Kades, untuk menanyakan nomor kamar yang sedang di huni nya saat ini.


Tut tut tut...


"Halo pak, aku udah nyampe nih. Kamar nya nomor berapa?" tanya Ayu.


"Nomor 117 lantai dua, mbak." jawab pak Kades.


"Oh, oke." balas Ayu lalu menutup panggilan, dan menyimpan ponsel nya kembali.


Setelah memarkirkan motor nya, Ayu segera masuk ke dalam hotel, lalu menapaki beberapa anak tangga untuk menuju ke lantai dua.


Sesampainya di depan kamar nomor 117, Ayu pun mengetuk pintu beberapa kali tanpa mengeluarkan suara. Tak butuh waktu lama, akhirnya pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah sosok pak Kades yang sedang tersenyum lebar menyambut kedatangan Ayu.


Ayu terpaku sejenak, ia memandangi penampilan pak Kades yang terlihat santai dan kasual, dengan jaket biru dan sepatu sportnya.


__ADS_1


"Waaahh, makin hari makin macho aja nih aki-aki." gumam Ayu.


Melihat reaksi Ayu yang sedang tertegun, pak Kades pun kembali tersenyum dan menarik tangan Ayu untuk masuk ke dalam.


"Kok malah bengong gitu sih, sayang? Ayo masuk, saya sudah tidak sabar ingin melahap mu sekarang juga!"


Seru pak Kades sembari mengerlingkan mata nya, lalu mengunci pintu kembali. Ayu tidak menjawab ucapan lelaki paruh baya itu, ia hanya tersenyum tipis lalu melangkah ke arah meja rias, untuk meletakkan tas kecil nya.


Karena sudah tidak sanggup menahan hasrat nya, pak Kades pun langsung menyerang wanita yang ada di hadapan nya itu secara membabi-buta.


Pak Kades memeluk tubuh Ayu dan menciumi bibir dan wajah nya, dengan posisi berdiri membelakangi cermin meja rias.


Setelah beberapa menit saling mengabsen isi mulut, pak Kades pun mulai memboyong tubuh ramping Ayu ke atas ranjang, tanpa melepaskan ciuman nya.


Sesudah membaringkan tubuh Ayu, pak Kades pun mulai mempereteli pakaian wanita itu sampai polos tak bersisa. Setelah selesai, ia pun melepaskan pakaian nya sendiri dengan gerakan tergesa-gesa.


Setelah keadaan mereka sama-sama polos, pak Kades pun melanjutkan serangan nya kembali. Ia mencium bibir dan leher Ayu dengan gairah yang menggebu-gebu, dan nafas yang mulai naik turun tidak karuan.


Begitu pun dengan Ayu, ia juga tak jauh beda dengan pak Kades. Ayu tampak sangat menikmati perbuatan lelaki itu.


Ia membalas serangan pak Kades dengan mata terpejam, dan suara-suara desah*n yang dapat membuat gelisah bagi siapapun yang mendengarnya.


Setelah merasa puas mencium bibir dan leher Ayu, pak Kades pun melanjutkan kegiatan nya ke dua bukit kembar Ayu yang terlihat menonjol dan menantang.


Dengan wajah yang terlihat kelaparan dan senyum menyeringai, pak Kades pun langsung melahap kedua bukit kembar Ayu dengan rakus. Dan itu berhasil membuat Ayu menggeliat-geliat tidak karuan, sambil terus mengeluarkan desah*n nikmat nya.


"Aakkhh, pelan-pelan, pak. Geli banget, pak." racau Ayu sembari meliuk-liuk kan pinggang nya.


"Tapi nikmat kan, sayang." goda pak Kades lalu menghentikan aksinya.


"Iya sih," jawab Ayu sembari menggigit bibir bawah nya, lalu memalingkan wajah nya ke samping.


Melihat reaksi Ayu yang sedang malu-malu kucing, pak Kades pun langsung tersenyum dan melanjutkan cumbuan nya kembali. Ia memandangi pangkal paha Ayu yang di tumbuhi rumput halus, dengan mata berbinar cerah.


Tanpa buang-buang waktu lagi, pak Kades pun langsung menjulurkan lidah nya dan memanjakan gua Ayu dengan sentuhan-sentuhan lembut nya.


Dan lagi-lagi, Ayu di buat terlena dan terbuai oleh perlakuan pak Kades. Hingga akhirnya, Ayu pun sudah tidak sanggup lagi menahan gairah nya, dan menyuruh pak Kades untuk segera memuaskan hasrat nya.


"Sudah cukup, pak. Cepat masukkan tongkat bapak, aku ingin merasakan nya sekarang." rengek Ayu manja.


"Oke, honey." balas pak Kades.


Dengan senyum yang mengembang di wajah nya, pak Kades mulai mengarah tongkat sakti nya ke depan gua Ayu.


Setelah di rasa sudah tepat sasaran, pak Kades pun langsung menghentakkan tongkat nya dengan kuat, hingga membuat Ayu sedikit tersentak akibat ulah aki-aki tersebut.


Setelah itu, pak Kades pun mulai melakukan permainan nya dengan semangat empat lima. Ia terus berpacu dengan kecepatan tinggi, hingga membuat Ayu semakin tidak terkendali, karena merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa dari lelaki tersebut.


Setelah melakukan kegiatan nya selama satu setengah jam, pak Kades pun semakin mempercepat laju gerakan nya. Hingga akhirnya, mereka berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan.


"Pak, aku sampai, aakkh." teriak Ayu dengan tubuh menegang dan mata yang masih terpejam.


Begitu pula dengan pak Kades, ia juga memekik kuat saat menyemprotkan cairan nya ke dalam milik Ayu.


"Saya juga sampai honey, aakkh." teriak pak Kades.


Setelah mengeluarkan semua cairan nya, pak Kades pun mencium kening Ayu lalu menjatuhkan tubuh nya di sebelah wanita tersebut.


"Makasih banyak ya, honey. Kau memang wanita terhebat yang pernah saya rasakan." ujar pak Kades masih dengan nafas yang ngos-ngosan tidak karuan.


"Halah, lebay." cibir Ayu sembari tersipu malu.


"Kok lebay sih, saya serius loh. Kamu memang hebat dalam urusan beginian." puji pak Kades lagi.


"Iya iya, terserah bapak aja lah situ." balas Ayu pasrah lalu memalingkan wajah nya ke arah lain.

__ADS_1


__ADS_2