SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Mengalah


__ADS_3

"Ya Allah, kenapa sifat Naya jadi begini dengan ku?" batin ku.


Aku menghela nafas berat mendengar rengekan Naya, yang meminta ku untuk melepaskan Rendi. Dia sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan ku, saat dia mengutarakan isi hatinya dengan ku.


"Yu, kok malah bengong sih! Kau mau kan melepaskan Rendi untuk ku?" tanya Naya penuh harap.


"Aku...aku..." ucapan ku terjeda.


Aku sungguh tidak sanggup untuk menjawab pertanyaan Naya, yang sangat tidak masuk akal menurut ku.


"Apa kau sudah pikirkan matang-matang keinginan mu itu, Nay?" tanya ku dengan wajah serius menatap mata Naya.


"Iya, Yu! Aku sudah pikirkan semua nya. Aku sangat menyukai kekasih mu itu, dan aku ingin memiliki nya, Yu." ungkap Naya.


"Hufff, emang nya kau yakin, kalau Rendi bakalan mau dengan mu?" tanya ku tidak yakin.


Aku kembali menghela nafas dalam-dalam. Jujur, aku sebenarnya tidak rela untuk melepaskan Rendi. Aku juga tidak mau kehilangan kekasih ku itu.


Tapi, aku juga tidak tega melihat Naya. Seperti nya dia sangat menginginkan Rendi, untuk menjadi pendamping hidup nya.


Setelah mendengar pertanyaan ku, Naya pun langsung terdiam seketika. Aku memperhatikan gelagat nya, yang tampak gelisah dan kebingungan sendiri di tempat duduk nya.


"Ya...ya aku juga gak tau, Yu. Tapi yang pasti nya, aku akan berusaha semampu ku, untuk menaklukkan hati Rendi."


"Aku tidak akan menyerah begitu saja, untuk mendapatkan cinta nya Rendi." jelas Naya.


Naya menatap ku dengan wajah memelas. Kemudian, dia mengambil kedua tangan ku, dan menggenggam nya dengan erat.


"Tolong turuti permintaan ku, Yu! Sekali niiiii, aja. Aku janji, kalau seandainya aku gagal mendapatkan cinta Rendi, aku tidak akan pernah menggangu hubungan kalian lagi!" ujar Naya.


Mata Naya tampak berembun, saat mengucapkan kata-kata itu dengan ku. Naya terlihat begitu bersungguh-sungguh dengan kata-kata nya barusan.


Sedangkan aku, aku malah semakin serba salah sekaligus bingung, untuk mengambil keputusan yang tepat. Aku tidak ingin menyakiti perasaan Rendi, tapi aku juga tidak ingin mematahkan hati Naya.


"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan saat ini?" jerit ku dalam hati.


Dan pada akhirnya, aku pun mengalah. Aku memberikan kesempatan kepada Naya, untuk menggapai keinginan nya itu. Walaupun dengan berat hati, aku akan berusaha untuk ikhlas, melepaskan kepergian Rendi dari hidup ku.


"Huh, oke lah kalau begitu. Aku akan menuruti keinginan mu, Nay. Tapi, kau harus ingat janji mu, ya! Kalau Rendi tidak mau menerima mu, kau tidak boleh mencampuri urusan ku lagi dengan nya." ujar ku tegas.


"Alhamdulillah, makasih banyak ya, Yu. Kau memang sepupu ku yang paling baik sedunia. Iya, aku gak akan melupakan janji ku itu."


Naya menjawab ucapan ku dengan wajah yang berbinar cerah. Dia terlihat sangat bahagia, atas keputusan ku itu. Naya langsung memeluk ku, sambil berkata...

__ADS_1


"Sekali lagi, aku ucapkan terima kasih ya, Yu. Kau sudah mau mengalah, hanya demi kebahagiaan ku. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi aku membalas kebaikan mu ini." tutur Naya.


Naya melepaskan pelukannya, lalu memegangi pipi ku dengan kedua tangan nya. Dia melihat wajah ku dengan pandangan yang sulit untuk di artikan.


Mendapatkan tatapan seperti itu, aku pun berusaha sekuat tenaga agar tidak menangis di depan Naya. Aku langsung memalingkan wajah ku ke samping, dan berpura-pura sibuk mengotak-atik ponsel.


"Kau sedih ya, Yu? Mata mu kok kayak berair gitu?" selidik Naya.


"Gak lah, ngapain pulak harus aku sedih? Yang penting kan kau bisa bahagia." bohong ku tanpa menoleh sedikit pun kepada Naya.


"Walaupun harus mengorbankan perasaan ku." sambung ku dalam hati.


"Oh, kirain tadi kau nangis, gara-gara melepaskan Rendi untuk ku." balas Naya lega.


"Ya gak lah, Nay. Buat apa aku nangis? Gak ada gunanya juga. Toh, gak akan merubah keputusan mu untuk tetap memiliki Rendi kan?" sindir ku.


"Iya, juga sih." jawab Naya santai.


Aku tersenyum kecut mendengar jawaban Naya, yang terlihat tetap santai tanpa beban.


"Ya udah deh kalo gitu, aku pamit pulang dulu ya, Nay! Kapan-kapan aku kesini lagi." ujar ku sambil beranjak dari kursi.


Aku menyimpan ponsel ke dalam tas, dan bersiap-siap untuk pergi dari rumah Naya. Saat hendak melangkah keluar pintu, Naya pun langsung menarik lengan ku.


"Oh, iya." balas ku dengan nada lemah.


Dengan gerakan malas, aku pun kembali mengambil ponsel yang ada di dalam tas kecil ku. Setelah mencari nomor kontak Rendi, aku langsung menyerahkan ponsel itu ke tangan Naya.


Dengan senyum yang sumringah, Naya pun menerima ponsel ku, lalu memindahkan nomor Rendi ke dalam ponsel nya. Setelah selesai, Naya mengembalikan ponsel ku, dan kembali menyunggingkan senyuman bahagia nya di hadapan ku.


"Makasih ya, atas pengertian nya. Doa kan sepupu mu ini ya, Yu! Semoga aku bisa meluluhkan hati lelaki idaman ku itu." pinta Naya.


"Iya," jawab ku singkat.


Aku kembali melangkahkan kaki keluar pintu. Kemudian, aku naik ke atas motor yang terparkir di teras rumah Naya.


"Hati-hati di jalan ya, Yu! Titip salam buat suami mu di rumah." ujar Naya sambil melambaikan tangan.


"Oke, bye." jawab ku membalas lambaian tangan nya.


Setelah selesai berpamitan, aku mulai menyalakan motor, dan melajukan kendaraan roda dua ku itu menuju ke jalan raya. Tak butuh waktu lama, akhirnya aku pun tiba di depan rumah bang Darma.


"Loh, kok sepi? Apa dia lagi kerja, ya?" gumam ku.

__ADS_1


Aku memandangi pintu rumah yang sedang tertutup rapat. Selesai memarkirkan motor di teras, aku segera merogoh saku celana untuk mengambil kunci cadangan.


Setelah mendapatkan nya, aku langsung membuka pintu dan melangkah masuk, sambil mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, wa'laikum salam." aku menjawab sendiri ucapan salam ku itu.


Aku terus melangkah masuk ke dalam kamar, lalu meletakkan tas ke dalam lemari pakaian dan mengunci nya.


Kemudian, aku membuka baju dan celana, lalu menggantungkan nya di samping pintu. Setelah itu, aku langsung merebahkan diri di atas ranjang, dan mulai memejamkan mata.


Tak lama kemudian, aku pun langsung tertidur pulas dengan posisi telentang, dan hanya menggunakan pakaian dalam saja.


Baru saja terlelap, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang menjalar di tubuh ku.


"Ini mimpi atau kenyataan, sih?" batin ku dengan mata terpejam.


Dengan keadaan yang masih tertidur, aku merasakan sentuhan-sentuhan lembut di tubuh ku itu, semakin menjadi-jadi.


Di dalam mimpi ku itu, aku sedang di cumbui oleh seorang laki-laki yang tidak aku kenal. Wajah nya sangat tampan dan berbadan besar.


Aku terlonjak kaget, saat melihat laki-laki asing yang sedang mencumbui ku itu.


"Ka-kamu siapa? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya ku gugup dengan mata terbelalak.


"Kamu tidak perlu tau siapa aku, sayang. Yang terpenting sekarang, aku akan memuaskan hasrat mu, yang selama ini tidak pernah kau dapatkan dari lelaki mana pun." jawab lelaki itu.


"Aku akan memberikan kenikmatan yang sangat luar biasa kepada mu, sayang." lanjut nya lagi.


"A-apa maksud mu?" tanya ku semakin gugup tidak karuan.


"Apakah kau ingin merasakan nikmatnya benda ini?" tanya lelaki itu dengan senyum yang menyeringai.


Dia memperlihatkan benda milik nya kepadaku. Dan saat melihat nya, mata ku langsung membulat sempurna, dengan mulut yang menganga lebar.


Aku sangat terpana melihat benda, yang berukuran sebesar pergelangan tangan ku itu. Hingga tanpa sadar, aku langsung mengulur kan tangan ku untuk menyentuh nya.


"Apakah kau menginginkan nya, sayang?" tanya lelaki itu.


Tanpa rasa malu, aku pun langsung mengangguk dan tersenyum genit kepada nya. Kemudian, aku mengarahkan benda itu tepat di depan area pribadi ku.


"Oh, sayang. Tangan mu ini nakal sekali. Ternyata kau sudah tidak sabar ingin merasakan nya, ya?" goda lelaki itu.


"Iya, aku sudah tidak sabar lagi. Lakukan lah tugas mu, aku ingin merasakan nya sekarang juga!" rengek ku manja.

__ADS_1


__ADS_2