
Aku kembali menghisap rokok, yang ada di tangan ku itu dengan santai. Setelah beberapa saat hening, bang Agus pun kembali bertanya pada ku.
"Kenapa selama ini, abang gak pernah nampak dirimu merokok, say? Kenapa baru sekarang, abang tau nya?" tanya bang Agus semakin penasaran.
Aku menghela nafas berat, dan menoleh sekilas pada bang Agus. Lalu, aku kembali menatap lurus ke depan.
"Aku itu dulu nya memang perokok berat, bang. Tapi, semenjak menikah dengan bang Darma, kebiasaan ku itu sedikit demi sedikit berubah." jawab ku.
"Trus?" lanjut bang Agus.
"Sebenarnya, sebelum bekerja di tempat karaoke pun, aku udah merokok. Sejak usia ku 17 tahunan lah, kalo gak salah."
"Akibat pergaulan bebas, waktu masih remaja di kota Medan dulu, bang." jelas ku.
"Trus suami mu tau gak, kalau dirimu merokok, say?"
"Tau, bang. Aku dan bang Darma itu pertama kenal nya, kan di tempat karaoke itu. Dia tau kok, kalau dulu nya aku itu peminum dan perokok berat." jawab ku.
"Oh, kirain gak tau." balas bang Agus.
"Selama menjadi istri bang Darma, aku jarang merokok, bang." ucap ku
"Palingan, kalo aku lagi setres berat. Atau lagi banyak pikiran aja, aku merokok. Selebihnya, aku udah jarang menyentuh rokok ini, bang."
"Oh, gitu! Pantesan aja, abang gak pernah lihat dirimu merokok, say." balas bang Agus lagi.
"Kalau bisa, rokok mu itu di kurangin lah, say! Malahan yang lebih bagus lagi, di hilangkan aja kebiasaan mu itu, say!" ucap bang Agus.
"Emang nya kenapa, bang? Abang gak suka ya, dengan wanita perokok seperti aku?" tanya ku.
"Bukan gitu, say. Bukan masalah suka atau tidak nya, abang hanya memikirkan kesehatan mu, say." jawab bang Agus.
Aku kembali menoleh pada bang Agus, dan memberikan senyum terpaksa kepada nya. Melihat senyuman ku seperti itu, bang Agus pun langsung beranjak dari kursi nya untuk mendekatiku.
Bang Agus duduk melantai, di depan kedua lutut ku. Dia meletakkan dagu nya di pangkuan ku. Dan dia juga, melingkar kan kedua tangan nya di betis ku.
Dengan posisi seperti itu, bang Agus menatap wajah ku dalam-dalam. Dia seolah olah ingin mengatakan sesuatu pada ku.
Aku yang sedari tadi, memandang lurus ke depan. Kini beralih menatap wajah, yang ada di pangkuan ku itu.
"Ada apa, bang? Kenapa duduk nya kelesotan di lantai, gitu?" tanya ku.
__ADS_1
"Gak papa, say. Abang hanya mau bilang, kalau abang akan menerima apa pun keadaan mu, say. Abang akan menerima semua kekurangan dan kelebihan mu, say."
Bang Agus berbicara seperti itu, dengan raut wajah yang terlihat sedih. Dia sangat mengharapkan ku untuk menjadi pendamping hidup nya. Aku menghela nafas panjang, dan kembali menghisap rokok.
Karena tidak ada jawaban dari ku, bang Agus pun langsung berdiri. Dia mengangkat tubuh ku dari atas kursi, dan membawa ku menuju ranjang.
Sampai di atas ranjang, bang Agus membaringkan tubuh ku secara perlahan. Lalu, dia juga berbaring di samping ku, sambil menopang kan kepala di telapak tangan nya.
"Say, abang pengen lagi, nih! Kita main lagi ya, boleh gak?" tanya bang Agus.
"Mau main apa, bang?" tanya ku.
"Main ehem-ehem lah, sayang! Masa gitu aja, gak paham-paham juga sih, cinta ku ini." jawab bang Agus.
"Oh, kirain mau ngajakin aku main kelereng, hihihi." balas ku asal.
"Hahaha, masa main kelereng sih, say. Ada-ada aja lah jawaban nya, calon bini ku yang satu ini." ucap bang Agus.
Bang Agus gemas dengan kata-kata ku tadi, dia pun mencubit pelan hidung ku, dan membawa tubuh ku ke dalam pelukan nya.
"Lepasin, bang!"
Aku meronta-ronta, sambil mendorong pelan tubuh nya. Aku ingin melepaskan diri dari dekapan nya yang sangat erat itu.
Bang Agus merengek manja, sambil menunjuk ke bawah perut nya. Pandangan mata ku pun, langsung mengikuti arah telunjuk nya tersebut.
Setelah melihat ke arah yang ditunjuk bang Agus, mata ku pun langsung membulat sempurna. Aku kembali menelan ludah secara kasar, dengan nafas yang mulai tidak beraturan.
Kayu yang sangat keras itu pun, kembali tegak seperti tadi. Dia ingin meminta jatah nya kembali pada ku.
"Gimana, say? Boleh gak, kita main lagi?" tanya bang Agus lagi.
Aku langsung mengangguk sebagai jawaban, sambil memegangi kayu yang sangat keras tersebut. Setelah mendapatkan persetujuan dari ku, bang Agus pun langsung menerkam tubuh ku. Seperti singa yang sedang kelaparan, menyantap mangsa nya.
Dan akhirnya, kegiatan panas nan nikmat itu pun kembali terjadi. Suara berisik dari bibir ku pun, mulai memenuhi kamar hotel tersebut. Keringat pun mulai bercucuran, membasahi seluruh tubuh kami berdua.
Aku mulai memejamkan mata, dan menggenggam erat seprai ranjang. Setelah satu jam membajak tubuh ku, bang Agus pun bertanya sambil terus melakukan kegiatan nya tersebut.
"Mau berhenti atau di terus kan, say?"
"Teruskan aja, bang! Lagi enak-enak nya gini kok, malah mau di berhentikan pulak!" balas ku.
__ADS_1
Aku menjawab tanpa membuka mata ku. Setelah mendengar permintaan ku, bang Agus pun terus menjalankan kegiatan nya itu, dengan semangat yang menggebu-gebu.
Setengah jam kemudian, aku pun membuka mata dan meminta bang Agus, untuk menyudahi kegiatan nya tersebut.
"Kasian juga lama-lama, lihat si botak. Udah kecapean kali, kayak nya dia." batin ku.
"Udah, bang. Selesai kan lah, sekarang! Kita istirahat dulu bentar, nanti kita ulangi lagi main nya!" pinta ku.
"Oke, sayang ku."
Setelah mendapatkan perintah dari ku, bang Agus pun semakin mempercepat kegiatan nya, dan akhirnya...
Dia pun terkulai lemas, dan menjatuhkan diri nya di atas tubuh ku. Melihat keadaan nya yang kelelahan seperti itu, aku pun mengecup kening nya dengan lembut.
"Makasih ya, bang. Sudah melayani ku dengan baik. Aku merasa sangat puas, dengan permainan abang." ucap ku.
"Iya, sama-sama, say. Abang juga ucapkan terima kasih, atas kenikmatan yang abang dapat kan hari ini." balas bang Agus.
Bang Agus juga mengecup kening ku dan menelentang kan tubuh nya di samping ku. Nafas nya masih tampak ngos-ngosan, akibat kegiatan tadi.
Selesai bergumul ria dengan bang Agus, aku pun segera beranjak dari ranjang, dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Aku membersihkan tubuh ku dengan sabun cair, yang sudah tersedia di samping wastafel.
Setelah selesai, aku kembali membungkus tubuh ku dengan handuk dan berjalan menuju meja. Aku menyalakan rokok kembali dan mendudukkan diri di atas kursi.
"Suami mu gak di kasih kabar dulu , say? Kalau dirimu, malam ini gak pulang ke rumah?" tanya bang Agus.
Dia bangun dari ranjang, dan berjalan mendekati ku dalam keadaan polos. Aku sontak kaget, akibat aksi nyeleneh nya tersebut.
"Di pakai dulu lah handuk nya, bang! Masa polos gitu, kayak anak bayi baru lahir aja." ucap ku.
"Hehehe, iya maaf, say." balas bang Agus.
Bang Agus langsung terkekeh, mendengar ocehan ku barusan. Dia pun mengambil handuk nya, yang terjatuh di lantai.
"Abang mandi dulu ya, say! Biar sama seger nya, kayak dirimu." pamit bang Agus.
"Iya, bang." balas ku.
Setelah bang Agus masuk ke dalam kamar mandi, aku segera mengambil ponsel, dan melihat jam di layar ponsel ku itu.
__ADS_1
"Waduh, udah hampir jam lima. Bentar lagi, bang Darma pulang ke rumah. Aku kirim kan pesan teks aja lah." gumam ku
"Habis tu, ponsel nya aku mati kan, jadi beres kan urusan nya!" lanjut ku.